تسجيل الدخولTeja menatap lekat sepasang mata sayu Berliana. Binar keemasan di matanya memancarkan gairah yang membara, berpadu dengan aura percaya diri yang amat menenangkan. Hawa hangat tenaga dalam Qi tingkat tujuh di dalam tubuhnya mengalir halus, menyebarkan desir kehangatan tatkala jemarinya terus membelai lembut puncak dada Berliana."Aku bakal kasih kamu sensasi yang beda dan baru kali ini, Berli," bisik Teja rendah tepat di depan telinga sang perwira militer, lalu mendaratkan gigitan-gigitan kecil yang menggoda di leher mulusnya."Nghh... sensasi apa lagi, Ja...?" gumam Berliana tersengal pelan dengan napas yang memburu.Dengan pergerakan yang tenang, Teja menggeser pintu kaca tebal yang membatasi kamar suite dengan area balkon luar. Angin pesisir pantai utara yang sejuk dan kencang seketika berhembus masuk, menyapu kulit mereka yang hangat oleh asmara. Teja meraih pergelangan tangan halus Berliana, membimbing raga molek wanitanya untuk melangkah keluar menuju area terbuka balkon di la
Deru mesin Mini Cooper hijau tua itu akhirnya berhenti halus di pelataran parkir sebuah bangunan tinggi bergaya modern yang berdiri kokoh di kawasan pesisir utara. Gedung tersebut merupakan sebuah hotel bintang empat megah, terletak di posisi paling strategis dengan pemandangan terbuka yang langsung menghadap jalan menuju area pelabuhan cadangan.Teja dan Berliana melangkah masuk menuju area lobi dengan tenang, menjaga gestur agar terlihat seperti pasangan biasa yang sedang mencari tempat beristirahat. Tanpa banyak membuang waktu di meja resepsionis, Teja menyelesaikan administrasi pembayaran secara tunai demi menjaga kerahasiaan identitas mereka.Mereka menyewa satu kamar paling atas di hotel bintang empat yang menghadap langsung ke jalur masuk pelabuhan.Begitu pintu kamar suite di lantai paling atas itu terbuka, hembusan udara sejuk berpenyejuk udara langsung menyambut kehadiran mereka. Teja mengunci pintu dari dalam dan memasang selot pengaman ganda. Berliana melangkah mendeka
Suara ketukan pintu kayu ruang CEO bergema halus dua kali, disusul oleh terbukanya pintu. Sosok Berliana melangkah masuk dengan langkah tegap dan anggun. Pakaian dinas lapangan yang melekat di tubuhnya tampak sangat rapi, dan di tangannya terikat sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat tua.Melihat keberadaan Bianca di ruang kerja Teja, wajah tegas Berliana seketika melunak, dihiasi oleh senyuman hangat dan bersahabat.Bianca bangkit dari tempat duduknya, melangkah menyambut Berliana. Kedua wanita cantik dengan pesona dan latar belakang yang sangat bertolak belakang itu saling merengkuh, berpelukan hangat, dan menempelkan pipi kanan-kiri dengan penuh keakraban yang begitu alami."Selamat pagi, Berliana. Kamu terlihat sangat gagah dengan pakaian ini," puji Bianca tulus."Selamat pagi, Bianca. Terima kasih ya... kamu juga cantik banget lho pakaian setelan kerja kayak gini," balas Berliana tersenyum manis.Bianca menepuk pelan bahu Berliana. "Teja sudah menceritakan semuanya padaku.
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, membiaskan sinar keemasan yang menembus celah-celah pepohonan di sepanjang jalan raya ibu kota. Suasana pagi yang masih cukup lengang memberikan ketenangan tersendiri di dalam mobil Mini Cooper warna hijau tua milik Berliana. Deru mesin halus berpadu dengan udara sejuk berpenyejuk udara yang berhembus lembut.Di kursi kemudi, Berliana tampil sangat anggun dan tegas. Pakaian lapangan intelijen militer yang melekat di tubuh padatnya memancarkan wibawanya.Sementara itu, di kursi penumpang, Teja duduk santai mengenakan kemeja kasual yang melapisi dada tegapnya. Tatapan mata keemasan pemuda berambut gondrong itu sesekali melirik pada wajah cantik Berliana yang tampak fokus menatap jalanan di depan.Pintu gerbang utama kantor Surya Pengamanan Nusantara (SPN) terbuka. Berliana menghentikan laju Mini Cooper hijau tuanya persis di area drop-off depan lobi utama.Teja menoleh, menatap Berliana dengan senyuman hangat."Terima kasih sudah mengantarka
Teja tertegun sejenak, mencerna kata demi kata yang baru saja diucapkan oleh Berliana. Fakta bahwa seorang pimpinan gembong internasional berjuluk Blackviper secara khusus menyebut dirinya tentu menyiratkan bahaya yang tak biasa.Manik mata keemasan Teja bergetar halus sebelum akhirnya mendingin, dipenuhi oleh ketenangan kembali. Hawa murni Qi tingkat tujuh di dalam tubuhnya mendadak bergejolak pelan, merespon naluri bertarungnya yang terpicu."Kalau kayak gini ya aku harus ikut terjun bantu kamu, Berli," tegas Teja dengan nada suara yang dalam, memecah keheningan menegangkan di kamar tersebut.Berliana menatap kekasihnya tanpa berkedip. Ia bisa merasakan kehangatan sekaligus dorongan aura perlindungan yang sangat kuat terpancar dari tubuh tegap pemuda berambut gondrong di sampingnya."Kamu serius, Ja?" tanya Berliana pelan, memastikan kesungguhan pria itu.Teja mengangguk cepat. Jemari kekarnya meremas lembut bahu mulus Berliana untuk memberikan ketenangan batin."Di satu sisi kamu
Usai letupan gairah yang menguras tenaga di bawah gemericik pancuran air, Teja dan Berliana akhirnya benar-benar membasuh diri secara bersih. Sabun kembali membalut sisa-sisa kenikmatan dari permukaan kulit mereka, sementara bilasan air hangat mengembalikan kesegaran raga yang sempat terkuras habis.Teja mematikan kran pancuran, membiarkan tetesan air terakhir jatuh memantul di keramik. Ia mengambil dua lembar handuk tebal berukuran besar, membalutkan salah satunya ke tubuh molek Berliana sebelum mengeringkan tubuhnya sendiri. Tanpa banyak bicara, Teja membimbing perwira wanita berambut bondol pendek itu melangkah keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur.Di dalam kamar ber-AC yang sejuk, mereka tak lantas mengenakan pakaian lengkap kembali. Keduanya hanya mengenakan pakaian dalam. Berliana menarik selimut katun tebal, merebahkan tubuhnya di atas kasur berseprai putih bersih, disusul oleh Teja yang langsung berbaring di sampingnya.Dalam keheningan sore yang merambat perlahan m
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d







