Share

58. Pijat Dimana?

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-21 10:18:19

Teja segera berjongkok di atas tanah yang basah dan mulai memeriksa dengan sangat hati-hati kondisi pergelangan tangan kanan Linda yang tampak memerah.

"Wah iya beneran terkilir ini, Lin. Aduh gimana ini nanti kamu nyetir mobilnya buat lanjutin perjalanan kita?" tanya Teja dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bingung.

"Aduh gimana ya? Masalahnya bukan bagian tangan kanan aja ini yang terasa sakit, Ja. Pinggang dan punggungku juga rasanya kayak mau copot gara-gara benturan keras pas jatuh barusa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   76. Konsumsi Publik

    "Nggak usah repot-repot, Lin," jawab Teja dengan nada bicara yang mulai terdengar sedikit gugup akibat tatapan menggoda serta tawaran menjurus dari gadis di hadapannya."Kamu kok jadi kelihatan canggung banget gitu sih?" tanya Linda sembari berjalan mendekat dan mengikis jarak di antara mereka."Eh, anu... mendingan kita sekarang langsung keluar aja yuk, Lin," ajak Teja sembari memutar tubuhnya dan bersiap melangkah lebar ke arah pintu keluar.Namun Linda yang posisinya berada tepat di hadapannya langsung bergerak sigap menahan lengan kekar Teja dengan cengkeraman jemarinya yang lembut dan hangat."Kamu ini sebenarnya kenapa sih, kok sikapnya kayak orang ketakutan begitu?!" sungut Linda sedikit kesal.Teja segera menarik napas panjang sejenak, berusaha keras untuk menenangkan debaran jantungnya yang mulai berpacu cepat.Ia juga mencoba mengingat kembali prinsipnya yang tak mau dicap sebagai pria mesum yang gampang tergoda kemolekan tubuh wanita."Nanti ayahmu bisa curiga kalau kita be

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   75. Lihat Kebunku Penuh Dengan Bunga

    Sepeninggal Bintang dan Pedro yang pergi bersama Wiryo, Sanjaya juga segera pamit untuk masuk ke dalam kamar guna beristirahat.Kini tersisa hanya Teja dan Linda saja yang berada di dalam ruang tamu bernuansa hangat itu."Ja, daripada kita cuma duduk bengong berduaan di sini, mendingan kita jalan-jalan yuk keliling area perguruan ini, nanti aku tunjukin sekalian area peternakan luas yang sempat diceritain sama ayah kemarin," ajak Linda sembari melemparkan senyuman manisnya."Ayo deh, Lin. Lagian, kalau cuma duduk diam di sini doang juga malah bikin mataku jadi gampang ngantuk," jawab Teja sambil bangkit berdiri dari posisi duduknya.Keduanya pun segera berjalan beriringan melangkah menuju ke arah area halaman belakang rumah tersebut.Lahan yang dimiliki oleh Perguruan Silat Teratai Kembar ini ternyata berukuran cukup luas dan tertata dengan sangat rapi.Sekitar seratus meter melangkah dari posisi rumah tadi, mereka berdua mulai melewati area perkebunan buah-buahan subur yang sengaja d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   74. Ikut Dididik

    "Aman banget, Ja, sama sekali nggak ada keluhan sakit atau sesak yang berasa kayak hari-hari kemarin pas belum kamu obati," jawab Sanjaya dengan guratan wajah yang tampak jauh lebih segar dari sebelumnya."Kalau begitu coba sekarang Bapak gerak menghadap ke arah belakang dulu, biar aku cek lagi lewat jalur punggung," pinta Teja guna memastikan akurasi kesembuhan total sang guru besar.Sanjaya segera bergerak memutar posisi tubuhnya dengan kooperatif di atas kursi ruang tamu.Teja kemudian menempelkan kedua belah telapak tangan kekarnya dengan tenang ke permukaan punggung bidang milik orang tua tersebut.Aliran energi Qi murni yang tidak kasat mata oleh pandangan manusia biasa dari dalam tubuh Teja seketika itu juga terpancar kuat keluar melalui ujung-ujung jarinya.Menggunakan kemampuan mata batin tajam yang ia miliki, Teja mulai memeriksa dengan sangat teliti perkembangan kondisi kesehatan organ jantung dan paru-paru milik Sanjaya.Bintang dan Pedro yang memang belum pernah melihat T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   73. Kontrol Kesehatan

