MasukHari-hari berikutnya, Aya bekerja dengan tekun. Ia datang lebih pagi, namun bukannya pulang lebih awal, ia malah pulang paling akhir. Ia menenggelamkan dirinya dalam angka, dokumen, dan laporan yang entah mengapa lebih banyak dari porsi kerja sebelumnya.
Namun, dalam beberapa hari ini setidaknya Aya jarang bertemu Ibra. Itu yang Aya kira. Hingga suatu sore, ketika jarum jam menunjukkan hampir pukul empat, kali ini bayangan tinggi itu berdiri di samping mejanya. Tumpukan map tebal dijatuhkan begitu saja di atas meja Aya, membuatnya tersentak. "Periksa semua ini. Aku mau laporannya besok pagi," ucap Ibra datar. Aya terkejut. Ditatapnya dokumen tebal itu sembari menelan ludah. "Pak... ini...." "Kerjakan secepatnya!" potong Ibra sembari mengetuk dokumen dengan jari telunjuknya. Aya mengangguk pelan. "Baik, Pak." Aya akhirnya memilih menurut saja. Menolak pun tak akan berguna. * Malam itu, Aya pulang dengan tubuh lesu. Lampu kontrakan yang temaram menyambutnya. Sementara Putra sudah tertidur di atas kasur kecil. Aya berlutut di samping anaknya, menatap wajah polos itu lama dengan dadanya yang terasa nyeri. "Maafkan Bunda, Sayang...." bisiknya lirih. "Bunda telat pulang lagi." Aya mengusap pipi Putra, lalu duduk di lantai dengan tumpukan dokumen di pangkuannya. Matanya perih, kepalanya pusing, tapi ada tanggung jawab besar yang harus ia selesaikan malam itu juga. "Emmmhhh... Bunda...?" gumam Putra, mulai terbangun dari tidurnya. Aya tersenyum lembut. "Iya, Sayang." Putra duduk sembari mengucek kedua matanya. "Bunda kok pulangnya malam lagi? Pasti capek, ya?" tanya bocah tampan itu. Aya menggeleng pelan. "Enggak, kok. Kamu sudah makan?" Putra menjawab dengan gelengan kecil. "Kalau gitu sekarang kita makan, ya? Bunda udah beliin nasi Padang buat Putra," ucap Aya sembari kembali berdiri. Wanita itu meletakkan tasnya di atas meja kecil. Dokumen yang ia bawa pulang pun juga diletakkan di sana. Putra diam-diam mengamatinya. Melihat ibunya yang lelah seperti itu, hati bocah lelaki itu tidak tega. "Bunda pasti capek banget...." gumam Putra sembari menatap sang ibu yang kembali berjalan keluar menuju ke kamar mandi. Malam itu, Aya bukannya beristirahat. Wanita cantik itu duduk di ruang tamu, memangku laptop dan dokumen di sampingnya. Ia menenggelamkan diri berkutat dengan pekerjaan dari sang Presdir. "Bunda...." Suara panggilan lembut itu menyadarkan Aya. Ia menoleh, mendapati putranya yang terbangun dan berjalan mendekatinya. "Bunda kok belum tidur?" tanya bocah tampan itu. "Iya, Sayang. Ini masih ada pekerjaan yang harus Bunda kumpulkan besok," jawab Aya seadanya. Putra berbaring di samping ibunya. "Putra temani, ya?" ucapnya sembari menarik bantal. "Iya, Sayang." Aya membantu Putra berbaring. Ia mengusap lembut pipi tembam itu. "Bunda, andai saja Ayah ada, Bunda nggak perlu sampai begadang...." celetuknya. Aya terdiam sejenak. Pekerjaan ini juga karena ayah dari anaknya. "Ehem... Kamu sebaiknya bobo di kamar saja, ya?" Wanita itu mencoba mengalihkan perhatian. Putra menggeleng pelan. "Nggak mau. Putra mau bobo sini aja, nemenin Bunda kerja." "Baiklah." Aya kembali fokus pada pekerjaannya. Ditemani Putra, ia merasa bersemangat. Lalu bocah tampan itu kembali membuka mata menatap wajah