共有

74. Ikut Dididik

作者: Leva Lorich
last update 公開日: 2026-06-25 14:27:16

"Aman banget, Ja, sama sekali nggak ada keluhan sakit atau sesak yang berasa kayak hari-hari kemarin pas belum kamu obati," jawab Sanjaya dengan guratan wajah yang tampak jauh lebih segar dari sebelumnya.

"Kalau begitu coba sekarang Bapak gerak menghadap ke arah belakang dulu, biar aku cek lagi lewat jalur punggung," pinta Teja guna memastikan akurasi kesembuhan total sang guru besar.

Sanjaya segera bergerak memutar posisi tubuhnya dengan kooperatif di atas kursi ruang tamu.

Teja kemudian menem
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   80. Senyum Getir

    Gerakan pinggul Teja terus berpacu meningkatkan kecepatan hantaman demi hantaman kuat ke arah bokong montok Linda yang masih kokoh menungging. Suara benturan kulit yang basah antara pangkal paha Teja dan bokong padat Linda bergaung memenuhi seluruh sudut kamar rumah singgah.Setengah ukuran batang besar miliknya yang tertanam di dalam liang intim Linda terasa terjepit begitu luar biasa ketat, memberikan sensasi jepitan dinding daging yang luar biasa nikmat bagi Teja. Pemuda itu tampak mengatur napasnya yang memburu panas, menikmati setiap inci gesekan kuat yang menyiksa sekaligus memanjakan kejantanannya yang terbesar se-Indonesia tersebut."Shhh, Lin... jepitan punyamu beneran ketat banget, bikin nagih!" gumam Teja dengan suara berat penuh kepuasan yang tertahan.Linda tidak bisa lagi menjawab dengan kalimat yang jelas, melainkan hanya mampu mengeluarkan erangan kacau.Kepala gadis itu masih bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, dengan sepasang tangan yang meremas kuat-kuat permuk

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   79. Terlampau Gila

    "J-Jaa, plisss buruan langsung masukin aja punyamu, aku bener-bener udah nggak tahannn!" rintih Linda dengan suara yang terputus-putus menahan gejolak gairah.Teja hanya tersenyum nakal mendengarnya, namun ia justru sengaja menambah satu jari telunjuk lagi ke dalam lubang intim tersebut.Ia menusukkan kedua jarinya itu keluar masuk dengan irama yang sangat cepat sambil sesekali menggesek area klitoris Linda menggunakan ibu jarinya."Tejaaa! Aku udah nggak kuattt lagi, ohhhh!" Linda bergerak semakin tidak terkendali sembari terus menggoyangkan pinggul dan bokongnya ke sana kemari demi mengejar ritme dua jari Teja."Nikmatin aja semuanya, Lin, nggak usah banyak protes!" tegas Teja sembari menekan kuat-kuat kedua jarinya jauh menusuk ke dalam sana."Ohh ohhh, iyaa, ohhhh... aku mau keluarrr sekarang, Ja, ohhh geli banget sumpahhh!" jerit Linda dengan tubuh yang mulai berkeringat halus."Lepasin aja semuanya, Lin, nggak usah ditahan-tahan lagi," ucap Teja yang tangannya menjadi semakin li

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   78. Jari Tengah

    Linda menggerakkan tangan kanannya naik turun untuk mulai mengocok batang milik Teja secara perlahan.Merasa tidak cukup jika hanya menggunakan satu telapak tangan saja karena ukuran milik Teja yang terlampau panjang, ia segera memadukannya dengan cengkeraman dari tangan kirinya.SRUPP!Lidah hangat Linda tiba-tiba terjulur keluar dan langsung membasahi area kepala bak jamur milik Teja dengan sangat nikmat."Ohh, geli banget rasanya, Lin!" seru Teja sembari menahan pinggulnya agar tidak bergoyang maju.Linda mendongakkan wajahnya sejenak ke atas dan melemparkan sebuah senyuman manis yang menggoda. "Kamu suka nggak kalau diginiin terus, Ja?""Suka banget, Lin, udah buruan lanjutin aja sesukamu!" sahut Teja dengan napas yang mulai memburu hebat.Linda kemudian membuka lebar rongga mulutnya dan mencoba memasukkan area kepala milik Teja ke dalam sana."Uhmmm, ini beneran susah banget buat dikulum semua, Ja, soalnya gedenya luar biasa banget," gumam Linda dengan suara yang tertahan di teng

