Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 524. Tanggung Jawab Besar

Share

524. Tanggung Jawab Besar

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-10-02 11:48:44

Teja kemudian menatap Bintang. "Tang, bersiaplah. Kamu, Pedro, Pak Buan, dan Pak Budi, setelah ini langsung ikut aku mendatangi pria tua itu."

Pemuda berambut gondrong itu langsung menurunkan kakinya ke lantai keramik yang dingin.

Sorot matanya memancarkan ketegasan yang taklnpa ragu.

Teja sama sekali tak memperlihatkan sisa kelelahan usai melakukan perjalanan lintas dimensi.

"Kamu yakin, Ja? Nggak mau istirahat dulu?" tatap Toni masih sedikit khawatir.

Pria paruh baya itu memegang pundak anak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   528. Sayang-sayangku

    Tawa bangga dan desah napas lega seketika membumbung di ruang tamu mewah tersebut. Bianca dan Nana langsung memeluk lengan Teja erat-erat, memandangi kekasih mereka dengan binar kebanggaan yang sangat. Linda tersenyum manis sembari mengelus bahu Teja, sementara Berliana menyunggingkan senyum tipis nan anggun, merasa lega luar biasa karena ancaman terbesar di Jakarta telah ditumbangkan."Luar biasa... Teja, kamu benar-benar membuatku terkagum-kagum," puji Jim menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa hormat.Toni yang sejak tadi diam menyandarkan punggungnya akhirnya terkekeh pelan. "Bagaimana, Pak Buan? Tidak rugi kan aku terbang jauh-jauh dari Surabaya?""Sama sekali tidak rugi, Pak Toni! Ini pemandangan paling memuaskan yang pernah saya lihat sepanjang hidup!" sahut Buan tertawa lebar."Lalu bagaimana nasib keluarga mereka sekarang, Ja?" tanya Berliana mengalihkan fokus pembicaraan pada kepastian konflik.Teja membetulkan posisi duduknya, menatap Berliana dan Jim dengan pandangan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   527. Tuk!

    Mobil operasional SPN perlahan memasuki halaman luas rumah mewah milik Jim. Deru mesin kendaraan yang halus akhirnya berhenti tepat di depan teras utama. Belum sempat Teja mengayunkan kakinya turun dari mobil, pintu utama rumah megah itu sudah terbuka lebar.Toni, Jim, Berliana, Bianca, Nana, dan Linda berhamburan keluar. Wajah para wanita memancarkan rasa cemas yang belum sepenuhnya reda, sementara Toni dan Jim berdiri tegap di belakang mereka.Pintu kendaraan terbuka lebar. Teja melangkah turun dengan santai, mengibaskan jaket hitamnya yang rapi tanpa ternoda sedikit pun. Di belakangnya, Buan, Budi, Pedro, dan Bintang melangkah keluar dengan dada membusung tegap dan senyum lebar yang tak sanggup disembunyikan."Bagaimana, Ja? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" cecar Bianca yang langsung berlari mendekat."Aku baik-baik saja, Sayang. Tidak ada luka segores pun," sahut Teja lembut sembari mengusap pelan pipi Bianca."Lalu... gimana pertarungannya di sana, Pak Buan?" tanya Berliana te

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   526. Tenggelam Dalam Kehancuran

    Namun, bukannya tangan Teja menahan serangan itu, ternyata tubuhnya justru menghilang seketika.Dua telapak tangan Joharsyah yang membara merah keemasan membelah udara kosong. Sentuhan maut yang dibayangkan bakal meremukkan dada Teja hanyalah menghantam bayangan tipis yang luluh seketika. Kecepatan gerak Teja telah melampaui batas penglihatan manusia, meninggalkan Joharsyah yang terdorong ke depan akibat luapan tenaga dalamnya sendiri yang hilang tumpuan.Dari balik punggung Joharsyah tiba-tiba muncul dua jari Teja yang secara cepat mengetuk kulit punggungnya.TUK!Gerakan itu terjadi bagaikan kilatan petir yang tak bersuara. Dua ujung jari Teja mengetuk tepat di simpul utama aliran hawa murni pada punggung tua Joharsyah. Tidak ada ayunan lengan berlebihan, tidak ada desakan angin yang menghentak keras.Yang ada hanya sebuah sentuhan ringan yang menyalurkan getaran kerapatan energi Qi tingkat tujuh secara mendalam.Tubuh Teja kemudian kembali muncul di belakang Joharsyah.Pemuda b

