LOGINTeja lalu menatap Bintang dan Pedro lebih dalam."Tang, Dro… aku mau ngomong hal lain," ujar Teja dengan nada bariton rendahnya yang mendalam.Bintang meletakkan cangkir kopinya perlahan di atas tatakan, sementara Pedro menegakkan posisi duduknya. Lincan yang duduk di samping Pedro ikut memasang raut wajah sangat serius, tidak berani menyela sepatah kata pun tatkala pimpinan tertinggi organisasi mereka mulai berbicara kembali."Apa itu, Bos?" tanya Pedro penasaran."Iya, Bos Teja. Kelihatannya ada hal besar yang lagi Bos rencanakan," timpal Bintang dengan tatapan mata yang penuh fokus.Teja menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi kayu. Jemari kekarnya merengkuh pelan jemari halus Desy yang duduk setia di sampingnya, memberikan rasa tenang pada gadis muda yang sedang menyimak percakapan tingkat tinggi tersebut."Sebentar lagi aku lulus kuliah. Orang-orang kepercayaanku ada kamu berdua, ditambah Pak Buan dan Pak Budi yang mengelola Surya Pengamanan Nusantara di Jakarta, ser
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, suara raungan mesin beberapa mobil mewah terdengar berhenti di atas jalan raya. Dua pria bertubuh tegap dengan aura kepemimpinan yang sangat kuat melangkah turun menyusuri jalan setapak dengan tergesa-gesa.Bintang, pria berparas tampan dengan tatapan tajam dan dingin, serta Pedro, pria berbadan kekar dipenuhi tato dengan wajah garang, melangkah cepat menghampiri Teja. Begitu sampai di hadapan sang pemimpin tertinggi, keduanya langsung menundukkan kepala dengan penuh hormat."Bos Teja," sapa Bintang dan Pedro serentak dengan suara sopan.Teja memandangi dua tangan kanannya itu dengan tatapan yang sangat serius dan mendalam."Lihat pria bernama Samplo ini," ucap Teja seraya menunjuk Samplo yang masih gemetar di tanah. "Geng Surya didirikan untuk menjaga kota dan melindungi wilayah kita, bukan untuk menjadi wadah lintah darat yang memeras rakyat kecil dengan bunga gila-gilaan. Mulai hari ini, aku tidak mau melihat ada rentenir beroperasi di
Samplo mundur beberapa langkah hingga tumit sepatunya terantuk batu di pinggir jalan tanah. Wajahnya pucat pasi, namun keangkuhannya belum sepenuhnya padam. Dengan tangan gemetar, ia menunjuk ke arah Teja seraya mencoba menegakkan punggungnya."Kamu... kamu jangan berlagak jagoan di sini! Kamu nggak tahu siapa di belakangku! Aku bakal laporkan kamu ke bosku! Sekali dia turun tangan, kamu dan cewek ini bakal hancur!" ancam Samplo dengan suara yang diusahakan selantang mungkin.Teja hanya menatap pria itu dengan pandangan dingin. Helaian rambut dreadlock panjangnya berayun pelan ditiup angin kolong jembatan."Panggil saja siapapun yang kamu andalkan. Hasilnya tetap akan sama saja, tidak ada yang berubah," cibir Teja tenang.Samplo tak menggubris. Rentenir itu dengan cepat merogoh saku celananya, menarik keluar sebuah ponsel. Dengan jemari yang masih bergetar hebat, ia menekan nomor panggilan cepat lalu menempelkan benda itu ke telinganya."Bos! Tolong aku, Bos! Ada anak muda belagu y
"Iya. Hutangnya ada lima juta rupiah!" jawab Samplo tegas dan bertingkah seolah memegang kekuasaan penuh."Bohong, Mas! Aku cuma minjem Lima ratus ribu, kenapa sekarang jadi lima juta?!" bantah Desy tegang."Jangan bohong kamu, Pak Samplo! Dulu uang 500 ribu itu buat beli obat Desan!" tambah Desy memberanikan diri bersuara dari balik punggung Teja."Sudah sepuluh bulan belum kamu bayar, Desy. Sekarang sudah membengkak! Bunga harian, bunga mingguan, tambah denda tunggakan! Totalnya pas lima juta!" ucap Samplo kejam."Mana ada aturan bunga sewenang-wenang seperti itu!" seru Desy menahan amarah."Aturan di kolong jembatan ini ya aturanku! Kamu mau bantah apa lagi?!" bentak Samplo keras."Apa bisa lebih bijak, Pak?" potong Teja tegas.Bukan ia tak memiliki uang, namun sikap pemerasan seperti itu tidak bisa ia benarkan."Siapa kamu ikut campur urusan saya?! Mau sok pahlawan di depan cewek ini?!" gertak anak buah Samplo yang bertato pemandangan di lehernya."Aku cuma minta penjelasan yang m
Usai merapikan pakaian dan merapikan rambut masing-masing, Desy bergegas menuju area dapur bersih yang kini sudah terisi peralatan masak lengkap. Aroma gurih seketika memenuhi ruang makan tatkala jemari lentik gadis itu dengan lincah mengolah bahan-bahan segar di atas kompor.Kwetiau goreng dengan tauge segar, irisan bakso, serta bumbu rempah yang pas tersaji hangat di atas piring. Di sampingnya, telur dadar tebal yang renyah di bagian luar dan lembut di dalam melengkapi hidangan sederhana namun menggugah selera tersebut. Desy menatanya dengan sangat rapi di atas meja makan, lengkap dengan teko teh hangat yang baru diseduh."Mas Teja, Desan, ayo sarapan dulu. Makanan sudah siap di meja," panggil Desy dengan suara lembut dari arah dapur."Wah, aromanya wangi banget, Mbak Desy!" seru Desan riang seraya berlari kecil menghampiri meja makan.Teja, Desy, dan Desan duduk mengelilingi meja makan menikmati sarapan pagi dalam suasana yang amat hangat. Desan menyantap kwetiau buatan kakakny
Keduanya membilas diri di kamar mandi utama hingga bersih. Setelah membasuh sisa-sisa pergumulan dari kulit mereka, mereka kembali ke kamar tidur, menyusup ke balik selimut tebal dalam keadaan polos, saling berpelukan hingga akhirnya tertidur pulas membuai malam.Pagi buta sebelum fajar menyingsing, udara kamar terasa dingin berhembus dari pendingin ruangan. Teja yang masih terlelap perlahan terbangun tatkala merasakan sentuhan kehangatan yang basah dan konsisten di area selangkangannya.Ketika ia membuka mata, tampak Desy sedang berlutut di antara kedua pahanya.Gadis itu sedang membenamkan wajahnya, mengulum bagian kejantanan Teja yang sudah mengeras kaku. Karena ukuran panjang dan diameternya yang luar biasa besar, Desy tampak kesusahan mengelilingi seluruh batangnya. Katupan bibirnya melebar maksimal, sementara matanya sedikit berkaca-kaca menahan besarnya keperkasaan Teja yang memenuhi rongga mulutnya.Suara kebasahan halus terdengar di balik selimut tatkala lidah Desy menari
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha







