INICIAR SESIÓN"Aaron, aku mohon ... bawa aku ke sana sekarang! Nenek ... Nenek terluka parah!"Suara Fay bergetar hebat, pecah oleh kepanikan. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahannya, sementara kedua tangannya mencengkeram erat pakaian Aaron dengan tubuh gemetar membayangkan kondisi wanita tua yang sangat dicintainya itu.Melihat kehancuran di wajah Fay, hati Aaron berdenyut perih. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aaron segera merengkuh tubuh Fay dan mengirimkan perintah melalui ikatan batin kepada prajurit khususnya.'Siapkan helikopter. Kita berangkat ke hutan pinus. Sekarang!'Perintah itu terkirim dalam sekejap.Aaron memandu Fay melintasi koridor privat yang membawanya menuju ke atap utama mansion. Selama ini, Fay bahkan tidak tahu bahwa mansion tersebut memiliki tempat pendaratan helikopter. Atap utama bangunan itu begitu luas, sementara landasan pribadi berada di salah satu sisinya, cukup besar untuk helikopter milik Aaron.Fay bahkan tidak sempat mengagumi kemegahan tempat itu. Pikiran
Lift terus bergerak meluncur ke atas, meninggalkan area lantai dua yang tenang. Namun, ketika pintunya terbuka, suasana di sekeliling kami seketika berubah.Sensasi dingin dan tegang langsung terasa di udara.Aku sempat mengira kami akan langsung melihat ruangan pribadi seperti yang ada di lantai mansion lainnya. Namun, begitu melihat keadaan di balik pintu, aku justru terdiam.Beberapa prajurit werewolf berdiri berjajar di sepanjang koridor.Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna gelap dengan perlengkapan keamanan lengkap. Sikap mereka begitu tegap dan waspada. Ketika melihat Aaron keluar dari lift sambil menggendongku, seluruh prajurit serentak menundukkan kepala."Alpha."Suara mereka terdengar hampir bersamaan.Aku spontan melirik Aaron.Ia hanya mengangguk singkat."Bagaimana keadaan?""Aman, Alpha.""Periksa seluruh sisi luar secara berkala. Jangan ada celah dalam penjagaan.""Siap, Alpha."Aku kembali menatap para prajurit setelah mereka mengambil posisi masing-masing. Jum
Aaron membawaku berkeliling mansion, dimulai dari ruang bawah tanah yang ternyata menyimpan dunia tersendiri di balik dinding-dinding beton yang dingin. Aku membiarkan pandanganku menjelajahi setiap sudut yang kami lewati. Di balik pintu kaca tebal berteknologi tinggi, deretan mobil mewah koleksi Aaron tampak berkilau di bawah sorotan lampu. Beberapa di antaranya bahkan terlihat seperti kendaraan yang hanya pernah kulihat di majalah atau layar televisi. Namun, ternyata garasi itu bukanlah bagian paling menarik dari lantai bawah tanah ini. Aaron membawaku lebih jauh hingga berhenti di depan sebuah pintu baja tebal dengan pemindai biometrik di sampingnya. "Ini apa?" tanyaku penasaran. "Ruang keamanan utama." Ia menempelkan telapak tangannya pada pemindai. Setelah identitasnya dikenali, pintu baja itu terbuka perlahan. Aku langsung membelalakkan mata. Di baliknya terdapat ruangan yang dipenuhi layar pemantauan, panel komunikasi, serta peta digital yang menampilkan kondisi mansion
Pagi ini aku sama sekali tidak bisa tenang.Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak bangun tidur, tetapi aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang salah. Perasaan tidak nyaman itu semakin kuat hingga membuatku frustrasi. Sedari tadi aku hanya mondar-mandir di dalam kamar tanpa tujuan.Aaron yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian untuk pergi ke kantor akhirnya menyadari kegelisahanku.Ia mendekat, lalu menghentikan langkahku dengan kedua tangannya yang lembut bertumpu di bahuku."Ada apa?" Tatapannya mengunci wajahku, tetapi kelembutan di sana membuatku sedikit lebih tenang."Aku ... nggak tahu." Aku menggeleng pelan. "Tiba-tiba saja aku merasa nggak enak. Rasanya seperti sesuatu telah terjadi."Aaron tersenyum kecil."Mungkin kamu terlalu lelah. Atau mungkin hormon kehamilanmu sedang membuatmu lebih sensitif, Sayang.""Tapi ini nggak seperti biasanya, Aaron. Aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang—""Baiklah." Ia memotong ucapanku dengan nada tenang. "Kalau begitu, hari ini ak
