تسجيل الدخولMalam turun perlahan di atas hutan pinus, membawa serta hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kabut tipis mulai menyelimuti jalanan yang membelah pepohonan, menciptakan suasana lembap dan sunyi yang terasa menyesakkan. Tidak ada suara kendaraan yang melintas. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain desir angin malam yang bergerak pelan di antara batang-batang pinus yang tinggi.Di kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan tanah yang gelap. Mesinnya mati dalam satu sentakan halus. Beberapa detik kemudian, pintu mobil terbuka perlahan.Hendra turun, sepatu botnya menginjak ranting kering yang patah di bawah kakinya. Ia tidak langsung melangkah. Matanya yang tajam menyapu area sekitar, memeriksa setiap sudut bayangan yang tertangkap oleh cahaya bulan yang pucat. Insting yang selama bertahun-tahun dilatih membuatnya selalu waspada. Baginya, keheningan adalah bahasa lain dari bahaya.Namun, justru karena terlalu sunyi, Hendra tahu bahwa dia tidak sedang sendirian di tempat
Malam turun dengan perlahan, membawa keheningan yang menyesakkan ke dalam ruang kerja Aaron. Cahaya senja yang tadi sempat menyapa, kini telah lama padam, menyisakan pantulan remang lampu kota yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Jam dinding di sudut ruangan berdetak pelan, seolah sedang menghitung setiap detik yang terbuang saat pria itu mematung di kursinya.Namun Aaron nyaris tidak bergerak sedikit pun.Tumpukan dokumen dan laporan masih terbuka di atas meja, sementara serpihan batu merah itu tetap berada di samping cincin keluarga miliknya.Hening. Terlalu hening hingga ia bisa mendengar deru napasnya sendiri yang terasa berat.Aaron menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Sorot mata emasnya masih tajam, namun kelelahan samar mulai terlihat di wajah dinginnya.Sejak percakapan dengan Aldrick tadi, pikirannya tidak benar-benar tenang. Potongan masa lalu yang akhirnya menyatu justru membuat insting liarnya semakin gelisah.Dan anehnya ... di tengah seluruh kekacaua
Pintu kamar terbuka kasar. Nenek berlari masuk dengan napas terengah-engah. Namun, langkahnya terhenti seketika saat matanya tertuju pada perutku yang kini sudah seukuran kehamilan enam bulan, padahal aku tahu pembuahan itu baru terjadi dua bulan lalu.Wajah nenek memucat. Ia tidak mendekatiku, melainkan langsung menyambar tirai jendela dan menyibaknya lebar-lebar. Di langit sana, bulan bulat sempurna telah bersimbah warna merah pekat, seolah-olah langit sedang berdarah."Sudah dimulai," gumam nenek. Suaranya bergetar hebat."Nek, apa yang terjadi padaku? Kenapa perutku kayak gini?" Aku merangkak di lantai, meraih ujung kain jarit nenek dengan isakan yang semakin histeris. "Sakit, Nek. Ini nggak normal!"Nenek berlutut di depanku, tangannya memegang bahuku dengan kencang. Matanya kini seperti memancarkan aura supranatural yang tajam, seakan mampu menembus hingga ke dalam perutku."Dengarkan nenek, Fay. Tenang, tarik napasmu pelan-pelan," perintahnya, meski raut wajahnya sendiri terl
Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya terjaga.Nenek bergerak di depanku dengan langkah pelan, tangannya cekatan meski usianya sudah tidak muda lagi. Aroma masakan memenuhi dapur, membuat suasana tampak hangat dan akrab. Jika tidak memperhatikan detak jantungku sendiri, aku mungkin akan percaya semuanya baik-baik saja.“Nek,” panggilku lirih, mencoba memecah keheningan, “bulan merah itu muncul lagi malam ini, ya?”Gerakan pisau di atas talenan itu mendadak berhenti.Ia tidak langsung menoleh, tetapi aku melihat punggungnya menegang. Hanya sesaat, namun cukup untuk membuat dadaku ikut terasa berat.“Kalau memang muncul,” jawabnya singkat, “kamu tetap di rumah.”Aku menghela napas kecil. “Itu lagi.”Nenek akhirnya menatapku. Sor
Beberapa jam setelah matahari naik....Lorong rumah sakit mulai jauh lebih sepi dibanding pagi tadi. Langkah kaki perawat hanya terdengar sesekali, samar dan cepat, lalu kembali tenggelam dalam kesunyian bangunan yang dipenuhi aroma obat-obatan.Di dalam kamar rawat itu, Jessi masih duduk di atas ranjangnya. Perban di wajahnya sudah dilepas sepenuhnya. Garis tipis di pipinya kini terlihat jelas saat cahaya siang menyentuh sisi wajahnya. Bekas itu tidak besar. Bahkan bagi orang lain, mungkin nyaris tak berarti. Namun bagi Jessi, garis itu terasa seperti penghinaan yang terus bernapas di kulitnya.Tatapannya mengarah lurus ke depan, namun pikirannya jelas bergerak jauh lebih cepat daripada yang terlihat di permukaan.Lalu....Klik.Suara pintu terbuka sangat pelan.Jessi tidak menoleh, karena bahkan sebelum suara itu muncul, nalurinya sudah lebih dulu mengenali aroma yang masuk ke dalam ruangan.Langkah kaki berat terdengar mendekat dengan tenang. Pria bermantel hitam memasuki ruangan t
"Tuan."Suara Aldrick memecah keheningan ruang kerja itu.Aaron mengangkat pandangan perlahan. “Ada perkembangan?”“Ya.” Aldrick melangkah mendekat. “Orang bermantel hitam itu kembali bergerak.”Tatapan Aaron langsung berubah tajam. “Lanjutkan.”Aldrick mengangguk singkat. “Setelah pengamanan kita perketat, dia mulai mengubah pola pergerakannya.” Nada suaranya tetap tenang dan terkendali. “Dia menghindari lorong utama dan mulai menggunakan jalur sempit di lantai atas markas.”Aaron bersandar perlahan di kursinya. Jemarinya masih memutar cincin itu dengan gerakan pelan.“Persis seperti dugaanku,” gumamnya. "Tikus selalu mencari lubang terkecil saat mereka merasa terdesak."Aldrick sedikit menyipitkan mata, menyadari sesuatu di balik ketenangan tuannya. "Anda memang sengaja membiarkan celah itu terbuka, bukan? Anda sengaja memancingnya ke sana."Aaron tersenyum tipis, bukan senyum ramah, melainkan senyum dingin seseorang yang sedang memainkan lawannya perlahan.“Aku hanya mengubah po







