Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 140. Antara Luka yang Disengaja

Share

140. Antara Luka yang Disengaja

Author: malapalas
last update publish date: 2026-06-07 19:39:37

Udara di ladang bunga itu seperti berhenti bergerak.

Bahkan angin pegunungan yang tadi lembut kini terasa enggan menyentuh siapa pun. Kelopak-kelopak bunga yang semula bergoyang pelan ikut merunduk, seakan ikut merasakan tekanan aura yang turun dari sosok di ujung jalur batu itu.

Aaron melangkah maju.

Setiap pijakannya membuat tanah seolah menahan napas. Netra emasnya yang tiba-tiba berubah merah darah tidak berkedip, mengunci langsung pada dua sosok di tengah ladang.

Fay dan Aldhen.

Dan jarak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   249. Tamu yang Tak Diundang

    Pagi itu terasa jauh lebih tenang di kediaman pribadi Aaron.Sebelum berangkat ke kantor, Aaron menyempatkan diri menemui Arsen dan Fay.Sang Luna tampak duduk bersandar di kepala ranjang sambil menggendong Arsen. Bayi kecil itu sedang menyusu dengan tenang dalam pelukannya, sementara Aaron tampak berdiri gagah. Pria itu sudah mengenakan pakaian kerja lengkap, setelan kemeja dipadu jas kantor berkualitas tinggi yang terukur sempurna di tubuh atletisnya.​Setiap kali melihat Aaron berpenampilan seperti itu, Fay tidak bisa memungkiri bayangan masa lalu saat ia masih bekerja di kantor Aaron selalu berputar di ingatan.Penampilan elegan itu selalu berhasil melipatgandakan ketampanannya, memancarkan pesona maskulin yang begitu khas dari dirinya. Pembawaan Aaron yang tetap tenang, dingin, dan berwibawa dalam balutan jas kantor selalu sukses membuat jantung Fay berdebar kencang, sama seperti pertama kali ia mengagumi pria itu dari kejauhan."Dia makin mirip kamu kalau lagi tidur begini," gum

  • Anak Rahasia Sang Alpha   248. Jejak Sang Pewaris

    Atmosfer di sayap barat markas utama klan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.Pintu ruang kerja Tetua Marcus terbuka kasar.Stanley melangkah masuk dengan napas memburu. Jas mahal yang biasanya selalu dikenakannya dengan sempurna kini kusut. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan sorot matanya dipenuhi kepanikan yang sulit disembunyikan.Pria yang kemarin masih memiliki kekuasaan besar kini datang tanpa sedikit pun wibawa.Marcus tetap duduk di balik meja kerjanya.Tangannya masih memegang cangkir porselen. Ia menyesap tehnya perlahan, seolah kedatangan Stanley yang nyaris kehilangan kendali bukan sesuatu yang penting."Marcus!" Stanley menghampiri meja dengan langkah tergesa. "Kamu harus membantuku!"Marcus mengangkat pandangan dengan tenang."Aku sudah mendengarnya, Stanley.""Kalau begitu lakukan sesuatu!" bentak Stanley. "Aaron menghancurkan perusahaanku! Rekening-rekeningku dibekukan, asetku disita, jalur perdaganganku diputus, dan sahamku jatuh dalam hitungan jam!"Ia men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   247. Ketika Segalanya Runtuh

    Keesokan harinya suasana di kediaman mewah Stanley tidak lagi memancarkan keagungan sebuah klan terpandang. Pagi yang biasanya diisi dengan cangkir-cangkir teh mahal dan deretan pelayan yang membungkuk hormat, kini berubah menjadi neraka kepanikan yang menyesakkan napas.​Pintu depan kediaman dibanting kasar. Suara teriakan, jeritan tangis, dan benturan barang-barang pecah menggema dari ruang tengah hingga ke lorong utama.​"Stanley! Apa yang sebenarnya terjadi?! Bank memblokir seluruh kartu kredit kami! Rumah ini ... rumah ini ditempeli segel penyitaan!" seru seorang wanita paruh baya—salah satu kerabat senior—dengan wajah pias dan mata membelalak horor.​Di sudut ruangan lain, sepupu-sepupu Jessi yang selama ini hidup mewah dan menggantungkan seluruh gaya hidup mereka dari kucuran dana perusahaan Stanley, menangis histeris. Mereka memegangi ponsel masing-masing yang tanpa henti menayangkan berita kehancuran finansial keluarga mereka.​"Paman! Saham kita anjlok! Nilainya jatuh sampai

