Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 696. Terjalin Dengan Sendirinya

Share

696. Terjalin Dengan Sendirinya

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-11-05 10:14:05

Sekitar jam satu dini hari, Teja tiba di rumah megahnya. Suasana lingkungan sekitar tampak sangat lengang dan sunyi, diselimuti embun malam yang mulai turun membasahi permukaan jalanan kompleks perumahan elit tersebut.

Ia pelan-pelan membuka kunci pintu dan masuk agar tidak mengganggu istirahat ayahnya. Gerakan pemuda itu begitu senyap, memastikan setiap engsel pintu tidak mengeluarkan suara derit sedikit pun yang bisa membangunkan sang ayah yang sudah terlelap sejak beberapa jam lalu.

Teja kem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   698. Sikap Profesional

    "Ini, Bu, ada mahasiswa yang sok-sokan ngaku dari Grup Yulio dan bahkan maksa minta ketemu sama Bu Sekar. Tadi sudah saya usir tapi kok nggak pergi-pergi," lapor resepsionis bernama Santi tersebut dengan nada suara yang masih bernada sinis dan penuh percaya diri, merasa bahwa apa yang ia lakukan sudah benar demi melindungi privasi atasannya."Apa perlu saya panggilkan sekuriti buat nyeret dia, Bu?" imbuh sang resepsionis, menatap Teja dengan sudut mata mengejek seolah menantang."Santi! Jaga sikap dan omonganmu!" bentak Sekar dengan suara melengking tinggi, wajah cantiknya mendadak pucat pasi karena panik bercampur amarah yang meluap-luap."Lho, kok Ibu malah marah ke saya sih?!" protes Santi kebingungan, sama sekali tidak memahami alasan di balik kemurkaan luar biasa yang ditunjukkan oleh sang CEO."Santi, dengarkan! Buka kupingmu lebar-lebar. Beliau Pak Teja Surya, pemilik saham lima puluh persen Grup Yulio!" seru Sekar tegas, menegaskan identitas sang pemuda dengan nada gemetar men

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   697. Pakaian Santai

    Mobil berhenti di depan pabrik serta kantor milik Sekar. Kendaraan sport mewah berwarna gelap itu merapat sempurna di area parkir utama gedung bernuansa modern minimalis tersebut. Deru mesin berkapasitas besar itu perlahan mati, meninggalkan kesenyapan sesaat di dalam ruang dalam mobil sebelum pintu pengemudi terbuka dan memunculkan sosok pemuda berambut dreadlock yang mengenakan pakaian santai.Teja turun dan mengamati sejenak bangunan dua lantai yang berdiri di atas tanah lima ratus meter persegi itu.Arsitektur bangunan tersebut tampak begitu kokoh dan tertata rapi, memadukan area kantor administratif di bagian depan dengan fasilitas pabrik produksi di bagian belakang yang dilengkapi sistem sirkulasi udara modern. Dari luar, tempat itu memancarkan aura profesionalisme sebuah pabrik kosmetik yang dikelola secara serius dan higienis.'Ini mah bukan bisnis kecil-kecilan, Sekar! Skincare-mu sudah berada di kelas menengah!' batin Teja, merasa cukup terkesan dengan perkembangan bisnis

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   696. Terjalin Dengan Sendirinya

    Sekitar jam satu dini hari, Teja tiba di rumah megahnya. Suasana lingkungan sekitar tampak sangat lengang dan sunyi, diselimuti embun malam yang mulai turun membasahi permukaan jalanan kompleks perumahan elit tersebut.Ia pelan-pelan membuka kunci pintu dan masuk agar tidak mengganggu istirahat ayahnya. Gerakan pemuda itu begitu senyap, memastikan setiap engsel pintu tidak mengeluarkan suara derit sedikit pun yang bisa membangunkan sang ayah yang sudah terlelap sejak beberapa jam lalu.Teja kemudian naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Ruangan pribadinya terasa sejuk berkat pendingin ruangan yang menyala otomatis, menyambut kepulangannya setelah melewati malam yang cukup panjang dan melelahkan.Ia mencuci wajah sejenak. Air dingin yang membasuh wajahnya tadi sukses melunturkan sisa-sisa rasa penat, membuat pikirannya kembali jernih di tengah keheningan malam yang kian larut.Ia kemudian merebahkan diri di atas kasur empuknya.'Aku sudah hampir lulus kuliah dan akan masuk penuh k

