Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 325. Bukan Siapa-siapa

Share

325. Bukan Siapa-siapa

Author: Leva Lorich
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-21 19:52:38

Mali adalah sosok pria dengan postur tubuh tinggi besar seperti Bintang dan Pedro.

Orang yang melihatnya pasti berpikir kalau ia lebih cocok menjadi preman daripada manajer distribusi.

Pria paruh baya itu bersandar santai di kursi kulit mewahnya dengan kemeja yang sedikit terbuka di bagian dada, memancarkan kesan garang dan menekan.

"Siapa temanmu yang ragu itu, May?" tanya Mali. Suara beratnya yang serak bergema memenuhi seisi ruangan.

Maya menunjuk Teja dengan tatapan penuh ketidaksukaan. "
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   388. Kecemburuan

    Deru mesin berkapasitas besar menggelegar halus saat sebuah porsche 911 merah menyala milik Bianca membelah jalanan kota yang cukup ramai. Kilauan cat merahnya yang mencolok menarik perhatian deretan pengendara lain di sepanjang jalan.Di dalam ruang mewah berbalut kulit hitam tersebut, Teja duduk santai di kursi penumpang, sementara Bianca mengemudikan mobil sport itu dengan sangat lincah dan berwibawa. Gaya mengemudi Bianca yang tenang menunjukkan betapa terbiasanya ia memegang kendali atas kendaraan mewah itu.Tak butuh waktu lama, mobil itu berbelok memasuki sebuah pelataran luas.Bangunan berlantai satu yang berdiri tegak di atas lahan seluas seribu meter persegi itu tampak kokoh. Pagar besinya terbuka lebar, menampakkan beberapa sosok yang sedang sibuk mengamati area halaman dan struktur bangunan.Bianca memarkirkan mobilnya tepat di depan teras utama. Begitu mesin dimatikan, pintu mobil terbuka. Teja melangkah keluar lebih dulu, disusul oleh Bianca yang tampil begitu memikat

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   387. Agenda Siang

    Suara tawa manja Bianca menggema memantul di dinding kaca kamar mandi mewah itu, berpadu dengan gemericik air hangat dari yang tiada henti mengguyur tubuh polos mereka. Busa sabun yang lembut kian melicin di sela-sela jemari Bianca, menciptakan sensasi usapan yang begitu menenangkan sekaligus memicu kembali gelora asmara yang belum sepenuhnya padam."Ya… habisnya gemes liat benda segede ini. Keinget pas tadi nyolokin aku di kasur," bisik Bianca pelan di depan telinga Teja.Gadis cantik berambut bob itu melingkarkan lengan kirinya di leher Teja, sementara tangan kanannya masih dengan telaten mempermainkan pangkal milik Teja yang kian menegang keras dan panas.Teja mendengus halus, menyusurkan telapak tangannya di pinggang ramping Bianca, lalu meremas gemas belahan bokong sekal wanitanya yang licin oleh air."Masih kuat kalau dihajar lagi di sini?" tantang Teja dengan rahang mengeras, menyapukan tatapan mata yang setajam harimau."Siapa takut? Hajar aja, Sayang!" sahut Bianca dengan se

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   386. Kau Yang Mulai, Kau Yang Mengakhiri

    Kehangatan di dalam liang pribadi Bianca semakin membakar dan meletup-letup. Rasa jepitan ketat dari jaringan kewanitaan sang dara yang baru saja mengalami pelepasan puncak menciptakan cengkeraman nikmat yang luar biasa, memacu pusaran gairah di perut bawah sang master pijat legendaris menjadi terpicu menegang.Aura energi Qi kebiruan yang bercampur keemasan menyebar di sekujur tubuh Teja untuk memberikan sensitivitas maksimal di setiap ujung saraf tubuhnya.Pendar cahaya aura yang tak kasat mata itu merembes cepat dari pusatnya menuju ujung-ujung saraf di balik kulit Teja. Sirkulasi energi murni yang pekat itu melipatgandakan sensasi gesekan di permukaan kulit hingga batang perkasanya. Setiap kuluman hangat dan denyutan di dalam liang legit Bianca terasa puluhan kali lebih jelas, menghantarkan getaran kenikmatan tiada tara yang langsung mengguncang kesadaran Teja.Teja menggetarkan pinggulnya sangat bertenaga. Pria berambut panjang itu memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi luap

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   385. Tunggu Sebentar!