lelah ibunya. "Kenapa Ayah jahat ninggalin Bunda? Putra sedih kalah lihat Bunda capek kaya gini...." gumamnya. Aya hanya diam. "Bos Bunda juga jahat! Kenapa nyuruh-nyuruh Bunda kerja sampai malam?" gerutu bocah tampan itu lagi. Aya menghela napas panjang. "Putra, Bunda nggak papa, kok. Bunda kerja juga demi Putra. Sudah, sudah. Sekarang kamu tidur. Besok masih sekolah, kan?" "Iya, Bunda. Maaf menggangu Bunda...." cicit Putra merasa bersalah karena terus berbicara. "Putra nggak salah, kok. Sudah, merem." Dan malam itu, Aya kembali merasakan sesak di dalam dadanya. Putra yang semakin mirip dengan Presdir Ibra, benar-benar membuat wanita itu tidak tenang. Bagaimana jika Ibra menemukan Putra? ** Hari demi hari, tumpukan pekerjaan dari sang Presdir semakin banyak. Seolah pria itu sengaja menguji Aya. Entahlah. Yang Aya tahu, tubuhnya semakin lelah. Senyumnya semakin jarang. Putra mulai sering bertanya kenapa ibunya yang selalu pulang malam dan lembur pekerjaan meski sudah berada di rumah. Hingga suatu siang, Aya berjalan cepat dengan wajah pucat menuju ke ruangan sang Presdir dengan sebendel dokumen di tangannya. Wajahnya tampak lesu, serta ada dua lingkaran hitam di bawah matanya. "Semuanya sudah selesai, Pak. Saya permisi," ucap Aya sebelum pergi. Ibra hanya diam menatapnya dengan dingin. Entah mengapa saat berhadapan dengan Aya, ada sesuatu yang kembali mengusik hatinya. Aya kembali berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil kunci motor. Namun saat itu juga, ponselnya berdering. Segera saja wanita itu menerima panggilan dari guru TK anaknya. "Halo," sapa Aya sopan. "Selamat siang, Bu Aya." "Ada apa, Bu? Saya sudah mau jemput Putra," sahut Aya. "Bu Aya! Mohon segera ke rumah sakit." Deg Jantung Aya terasa berhenti sesaat. Tanpa banyak kata lagi, Aya bergegas menuju ke rumah sakit di pusat kota. Hingga saat tiba di sana, ia melihat guru TK anaknya sudah menunggu. "Ada apa sebenarnya, Bu? Apa yang terjadi dengan Putra?" tanya Aya panik. Wanita itu cukup sensitif pada rumah sakit yang dulu menjadi tempat di mana ia kehilangan ibunya. Saat itu juga seorang dokter keluar dari ruang operasi. "Anda keluarga dari pasien Putra?" "Iya. Saya ibunya!" jawab Aya dengan tatapan panik penuh kekhawatiran. "Tulang tangan kanan anak Anda mengalami cidera. Sebaiknya dilakukan operasi sebelum terlambat," ujar dokter itu membuat dada Aya sesak. "Kalau begitu tolong anak saya, Dokter!" "Silakan Ibu menyelesaikan administrasinya dulu di depan," anjur dokter pria tersebut. Aya bergegas dengan cepat. Mengurus semua administrasi untuk keselamatan putranya. Ia tak mau masa lalunya kembali terulang di mana ia kehilangan orang yang ia cintai. "Biayanya lima belas juta, Bu," ujar pengurus administrasi. Aya terdiam. Di tabungannya tidak ada uang sebanyak itu. Lalu ia teringat dengan kartu ATM yang masih ia simpan. Segera saja ia mengeluarkannya. "Tolong periksa ini. Apakah saldonya masih cukup," ujarnya kemudian. "Baik, Bu." Kartu ATM itu digesek ke dalam mesin kecil. Aya menunggunya dengan gugup. Takut jika sisa uang di dalam kartu itu tidak cukup untuk menyelamatkan putranya. "Sudah, Bu. Silakan tanda tangan dan menunggu anak Anda ditangani." Aya bernapas lega. "Terima kasih." Wanita itu segera kembali ke depan ruang operasi. Ia terus berdoa untuk keselamatan putranya di dalam sana. Sementara di sebuah restoran ternama, Ibra duduk diam menatap layar ponselnya dengan dahi mengernyit. "Ada apa, Pak?" tanya Samuel sopan. "Tidak ada," jawab Ibra datar. 