Masuk"Bocah tak tahu diri! Mari kita lihat sampai mana mulut besarmu bisa bertahan!" teriak Johar garang.Tubuh gempal Johar meluncur maju dengan kecepatan yang luar biasa. Sebagai praktisi bela diri yang telah menguasai ranah bela diri tingkat ahli tahap fondasi serta ditopang oleh ranah energi Qi tingkat empat, gerakan Johar tak lagi bisa ditangkap oleh mata telanjang para tamu awam. Yang terlihat hanyalah bayangan merah menyambar cepat membelah arena.Sepasang cakar tangan Johar menerjang lurus, menyasar leher dan dada Teja secara beruntun. Hawa panas dari gelombang Qi tingkat empat membungkus setiap ujung jemarinya, menciptakan tekanan udara yang berat dan mematikan.Teja tidak bergeming. Dengan pijakan kaki yang kokoh di atas matras, ia menggeser bahunya beberapa senti ke samping. Dua tebasan cakar Johar meleset tipis, hanya menyapu angin kosong di depan dada Teja.Begitu cakar lawan terlewat, Teja meluncurkan balasan kilat. Dua pukulan lurus dilancarkan Teja menembus pertahanan
Bisik-bisik penasaran dari puluhan tamu di sekitar meja perjamuan mengudara, terus saja mengomentari sosok pemuda asing bertubuh tegap yang bersiap menantang sang tuan rumah. Teja mengabaikan seluruh suara sumbang tersebut. Pemuda berumur dua puluh tahun itu hanya melipat kedua lengannya di dada, menjaga ketenangan napas dan kestabilan aliran tenaga dalam di dalam tubuhnya.Ia kemudian melangkah menuju sudut arena pertarungan didampingi oleh Buan dan Budi.Langkah kaki Teja terasa begitu tenang tatkala menaiki tiga anak tangga kayu menuju ring pertarungan. Buan dan Budi berdiri siaga tepat di luar tali arena, menjaga area sudut Teja dari potensi dari orang-orang yang tidak berkepentingan."Tetap tenang dan fokus, Bos. Jangan biarkan ucapan mereka memancing emosi," bisik Budi memberikan penguatan terakhir.Teja mengangguk pelan, melepaskan kemejanya dan menyisakan kaos oblong tebal yang membungkus dada bidangnya.Johar meletakkan mic pada standingnya, lalu ikut melangkah menuju sudut
Mobil yang dikemudikan Buan mulai mendekati area rumah keluarga Johar.SUV hitam itu perlahan berbelok melewati pintu gerbang besi yang terbuka lebar. Suasana cukup ramai dan benderang karena malam itu adalah acara ulang tahun Johar yang ke-lima puluh satu tahun. Deretan mobil mewah terparkir rapi di pelataran rumput yang luas. Cahaya lampu gantung dan sorot dekorasi menerangi seluruh area pelataran kediaman megah berarsitektur klasik tersebut.Di tengah ruangan utama kediaman yang sangat lapang itu, terhampar arena pertarungan berupa matras luas bertali yang sengaja disiapkan khusus. Arena tersebut dikelilingi oleh meja-meja perjamuan tempat para tamu undangan duduk berkumpul, menjadikan pertarungan bela diri sebagai hiburan utama dalam perayaan ulang tahun sang kepala keluarga malam itu.Teja menyapukan pandangan ke segala penjuru arah sembari mengaktifkan pandangan mata batinnya.Ia meneliti jikalau ada senjata tersembunyi ataupun jebakan yang disiapkan Johar untuknya. Namun, i
Sore harinya, Bianca kembali datang ke kamar hotel Teja.Pintu kamar lantai sepuluh itu terdorong pelan tatkala Bianca menempelkan kartu aksesnya dari luar. Wanita berambut bob pendek itu melangkah masuk dengan raut wajah yang memancarkan rasa cemas sekaligus perhatiannya. Ia melihat Teja yang sedang duduk tenang di tepi tempat tidur, tampak baru saja selesai merapikan pakaiannya.Bianca melangkah mendekat, lalu mendudukkan dirinya di samping Teja. Kedua tangan halus putri pengusaha perhotelan itu terulur, menggenggam erat telapak tangan kekar Teja."Ja... Ini sudah mau sore. Sebentar lagi kamu mau berangkat tanding lawan Johar," tutur Bianca dengan intonasi suara yang amat lembut.Teja menatap sepasang mata indah wanitanya dengan tenang. "Iya, Bi. Semua persiapan sudah matang kok."Bianca menatap lurus ke dalam mata Teja. Ada rasa takut yang melanda hatinya tentang keselamatan sang pria."Nanti di sana kamu harus fokus ya, Sayang. Jangan meremehkan musuh sedikit pun, tapi juga jang
Pagi buta, saat langit Jakarta masih diselimuti kegelapan, Bianca sudah bangun terlebih dahulu.Wanita berambut bob pendek itu beranjak perlahan dari peraduan agar tak mengganggu tidur lelap Teja. Ia melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri dan membasuh tubuhnya di bawah kucuran air hangat. Selesai mandi dan mengenakan busana kerjanya kembali, ia mendekati tempat tidur dan mengecup pelan dahi Teja yang masih terlelap."Aku balik ke ruang kerja di lantai atas dulu ya, Sayang. Jangan lupa sarapan nanti," bisik Bianca pelan. Teja menggeliat dan mengangguk.Dengan langkah perlahan, Bianca keluar dari kamar lantai sepuluh tersebut dan naik menggunakan lift menuju ruang kerja manajemen di lantai paling atas gedung hotel. Di ruangan berpendingin udara yang tenang itu, ia langsung memeriksa tumpukan berkas laporan operasional hotel yang harus diselesaikannya sebelum pagi menjelang.Teja bangun setelahnya.Matanya terbuka saat sinar matahari pagi mulai menerobos celah gorden jendela
“Iyaaa, Sayang. Ini aku baru mau kasih tebakannya,” cengir Teja dengan wajah tanpa dosa."Awas kalau ini tebakan jebakan lagi ya, Ja! Pikir baik-baik pertanyaanmu itu," ujar Bianca mengancam pelan sembari menepuk dada bidang Teja.Teja terkekeh pelan. "Ini tebakan serius, Bi. Coba jawab, apa bedanya soto ayam sama lubangnya cewek cantik?"Bianca terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya. Tak lama kemudian ia membuka mulutnya."Soto ayam itu mienya warna putih, kalau cewek cantik itu mienya hitam alias bulu anunya hitam! Benar kan?!" seru Bianca dengan tatapan mata penuh rasa yakin."Nah, gitu dong! Pinter banget pacarku ini. Jawabannya seratus persen benar!" puji Teja sembari kembali menepuk bokong mulus Bianca dengan gemas."Yeayyy! Akhirnya bener juga! Ayo, janji adalah janji. Lanjut ronde dua sekarang!" sorak Bianca riang. Rasa kesalnya seketika menguap digantikan oleh gairah yang kembali membakar."Siap, Nona cantikku. Kalau gitu, ronde kedua ini aku yang atur gayanya. Kita paka
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha







