Share

Pertemuan Sengit

Author: Brown _Sugar
last update publish date: 2026-10-30 14:08:37

Taufan membeku.

Selama bertahun-tahun, ia menyusun ratusan kalimat untuk saat ini. Ia menghafal bagaimana harus menyapa, bagaimana harus tersenyum, bagaimana harus bersikap seolah-olah semua ini hanya kebetulan. Namun begitu mata Nirmala menatapnya sedekat ini, seluruh kalimat itu lenyap tanpa sisa.

"Maaf," ucapnya cepat, lalu buru-buru melepaskan lengannya setelah memastikan Nirmala berdiri mantap. Ia mundur setengah langkah, berdeham, dan mengalihkan pandangan ke buku-buku yang berserakan di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak CEO Yang Terlantar   Suara itu?

    Darma berdecih keras. Tatapannya menyapu Nirmala yang berdiri gemetar dengan rok basah, lalu beralih pada Taufan dengan jijik."Selamat bersenang-senang," ucapnya sinis. "Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan perempuan jalang sepertimu! Sudah miskin, banyak tingkah!"Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Pintu sedan peraknya dibanting keras, lalu mobil itu melaju kencang, memercikkan air kotor ke trotoar.Nirmala menatap kepergian itu dengan mata kosong.Remuk. Hatinya benar-benar remuk. Dulu, di malam-malam sunyi saat ia menunggu Darma pulang, ia sering membayangkan hari ini. Hari ketika ia melahirkan dengan tangan digenggam suaminya, hari ketika mereka berdua menangis bahagia mendengar tangis pertama anak mereka. Ia membayangkan membesarkan bayi ini bersama-sama, dalam rumah yang hangat.Semua itu sirna. Bahkan kini, ia dan lelaki itu sudah bukan suami istri."Aduh ..." Nirmala meringis, mencengkeram perutnya. Gelombang nyeri datang lagi, lebih kuat dan lebi

  • Anak CEO Yang Terlantar   Pertemuan Sengit

    Taufan membeku.Selama bertahun-tahun, ia menyusun ratusan kalimat untuk saat ini. Ia menghafal bagaimana harus menyapa, bagaimana harus tersenyum, bagaimana harus bersikap seolah-olah semua ini hanya kebetulan. Namun begitu mata Nirmala menatapnya sedekat ini, seluruh kalimat itu lenyap tanpa sisa."Maaf," ucapnya cepat, lalu buru-buru melepaskan lengannya setelah memastikan Nirmala berdiri mantap. Ia mundur setengah langkah, berdeham, dan mengalihkan pandangan ke buku-buku yang berserakan di tangga."Saya ... saya bantu ambilkan."Hujan menetes dari ujung rambutnya yang hitam dan rapi, mengalir di sepanjang rahangnya yang tegas. Kemeja putihnya yang basah menempel di bahu bidang, menegaskan postur tubuh tinggi tegap yang jelas bukan milik orang biasa. Ketika ia berjongkok memungut buku, kulit putihnya tampak kontras dengan jas hitam yang membalut tubuhnya.Nirmala berdiri kaku, tidak tahu harus berbuat apa.Tampan. Itu kata pertama yang melintas di benaknya, lalu buru-buru ia usir.

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 11. Kamu ...

    "Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 10. Mulai berani

    Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 9. Siapa?

    "Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sebuah wasiat

    Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status