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   77. Pentungan Hansip

    Teja terus menyesap bagian puting merah muda milik Linda dengan sangat gemas dan juga rakus.Kedua belah tangannya pun tak tinggal diam begitu saja. Dua telapak tangan lebar itu ikut meremas dua bongkahan besar nan kenyal di dada Linda dengan penuh gairah yang membara."Ohhh, Jaa... geli banget bagian situ, hmmmh," desah Linda sembari mendongakkan kepalanya menikmati sensasi hisapan tersebut.Teja menjadi semakin bersemangat mendengar suara desahan nikmat itu. Bibirnya semakin liar menyedot bergantian, mengulum dada kiri dan kanan milik Linda tanpa henti.“Ushhh, terusss, Jaa!“ geram Linda menahan desakan hasratnya.Tumpuan pijakan kedua belah kaki Linda lama-kelamaan mulai terasa gemetar dan goyah karena ia sudah tidak kuat lagi menahan gelombang kenikmatan yang datang bertubi-tubi tersebut."Pindah ke dalam kamar situ aja yuk, Ja, shhh... aku udah nggak kuat kalau harus berdiri terus begini," pinta Linda sembari menunjuk ke arah pintu kamar satu-satunya yang ada di dalam rumah singg

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   76. Konsumsi Publik

    "Nggak usah repot-repot, Lin," jawab Teja dengan nada bicara yang mulai terdengar sedikit gugup akibat tatapan menggoda serta tawaran menjurus dari gadis di hadapannya."Kamu kok jadi kelihatan canggung banget gitu sih?" tanya Linda sembari berjalan mendekat dan mengikis jarak di antara mereka."Eh, anu... mendingan kita sekarang langsung keluar aja yuk, Lin," ajak Teja sembari memutar tubuhnya dan bersiap melangkah lebar ke arah pintu keluar.Namun Linda yang posisinya berada tepat di hadapannya langsung bergerak sigap menahan lengan kekar Teja dengan cengkeraman jemarinya yang lembut dan hangat."Kamu ini sebenarnya kenapa sih, kok sikapnya kayak orang ketakutan begitu?!" sungut Linda sedikit kesal.Teja segera menarik napas panjang sejenak, berusaha keras untuk menenangkan debaran jantungnya yang mulai berpacu cepat.Ia juga mencoba mengingat kembali prinsipnya yang tak mau dicap sebagai pria mesum yang gampang tergoda kemolekan tubuh wanita."Nanti ayahmu bisa curiga kalau kita be

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   75. Lihat Kebunku Penuh Dengan Bunga

    Sepeninggal Bintang dan Pedro yang pergi bersama Wiryo, Sanjaya juga segera pamit untuk masuk ke dalam kamar guna beristirahat.Kini tersisa hanya Teja dan Linda saja yang berada di dalam ruang tamu bernuansa hangat itu."Ja, daripada kita cuma duduk bengong berduaan di sini, mendingan kita jalan-jalan yuk keliling area perguruan ini, nanti aku tunjukin sekalian area peternakan luas yang sempat diceritain sama ayah kemarin," ajak Linda sembari melemparkan senyuman manisnya."Ayo deh, Lin. Lagian, kalau cuma duduk diam di sini doang juga malah bikin mataku jadi gampang ngantuk," jawab Teja sambil bangkit berdiri dari posisi duduknya.Keduanya pun segera berjalan beriringan melangkah menuju ke arah area halaman belakang rumah tersebut.Lahan yang dimiliki oleh Perguruan Silat Teratai Kembar ini ternyata berukuran cukup luas dan tertata dengan sangat rapi.Sekitar seratus meter melangkah dari posisi rumah tadi, mereka berdua mulai melewati area perkebunan buah-buahan subur yang sengaja d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   40. Membawa Pulang

    Nana dan Citra terbelalak kaget. Mereka tak menyangka jika skenario Leon dan Marcel akan sebejat ini!“Ja-jangan, jangan mendekat! Aku nggak mau!“ susah payah Nana melontarkan kalimatnya dalam deraan rasa ingin yang kian menjalari tubuhnya. Jantung sudah berdegup sangat kencang.“Tolong, ampun. Jan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   38. Vila Luar Kota

    'Bongsor! Kamu itu kenapa gede banget sih? Bikin repot aja! Udah gitu, susah muncrat pula, huhh!' geram Teja menoyor gemas miliknya sendiri yang menjulang bebas ke angkasa.Seperti memiliki pikiran, miliknya dengan gagah berani memantul-mantul, menampar tangan Teja seolah menantangnya.Tak mau meny

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   37. Kuning Mencolok

    “Gampangnya, kita langsung praktik saja. Coba kamu baca apa karakter ayah!“ perintah Toni kemudian.Teja terdiam. Menatap wajah ayahnya dan berkonsentrasi.“Pusatkan pikiranmu pada fisik dan wajah ayah. Nanti akan muncul jawaban yang berupa kata hati. Rasakan itu dalam dadamu,” imbuh sang ayah memb

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   36. Cenayang

    “Dua tamparan itu buat imbalan karena kamu sudah berani menyewa Bintang dan ngerusak rumahku!“ seru Teja tegas.Bibir Prapto pecah. Beberapa giginya juga copot dari akarnya. Darah mengalir semakin banyak dari bibirnya.Tamparan Teja memang tidak terlihat terlalu keras. Namun lambaran energi Qi yang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status