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   525. Siap Menyambut

    SUV hitam berukuran besar milik operasional SPN itu menerobos pintu gerbang utama tanpa ragu. Ban kendaraan mencengkeram permukaan pelataran sebelum akhirnya berhenti tepat di area tengah yang lapang. Debu tipis berhamburan ke udara tatkala mesin mobil dimatikan.Melihat mobil SPN kembali berani datang ke sana, Joharsyah langsung keluar menyambut dengan tawa sinisnya.Langkah kaki pria tua itu terdengar begitu arogan dari arah dalam. Dengan berkap tradisional gelap yang melambai tertiup angin siang, Joharsyah berdiri membusungkan dada, memancarkan aura superioritas sebagai praktisi senior yang merasa tak tertandingi di seluruh penjuru ibu kota. Belasan anak buah serta pengawal setia keluarga Johar berhamburan keluar menyusun barisan di belakangnya dengan senyum meremehkan."Siapa lagi utusan yang mau dikirim buat menghadapiku? Tetap saja, hasil akhir bakal sama. Akulah jawaranya!" seru Joharsyah disambung tawa anak buahnya yang memenuhi pelataran luas tersebut.Namun rahang Johars

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   524. Tanggung Jawab Besar

    Teja kemudian menatap Bintang. "Tang, bersiaplah. Kamu, Pedro, Pak Buan, dan Pak Budi, setelah ini langsung ikut aku mendatangi pria tua itu."Pemuda berambut gondrong itu langsung menurunkan kakinya ke lantai keramik yang dingin. Sorot matanya memancarkan ketegasan yang taklnpa ragu.Teja sama sekali tak memperlihatkan sisa kelelahan usai melakukan perjalanan lintas dimensi."Kamu yakin, Ja? Nggak mau istirahat dulu?" tatap Toni masih sedikit khawatir.Pria paruh baya itu memegang pundak anaknya, memandangi wajah Teja dengan cermat. Rasa cemas sebagai orang tua tetap saja membayang di benaknya."Kamu baru kembali ke dunia modern, Ja," imbuhnya."Hehe, Ayah. Perjalanan dari sana cuma sepuluh detikan, bukan perjalanan naik bus antar propinsi yang memakan waktu berjam-jam. Aku sekarang dalam kondisi sangat fit," senyum Teja santai.Ia menggerakkan kedua lengannya, memutar persendian bahunya yang kini diliputi kerapatan tenaga dalam tingkat tujuh. Luapan hawa murni di dalam dadanya jus

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   523. Hingga Ke Titik Ini

    "Pak Toni! Ini baru tiga jam berjalan, tapi jari Bos Teja kok mulai gerak-gerak?!" pekik Bintang yang tergopoh-gopoh memanggil Toni di luar pintu kamar.Pria muda yang menjadi salah satu tangan kanan Teja di kota asal itu membelalakkan matanya tatkala menyaksikan pergerakan kecil di ujung jemari sang pimpinan. Padahal, sesuai perhitungan awal yang disampaikan Toni sebelum meditasi dimulai, perjalanan jiwa melintasi batas masa setidaknya membutuhkan durasi minimal tujuh jam di dunia nyata.Toni yang mendengarnya segera masuk. "Semuanya tetap bersiaga di luar! Jangan ada yang masuk!" tegas Toni menahan langkah Buan, Budi, Pedro, dan para wanita yang hendak menyusul.Pria paruh baya itu dengan sigap mendorong pintu jati kamar perawatan, membiarkan Bintang mengekor di belakangnya sebelum menutup pintu kembali."Itu, Pak. Jarinya kayak gerak-gerak halus," bisik Bintang sembari menunjuk tubuh Teja yang masih dalam sikap duduk lotusnya.Bintang mempercepat langkahnya mendekati tepi ranjang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status