Accueil / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 487. Tak Ada Matinya

Partager

487. Tak Ada Matinya

Auteur: Leva Lorich
last update Date de publication: 2026-09-22 12:30:14

Teja merengkuh lembut pinggang ramping Bianca, membalikkan tubuh wanita berambut bob itu secara perlahan di atas peraduan.

Usai memberikan jeda sejenak untuk menata napas Bianca yang masih memburu usai orgasme pertamanya, Teja membimbing wanitanya untuk berganti ke posisi paling favorit bagi dirinya.

"Ubah posisi ya, Bi. Nungging," bisik Teja rendah di samping telinga mulus wanitanya.

Bianca mengangguk pasrah. Binar kepatuhan terpancar jelas dari sepasang matanya yang meredup manja.

Tanpa rag
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   713. Ada Yang Janggal

    Cairan kenikmatan meluap deras dari dalam dirinya, membasahi pangkal paha Teja seiring dengan pelepasan dahsyat yang membuat Sekar terkulai lemas di atas pelukan sang pemuda.Melihat wanita di pelukannya telah mencapai batas kepuasannya yang kesekian kali, Teja merasakan gelombang puncak di dalam dirinya sendiri mulai mendesak naik dengan sangat kuat. Tenaga dalam dan Qi di dalam tubuhnya bergolak hebat, memberikan sinyal bahwa saat pelepasan agung miliknya sudah tidak bisa ditahan lagi.Teja perlahan menurunkan tubuh Sekar hingga kakinya kembali menyentuh lantai kamar, namun posisi mereka tetap berdiri berhadapan sangat dekat. Dengan napas yang memburu dan mata yang nyalang tajam penuh gairah, Teja menarik keluar kejantanannya dari dalam liang Sekar yang masih berdenyut lemas.“Berlutut, Sekarrr!“ geram Teja sembari mendorong bahu wanita untuk turun menghadap kejantanannya.Seketika itu juga, tepat di hadapan wajah Sekar yang masih basah oleh keringat dan sisa-sisa birahi, Teja men

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   712. Apakah Membuat Susah?

    "Mau gaya apa lagi, Sekar? Kalau kamu masih punya tenaga sebesar itu, sebutkan saja posisi apa yang ingin kamu coba sekarang," tanya Teja dengan senyuman penuh tantangan, menatap lekat wanita yang masih duduk di atas tubuhnya dengan napas yang mulai teratur kembali.Sekar terdiam sejenak, meresapi sisa-sisa getaran nikmat yang masih tertinggal di dalam tubuhnya sebelum sebuah ide liar melintas di kepalanya. Rasa penasaran yang membuncah membuat matanya berbinar terang di dalam temaram kamar tersebut."Aku jadi penasaran, Ja... bagaimana rasanya kalau tubuh mungilku digendong oleh tubuh besar kamu sembari dimasukkan itu-nya," ucap Sekar dengan nada suara yang berbisik manja namun sarat akan birahi yang menggugah gairah.Teja tersenyum lebar mendengar permintaan yang tidak biasa itu. Tantangan semacam itu justru semakin membakar darah mudanya, membuktikan bahwa batas imajinasi dan hasrat wanita di hadapannya sama sekali belum habis."Ide yang menarik, Sekar. Mari kita buktikan apakah ka

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   711. Menerima Sepenuhnya

    Hentakan demi hentakan terus terjadi di atas ranjang yang empuk, menciptakan irama pergulatan yang semakin lama semakin menggila dan memabukkan. Desahan terus mengalun tiada henti, berpadu dengan suara decakan basah dan napas yang saling menderu di dalam ruangan kamar yang tertutup rapat dari dunia luar. Sekar benar-benar mengerahkan seluruh sisa tenaga dan hasratnya, menguasai tubuh Teja dengan gerakan yang begitu bertenaga dan tanpa kenal lelah."Ja... ahh... rasanya... luar biasa banget..." racau Sekar di tengah kesadarannya yang mulai melayang, jemarinya meremas kuat dada bidang sang pemuda sementara pinggulnya terus berputar dan menghentak dengan kecepatan tinggi.Teja menikmati setiap detik dominasi yang diberikan oleh wanita di atasnya, tangannya masih setia meremas dan mencengkeram buah dada Sekar yang besar dan ranum, memberikan stimulasi ekstra yang membuat Sekar semakin menggila di atas miliknya."Kamu hebat sekali, Sekar. Terus pertahankan ritme itu," puji Teja dengan su

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   710. Silakan Buktikan!

