Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 134. Alibi yang Harus Sempurna

Share

134. Alibi yang Harus Sempurna

Author: malapalas
last update publish date: 2026-06-05 17:30:08
Pagi itu berjalan seperti biasa di permukaan, namun tidak bagi Hendra. Di balik wajah tenangnya, pikirannya sudah bergerak lebih cepat daripada waktu itu sendiri.

Beberapa saat lalu, Hendra sudah berdiri dari kursinya, melangkah pelan menuju ruang kerja pribadinya.

Tak lama kemudian, ia mendekati jendela. Dari dalam, matanya menyapu area luar rumah. Tidak ada yang mencurigakan secara langsung. Tapi nalurinya mengatakan sebaliknya.

Ada sesuatu yang berubah. Seperti dunia yang sedang memperhati
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   178. Awal Terbukanya Konspirasi

    ​Jemari Aaron terhenti tepat pada selembar foto yang terletak di bagian tengah halaman dokumen.Itu adalah sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak yang cukup jauh, menyajikan fokus yang sedikit buram namun menyimpan detail yang mengerikan.Di depan terlihat Hendra. Namun, bukan pria itu yang menyita seluruh perhatian Aaron, melainkan sosok yang berdiri beberapa meter di belakangnya.Pria bermantel hitam.Seketika itu juga, atmosfer di dalam ruang kerja sang Alpha mendadak terasa menyusut, digantikan oleh hawa sedingin es yang merayap dari balik dinding. Aaron menatap foto itu dalam keheningan yang mencekam. Terlalu lama, hingga Lucien dan Aldrick yang berdiri di hadapannya mulai menahan napas.​"Jelaskan," perintah Aaron.Suaranya rendah, serak, dan mengintimidasi, seolah-olah getarannya sendiri adalah sebuah peringatan bahaya yang nyata.​Aldrick berdeham pelan, mencoba mengusir ketegangan yang mulai menguji naluri serigalanya.Ia segera mengangguk patuh."Saya a

  • Anak Rahasia Sang Alpha   177. Benang Merah Takdir

    Pagi itu, Aaron berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya yang megah di gedung pencakar langit miliknya.Dari ketinggian tersebut, hiruk-pikuk seluruh kota tampak begitu kecil dan tidak berarti. Namun, perhatian sang Alpha sama sekali tidak tertuju pada pemandangan di luar sana.Di telapak tangannya tergeletak sebuah cincin tua bermata merah peninggalan ibunya. Kilauan batu merah itu memantulkan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar.Untuk beberapa saat, Aaron hanya menatap benda itu dalam diam.Logam halusnya terasa hangat di kulit Aaron, seolah menyimpan sisa-sisa memori yang sampai saat ini terekam jelas di ingatan.Ia lalu menggenggam cincin itu erat.Pikirannya melayang jauh, mengarungi garis waktu menuju masa lalu yang telah lama terkubur.Kepada ayah dan ibunya.Kepada cerita yang berulang kali ia dengar sejak kecil.Tentang seorang manusia biasa yang dengan berani menolong ayahnya ketika terluka parah di Hutan Larangan.Sebagai balasannya, sebuah liontin gio

  • Anak Rahasia Sang Alpha   176. Pemeriksaan Mendadak

    ​Keheningan menggantung di antara mereka, terasa begitu berat hingga seolah mampu menghambat aliran napas.Sang Tetua berdiri tegak di depan pintu, sementara Aldrick tidak bergeming sedikit pun di hadapannya. Tatapan mata tua Marcus yang tajam perlahan bergeser, menyapu meja kerja Aldrick yang dipenuhi tumpukan dokumen sebelum akhirnya kembali terkunci pada wajah sang Beta.​"Aku mendengar laporan bahwa kamu baru saja membawa sebuah koper hitam mencurigakan ke dalam kamar ini," ujar Marcus.Suaranya tenang, terlalu tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat kalimatnya terdengar lebih menyerupai tuduhan daripada sekadar pertanyaan.​Aldrick tidak berkedip. "Saya memang membawanya masuk, Tetua. Apakah ada aturan baru yang melarang saya membawa barang pribadi ke dalam ruangan saya sendiri?"​Marcus tersenyum tipis. "Aturan lama atau baru tidaklah penting, Aldrick. Yang penting adalah apa yang kamu sembunyikan di dalamnya. Kamu tampak gugup saat aku mengetuk pintu tadi."​"Saya h