    "Jangan marah, Sayang. Aku nggak maksud kayak gitu loh. Ahh-ahh… maksudnya itu aku memulai dan seterusnya mendesah cuma buat kamu, selamanya! Ohhhh!" ucap Bianca yang tak ingin merusak momen mesra di antara mereka hanya karena kesalahan perkataannya tadi.Suara desahan gadis berambut bob itu terdengar begitu bergetar dan penuh ketulusan. Wajah cantiknya yang polos tanpa sapuan riasan tampak merona merah, menempel pasrah di atas bantal empuk ranjang suite room hotel tempat mereka memadu kasih.Teja tak menjawab, namun gejolak emosinya terwakili oleh genjotan miliknya yang tak lagi sekasar sebelumnya.Ia memang terus menusuk dalam irama cepat, namun tidak dengan hentakan kacau. Pria berambut panjang itu mengontrol dorongan pinggulnya secara stabil, menyalurkan kehangatan milikmya yang super jumbo membelai lembut dinding kewanitaan wanitanya dari dalam. Hantaman batangnya kini terasa jauh lebih dalam, hangat, namun diliputi kelembutan yang menentramkan jiwa.Bianca tersenyum di depan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   384. Hanya Perumpamaan

    "Segini cukup, atau mau dicepetin lagi, Sayang?" tanya Teja sembari tetap menggenjot konstan liang kehangatan milik Bianca dari posisi menungging itu.Pria berambut panjang itu menahan kedua pinggul mulus Bianca dengan cengkeraman jemari kekarnya yang kokoh. Pendar hawa murni Qi kebiruan berpendar keemasan mengalir stabil, menjaga stamina dan ketahanan fisiknya agar berada di puncak performa tanpa sedikit pun menunjukkan rasa lelah. Setiap dorongan dari belakang diteruskan dengan irama statis yang melesakkan sepertiga batang perkasanya hingga menyentuh dasar rahim wanita cantik itu."Tambah lagi, Ja. Uh-oh, biar makin kerasa gedenya bobol punyaku, uufh!" geram suara Bianca yang sedikit tertahan rahangnya menahan hentakan milik Teja.Gadis cantik berambut bob yang menumpukan kedua tangannya di bibir kasur itu semakin menekuk badannya ke bawah, sengaja mendorong belahan bokong montoknya lebih jauh ke belakang untuk menyambut serbuan Teja. Matanya menyipit, keningnya berkerut ketat, s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   383. Bagai Terbelah

    Bianca terbaring terlentang dengan dada yang masih berombak cepat. Napasnya tersengal manis, menatap lampu kristal di atap kamar suite itu dengan pandangan yang masih sedikit kabur oleh sisa-sisa kenikmatan. Namun, kehangatan hawa murni Qi biru keemasan yang sempat disalurkan Teja saat proses pelepasan tadi justru bekerja ajaib. Rasa lelah di persendian tubuhnya menguap cepat, berganti dengan gelombang gairah baru yang mendadak membakar selangkangannya kembali.Gadis cantik berambut bob itu melirik ke arah batang besar Teja yang masih berdiri tegak, mengkilap oleh lelehan cairan orgasmenya tadi. Keperkasaan prianya yang tak kunjung kendur itu seolah memanggil-manggil naluri kewanitaannya untuk kembali ditaklukkan."Sayang... Aku udah nggak capek lagi," bisik Bianca lembut sembari menyunggingkan senyum manja. Ia menyapu peluh bening di pelipisnya, lalu menatap lurus mata Teja dengan tajam. "Istirahatnya udah cukup. Ayo hajar aku lagi, Ja. Jangan kasih ampun!"Teja terkekeh pelan,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status