Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 277. Perhelatan Akbar

Share

277. Perhelatan Akbar

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-08-09 21:24:41

Perhelatan akbar yang dinanti pun tiba juga. Mengenakan seragam serba biru muda, tim Teja yang mewakili dua asosiasi yaitu kota Teja dan kota Linda sudah berdiri membaur dengan peserta dari asosiasi lainnya di Indonesia.

Suasana di sekitar arena sudah dipenuhi oleh ratusan petarung dengan berbagai atribut asosiasi bela diri yang berbeda.

Ketua panitia acara yang berambut putih maju ke tengah arena. Pria tua itu memegang pengeras suara sembari memandangi seluruh kontestan dengan tatapan mata ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   279. Gate 1

    Para panitia mengarahkan para peserta untuk memasuki bus yang akan membawa mereka ke perbatasan Hutan Camar Hitam. Setiap tim berbaris rapi sesuai dengan nomor urut pendaftaran mereka masing-masing. Deretan bus berukuran sedang sudah bersiaga dengan mesin yang menyala di area parkir lokasi panggung acara.Perjalanan berlangsung cukup lama, sekitar 3 jam dari lokasi panggung acara dimulai tadi. Sepanjang perjalanan, pemandangan kota perlahan berganti menjadi pepohonan rimbun serta bukit-bukit terjal. Jalanan yang bergelombang dan semakin menyempit membuat guncangan di dalam ruang bus terasa sangat mengocok isi perut.Letak hutan yang begitu terpencil dan terisolasilah yang membuat perjalanan menjadi sangat lama. Jalur darat yang membelah kawasan lereng gunung tersebut menjadi satu-satunya akses menuju area terlarang itu. Ketiadaan permukiman warga di sekitar lokasi semakin menambah kesan angker Hutan Camar Hitam.Saat turun dari bus, panitia membagi semua tim untuk memasuki hutan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   278. Tetap Fokus

    Baru saja Teja menyalurkan energi Qi penguat mental kepada anggota timnya melalui pancaran tatapan matanya, datang lima orang dari tim asosiasi lain. Rombongan itu berjalan dengan penuh percaya diri dan senyum meremehkan ke arah kelompok Teja. Langkah kaki mereka sengaja dibuat berat untuk menunjukkan dominasi serta intimidasi awal."Ah, bukankah ini Linda anaknya Pak Sanjaya?! Kamu makin cantik dan montok nih, Lin," ucap ketua tim itu yang merupakan seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit legam. Pria itu menyeringai lebar sembari menatao mesum ke arah gundukan besar di dada Linda sebelum kemudian turun ke bawah untuk memindai paha sekal dan bokong montok gadis cantik tersebut."Jaga mulutmu, Doni! Apa kamu mau aku tumbangkan sekarang aja biar nggak jadi masuk hutan?!" sentak Linda sengit. Matanya menyipit tajam. Ia mengepalkan kedua tangannya erat."Uluh-uluh, galak bener?! Kamu yakin bisa melewati ranah bela diri tingkat sedang tahap medium punyaku?" cibir pemuda bernama Doni

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   277. Perhelatan Akbar

    Perhelatan akbar yang dinanti pun tiba juga. Mengenakan seragam serba biru muda, tim Teja yang mewakili dua asosiasi yaitu kota Teja dan kota Linda sudah berdiri membaur dengan peserta dari asosiasi lainnya di Indonesia. Suasana di sekitar arena sudah dipenuhi oleh ratusan petarung dengan berbagai atribut asosiasi bela diri yang berbeda.Ketua panitia acara yang berambut putih maju ke tengah arena. Pria tua itu memegang pengeras suara sembari memandangi seluruh kontestan dengan tatapan mata yang amat tajam. Langkah kakinya yang tenang langsung menyedot perhatian penuh seluruh hadirin yang berada di sana."Selamat datang bagi semua perwakilan asosiasi bela diri seluruh Indonesia. Perkenalkan aku Handy, ketua panitia penyelenggaraan," sapa pria berambut putih itu dengan nada suara seraknya.Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan informasi utama terkait mekanisme pertandingan yang akan segera dilangsungkan. Semua mata tertuju lurus padanya, menantikan penjelasan teknis ajang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   276. Bermain Duo

