แชร์

Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les
Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les
ผู้แต่ง: Anonima

Bab 1

ผู้เขียน: Anonima
Pada hari ulang tahun putriku. Dia sengaja berkata di depan semua orang, "Mama, kamu sudah jadi wanita tua, jangan ikut makan kue. Papa beli kue ini mahal, tahu."

Hatiku langsung mencelos.

Saat aku menoleh, kulihat dia membawa sepiring kue terbesar dan memberikannya kepada guru les privat. "Mama Vira, stroberi di kue ini manis sekali. Cepat cicipi."

Suamiku mengabaikan rasa canggungku. Dia malah tersenyum, lalu mengoleskan sedikit krim ke wajah putriku dan guru les itu. "Panjang umur dan selalu selamat."

Melihat mereka bertiga tertawa bersama, tampak begitu manis dan akrab.

Saat itu juga, aku benar-benar menyerah.

Jadi, aku menelepon dosen pembimbingku dan memilih bergabung dengan program rahasia nasional. Bagaimanapun juga, mengorbankan impian demi orang-orang seperti mereka, sungguh tidak sepadan.

....

Mendengar perkataanku, dosen itu terdiam beberapa detik. Setelah sadar, barulah dia berkata, "Bukannya kamu bilang nggak akan pergi? Anaknya masih kecil. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran?"

Tanganku yang sedang membereskan barang-barang langsung terhenti. Aku mengatupkan bibir sejenak sebelum akhirnya berbicara, "Nggak apa-apa, Bu. Aku sudah mikir dengan matang. Nessa nggak butuh aku sebagai ibunya. Dibandingkan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, aku lebih ingin berkontribusi untuk negara."

Setelah menutup telepon, aku terus duduk di sofa balkon dan menatap pemandangan di luar tanpa tujuan. Pikiranku tanpa sadar kembali mengingat semua yang terjadi malam itu di restoran.

Hari ini adalah ulang tahun putriku, Nessa. Demi merayakannya, aku sengaja memesan ruang VIP di Restoran Ville yang ada di pusat kota. Sejak pagi aku sudah mengambil cuti dan pulang lebih awal untuk membuat sendiri kue stroberi.

Awalnya, suasana sangat menyenangkan. Namun saat tiba waktu membagi kue, Nessa sengaja melirikku beberapa kali, lalu berkata, "Mama, kamu sudah jadi wanita tua, jangan ikut makan kue. Ayah beli kue ini mahal, tahu."

Hatiku langsung mencelos.

Ketika aku menoleh, kulihat dia membawa sepiring kue terbesar dan memberikannya kepada guru les privatnya, Vira. "Mama Vira, stroberi di kue ini manis sekali, cepat cicipi."

Begitu kata-kata itu keluar, para teman dan keluarga yang hadir langsung tertegun dan tanpa sadar menatap kami. Lalu mereka berbisik-bisik, mengatakan bahwa aku sama sekali tidak berarti di hati Nessa, bahkan tidak ada apa-apanya dibanding guru lesnya.

Aku hanya bisa berdiri kaku di tempat dengan perasaan canggung.

Namun, Zakie malah mengabaikan wajahku yang pucat. Dia malah tersenyum, lalu mengoleskan sedikit krim ke wajah Nessa dan Vira.

"Panjang umur dan sehat selalu!"

"Ayah nakal! Kenapa malah mengolesi Bu Vira juga!"

Vira menampilkan senyum lembut dan rapuh, lalu ikut mengoleskan krim ke wajah ayah dan anak itu. Melihat mereka bertiga tertawa bersama, tampak begitu manis dan mesra. Saat itu juga, aku benar-benar menyerah, lalu berbalik pulang ke rumah.

Di sepanjang perjalanan pulang, lampu-lampu neon berkelip. Dari ribuan cahaya itu, tak satu pun yang mau menerimaku.

Angin dingin berembus, pikiranku menjadi kacau. Yang terus berkelebat di kepalaku adalah masa lalu antara aku dan Zakie.

Aku dan dia bertemu saat kuliah, lalu saling mengenal dan jatuh cinta. Dari kampus hingga ke pelaminan, kami pernah menjadi pasangan yang membuat banyak orang iri. Kemudian di tahun kedua pernikahan, aku mengandung Nessa.

Entah karena kondisi tubuh atau alasan lainnya, selama mengandungnya aku sering mengalami insomnia, menanggung banyak penderitaan, bahkan pingsan dan masuk rumah sakit sudah menjadi hal biasa. Dalam hitungan bulan saja, tubuhku menyusut drastis.