  • Anak Rahasia Sang Alpha   246. Malam Sebelum Perhitungan

    "Ibu...."Suara itu keluar begitu saja dari bibirku. Detik berikutnya, aku melangkah cepat menghampirinya.Tubuhku langsung tenggelam dalam pelukan hangatnya.Begitu kedua lengannya memelukku, seluruh pertahanan yang sejak tadi susah payah kubangun runtuh seketika.Tangisku pecah.Aku mencengkeram pakaian Ibu erat-erat, menyembunyikan wajah di bahunya seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang."Iya, Sayang. Ibu di sini." Telapak tangan Ibu mengelus punggungku perlahan. "Menangislah kalau memang ingin menangis. Jangan ditahan."Aku semakin terisak.Aku tidak ingin menyembunyikannya lagi. Aku tidak bisa berusaha terlihat baik-baik saja.Di depan Aaron, aku tersenyum. Di depan para pelayan, aku mencoba terlihat tegar. Namun di hadapan Ibu, aku tidak sanggup lagi berpura-pura."Nenek...."Suara itu membuat pelukan Ibu semakin erat. Tangannya terus mengusap punggungku."Ibu tahu kamu sangat kehilangan Nenek."Aku mengangguk dalam tangis.Beberapa saat berlalu s

  • Anak Rahasia Sang Alpha   245. Duka di Balik Kemegahan

    Aku mengikuti Bu Sarah sambil menggendong Arsen.Sebenarnya, Aaron sudah menyiapkan kursi roda untukku, tetapi aku menolaknya. Aku masih cukup kuat menaiki tangga ke lantai dua. Terlebih lagi, obat khusus dari Dokter Reynard bekerja dengan baik. Aku bisa merasakan tenagaku berangsur-angsur pulih.Bu Sarah berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Dua orang pelayan berdiri di sisi pintu, lalu segera membukanya perlahan.Aku melangkah masuk. Dan seketika aku terdiam. Mataku membulat.Kamar itu begitu indah hingga aku bahkan lupa melangkah. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap seluruh ruangan dengan perasaan yang sulit kuungkapkan.Dindingnya didominasi warna putih lembut dengan sentuhan abu-abu muda dan emas yang memberikan kesan hangat, elegan, tetapi tetap menenangkan. Cahaya lampu kristal di langit-langit tidak terlalu terang, seolah sengaja dipilih agar nyaman bagi mata bayi.Di sisi kanan terdapat sebuah boks bayi berukuran besar dengan ukiran sederhana berbent

  • Anak Rahasia Sang Alpha   244. Kepulangan Sang Pewaris

    Setelah meninggalkan laboratorium medis tersembunyi milik Aaron, helikopter pribadi itu melaju menembus langit malam.Helikopter tersebut dikirim dari kawasan hutan pinus atas perintah Aldrick melalui ikatan batin, tepat setelah Aaron memutuskan membawa Fay dan Arsen kembali ke mansion. Semua dipersiapkan dengan cepat dan cermat demi memastikan perjalanan sang Luna serta sang pewaris berlangsung nyaman tanpa gangguan.Fay duduk bersandar dengan nyaman di dalam kabin, memeluk Arsen yang tengah tertidur tenang dalam dekapannya. Di samping mereka, Aaron duduk tanpa suara.Sejak helikopter lepas landas dan mengudara, tatapannya hampir tidak pernah beralih dari Fay dan putranya. Sesekali tangannya terulur untuk memastikan selimut Arsen tetap menutupi tubuh mungil tersebut dengan sempurna.Fay menatapnya sambil tersenyum kecil. "Kamu sudah memeriksa selimutnya entah berapa kali."Aaron tidak terlihat merasa bersalah. "Belum cukup."Fay terkekeh pelan. "Dia sedang tidur.""Aku tahu.""Jadi k

  • Anak Rahasia Sang Alpha   67. Ketika Pemburu Mulai Saling Membaca

    ​​Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.​Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa la

  • Anak Rahasia Sang Alpha   58. Api yang Dibawa Pulang

    Jessi keluar dari dalam lift dengan langkah tergesa-gesa, hampir tersandung karena pandangannya yang mengabur. Napasnya terengah-engah dan kacau, sementara sebelah tangannya masih menekan sisi wajah yang terus mengalirkan darah segar. Namun, rasa perih yang menjalar di kulitnya sama sekali tidak se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   55. Kembalinya Sang Predator

    Udara di lantai eksekutif pagi itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki Aaron terdengar tenang namun mematikan, menggema di lorong yang sunyi. Di belakangnya, Aldrick dan Lucien berjalan dalam diam, memberikan aura perlindungan yang sangat kuat. Tidak ada satu pun staf atau karyawan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   52. Sembuh Tanpa Bekas

    Aku menelan ludah, merasa perutku semakin berat di bawah telapak tanganku sendiri.Wajah Aaron tetap tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terluka parah. Ada keyakinan di sana, sesuatu yang tidak dibuat-buat dan sangat kontras dengan ketegangan di dalam ruangan ini. Dia tampa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status