แชร์

130. Di Balik Senyum itu

ผู้เขียน: malapalas
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-03 17:29:16

Sebuah ingatan lain tiba-tiba muncul di kepalaku. Potongan-potongan kejadian sebelum aku pingsan.

Suara benturan, jeritan, darah, dan pintu baja tebal penjara yang tercabut dari engselnya seperti benda rapuh.

Dahiku berkerut semakin dalam. Aku masih mengingatnya dengan cukup jelas.

Saat itu bukan hanya Aldhen yang datang. Ada satu pria lain bersamanya. Sosok yang bahkan sampai sekarang masih meninggalkan kesan mengerikan di benakku.

Ia tidak banyak bicara. Tidak terlihat setenang Aldhen. Bahkan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Anak Rahasia Sang Alpha   294. Kebahagiaan yang Terusik

    Aaron kembali mencium pipi putra kami sebelum perlahan meletakkannya ke dalam kereta bayi.Arsen sempat menggerakkan kedua tangannya, seolah enggan berpisah dari pelukan ayahnya. Namun, ketika Aaron menyerahkan kembali mainan yang tadi dipegangnya, perhatian putra kami segera teralihkan.“Oh, sekarang Ayah sudah nggak menarik lagi?” goda Aaron sambil membetulkan posisi selimut tipis di pangkuan Arsen.Arsen hanya mengoceh kecil tanpa mengalihkan pandangan dari mainannya.Aku tertawa melihatnya. “Sepertinya dia sudah menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada ayahnya.”Aaron menghela napas pura-pura kecewa.“Luar biasa. Aku baru saja mendapatkan panggilan pertamaku, tetapi sekarang sudah ditinggalkan.”“Jangan khawatir. Nanti kalau dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan mencarimu lagi.”“Ayah akan selalu siap.”Ia membungkuk sekali lagi untuk mengusap kepala Arsen, lalu kembali berdiri di sampingku.Aku menggandeng lengannya sambil tersenyum. Momen kecil itu terasa begitu berharga

  • Anak Rahasia Sang Alpha   293. Kebanggaan Sang Alpha

    Namun, tiba-tiba....Suara Arsen mengagetkan kami.“A ... yah....”Aku spontan menoleh ke arah kereta bayinya. Arsen yang sejak tadi sibuk memainkan mainan di tangannya kini mengangkat wajah, menatap Aaron dengan mata berbinar.Untuk sesaat, Aaron membeku. Matanya membelalak, seolah-olah ia perlu memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar. Kemudian, keterkejutan itu perlahan berubah menjadi binar kebahagiaan yang begitu jelas terpancar dari wajahnya.“Sayang, kamu dengar itu?” tanyanya kepadaku dengan suara tertahan.Aku mengangguk sambil menahan senyum. “Aku dengar.”Aaron segera mendekati kereta bayi, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Arsen.“Coba katakan sekali lagi, Jagoannya ayah.” Suaranya terdengar begitu lembut. “Kamu tadi memanggil siapa? Ayah ingin mendengarnya lagi.”Arsen menatapnya beberapa saat. Bibir mungilnya bergerak, seolah sedang berusaha menyusun kata yang baru saja diucapkannya.“A ... yah.”Aaron menahan napas.“Ayah!”“Ya, Ayah di sini!

  • Anak Rahasia Sang Alpha   292. Kebersamaan yang Manis

    “Bukankah itu Aaron? CEO yang beberapa waktu terakhir sering muncul di berita bisnis?”“Benar! Aku mengenalinya. Aku pernah melihat fotonya di majalah.”“Jadi, wanita yang bersamanya itu istrinya?”“Sepertinya begitu. Aku dengar dia baru menikah beberapa bulan lalu.”Aku berusaha tetap fokus pada pakaian di tanganku, tetapi percakapan mereka masih terdengar cukup jelas.Wanita yang mengenakan gaun bermerek itu kemudian melirik ke arahku, lalu kembali memandang Aaron.“Dia tampak sangat berbeda ketika bersama istrinya. Aku pernah melihatnya dalam sebuah acara bisnis. Wajahnya begitu dingin sampai nggak ada seorang pun yang berani mendekatinya.”Temannya terkekeh pelan. “Kalau aku menjadi istrinya, aku juga nggak akan keberatan memiliki suami setampan itu.”Aku hampir tersedak mendengar ucapan tersebut.Aaron, yang rupanya juga mendengarnya, justru mendekatkan wajahnya ke telingaku.“Sepertinya aku cukup populer hari ini.”Aku mencubit lengannya pelan. “Jangan besar kepala.”“Aku hanya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   291. Senyum yang Kembali

