Share

Bab 7

Author: Rizu Key
last update Last Updated: 2025-12-30 18:08:19

Hari-hari berikutnya, Aya bekerja dengan tekun. Ia datang lebih pagi, namun bukannya pulang lebih awal, ia malah pulang paling akhir. Ia menenggelamkan dirinya dalam angka, dokumen, dan laporan yang entah mengapa lebih banyak dari porsi kerja sebelumnya.

Namun, dalam beberapa hari ini setidaknya Aya jarang bertemu Ibra. Itu yang Aya kira. Hingga suatu sore, ketika jarum jam menunjukkan hampir pukul empat, kali ini bayangan tinggi itu berdiri di samping mejanya. Tumpukan map tebal dijatuhkan begitu saja di atas meja Aya, membuatnya tersentak.

"Periksa semua ini. Aku mau laporannya besok pagi," ucap Ibra datar.

Aya terkejut. Ditatapnya dokumen tebal itu sembari menelan ludah. "Pak... ini...."

"Kerjakan secepatnya!" potong Ibra sembari mengetuk dokumen dengan jari telunjuknya.

Aya mengangguk pelan. "Baik, Pak."

Aya akhirnya memilih menurut saja. Menolak pun tak akan berguna.

*

Malam itu, Aya pulang dengan tubuh lesu. Lampu kontrakan yang temaram menyambutnya. Sementara Putra sudah tertidur di atas kasur kecil.

Aya berlutut di samping anaknya, menatap wajah polos itu lama dengan dadanya yang terasa nyeri.

"Maafkan Bunda, Sayang...." bisiknya lirih. "Bunda telat pulang lagi."

Aya mengusap pipi Putra, lalu duduk di lantai dengan tumpukan dokumen di pangkuannya. Matanya perih, kepalanya pusing, tapi ada tanggung jawab besar yang harus ia selesaikan malam itu juga.

"Emmmhhh... Bunda...?" gumam Putra, mulai terbangun dari tidurnya.

Aya tersenyum lembut. "Iya, Sayang."

Putra duduk sembari mengucek kedua matanya. "Bunda kok pulangnya malam lagi? Pasti capek, ya?" tanya bocah tampan itu.

Aya menggeleng pelan. "Enggak, kok. Kamu sudah makan?"

Putra menjawab dengan gelengan kecil.

"Kalau gitu sekarang kita makan, ya? Bunda udah beliin nasi Padang buat Putra," ucap Aya sembari kembali berdiri.

Wanita itu meletakkan tasnya di atas meja kecil. Dokumen yang ia bawa pulang pun juga diletakkan di sana. Putra diam-diam mengamatinya. Melihat ibunya yang lelah seperti itu, hati bocah lelaki itu tidak tega.

"Bunda pasti capek banget...." gumam Putra sembari menatap sang ibu yang kembali berjalan keluar menuju ke kamar mandi.

Malam itu, Aya bukannya beristirahat. Wanita cantik itu duduk di ruang tamu, memangku laptop dan dokumen di sampingnya. Ia menenggelamkan diri berkutat dengan pekerjaan dari sang Presdir.

"Bunda...." Suara panggilan lembut itu menyadarkan Aya.

Ia menoleh, mendapati putranya yang terbangun dan berjalan mendekatinya. "Bunda kok belum tidur?" tanya bocah tampan itu.

"Iya, Sayang. Ini masih ada pekerjaan yang harus Bunda kumpulkan besok," jawab Aya seadanya.

Putra berbaring di samping ibunya. "Putra temani, ya?" ucapnya sembari menarik bantal.

"Iya, Sayang."

Aya membantu Putra berbaring. Ia mengusap lembut pipi tembam itu.

"Bunda, andai saja Ayah ada, Bunda nggak perlu sampai begadang...." celetuknya.

Aya terdiam sejenak. Pekerjaan ini juga karena ayah dari anaknya.

"Ehem... Kamu sebaiknya bobo di kamar saja, ya?" Wanita itu mencoba mengalihkan perhatian.

Putra menggeleng pelan. "Nggak mau. Putra mau bobo sini aja, nemenin Bunda kerja."

"Baiklah."

Aya kembali fokus pada pekerjaannya. Ditemani Putra, ia merasa bersemangat. Lalu bocah tampan itu kembali membuka mata menatap wajah lelah ibunya.

"Kenapa Ayah jahat ninggalin Bunda? Putra sedih kalah lihat Bunda capek kaya gini...." gumamnya. Aya hanya diam.

"Bos Bunda juga jahat! Kenapa nyuruh-nyuruh Bunda kerja sampai malam?" gerutu bocah tampan itu lagi.

Aya menghela napas panjang. "Putra, Bunda nggak papa, kok. Bunda kerja juga demi Putra. Sudah, sudah. Sekarang kamu tidur. Besok masih sekolah, kan?"

"Iya, Bunda. Maaf menggangu Bunda...." cicit Putra merasa bersalah karena terus berbicara.

"Putra nggak salah, kok. Sudah, merem."

Dan malam itu, Aya kembali merasakan sesak di dalam dadanya. Putra yang semakin mirip dengan Presdir Ibra, benar-benar membuat wanita itu tidak tenang.