    Keesokan harinya, latihan bertiga yang biasanya dijalani Teja bersama Linda dan Panda di hutan, kini bertambah dengan Bintang dan Pedro yang ikut. Suasana area lapang di antara pepohonan rindang itu menjadi lebih riuh dari biasanya. Udara pagi yang sejuk menyapa kulit mereka saat sinar matahari menerobos celah-celah dedaunan.Bintang dan Pedro yang notabene adalah tangan kanan Teja di Geng Surya, merasa begitu beruntung bisa mengenal Teja. Kehadiran pemuda berambut panjang itu di kehidupan mereka benar-benar membawa perubahan yang sangat besar. Mereka menatap Teja dengan raut penuh rasa hormat dan kesetiaan yang begitu mendalam.Mereka dulu yang suka mengompas warga dan bertingkah liar, setelah ditundukkan oleh Teja menjadi orang-orang yang lebih baik. Teja telah menggembleng mental serta membimbing jalan hidup mereka ke arah yang lebih positif. Kejadian masa lalu itu kini menjadi cermin kebangkitan bagi masa depan mereka berdua.Begitu juga dengan sekitar seratus anak buah geng

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   275. Kesiapan Tim

    "Tentu saja sangat bisa diterima," ucap Leo mengangguk dengan begitu dalam. Raut ragu yang sebelumnya sempat melingkupi wajah pria tua itu kini lenyap sepenuhnya, berganti dengan decak kagum yang sangat jelas."Maaf tadi sempat meragukan kemampuan Panda, Ja. Aku hanya khawatir dia terluka di ajang nasional itu," imbuh Leo. Pria paruh baya itu menyampaikan penyesalannya secara tulus di hadapan semua orang yang berdiri mengelilingi arena.Teja mengangguk. Pria berambut gondrong itu melangkah mendekati Panda dan Linda sembari menatap ke arah para sesepuh dengan tenang."Ranah bela diri Panda ada di tingkat sedang tahap fondasi. Dia satu tahap di atas Linda," terangnya menjelaskan tingkatan kemampuan tersembunyi yang dimiliki oleh gadis oriental tersebut."Astaga, kita sudah meremehkan Panda," Sanjaya menggeleng pelan. Pria paruh baya itu mengusap dagunya dengan raut wajah yang masih diliputi rasa takjub luar biasa."Kita kembali ke ruang rapat," ajak Teja pada semuanya sembari membalikk

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   273. Pembuktian Kemampuan

    "Lusa, pertandingan ilmu bela diri Nusantara sudah dimulai. Karena waktu yang semakin mendesak, aku memilih Panda untuk mengisi kekosongan anggota tim," ucap Teja begitu berada di ruang rapat asosiasi sembari menengadahkan tangan ke arah Panda."Tapi, aku nggak mau kalau dianggap tebang pilih dan pilih kasih. Kita bisa lihat kemampuan Panda dulu biar bisa menyimpulkan kelayakannya," lanjutnya memberi penjelasan yang adil bagi semua orang di ruangan tersebut."Bintang, Pedro, dan tiga murid Pak Leo, tolong kalian bersiap buat menghadapi duo Linda dan Panda di arena pertandingan," ucap Teja sambil melangkah untuk mengajak mereka berpindah ke arena pertandingan kantor asosiasi.Leo, Sanjaya, Wiryo, dan sebagian besar murid Leo yang ada di sana menatap Panda dengan heran. Keraguan terpancar jelas dari raut wajah para petarung senior yang hadir.Betapa tidak? Panda bukanlah anggota perguruan bela diri manapun, tapi Teja terlihat begitu memberatkannya. Mereka mempertanyakan alasan di balik

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status