    Keesokan harinya, karena jam kuliah sedang kosong, Teja langsung melaju menggunakan Pajero Sport putih miliknya bersama Bintang dan Pedro ke perguruan silat Teratai Kembar milik Sanjaya di kota sebelah.Pedro bertindak sebagai sopir yang duduk di belakang kursi kemudi, sedangkan Teja duduk tenang di sebelahnya."Bos, kamu kok bisa hebat sekali sih kemampuan bela dirinya?! Apa kamu dulu juga belajar dari perguruan silat besar yang akan kita datengi ini?" tanya Pedro memecah keheningan perjalanan.Teja segera menggelengkan kepalanya dengan santai. "Bukan, Dro, ayah dan mendiang kakekku sendiri yang dulu mengajarkannya langsung ke aku," jawab Teja setengah berbohong dan setengah jujur.Kemampuan instan bela diri, energi Qi, master pijat, dan pengobatannya memanglah warisan turun temurun dari ayah dan kakeknya melalui perantara lilitan kain warisan leluhur yang ia gunakan sebagai celana dalam."Wah, berarti Pak Toni aslinya nggak kalah hebat juga dong dari Bos Teja?" Bintang ikut menangga

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   72. Geng Surya

    "Kami mau menerima semua syarat itu, Bos... kami mau dan bersedia patuh!" ujar Pedro dengan penuh kesungguhan diikuti oleh anggukan kompak dari seluruh anak buahnya."Oke, kalau gitu sekarang aku minta anggota dari kedua geng ini segera berkumpul dan bergabung jadi satu di tengah halaman, lalu untuk posisi Bintang dan Pedro, aku tunjuk sebagai tangan kananku," perintah Teja memberi komando."Sekarang apa kalian berdua punya usul nama baru yang bagus buat penggabungan geng kita ini, biar ke depannya orang-orang di luar sana juga gampang buat nyebutnya?" tanya Teja sembari menatap ke arah dua orang kepercayaan barunya tersebut."Kalau kita pakai nama Geng Selatan Barat gimana menurutmu, Bos?" ucap Bintang memberikan usul pertamanya yang terdengar cukup sederhana."Atau kalau semisal kita pakai nama Geng Kolaborasi aja, gimana, Bos?" usul Pedro tidak mau kalah dalam memberikan ide nama kelompok."Menurutku, pilihan nama-nama itu masih kurang keren dan susah buat mudah diingat sama orang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   71. Lembaran Kertas

    Pedro melambaikan tangannya dengan santai pada dua anak buah di kanan kirinya untuk maju lebih dulu untuk menghabisi pemuda gondrong itu.Kedua anak buah berbadan kekar itu langsung merangsek maju ke arah Teja sembari mengayunkan pipa besi tebal milik mereka.WUTT!Namun seketika itu juga langkah kaki mereka langsung terdiam kaku saat dua hantaman pipa besi itu sama sekali tak mengenai sasaran.Bukan hanya gagal mengenai tubuh lawan, sosok Teja bahkan mendadak menghilang dari pandangan mata mereka berdua!"Ughhh!" BRUK!Tahu-tahu… justru tubuh besar milik Pedro yang langsung terhempas keras ke atas tanah saat Teja muncul di hadapannya dan mengirim dorongan telapak tangan tepat ke ulu hatinya.Dua anak buah kepercayaan Pedro yang masih berdiri di posisi semula seketika ternganga lebar melihat bos mereka tumbang begitu cepat.BRUK!Tak lama kemudian, kedua orang itu juga ikut tumbang ke tanah tanpa pernah tahu bagaimana bentuk gerakan yang dilakukan oleh Teja.Dalam waktu kurang dari 5

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   26. Tidak Main Hati

    "Aku kan perlu tahu seluk beluk warisan ini, Yah!" dengus Teja meski sedikit malu dan merah pipinya. "Itulah, Ja. Selain berukuran super, milik kamu yang sudah ditingkatkan sama lilitan kain warisan leluhur kita itu juga punya daya tahan yang tinggi. Kamu inget pas ayah tendang bagian itu kapan har

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   13. Kehabisan Napas

    Teja tak sampai hati untuk menolak permintaan Nana. Ia pun segera berjongkok dan menyediakan punggungnya untuk memanggul teman kuliahnya tersebut. “Naik, Na. Pelan-pelan saja!“ perintahnya. Namun Nana lagi-lagi menggeleng. “Gendong depan aja boleh, Jo?“ pintanya dengan suara manja. Teja menghela n

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status