Bagaimana jika Ibra menemukan Putra?

**

Hari demi hari, tumpukan pekerjaan dari sang Presdir semakin banyak. Seolah pria itu sengaja menguji Aya. Entahlah.

Yang Aya tahu, tubuhnya semakin lelah. Senyumnya semakin jarang. Putra mulai sering bertanya kenapa ibunya yang selalu pulang malam dan lembur pekerjaan meski sudah berada di rumah.

Hingga suatu siang, Aya berjalan cepat dengan wajah pucat menuju ke ruangan sang Presdir dengan sebendel dokumen di tangannya. Wajahnya tampak lesu, serta ada dua lingkaran hitam di bawah matanya.

"Semuanya sudah selesai, Pak. Saya permisi," ucap Aya sebelum pergi.

Ibra hanya diam menatapnya dengan dingin. Entah mengapa saat berhadapan dengan Aya, ada sesuatu yang kembali mengusik hatinya.

Aya kembali berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil kunci motor. Namun saat itu juga, ponselnya berdering. Segera saja wanita itu menerima panggilan dari guru TK anaknya.

"Halo," sapa Aya sopan.

"Selamat siang, Bu Aya."

"Ada apa, Bu? Saya sudah mau jemput Putra," sahut Aya.

"Bu Aya! Mohon segera ke rumah sakit."

Deg

Jantung Aya terasa berhenti sesaat. Tanpa banyak kata lagi, Aya bergegas menuju ke rumah sakit di pusat kota. Hingga saat tiba di sana, ia melihat guru TK anaknya sudah menunggu.

"Ada apa sebenarnya, Bu? Apa yang terjadi dengan Putra?" tanya Aya panik. Wanita itu cukup sensitif pada rumah sakit yang dulu menjadi tempat di mana ia kehilangan ibunya.

Saat itu juga seorang dokter keluar dari ruang operasi. "Anda keluarga dari pasien Putra?"

"Iya. Saya ibunya!" jawab Aya dengan tatapan panik penuh kekhawatiran.

"Tulang tangan kanan anak Anda mengalami cidera. Sebaiknya dilakukan operasi sebelum terlambat," ujar dokter itu membuat dada Aya sesak.

"Kalau begitu tolong anak saya, Dokter!"

"Silakan Ibu menyelesaikan administrasinya dulu di depan," anjur dokter pria tersebut.

Aya bergegas dengan cepat. Mengurus semua administrasi untuk keselamatan putranya. Ia tak mau masa lalunya kembali terulang di mana ia kehilangan orang yang ia cintai.

"Biayanya lima belas juta, Bu," ujar pengurus administrasi.

Aya terdiam. Di tabungannya tidak ada uang sebanyak itu. Lalu ia teringat dengan kartu ATM yang masih ia simpan. Segera saja ia mengeluarkannya.

"Tolong periksa ini. Apakah saldonya masih cukup," ujarnya kemudian.

"Baik, Bu."

Kartu ATM itu digesek ke dalam mesin kecil. Aya menunggunya dengan gugup. Takut jika sisa uang di dalam kartu itu tidak cukup untuk menyelamatkan putranya.

"Sudah, Bu. Silakan tanda tangan dan menunggu anak Anda ditangani."

Aya bernapas lega. "Terima kasih."

Wanita itu segera kembali ke depan ruang operasi. Ia terus berdoa untuk keselamatan putranya di dalam sana. Sementara di sebuah restoran ternama, Ibra duduk diam menatap layar ponselnya dengan dahi mengernyit.

"Ada apa, Pak?" tanya Samuel sopan.

"Tidak ada," jawab Ibra datar.

'Sebentar saja dia sudah menggunakan uang sebanyak ini. Benar-benar wanita yang tidak dapat dipercaya,' gumam Ibra dalam hati. Tatapan matanya menajam dengan rahang mengeras.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 80

    "Hanya karena kado dari dia, kamu menangis seperti itu?" suara Ibra dingin, penuh dengan nada tidak suka. Lalu ia menarik Aya dan mencengkeram dagunya dengan satu tangan."Aku peringatkan padamu agar tidak berbuat hal yang bodoh. Kita baru saja menikah dan kamu istriku!" tegasnya dengan tatapan tajam.Aya tidak menjawab. Ia malah kembali menangis dengan bahunya terguncang hebat. Ia lalu mengambil isi kotak itu dan mengangkatnya di hadapan sang suami.Ibra tertegun. Ia menatap benda di tangan istrinya. Dahinya mengernyit dengan kedua matanya menyipit tajam. Di tangan Aya, ada benda yang ia sendiri tak mengerti apa."Hanya itu?" tanyanya masih dengan nada dingin.Aya menepis pelan tangan yang mencengkeramnya. Lalu ia membuka lembaran pertama pada album foto kecil di tangannya. Ibra ikut melihat dan kini ia tahu pada bagian pertama album ada foto Aya dan dua orang lainnya yang lebih tua. Aya di sana masih mengenakan seragam SMA.Ibra terdiam. Ia menebak bahwa kedua orang tua itu adalah a