  • Anak Rahasia Sang Alpha   175. Ketukan yang Mencurigakan

    Tatapannya terkunci pada sebuah foto yang diambil dari sudut tersembunyi. Di sana, agak jauh di belakang sosok Hendra yang sedang berjalan, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tegap dan tinggi.Meskipun fotonya sedikit buram karena jarak, Aldrick bisa mengenali gestur dan postur itu dengan sangat jelas.​Itu adalah seseorang yang sama sekali tidak asing baginya. Seseorang yang selama ini dicurigai menjadi dalang dari beberapa insiden berdarah di masa lalu, yang selalu muncul di berbagai kasus mencurigakan, namun selalu berhasil lolos tanpa jejak.Pria yang sampai sekarang belum pernah bisa mereka sentuh karena kurangnya bukti fisik.Pria bermantel hitam.​Mata Aldrick berubah menjadi sedingin es.Perlahan ia menutup map tersebut. Pikirannya berputar cepat, menghubungkan semua titik merah yang kini terpampang nyata.​Kini ia mengerti mengapa semua jejak ini terasa begitu bersih dan rapi.Mengapa seluruh kehidupan Hendra tampak seperti hasil rekayasa.Dan mengapa Lucien mencium se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   174. Akar Kebohongan

    Jam dinding di ruang kerja Aldrick telah melewati pukul empat sore. Namun, Sang Beta belum beranjak dari kursinya.Keheningan menyelimuti seluruh ruangan.Sementara di atas meja, riwayat hidup seorang manusia bernama Hendra telah terpecah menjadi dua bagian yang sangat jelas.​Sebelum menghilang, dan sesudah menghilang.​Aldrick menatap kedua kelompok dokumen itu bergantian. Semakin lama ia menganalisis lembar demi lembar, naluri serigalanya semakin berontak. Ada sesuatu yang sangat mengganggu di sana. Bukan karena perbedaannya, melainkan karena peralihannya.​"Tidak ada manusia yang bisa merangkak dari titik kehancuran total menuju kehidupan yang sempurna hanya dalam hitungan bulan," gumam Aldrick pada diri sendiri. Suaranya berat, memecah kesunyian kamar. "Setidaknya, tidak tanpa bantuan dari tangan yang sangat berkuasa."​Bantuan yang dibutuhkan untuk menciptakan perubahan sebesar itu tidak mungkin berasal dari manusia biasa. Insting predator dalam diri Aldrick berbisik pelan, meng

  • Anak Rahasia Sang Alpha   173. Retakan yang Menganga

    ​Aldrick menegakkan punggungnya, membaca ulang nama pemilik saham yang tertera di sana."Hendra," gumamnya, matanya langsung menyipit tajam. "Ternyata seperti ini dirimu yang asli."​Sudut bibir Aldrick terangkat, membentuk seringai dingin.Ia segera menyambar dokumen berikutnya dari dalam map yang sama. Itu adalah laporan utang piutang, disusul oleh surat teguran hukum dari lembaga keuangan, dan laporan penyitaan aset. Semuanya mengarah pada satu nama yang sama.Hendra.Realitas yang bertolak belakang dari apa yang ia baca satu jam lalu.​Namun, sosok yang tergambar di lembaran-lembaran kumal ini sama sekali bukan Hendra yang dikenal publik saat ini. Ini adalah Hendra yang hidup belasan tahun lalu, seorang pria malang yang terlilit utang dalam jumlah yang luar biasa besar, seorang pengusaha gagal yang hidupnya hancur, dan seorang buronan yang diburu oleh para penagih utang berdarah dingin.​"Pria malang yang hancur," gumam Aldrick pada dirinya sendiri, matanya terus membaca baris dem

  • Anak Rahasia Sang Alpha   91. Pelindung yang Membawa Kematian

    Untuk beberapa saat Hendra masih terdiam di dalam mobilnya.Rahangnya mengeras samar. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba mengubur kembali sesuatu yang sejak lama ia paksa mati di dalam dirinya.Namun justru di saat itulah, bayangan seorang anak kecil kembali muncul tanpa diminta.Seorang gadis keci

  • Anak Rahasia Sang Alpha   90. Hidupku Bukan Milikku

    Bau anyir darah yang bercampur dengan udara lembap menusuk indra penciumannya, datang jauh lebih cepat sebelum kesadarannya benar-benar pulih.​Hendra mengerang pelan, merasakan dinginnya lantai semen yang lembap menyengat kulit punggungnya. Ia tergeletak tak berdaya di sebuah gang sempit yang diap

  • Anak Rahasia Sang Alpha   89. Panggilan dari Pria Bermantel Hitam

    Hendra terdiam beberapa saat setelah panggilan itu berakhir. Tatapannya jatuh ke layar ponsel yang kini mulai menggelap perlahan.Suara Fay tadi masih tertinggal jelas di kepalanya.“Ayah, Fay kangen.”Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa mengganggu pikirannya lebih dari seharusnya.Perlahan,

  • Anak Rahasia Sang Alpha   87. Kampus Berubah Menjadi Mimpi Burukku

    Aku masih ingat bagaimana semuanya berubah setelah hari itu.Setelah Arya menyatakan perasaannya di taman belakang gedung fakultas ... dan aku malah melarikan diri darinya dengan ketakutan.Keesokan harinya, rumor langsung menyebar ke seluruh kampus.Tasya memutarbalikkan semuanya seolah aku sengaj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status