Lucien melesat menembus kabut pinus, menepis ranting dan semak yang menghalangi jalannya. Namun, begitu tiba di tempat semula, langkahnya mendadak terhenti.Tubuh nenek Fay telah tergeletak di atas tanah.Keranjang bambu yang sebelumnya berada di punggungnya terlepas dan jatuh beberapa langkah dari tubuhnya. Ranting-ranting yang baru saja dikumpulkannya berserakan di antara dedaunan kering.Lucien langsung berlari menghampiri."Nenek!"Tanpa membuang waktu, Lucien melepas paksa tali selempang keranjang yang masih tersangkut di punggung sang nenek dan menepisnya ke samping. Ia menahan punggung tua itu, mengangkat kepala nenek Fay ke pangkuannya sembari menekan luka tusukan menganga di perut sang nenek untuk menahan pendarahan."Nek, dengar saya. Anda bisa mendengar saya?"Napas sang nenek tersengal parah. Darah segar ikut merembes dari sudut bibirnya yang gemetar."Nek, bertahanlah!" panggil Lucien, rahangnya mengetat erat. "Siapa yang melakukan ini?!"Sang nenek mengangkat pandangann
Pagi itu, Elena membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur kecil rumah mereka. Udara masih terasa dingin. Aroma kayu bakar yang terbakar perlahan memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma makanan yang sedang dimasak.Elena baru saja hendak mengambil sesuatu ketika pandangannya tertuju pada tumpukan kayu di sudut dapur.Ia terdiam.Kayu bakar yang tersisa sudah hampir habis, hanya menyisakan beberapa potong ranting kering."Ibu," panggilnya. "Kayu bakarnya hampir habis."Ibunya menoleh dan ikut melihat ke sudut ruangan."Benar juga," gumamnya.Wanita tua itu kemudian berdiri dan melangkah mendekati tungku yang apinya mulai meredup, menyisakan bara merah yang perlahan tertutup abu. Setelah itu, ia menatap keluar melalui jendela kayu yang terbuka sedikit."Ibu mau ke mana?" tanya Elena. Matanya langsung melebar ketika melihat ibunya bersiap meninggalkan rumah."Mencari kayu bakar," jawab sang ibu tenang, jemarinya yang keriput sibuk mengikat tali selempang keranjang bambu di punggungnya.
Lucien yang berdiri beberapa meter dari Aaron segera menyadari perubahan drastis pada pemimpinnya itu. "Tuan? Ada apa?""Mereka memang memancing kita ke sini," desis Aaron dengan nada suara yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Jebakan. Jessi ... dia menggunakan kekacauan ini
Aaron berlari menembus lebatnya hutan tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Paru-parunya terasa terbakar, namun ia tidak peduli. Udara dingin menerpa wajahnya, sementara aroma darah semakin kuat setiap kali ia mendekati perbatasan utara. Dalam hitungan menit pepohonan mulai menipis, memperlihatkan
Perubahan itu terjadi begitu halus hingga mungkin orang lain tidak akan menyadarinya. Namun, karena aku berdiri sangat dekat dengannya, aku bisa merasakan bagaimana hawa panas dari tubuhnya mendadak berubah menjadi dingin yang membekukan. Sorot matanya berubah dalam sekejap, bahunya mengeras, dan s
Rumah nenek tidak pernah berubah. Dari dulu dinding kayunya tetap berwarna cokelat tua, lantainya yang sedikit lembap selalu terasa dingin saat pagi dan aroma kayu bakar masih menjadi bau pertama yang kuhirup setiap kali bangun tidur.Padahal aku sudah lama sekali tidak datang ke sini, dan saat aku