Zakie merasa sangat kasihan padaku. Dia menangis sambil memohon agar aku merelakan anak itu, bahkan berlutut dan bersumpah padaku, "Seumur hidup ini, aku tetap akan mencintaimu meski tanpa anak. Aku nggak sanggup melihat tubuhmu menderita seperti ini sementara aku nggak melakukan apa-apa!"

"Antara anak dan kamu, aku memilih kamu."

Saat itu, keteguhan Zakie menunjukkan betapa besar cintanya padaku.

Namun baru berapa lama waktu berlalu, bahkan belum sampai fase tujuh tahun pernikahan.

Dalam hidupnya sudah muncul seorang Vira. Putri yang kulahirkan dengan mempertaruhkan separuh nyawaku dan suami yang selama ini kucintai, semuanya beralih ke arah Vira.

Hanya aku yang tertinggal, berdiri sendirian di jalan hidup ini.

Terdengar suara pintu terbuka, Zakie mendorong pintu dan masuk. Wajahnya tampak tidak senang. "Herni, bisa nggak kamu berhenti ngambek sembarangan? Hari ini ulang tahun anak kita, sebagai ibunya kamu malah pergi begitu saja. Apa itu pantas?"

"Nessa cuma bercanda sama kamu, kenapa kamu anggap serius?"
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 10

    Dalam proses eksperimen, selalu ada konsekuensi yang tidak mungkin sepenuhnya dihindari. Selama bertahun-tahun ini, meskipun kami sudah sewaspada mungkin, tetap saja ada banyak orang yang terkorbankan. Dari mereka yang selamat, sebagian besar hidup dalam kondisi tidak utuh.Inilah juga alasan mengapa aku tidak punya hak untuk mengeluh.Dibandingkan kegagalan atau kematian, aku jauh lebih beruntung daripada banyak orang. Aku masih hidup. Hidup untuk melihat dunia ini, hidup untuk menyaksikan hasil akhirnya."Aku nggak akan mengecewakan amanah yang diberikan."Hari penyerahan penghargaan pun tiba. Beberapa hari ini, aku mengulang naskah pidato berkali-kali, belajar menerima dunia baru yang sama sekali berbeda.Dua belas tahun terputus dari kehidupan sosial membuat banyak hal terasa asing bagiku. Banyak yang tidak bisa kuikuti, banyak pula yang tidak kupahami. Yang membuatku lega adalah kenyataan bahwa kemajuan teknologi berarti kekuatan negara.Dengan begitu, semua yang telah kuberikan t

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 9

    Menyadari kegagalannya, Zakie meneteskan air mata. Ada seseorang yang mengenali namaku, lalu berbisik pelan kepada orang di sampingnya.Lima menit kemudian, penanggung jawab lembaga penelitian keluar dan menatap Zakie dengan saksama. Dia sangat memahami kondisi keluarga setiap peneliti, tentu saja dia juga mengenali Zakie. Namun, dia merasa heran. Aku sudah keluar selama satu minggu. Secara logika, sebagai suami, Zakie tidak mungkin tidak mengetahuinya."Halo, saya penanggung jawab di sini. Apa yang ingin kamu sampaikan bisa kamu katakan kepada saya."Berdasarkan sedikit rasa tanggung jawab di hatinya, dia mengajak Zakie ke kantor dan mengetahui seluruh kejadiannya.Masalah keluarga yang sangat biasa. Terutama saat Zakie mengatakan ingin bercerai, penanggung jawab itu sudah membayangkan jawabannya di dalam kepala."Pak Zakie, ini adalah urusan rumah tangga kalian. Keberadaan Herni tidak bisa saya ungkapkan. Karena dia sudah memutuskan untuk bercerai, lembaga penelitian kami juga mengho