'Sebentar saja dia sudah menggunakan uang sebanyak ini. Benar-benar wanita yang tidak dapat dipercaya,' gumam Ibra dalam hati. Tatapan matanya menajam dengan rahang mengeras. ***Sementara itu, di kediaman megah keluarga Ibra, suasana mendadak terasa begitu sepi setelah keberangkatan suami dan anaknya. Aya berjalan perlahan kembali ke dalam rumah. Langkah kakinya terasa sedikit lebih berat karena usia kandungannya yang sudah memasuki bulan ketujuh lebih. Satu tangannya tidak pernah lepas dari bagian bawah perutnya, menopang bobot sang calon buah hati yang akhir-akhir ini semakin aktif bergerak.Aya kemudian duduk di sofa ruang keluarga yang luas. Pandangannya menerawang menatap langit-langit rumah. Ucapan Putra yang terpotong tadi pagi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.'Bunda! Selamat ulang tahun, ya! Nanti sore Ayah mau bawa Bunda ke-'Aya menghela napas panjang. Ia tersenyum lembut. "Setidaknya Putra ingat hari ulang tahunku. Dan Mas Ibra sepertinya juga ingat...." gumamnya dengan suara lirih. Sebuah perasaan hangat dan haru menjalar di dalam dadanya.Hubungan mereka memang berawal dari ikatan bisnis semata saja. Demi pengorbanan Aya terhadap keselamata
Mobil Maybach hitam itu terus melaju dengan tenang membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan. Di kursi belakang, setelah drama kecil yang menegangkan sekaligus menggemaskan tadi, keheningan yang nyaman kembali tercipta. Putra sibuk memandangi pemandangan di luar jendela, sementara Ibra kembali meraih tabletnya. Namun, fokus pria itu tidak lagi sepenuhnya berada pada deretan angka laporan keuangan atau email dari para investor. Pikirannya melayang kembali pada ekspresi curiga Aya di teras rumah tadi.Ibra mengulum senyum tipis. Mengelabui wanita secerdas dan sepeka Aya memang bukan perkara mudah. Sejak awal pernikahan mereka, Aya selalu memiliki intuisi yang sangat tajam. Ibra tahu, penjelasannya tadi untuk menutupi kecurigaan Aya sama sekali tidak meyakinkan. Tapi untungnya, kondisi fisik Aya yang sedang mengandung anak kedua mereka membuat wanita itu lebih mudah merasa lelah dan memilih untuk tidak memperpanjang urusan kecil tersebut."Pak Santo," panggil Ibra dengan suar
Satu jam kemudian, suasana rumah mulai ramai. Putra, anak laki-laki mereka yang menggemaskan, sudah rapi dengan seragam taman kanak-kanaknya. Mereka bertiga kini berada di ruang makan, menikmati sarapan pagi yang hangat seperti biasa, tanpa ada aroma bawang sama sekali.Sebelum Ibra menyantap makanannya, pria itu mengambilkan nasi dan lauk untuk sang istri. Ia lalu mengambil makanan ke piringnya lalu membaca email di tabletnya sebentar, sementara Aya memperhatikan suaminya dengan senyuman.Setelah sarapan selesai, Ibra berdiri dan merapikan dasinya, bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, dia akan mengantar Putra ke sekolah TK-nya terlebih dahulu sebelum menuju ke kantor pusat."Ayo, Ayah!" seru Putra dengan penuh semangat."Semangat sekali," gumam Aya sembari tersenyum.Aya mengantar suami dan anaknya hingga ke teras depan, tempat mobil Maybach mewah Ibra sudah terparkir rapi dengan pintu yang dibukakan oleh Santo."Aku berangkat dulu," ucap Ibra, melangkah mendekat ke arah Aya