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 79

    "Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Baiklah," sahutnya."Makasih, Ayah.""Iya." Ibra kemudian menatap ibunya. "Kalian ada apa datang pagi-pagi ke sini?" tanyanya."Mamah cuma mau nganterin Putra aja, Bra. Maaf kalau mengganggu waktu berduaan kalian. Tapi Putra bilang mau kasih hadiah itu. Katanya penting," jelas Dewi.Ibra terdiam sejenak. Tatapannya kembali pada benda di tangannya. Sementara Putra mendekat dan memeluk kedua kaki sang ayah."Sudah, kan? Kita pulang, ya? Biarkan Ayah dan Bunda berduaan dulu," bujuk Dewi kemudian."Iya, Nenek. Dadah, Ayah! Putra pulang dulu, ya!" seru Putra sembari melambaikan tangannya."Hm."Bocah itu segera pergi. Ternyata kedatangannya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 78 (18+)

    "Hentikan...." ucap Aya merasa kegelian.Tangan besar Ibra kini bergerak membelai dadanya. Menarik tangan Aya agar tak menutupi dada sintal itu. Lalu menarik tubuh Aya ke dalam pelukannya. Membuat Aya dapat merasakan debaran jantung Ibra yang menempel punggung."Aku ingin melakukannya sekarang," bisik pria itu dengan suara berat yang menggelitik. Dagu Ibra menempel di baju Aya. Dan pelukannya cukup erat sehingga mustahil wanita itu bisa kabur."Ta-tapi tadi malam sudah...." cicit Aya dengan wajah mulai memerah.Tangan Ibra meremas lembut dada Aya yang memenuhi genggaman telapak tangannya. Pria itu kemudian menciumi leher Aya, menimbulkan suara decapan basah."Hmmm...." Aya menahan desahannya. Ia menggeliat pelan dalam kungkungan Ibra."Kita akan melakukannya di sini. Tadi malam tidaklah cukup," bisik Ibra dingin. Namun, tatapannya tidak sedingin suaranya. Matanya menggelap saat melihat air mengalir di lekuk tubuh istrinya."Tapi aku mau mandi...." cicit Aya mencoba melepaskan diri."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 77

    Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir satu keturunan saja. Maka dari itu... ketika aku tahu diriku impoten, aku tidak punya harapan lagi untuk keluargaku," lanjutnya.Entah mengapa Aya merasa kasihan pada Ibra. Atau mungkin pada keluarga pria itu?"Tapi setelah tahu Putra anakku, aku mulai percaya adanya keajaiban...." imbuhnya.Aya memilih diam. Entah mengapa malam ini Ibra sedikit berbeda dari biasanya. Aura dominan dan dingin yang biasanya terpancar kini seolah hilang ditelan bumi.Tiba-tiba saja Ibra mengeratkan pelukannya. Membuat Aya terkesiap."Apa kamu kecewa?" tanya pria itu tanpa diduga. Ada nada penuh penyesalan di sana."Tidak juga...." jawab Aya kemudian. "Baguslah. Karena pernikahan kita akan segera diketahui banya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 76 (18+)

    Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua matanya. Kaget dengan pernyataan Ibra yang entah mengapa lebih lembut dari biasanya. Dan tanpa diduga, air matanya jatuh tanpa alasan yang dapat ia pahami."Kamu boleh membenciku. Tapi kamu tetap milikku," tegasnya kemudian.Ibra mengangkat dagu Aya, menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan ibu jari. Tatapannya kini tidak lagi tajam, anehnya terasa hangat dan penuh tuntutan yang berbeda. Ia mulai mencium kening Aya, lalu turun ke kelopak matanya, dan berakhir di bibir Aya dengan kelembutan yang mengejutkan.CupCiuman itu awalnya ragu-ragu, namun segera berubah menjadi gairah yang membara. Aya pun tak menolaknya.Tangan Ibra mulai membuka resleting gaun di punggung Aya dengan geraka

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 75

    Ibra tidak menjawab. Ia berdeham pelan, lalu membuang muka sesaat untuk menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu."Biasa saja," gumamnya dingin, meski matanya kembali tertuju pada Aya tanpa bisa ia cegah.Dewi pun hanya terkekeh pelan menyaksikan tingkah putra semata wayangnya itu.Ibra menatap Aya yang melangkah semakin dekat dengannya. Putra dengan senyuman ceria berjalan di depan ibunya, seolah menjadi satu-satunya malaikat yang bisa menyatukan kedua orang tuanya.Kini, Aya sudah berdiri di hadapan Ibra. Putra dan Gina segera menepi. Saat Hendra menyerahkan tangan Aya ke tangan Ibra, suasana menjadi hening. Tatapan kedua pria itu bertemu. Hendra menatapnya memberikan peringatan, sedangkan Ibra dengan tatapan dinginnya yang tajam."Anda harus menjaga dia. Jika seujung kuku saja dia terluka, saya akan menjemputnya dan membawanya pergi," ucap Hendra sebelum mundur.Ibra menarik tangan Aya, menggenggamnya erat. Aya merasa tubuhnya gemetar saat bersentuhan dengan kulit Ibra.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status