Share

53. Angka Delapan

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-19 11:05:50

Teja sebentar beralih menatap Nana dan Bintang yang sejak tadi berdiri setia tidak jauh dari posisinya berada.

"Na, kayaknya kamu mending diantar pulang sama Bintang dulu deh. Aku perlu konsentrasi tinggi dan waktu yang cukup lama buat menangani penyakit Pak Sanjaya ini," ujar Teja memberikan penjelasan.

Nana yang sedari tadi menyimak pembicaraan serius tersebut langsung mengangguk patuh tanpa membantah sedikit pun.

"Iya, Ja, kalau ada apa-apa nanti tolong kabari aku ya," sahut Nana dengan raut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   276. Bermain Duo

    Keesokan harinya, latihan bertiga yang biasanya dijalani Teja bersama Linda dan Panda di hutan, kini bertambah dengan Bintang dan Pedro yang ikut. Suasana area lapang di antara pepohonan rindang itu menjadi lebih riuh dari biasanya. Udara pagi yang sejuk menyapa kulit mereka saat sinar matahari menerobos celah-celah dedaunan.Bintang dan Pedro yang notabene adalah tangan kanan Teja di Geng Surya, merasa begitu beruntung bisa mengenal Teja. Kehadiran pemuda berambut panjang itu di kehidupan mereka benar-benar membawa perubahan yang sangat besar. Mereka menatap Teja dengan raut penuh rasa hormat dan kesetiaan yang begitu mendalam.Mereka dulu yang suka mengompas warga dan bertingkah liar, setelah ditundukkan oleh Teja menjadi orang-orang yang lebih baik. Teja telah menggembleng mental serta membimbing jalan hidup mereka ke arah yang lebih positif. Kejadian masa lalu itu kini menjadi cermin kebangkitan bagi masa depan mereka berdua.Begitu juga dengan sekitar seratus anak buah geng

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   275. Kesiapan Tim

    "Tentu saja sangat bisa diterima," ucap Leo mengangguk dengan begitu dalam. Raut ragu yang sebelumnya sempat melingkupi wajah pria tua itu kini lenyap sepenuhnya, berganti dengan decak kagum yang sangat jelas."Maaf tadi sempat meragukan kemampuan Panda, Ja. Aku hanya khawatir dia terluka di ajang nasional itu," imbuh Leo. Pria paruh baya itu menyampaikan penyesalannya secara tulus di hadapan semua orang yang berdiri mengelilingi arena.Teja mengangguk. Pria berambut gondrong itu melangkah mendekati Panda dan Linda sembari menatap ke arah para sesepuh dengan tenang."Ranah bela diri Panda ada di tingkat sedang tahap fondasi. Dia satu tahap di atas Linda," terangnya menjelaskan tingkatan kemampuan tersembunyi yang dimiliki oleh gadis oriental tersebut."Astaga, kita sudah meremehkan Panda," Sanjaya menggeleng pelan. Pria paruh baya itu mengusap dagunya dengan raut wajah yang masih diliputi rasa takjub luar biasa."Kita kembali ke ruang rapat," ajak Teja pada semuanya sembari membalikk

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   273. Pembuktian Kemampuan

    "Lusa, pertandingan ilmu bela diri Nusantara sudah dimulai. Karena waktu yang semakin mendesak, aku memilih Panda untuk mengisi kekosongan anggota tim," ucap Teja begitu berada di ruang rapat asosiasi sembari menengadahkan tangan ke arah Panda."Tapi, aku nggak mau kalau dianggap tebang pilih dan pilih kasih. Kita bisa lihat kemampuan Panda dulu biar bisa menyimpulkan kelayakannya," lanjutnya memberi penjelasan yang adil bagi semua orang di ruangan tersebut."Bintang, Pedro, dan tiga murid Pak Leo, tolong kalian bersiap buat menghadapi duo Linda dan Panda di arena pertandingan," ucap Teja sambil melangkah untuk mengajak mereka berpindah ke arena pertandingan kantor asosiasi.Leo, Sanjaya, Wiryo, dan sebagian besar murid Leo yang ada di sana menatap Panda dengan heran. Keraguan terpancar jelas dari raut wajah para petarung senior yang hadir.Betapa tidak? Panda bukanlah anggota perguruan bela diri manapun, tapi Teja terlihat begitu memberatkannya. Mereka mempertanyakan alasan di balik

