MasukMentari pagi yang biasanya disambut dengan kehangatan aktivitas persiapan sekolah, kali ini terasa hening di kediaman Ibra. Cahaya yang menyusup lewat celah gorden kamar Putra tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang menyelimuti bocah lima tahun itu.Putra masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Meski ruangan itu luas dan terang, di matanya, kegelapan ruangan dan lemari sempit tempatnya disekap kemarin masih membayang. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan hawa dingin dan sesak yang mencekik napasnya dan juga suara amarah wanita yang menjadikannya sandera."Meong!" Lili berseru pelan. Mengeluarkan tubuhnya dengan lentur di sebelah Putra. Seolah tahu akan keadaan teman kecilnya itu, Lili duduk dengan bulu putih yang berantakan, lalu menyandarkan kedua cakar depannya di dada Putra."Lili...." cicit Putra pelan."Meong...." Lili membalas dengan ngeongan lembut. Kucing kecil itu pun semakin mendekat dan kini berpindah duduk tepat di sebelah bahu Putra. Kepalanya pun m
Ibra mengangguk. "Ya. Dia berhasil mengecoh kita."Aya mengepalkan kedua tangannya. "Mas, sebaiknya kita bicara di luar." Wanita itu menoleh ke arah anaknya dan mengusap pipi Putra dengan lembut."Sayang, kamu istirahat, ya? Biar ditemani Lili. Bunda, Ayah, sama Nenek mau bicara," ucap Aya lembut dan penuh kasih sayang."Iya, Bunda." Putra mengangguk patuh. Bocah itu memeluk ibu lalu neneknya terlebih dahulu. Lalu ia menoleh ke arah ayahnya."Ayah, makasih," ujarnya sebelum memeluk sang ayah juga."Sama-sama, Jagoan. Ayah tidak akan biarkan kamu terluka," ucap Ibra. Pria itu menatap sang istri."Kalian keluarlah dulu. Aku mau obati tangan Putra," ujarnya."Apa?!" Aya memekik. Wanita itu menarik tangan mungil anaknya dan melihat ruam merah di pergelangan Putra."Astaga... Biar Bunda yang obati.""Tidak, biar Nenek saja!"Dan setelah itu, Aya dan Dewi mengobati tangan Putra bersama. Mereka bertiga pun segera keluar dan membiarkan bocah itu tidur
Malam itu, mobil Maybach hitam metalik milik Ibra terus membelah jalanan. Meninggalkan area pantai kembali ke pusat kota yang cukup jauh. Hingga pukul sembilan malam, mobil Ibra tiba di depan rumahnya.Lampu teras berpijar kuning temaram, menerangi dua sosok wanita yang wajahnya telah luruh oleh air mata dan kecemasan. Aya berdiri di ambang pintu, jemarinya saling meremas.Di sampingnya, Dewi tak henti-hentinya berdoa dengan bibir gemetar. Sudah lima jam sejak Putra hilang tanpa jejak dari sekolahnya. Lima jam yang terasa seperti lima abad di neraka karena tak bertemu dengan cucunya.Lalu, sepasang lampu sorot mobil membelah kegelapan. Masuk ke area rumah Ibra, melewati pintu gerbang uang tinggi.Mobil Maybach hitam itu berhenti dengan decitan pelan tepat di depan teras. Jantung Aya seakan berhenti berdetak saat pintu belakang terbuka. Ibra keluar dari sana. Wajahnya pucat, bajunya kusut, rambutnya berantakan, tapi matanya memancarkan sesuatu yang membuat napas Aya kembali tercekat."