Ibra mengangguk, memberikan senyuman tipis terakhir sebelum melangkah pergi. Saat menuju pintu keluar, ia melihat Samuel yang juga sudah selesai makan dan menunggunya. "Pak," sapa Samuel sopan."Ayo kembali. Masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan," ajaknya dengan ekspresi datar dan satu tangannya menepuk saku jas di mana ponsel yang menyimpan catatan kesukaan istrinya ada di sana.Langkah kaki Ibra kembali tegap dan tegas, memancarkan aura wibawa seorang Presdir papan atas yang semula sempat luntur oleh rasa malu di dalam restoran tadi.Setelah punggung Ibra benar-benar menghilang di balik pintu kaca restoran, Gina langsung menyandarkan tubuhnya ke bahu Niko, mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari ujian paling menegangkan dalam hidupnya."Huffttt... gila, Yang! Aku masih nggak percaya dengan apa yang baru saja terjadi," gumam Gina dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan. "Seorang Presdir kaku, dingin, dan berwajah datar sepert
Ibra terpaku. Lidahnya mendadak kelu untuk merangkai kata. Pertanyaan Gina tidak salah, sangat logis bagi seorang sahabat yang peduli. Namun, bagi pria dengan harga diri setinggi langit seperti Ibra, mengakui bahwa dirinya terlalu kaku untuk bertanya langsung pada istrinya sendiri adalah hal yang sangat menguji rasa malunya. Ketegangan pun kembali menyelimuti di antara mereka bertiga.Melihat rahang Ibra yang mengeras dan tatapan matanya yang mendadak lurus menatap cangkir teh chamomile di depannya, Gina langsung menyadari bahwa pertanyaannya mungkin sudah melewati batas. Ketakutan mulai merayap di benak gadis itu. Bagaimana jika sang Presdir tersinggung dan membuat Niko kesulitan dalam memulai kembali bisnisnya?Sadar suasana menjadi terlalu tegang, Gina segera memutar otak. Dengan cepat, ia mengulas senyum lebar dan melepaskan tawa renyah yang sengaja dibuat sedikit heboh untuk mencairkan keheningan yang membeku."Ahahaha! Maaf, maaf, Pak Ibra! Aduh, saya ini kalau bicara memang suk
"Ah. Tidak, tidak. Saya akan memberi tahu Anda apa yang saya tahu. Jadi apa yang ingin Anda tanyakan soal Aya?" Gina cepat-cepat berbicara. Kembali bertanya. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung kembali. Sementara Niko memilih diam menyimak.Ibra menghela napas panjang. "Bagi beberapa orang mungkin ini hal kecil, tapi bagiku ini penting. Aku memang salah karena tidak terlalu memerhatikan istriku sendiri. Jadi, tolong beri tahu aku. Apa saja makanan kesukaan Aya yang paling ia gemari? Dan apa yang paling tidak ia sukai?"Gina tampak terkejut. Jadi ternyata memang benar sang Presdir tidak tahu kesukaan istrinya sendiri. Lalu Gina tersenyum lebar, merasa sangat senang karena sahabatnya ternyata memiliki suami yang sedemikian rupa ingin berusaha, meskipun caranya sangat kaku. Dan yang ia tahu lagi adalah, suami sahabatnya itu terlalu gengsi dan itu lucu."Ehem." Gina berdeham pelan. "Kalau soal makanan, Aya itu sebenarnya tidak muluk-muluk, Pak," jawab Gina bersemangat. "Dia it







