LOGINTawa bangga dan desah napas lega seketika membumbung di ruang tamu mewah tersebut. Bianca dan Nana langsung memeluk lengan Teja erat-erat, memandangi kekasih mereka dengan binar kebanggaan yang sangat. Linda tersenyum manis sembari mengelus bahu Teja, sementara Berliana menyunggingkan senyum tipis nan anggun, merasa lega luar biasa karena ancaman terbesar di Jakarta telah ditumbangkan."Luar biasa... Teja, kamu benar-benar membuatku terkagum-kagum," puji Jim menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa hormat.Toni yang sejak tadi diam menyandarkan punggungnya akhirnya terkekeh pelan. "Bagaimana, Pak Buan? Tidak rugi kan aku terbang jauh-jauh dari Surabaya?""Sama sekali tidak rugi, Pak Toni! Ini pemandangan paling memuaskan yang pernah saya lihat sepanjang hidup!" sahut Buan tertawa lebar."Lalu bagaimana nasib keluarga mereka sekarang, Ja?" tanya Berliana mengalihkan fokus pembicaraan pada kepastian konflik.Teja membetulkan posisi duduknya, menatap Berliana dan Jim dengan pandangan
Mobil operasional SPN perlahan memasuki halaman luas rumah mewah milik Jim. Deru mesin kendaraan yang halus akhirnya berhenti tepat di depan teras utama. Belum sempat Teja mengayunkan kakinya turun dari mobil, pintu utama rumah megah itu sudah terbuka lebar.Toni, Jim, Berliana, Bianca, Nana, dan Linda berhamburan keluar. Wajah para wanita memancarkan rasa cemas yang belum sepenuhnya reda, sementara Toni dan Jim berdiri tegap di belakang mereka.Pintu kendaraan terbuka lebar. Teja melangkah turun dengan santai, mengibaskan jaket hitamnya yang rapi tanpa ternoda sedikit pun. Di belakangnya, Buan, Budi, Pedro, dan Bintang melangkah keluar dengan dada membusung tegap dan senyum lebar yang tak sanggup disembunyikan."Bagaimana, Ja? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" cecar Bianca yang langsung berlari mendekat."Aku baik-baik saja, Sayang. Tidak ada luka segores pun," sahut Teja lembut sembari mengusap pelan pipi Bianca."Lalu... gimana pertarungannya di sana, Pak Buan?" tanya Berliana te
Namun, bukannya tangan Teja menahan serangan itu, ternyata tubuhnya justru menghilang seketika.Dua telapak tangan Joharsyah yang membara merah keemasan membelah udara kosong. Sentuhan maut yang dibayangkan bakal meremukkan dada Teja hanyalah menghantam bayangan tipis yang luluh seketika. Kecepatan gerak Teja telah melampaui batas penglihatan manusia, meninggalkan Joharsyah yang terdorong ke depan akibat luapan tenaga dalamnya sendiri yang hilang tumpuan.Dari balik punggung Joharsyah tiba-tiba muncul dua jari Teja yang secara cepat mengetuk kulit punggungnya.TUK!Gerakan itu terjadi bagaikan kilatan petir yang tak bersuara. Dua ujung jari Teja mengetuk tepat di simpul utama aliran hawa murni pada punggung tua Joharsyah. Tidak ada ayunan lengan berlebihan, tidak ada desakan angin yang menghentak keras.Yang ada hanya sebuah sentuhan ringan yang menyalurkan getaran kerapatan energi Qi tingkat tujuh secara mendalam.Tubuh Teja kemudian kembali muncul di belakang Joharsyah.Pemuda b
SUV hitam berukuran besar milik operasional SPN itu menerobos pintu gerbang utama tanpa ragu. Ban kendaraan mencengkeram permukaan pelataran sebelum akhirnya berhenti tepat di area tengah yang lapang. Debu tipis berhamburan ke udara tatkala mesin mobil dimatikan.Melihat mobil SPN kembali berani datang ke sana, Joharsyah langsung keluar menyambut dengan tawa sinisnya.Langkah kaki pria tua itu terdengar begitu arogan dari arah dalam. Dengan berkap tradisional gelap yang melambai tertiup angin siang, Joharsyah berdiri membusungkan dada, memancarkan aura superioritas sebagai praktisi senior yang merasa tak tertandingi di seluruh penjuru ibu kota. Belasan anak buah serta pengawal setia keluarga Johar berhamburan keluar menyusun barisan di belakangnya dengan senyum meremehkan."Siapa lagi utusan yang mau dikirim buat menghadapiku? Tetap saja, hasil akhir bakal sama. Akulah jawaranya!" seru Joharsyah disambung tawa anak buahnya yang memenuhi pelataran luas tersebut.Namun rahang Johars
Teja kemudian menatap Bintang. "Tang, bersiaplah. Kamu, Pedro, Pak Buan, dan Pak Budi, setelah ini langsung ikut aku mendatangi pria tua itu."Pemuda berambut gondrong itu langsung menurunkan kakinya ke lantai keramik yang dingin. Sorot matanya memancarkan ketegasan yang taklnpa ragu.Teja sama sekali tak memperlihatkan sisa kelelahan usai melakukan perjalanan lintas dimensi."Kamu yakin, Ja? Nggak mau istirahat dulu?" tatap Toni masih sedikit khawatir.Pria paruh baya itu memegang pundak anaknya, memandangi wajah Teja dengan cermat. Rasa cemas sebagai orang tua tetap saja membayang di benaknya."Kamu baru kembali ke dunia modern, Ja," imbuhnya."Hehe, Ayah. Perjalanan dari sana cuma sepuluh detikan, bukan perjalanan naik bus antar propinsi yang memakan waktu berjam-jam. Aku sekarang dalam kondisi sangat fit," senyum Teja santai.Ia menggerakkan kedua lengannya, memutar persendian bahunya yang kini diliputi kerapatan tenaga dalam tingkat tujuh. Luapan hawa murni di dalam dadanya jus
"Pak Toni! Ini baru tiga jam berjalan, tapi jari Bos Teja kok mulai gerak-gerak?!" pekik Bintang yang tergopoh-gopoh memanggil Toni di luar pintu kamar.Pria muda yang menjadi salah satu tangan kanan Teja di kota asal itu membelalakkan matanya tatkala menyaksikan pergerakan kecil di ujung jemari sang pimpinan. Padahal, sesuai perhitungan awal yang disampaikan Toni sebelum meditasi dimulai, perjalanan jiwa melintasi batas masa setidaknya membutuhkan durasi minimal tujuh jam di dunia nyata.Toni yang mendengarnya segera masuk. "Semuanya tetap bersiaga di luar! Jangan ada yang masuk!" tegas Toni menahan langkah Buan, Budi, Pedro, dan para wanita yang hendak menyusul.Pria paruh baya itu dengan sigap mendorong pintu jati kamar perawatan, membiarkan Bintang mengekor di belakangnya sebelum menutup pintu kembali."Itu, Pak. Jarinya kayak gerak-gerak halus," bisik Bintang sembari menunjuk tubuh Teja yang masih dalam sikap duduk lotusnya.Bintang mempercepat langkahnya mendekati tepi ranjang
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d