    Sekar mengambil alih posisi di atas dengan gerakan yang sangat percaya diri, memposisikan kedua lututnya di sisi pinggang Teja dan bersiap menikmati puncak kendali penuh atas tubuh sang pemuda. Dengan napas yang masih memburu dan manik mata yang menyiratkan gairah membara, wanita mungil itu mulai meliukkan pinggulnya perlahan, merasakan kembali bagaimana batang kejantanan Teja yang berukuran luar biasa besar itu mengisi penuh rongga intimnya yang basah dan hangat."Sekarang giliranku yang memimpin, Ja," bisik Sekar dengan nada suara yang terdengar begitu menggoda, menyeringai tipis sebelum mulai menaikkan dan menurunkan pinggulnya dengan ritme yang semakin lama semakin cepat.Sekar meliuk, mengaduk, memutar pinggul dengan liar dan brutal. Gerakan memutar dan hentakan vertikal yang ia ciptakan begitu bertenaga, menciptakan suara decakan basah yang memenuhi seluruh sudut kamar yang kedap suara tersebut. “Ohh-ohhh-oh, Tejaaa! Nikmat sekali di posisi ini. Ohhh, aku jadi makin bebas berg

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   709. Kembali Membara

    "Muat masuk semua ternyata, Sekar," bisik Teja dengan nada suara yang terdengar kagum di tengah deru napas mereka yang saling berkejaran di dalam kamar itu."Mungkin karena aku pernah melahirkan jadi agak elastis adaptasinya," jawab Sekar dengan suara setengah berbisik, wajahnya memerah padam menahan rasa penuh yang luar biasa di dalam rongga tubuhnya setelah ukuran sebesar itu berhasil ditelan sepenuhnya tanpa sisa.Teja menarik napas dalam-dalam, merasakan sensasi cengkeraman dinding intim Sekar yang begitu ketat dan hangat membungkus setiap inci batangnya. Posisi misionaris yang mereka ambil memberikan kebebasan penuh bagi sang pemuda untuk menatap wajah wanita mungil di bawahnya secara lekat, mengamati bagaimana manik mata Sekar berbinar basah oleh gelombang gairah yang kian membumbung tinggi."Kalau begitu, aku mulai gerakkan ya, Sekar," ucap Teja meminta persetujuan meski pinggulnya sudah mulai memberikan dorongan kecil yang sangat menggoda."Iya, Ja... silakan..." rintih Sekar

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   708. Kecil-kecil Cabe Rawit

    "Aku mau menikmati milikmu juga, Sekar," jawab Teja dengan nada suara yang dalam dan menggoda, memegang kedua paha mulus Sekar agar terbuka lebih lebar lagi.Tanpa menunggu lama, Teja mulai menunduk dan menyentuhkan bibirnya ke permukaan kulit kewanitaan Sekar yang telah basah oleh cairan pelumas alami. Sentuhan awal yang basah dan hangat itu seketika membuat tubuh Sekar mengejang kaget, punggungnya langsung melengkung ke atas dengan kedua tangan mencengkeram erat seprai kasur di bawahnya."Ahhh... Ja... ampun..." rintih Sekar tertahan, matanya terpejam rapat menikmati gelombang kejutan nikmat yang langsung menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepalanya.Teja tidak berhenti di situ. Dengan keahlian yang tidak kalah memukau, pemuda itu mulai mengolah bibirnya, menghisap perlahan bagian klitoris Sekar yang menegang, sementara lidahnya yang lincah mulai menelusuri belahan kewanitaan wanita itu naik turun dengan ritme yang teratur dan memabukkan.Sekar benar-benar kehilangan selu

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status