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 8

    "Herni."Pada hari ketujuh setelah aku pergi, Zakie tidak pergi mencari putrinya. Dia malah datang ke tempat aku dulu bekerja.Ini adalah area dengan perlindungan ketat. Bukan hanya para peneliti, hasil penelitian di dalamnya juga harus dilindungi. Karena itu, Zakie dihentikan di gerbang depan. Dia sudah berubah banyak. Janggutnya tumbuh tak terurus, wajahnya tampak lesu, bahkan terlihat seperti pengemis.Satpam di pintu masuk berkali-kali mengusirnya, bahkan memperlakukannya seperti pengemis."Ini bukan tempat yang boleh kamu datangi. Kalau mau minta uang, pergi ke tempat lain."Kata-kata yang melukai itu menghantamnya begitu saja, membuat wajah Zakie berubah karena sakit.Beberapa hari ini, dia terus teringat pada sikapnya dulu terhadapku. Apakah saat itu aku juga merasakan sakit yang sama seperti yang dia rasakan sekarang?"Heh, dengar nggak kalau diajak bicara? Cepat pergi."Melihat dia melamun, satpam itu marah dan mengeluarkan alat setrum. Zakie tersadar, lalu menyebut namaku den

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 7

    Beberapa tetes air mata itu bercampur dengan sedikit ketulusan. Zakie jadi serba salah. "Vira, urusan ini nggak ada hubungannya denganmu. Herni hanya sedang ngambek. Dia itu orang yang tumbuh di panti asuhan, memang terbiasa hidup bebas dan nggak terikat. Nggak perlu ditanggapi. Beberapa hari lagi dia pasti pulang sendiri."Saat pertama kali mengenalku, Zakie sampai menangis karena merasa kasihan setelah tahu aku dibesarkan di panti asuhan. Setelah rasa cintanya memudar, dia berkata orang yang tumbuh di panti asuhan itu bebas dan tidak teratur."Kalau begitu ... kita makan saja."Vira tersenyum cerah sambil mengedipkan mata. Bagi dirinya, selama Zakie masih mau menghiburnya, itu berarti dia masih berarti. Asal dia sedikit lagi berusaha dalam beberapa hari ke depan, menjadi nyonya di rumah ini bukanlah hal yang mustahil.Orang lain yang ikut senang tentu saja Nessa. Dia mengeluarkan minuman yang selama ini disimpannya di kamar karena sayang untuk diminum. Sambil meniru gaya orang dewasa

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 6

    Bagus juga kalau begini. Ke depannya, kita akan berjalan di jalan masing-masing."Profesor, kamu baik-baik saja?"Orang yang menjemputku tampak terkejut. Aku menguatkan diri dan tersenyum padanya. "Aku baik-baik saja. Ayo berangkat."Saat duduk di pesawat yang meninggalkan kota, Zakie mengirimkan banyak pesan. Tak satu pun foto di dalamnya yang tidak menampilkan kebahagiaan dia dan Nessa.Aku menyentuh layar untuk membelai wajah kecil di foto itu. Dengan jari gemetar aku membalas.[ Semoga kalian selalu bahagia dan sehat. ]Itu satu-satunya doa yang bisa kuucapkan. Semoga anakku selamat dan damai, semoga orang yang pernah kucintai hidup bahagia. Dan semoga tanpa kehadiranku, mereka benar-benar bisa merasa bahagia.Suara lepas landas terdengar. Aku memblokir seluruh kontak Zakie dan mematikan ponsel. Dia benar-benar marah. Awalnya dia mengirim foto-foto itu untuk membuatku cemburu dan pulang. Siapa sangka aku malah membalas dengan tenang dan mendoakan.Itu hal yang tidak bisa dia terima

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 5

    Dokter menggelengkan kepala dan tidak berkata apa-apa lagi. Aku diam menunggu lukaku ditangani.Menjelang dini hari, saat aku kembali ke ruang rawat Nessa, dia sudah tidak ada.Perawat kecil menepuk bahuku dengan ramah. "Bu, Bapak itu menitipkan pesan. Anak terlalu rewel, jadi mereka pulang lebih dulu.""Baik."Aku tersenyum getir. Tak kusangka, hanya karena menangani luka sebentar, mereka semua sudah pergi.Angin malam menderu. Aku berjalan pulang tanpa sanggup mengungkapkan perasaanku saat ini. Dulu, Zakie sangat menyayangiku. Dia takut aku menderita dan kesusahan. Ke mana pun aku pergi, dia pasti menjemputku.Kini, orang baru menggantikan yang lama. Bahkan anak yang kulahirkan dengan taruhan nyawa pun tak lagi memedulikanku. Hidup sampai titik ini terasa begitu sepi dan tandus."Ada panggilan masuk, ada panggilan masuk."Di tengah perjalanan, Zakie menelepon. Suasana di seberang terdengar ramai. Aku mendekatkan ponsel dan mengerutkan dahi."Herni, aku bawa anak makan camilan malam.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status