    Keesokan paginya, aku akhirnya memberanikan diri menyampaikan keinginanku kepada Aaron.“Aaron, apa hari ini kamu punya waktu luang?”Suamiku yang sedang menikmati sarapan bersamaku langsung mengangkat wajah. Arsen berada di kursi bayi di samping kami, sibuk memainkan sendok kecil yang sengaja diberikan pelayan untuk mengalihkan perhatiannya.“Untuk apa, Sayang?” Aaron meletakkan cangkir kopinya. “Kamu ingin pergi ke suatu tempat?”Aku mengangguk, berusaha menahan senyum yang sejak tadi ingin merekah di bibirku.“Aku ingin pergi berbelanja.”Aaron terdiam sesaat.“Berbelanja?” ulangnya, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.Aku mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu nggak mau menemaniku?”“Bukan begitu.” Senyum Aaron langsung mengembang. “Aku hanya sedang memastikan bahwa istriku benar-benar mengajakku berkencan.”Aku spontan tertawa kecil. “Siapa yang bilang ini kencan? Aku hanya ingin berbelanja.”“Kalau begitu, aku akan menganggapnya sebagai kencan belanja.” Ia meraih

  • Anak Rahasia Sang Alpha   290. Panggilan Pertama

    Dengan Arsen dalam gendongannya, Aaron meninggalkan kamar dan berjalan menuju rumah kaca.Ia sudah menduga Fay berada di sana. Sejak beberapa waktu terakhir, rumah kaca menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi istrinya. Di antara tanaman dan bunga yang dirawat dengan penuh perhatian, Fay bisa menghabiskan waktu tanpa harus menghadapi terlalu banyak pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya.Ketika Aaron tiba di depan rumah kaca, dugaannya terbukti benar.Fay berada di dalam, berdiri di dekat salah satu rangkaian tanaman berbunga. Cahaya matahari yang menembus kubah kaca menyinari wajahnya, tetapi tidak mampu mengusir kesedihan yang masih membayang di sana.Tatapannya kosong.Tangannya terulur menyentuh sehelai daun, tetapi gerakannya terhenti begitu saja. Ia seolah sedang berada di tempat itu secara fisik, sementara pikirannya entah melayang ke mana.Langkah Aaron melambat. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar.Pemandangan itu bukan sesuatu yang ba

  • Anak Rahasia Sang Alpha   289. Sisa Kepercayaan

    Dua bulan setelah acara pesta pernikahan Aaron dan Fay, semuanya berjalan seperti yang dikehendaki. Sejak mendapat peringatan dari Edward, sampai detik ini Tetua Marcus tidak berani bergerak. Ia tidak melakukan apa pun, setidaknya untuk saat ini. Marcus memilih bermain aman sambil menunggu kesempatan yang tepat untuk melanjutkan rencananya.Sementara itu, di kediaman pribadi Aaron, suasana justru semakin diliputi ketegangan dan kesedihan.Tim pencari yang dipimpin langsung oleh Aldrick, Sang Beta, belum berhasil menemukan keberadaan Hendra. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi setelah melarikan diri dari hotel.Aldrick berdiri di hadapan Aaron dengan sikap tenang. Sebagai Beta, ia memahami bahwa kegagalan menemukan Hendra bukan sekadar masalah kehilangan jejak seorang buronan. Ada kemungkinan pria itu telah mempersiapkan pelariannya jauh sebelum insiden di hotel terjadi.“Tuan, kami telah memeriksa seluruh jalur yang memungkinkan Hendra melarikan diri, termasuk meminta keterangan d

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene

  • Anak Rahasia Sang Alpha   58. Api yang Dibawa Pulang

    Jessi keluar dari dalam lift dengan langkah tergesa-gesa, hampir tersandung karena pandangannya yang mengabur. Napasnya terengah-engah dan kacau, sementara sebelah tangannya masih menekan sisi wajah yang terus mengalirkan darah segar. Namun, rasa perih yang menjalar di kulitnya sama sekali tidak se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   49. Lolongan yang Mencari

    ​Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadarank

  • Anak Rahasia Sang Alpha   6. Di Bawah Kuasa Sang Predator

    "Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status