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   273. Tak Ingin Larut

    Meski satu kakinya patah, ternyata pergerakan Suko tidak terlalu terkendala. Pria paruh baya itu menyalurkan sisa energi Qi ke kaki kanannya untuk melesat maju.Ia merangsek cepat dan mengirimkan satu pukulan bersalut energi Qi ke arah Teja. Hempasan angin dari pukulan itu menderu keras mengincar bagian dada Teja.Pada pertarungan sepuluh hari yang lalu, benturan dari kekuatan mereka sempat membuat Teja terpental dan kalah. Ingatan akan kekalahan itu masih terekam jelas di benaknya.Berkaca dari itu, Teja memilih untuk tidak langsung menyambut serangan Suko. Ia membiarkan pukulan tersebut lewat tipis di dekat tubuhnya.Ia mengimbangi pergerakan Suko dengan melangkah ke samping dan memanfaatkan momentum itu untuk melakukan pematahan serangan. Gerakan taktisnya itu begitu telak menghantam persendian lawan.KRAK!Lagi-lagi suara patahan terdengar nyaring di tengah area pertandingan. Suara tulang yang patah seketika menghentikan laju serangan Suko.Wajah Suko meringis kesakitan melihat

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   272. Mendongkrak Kemampuan Bela Diri

    "Kamu saja yang maju dulu, Teja. Kuberikan kamu kesempatan tiga kali menyerang, toh akhirnya nanti kamu juga bakal habis di tanganku," ujar Suko dengan nada meremehkan. Pria itu menyilangkan kedua tangan di dada dengan raut wajah penuh kesombongan.Teja mengangguk. "Jangan menyesali itu, Suko!" tegas Teja menatap tajam lawannya.Usai mengatakan itu, Teja bergerak cepat ke arah tubuh Suko. Langkah kakinya berkecepatan tinggi hingga menciptakan deru angin kencang di sekelilingnya.Dengan santai Suko memasang dua telapak tangannya yang bersalut energi Qi ke depan. Ia tersenyum tipis meyakini pertahanannya tidak akan bisa ditembus oleh pemuda di depannya.Ia berpikir simpel bahwa Teja pasti akan terpental seperti tempo hari jika dua energi Qi mereka bertemu. Suko sudah bersiap menyerap dampak benturan dan melontarkan serangan balik.Namun, perkiraan Suko salah besar. Ia menjadi tersentak saat tahu-tahu Teja bergerak menyamping dengan begitu cepat hingga seperti menghilang. Bayangan pem

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   271. Provokasi Murahan

    Besoknya, Teja menerima kabar dari Leo bahwasanya Suko memajukan jadwal pertarungannya menjadi hari ini. Pria berambut panjang itu menyimak informasi mendadak tersebut dengan raut wajah tenang tanpa rasa panik. Ia merasa tak perlu memiliki perasaan takut yang berlebihan. Lagipula, ia sudah cukup yakin dengan pola latihannya bersama Linda dan Panda.Teja menyanggupi hal itu meski Leo masih nampak ragu. Pria paruh baya itu memandang wajah Teja dengan tatapan cemas dan tidak tenang."Kamu yakin, Ja? Kalau jadi tanding hari ini maka praktis kamu baru sepuluh hari latihannya. Lebih cepat empat hari dari rencana semula," tanya Leo dengan wajah tegang."Aman, Pak Leo. Tolong berpikiran positif saja. Yakinlah aku bisa menghadapi Suko," jawab Teja tenang.Toni ikut mengangguk. "Kamu tenang aja, Leo. Putraku ini bukan bocah menye-menye kalau udah masuk mode serius. Lagipula, aku udah memantau sendiri kok perkembangan latihannya sejauh ini," tegas Toni memberikan dukungan penuh pada anaknya."

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status