Dinding batu yang lembap itu seolah menghimpit paru-paru Beatrice. Napasnya tersengal, meninggalkan uap tipis di udara lorong bawah tanah yang dingin dan berbau tanah. Di belakangnya, gema langkah sepatu bot yang berat menghantam lantai beton terdengar semakin jelas.Itu mereka. Dua anak buah Ibra."Dia tidak mungkin jauh! Cari di setiap tikungan!" suara parau itu menggelegar, memantul di dinding lorong yang sempit, membuat bulu kuduk Beatrice meremang.'Sialan. Mereka berhasil menemukan tempat ini,' umpat Beatrice dalam hati.Wanita itu terus berlari tanpa alas kaki. Dirinya yang biasanya memikirkan penampilan yang sempurna, kini tidak peduli. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal, yaitu keluar dari tempat ini dan menjauh dari Ibra sejauh mungkin.Lampu-lampu redup yang berkedip di langit-langit lorong hanya memberikan penerangan minimal, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Setiap kali ia melewati persimpangan, ia memilih arah secara acak, berharap instingnya leb
"Sepertinya saat Putra tadi dimasukkan ke lemari, Putra denger suara pintu yang dibuka, Yah," jawab Putra sembari menatap ke arah lantai dua.Santo dan Samuel ikut menoleh ke belakang. Mereka pun bertatapan dan mengangguk seolah paham akan situasi dan segera naik kembali ke lantai dua.Ibra pun menatap anaknya. "Kamu yakin?" tanya pria itu."Iya, Ayah. Tadi Putra denger jelas Tante jahat itu buka pintu di deket lemari," jawab Putra jujur dengan tatapan polosnya."Tuan! Ternyata memang ada pintu rahasia di sana," lapor Santo yang tiba-tiba kembali muncul.Ibra segera kembali. Ingin tahu di mana penculik anaknya berada. Saat ia kembali memasuki ruang kerja dan masuk ke dalam ruangan sempit itu, Samuel sudah berdiri di sana. Ia telah berhasil membuka sebuah pintu rahasia yang ia temukan tepat di samping lemari kayu. Kini mereka menemukan lorong sempit yang tadi dilalui Beatrice."Kejar dia!" perintah Ibra."Baik, Pak," sahut Samuel. Pria itu memberikan isyar
"Itu...." Ibra menatap ke tangan Samuel.Mereka sudah mendobrak kamar demi kamar. Kamar utama kosong. Kamar tamu kosong. Hingga mereka sampai di kamar tempat Putra disekap sebelumnya yang penuh debu.Samuel menemukan sisa potongan lakban di sebuah kamar berdebu dan bau parfum wanita yang cukup menyengat masih tertinggal di sana."Saya menemukan ini di kamar paling ujung," tunjuk Samuel pada sebuah kamar di bagian belakang. "Dan ada bau parfum wanita. Sepertinya mereka masih ada di sini," jelasnya."Saya juga menemukan sisa makanan yang masih baru. Di kamar depan juga sepertinya ditinggali. Terbukti dari beberapa pakaian di dalam lemari dan juga peralatan milik wanita," sahut Santo ikut memberikan laporan."Sepertinya ini tempat tinggal orang yang sengaja menculik Putra, Pak. Kemungkinan orang itu sudah cukup lama bersembunyi di sini," timpal Samuel."Tapi di mana Tuan Muda Putra berada? Kita sudah menggeledah semuanya namun belum menemukan petunjuk apa pun,"
Aya terdiam. Tak memberikan respon hingga dokter itu berpamitan. Kini di koridor, Aya merasa ada secercah kebahagiaan yang membuncah di hatinya meski dirinya sendiri tak yakin.Benarkah Ibra sangat mencintainya sampai-sampai tubuhnya bereaksi seperti itu? Namun, bayangan Beatrice kembali muncul.'K
Ibra mengangkat tangan kanannya. Memberikan isyarat agar rapat terus dilanjutkan meski dirinya tidak ikut sampai akhir. "Lanjutkan saja. Saya permisi." Ibra memegangi perutnya. Pria itu lalu berjalan keluar dari ruangan rapat. Menimbulkan pertanyaan bagi yang lainnya. Samuel s
Suasana kamar yang luas itu mendadak terasa menyesakkan bagi Aya. Keheningan yang hanya diisi oleh deru napas berat Ibra menciptakan ruang hampa yang menuntut jawaban. Aya menatap mertuanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.Wanita muda itu mengusap perutnya tanpa sadar. Dewi memerhatikan.
Aya sebenarnya belum tidur. Namun mendnegar suaminya kembali bertanya, ia segera memejamkan kedua matanya, berpura-pura terlelap. Aya mengatur napasnya setenang mungkin agar Ibra berhenti melontarkan pertanyaan yang sulit dijawab.Ia tak mungkin menjelaskan bahwa suaminya yang dingin dan kaku itu s