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   695. Merajut Rencana

    "Kenapa tidak mau? Aku nggak pernah nolak buat berteman dan kenal sama siapapun. Aku tadi cuma menggarisbawahi hubungan kita agar tidak langsung meluncur jauh. Kita perlu menciptakan ikatan batin dulu, Sekar," ucap Teja dengan nada suara yang begitu menenangkan, menghapus sisa-sisa kecemasan di benak wanita mungil tersebut."Aku paham, Ja. Terima kasih... terima kasih sudah memikirkan aku dan anakku. Kamu pria spesial!" balas Sekar dengan suara parau yang sarat akan rasa syukur dan kekaguman yang teramat dalam."Perlu kamu tahu, Sekar. Wanitaku sudah cukup banyak di luar sana. Semua memiliki latar belakang masing-masing. Tapi, semua hubungan yang terjadi selalu dilandasi ikatan batin terlebih dahulu. Bukan grasak-grusuk dan yang penting enak doang," jelas Teja memberikan pandangan hidupnya perihal hubungan antarmanusia, menunjukkan sisi dewasanya yang menjunjung tinggi kehormatan seorang wanita.Wajah Sekar sejenak tertegun begitu mendengar bahwa di sisi Teja ternyata telah berdiri pa

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   694. Menimbang Segala Aspek

    "PLAK!"Telapak tangan Teja tiba-tiba menepuk tangan Sekar yang berusaha melepas gespernya.Suara tamparan kecil yang menghantam punggung tangan wanita mungil itu menggema nyaring di dalam ruangan kamar yang hening. Sekar terperanjat seketika, sangat-sangat kaget!Ia segera menghentikan gerakannya dengan mata membelalak lebar menatap sang pemuda.Teja lalu memungut kaosnya dan mengenakan kembali dengan tegas.Gerakan pemuda berambut dreadlock itu begitu cepat dan penuh wibawa. Dalam hitungan detik, kain kaos yang sempat terjatuh itu kembali membungkus dada bidangnya, mengakhiri pemandangan terbuka yang sempat membuat atmosfer di dalam kamar menjadi sangat panas dan mendebarkan."Ke-kenapa, Teja?" tanya Sekar dengan suara terbata-bata, napasnya tertahan di tenggorokan sementara rasa bingung dan malu bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya."Kita baru kenal beberapa jam yang lalu, Sekar. Sangat tidak etis kalau melangkah terlalu jauh!" ucap Teja dengan nada suara yang tenang namun

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   693. Tidak Adil!

    Beberapa saat suasana kamar berubah hening. Teja membiarkan Sekar meresapi kesegaran tubuhnya dan memulihkan napas usai pengobatan itu.Suasana di dalam kamar tamu berukuran sedang itu terasa begitu tenang dan damai. Aroma parfum mawar ruangan berpadu dengan wangi tubuh Sekar yang baru saja dibersihkan dari sisa-sisa keringat terapi menciptakan atmosfer yang menenangkan. Teja duduk bersimpuh di sisi ranjang, membiarkan wanita mungil itu berbaring menikmati keajaiban perubahan besar yang baru saja terjadi di dalam organ reproduksinya. Beban bertahun-tahun yang menghimpit kini benar-benar telah sirna, digantikan oleh aliran darah segar dan vitalitas baru yang mendesir di setiap jengkal pembuluh darahnya.Sekitar beberapa menit kemudian, Sekar menatap wajah tampan Teja lagi. "Ja, badanku udah fit lagi," ucap Sekar lirih, suaranya terdengar jauh lebih jernih, segar, dan bertenaga dibandingkan saat pertama kali pemuda itu menginjakkan kaki di rumahnya malam tadi.Teja tersenyum hangat,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status