MasukSudah beberapa hari berlalu sejak pertarungan itu. Namun, luka di dada Damian belum juga menunjukkan tanda-tanda pulih sepenuhnya.Bekas tusukan cakar Aaron masih meninggalkan rasa nyeri yang seolah terus menggerogoti tubuhnya dari dalam. Setiap kali menarik napas terlalu dalam, rasa sakit itu kembali menusuk, memaksanya menunda banyak hal, termasuk menggunakan kekuatannya secara berlebihan.Untuk sementara waktu, ia harus menjalani masa pemulihan dan beristirahat total.Damian tidak menyukai keadaan itu. Ia terbiasa bergerak di balik bayang-bayang, mengatur setiap bidak dengan tangannya sendiri.Namun kali ini ... ia harus meminjam tangan orang lain.Perlahan, senyum tipis muncul di sudut bibirnya."Kalau begitu ... biarkan pionku yang bergerak lebih dulu."Sebuah nama langsung muncul di benaknya.Jessi.Beberapa jam kemudian, seorang bawahan kepercayaan Damian diam-diam meninggalkan tempat tersembunyi itu.Ia sengaja mengintai dan menunggu hingga Stanley terlihat keluar meninggalkan
Rumah kaca tenggelam dalam keheningan. Di antara rimbunnya dedaunan dan harum lembut bunga, aku bisa merasakan betapa mencekamnya suasana yang menyelimuti kami.Aaron tidak langsung menjawab. Tangan yang semula memeluk pinggangku erat perlahan terlepas.Ia berjalan melewatiku beberapa langkah, lalu berhenti. Kedua tangannya terselip di saku celana. Dengan punggung menghadap ke arahku, ia menatap hamparan bunga di hadapannya. Namun aku tahu, yang sedang dipandangnya bukanlah bunga-bunga itu.Dari tempatku berdiri, sosoknya mendadak terasa begitu jauh. Punggung yang selalu tampak kokoh itu kini seolah memikul kesepian dan kesedihan yang selama ini ia pendam sendirian.Aku hanya diam dan menunggu. Aku tidak ingin mendesaknya.Aku hanya ingin ia jujur kepadaku tentang apa pun. Namun aku juga mengerti, kepercayaan itu tidak mungkin tumbuh dalam sekejap, terlebih dunia yang selama ini Aaron jalani terasa begitu jauh dari jangkauanku.Keheningan kembali membentang di antara kami.Beberapa sa
Rumah kaca kembali diselimuti keheningan.Di balik kehangatan pelukan Aaron dan semua perhatian yang selalu ia berikan kepadaku, ada satu kenyataan yang akhirnya tak lagi bisa kuabaikan.Aku mengenal pria yang berdiri di hadapanku sebagai pasangan, pelindung, sekaligus Alpha yang rela mempertaruhkan segalanya demi menjagaku.Namun, aku belum pernah benar-benar mengenal kehidupan yang membentuknya menjadi sosok seperti sekarang.Aku takut.Takut kalau selama ini aku hanya mencintai sebagian dari dirinya, sementara bagian lain yang jauh lebih besar justru tetap tersembunyi di balik keheningan yang selalu ia pilih.Aku menunduk lagi. Senyum kecil yang tadi sempat muncul kembali menghilang."Masih belum berhasil juga?" Ia mendekat sedikit. "Kalau perlu, besok aku batalkan semua rapat."Aku spontan mendongak. "Jangan!""Kenapa?""Nanti pekerjaanmu makin banyak."Aaron terkekeh pelan. "Berarti kamu masih mengkhawatirkanku.""Aku memang selalu mengkhawatirkanmu."Jawabanku keluar begitu saja
Sejak sore tadi, aku terus menunggu.Jam demi jam berlalu, tetapi mobil Aaron tak kunjung memasuki halaman mansion.Aku sempat mencoba mengalihkan pikiranku dengan membaca buku di perpustakaan, lalu membantu para pelayan merangkai bunga. Namun, setiap kali mendengar suara kendaraan dari kejauhan, refleks aku akan menoleh ke arah jendela, berharap pria itu akhirnya pulang.Sayangnya, bukan Aaron.Tanpa kusadari, langit di luar perlahan berubah gelap.Aku kini berdiri sendirian di rumah kaca yang berada di bagian belakang mansion.Ruangan luas itu dipenuhi beragam bunga dari berbagai penjuru dunia yang tumbuh subur di bawah kubah kaca. Cahaya lampu-lampu hangat yang tersembunyi di antara dedaunan membuat seluruh ruangan tampak begitu indah, seolah ribuan bintang turun menghiasi taman ini.Namun, seindah apa pun pemandangan di depanku, pikiranku tetap dipenuhi ucapan Bu Sarah."Menurut saya, akan jauh lebih bijaksana jika Nyonya Fay mendengar cerita itu langsung dari mulut Tuan Aaron sen
Darah Damian masih membasahi bagian depan jas Aaron. Sang Alpha berdiri tegap di tengah keheningan hutan pinus, lalu mengangkat tatapan emasnya kepada Aldrick."Aldrick," panggil Aaron. Suaranya rendah dan dalam, membelah kesunyian hutan yang mencekam.Aldrick menegakkan posisi tubuhnya, sementara Lucien dan para prajurit pilihan yang berada di sekeliling mereka refleks menajamkan pendengaran."Sekarang jelaskan." Suara Aaron tetap rendah, tetapi mengandung perintah yang tak terbantahkan.Tatapan emasnya mengunci Aldrick."Bagaimana kamu mengetahui bajingan itu menggunakan sihir penyamar wujud ... dan dari mana kamu mendapatkan ramuan penetral itu?"Aldrick menundukkan kepala sedikit penuh hormat sebelum mengangkat pandangannya untuk menatap sang pemimpin secara langsung."Semuanya berawal dari rasa frustrasi saya, Tuan," ujar Aldrick jujur, suaranya mengalun berat dan tegas. "Saya merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal dalam setiap insiden penyerangan. Kami selalu kalah selangk
Tekanan cakar Aaron menghunjam semakin dalam tanpa ampun. Rasa sakit yang membakar menjalar dari dada kiri Damian, disusul darah segar yang kembali menyembur dari mulutnya.Napasnya langsung tersengal hebat.Aaron tidak berkata apa-apa.Sorot matanya tetap dingin, bahkan nyaris tanpa emosi, seolah hanya sedang menyaksikan mangsa yang perlahan kehilangan seluruh harapan hidupnya.Bersamaan dengan luka fatal yang terus menguras darahnya, aliran sihir yang menopang ramuan penyamar mulai kacau. Konsentrasi Damian runtuh. Dalam sekejap, selubung ilusi yang menyelimuti tubuhnya pecah tak berbekas.Detik itu juga, sosok Damian yang awalnya tak kasatmata kini mendadak muncul begitu saja di hadapan semua orang.Para prajurit yang sejak tadi hanya melihat Aaron bertarung dengan ruang kosong langsung membelalak."Itu—""Ada orang di sana!""Jadi benar-benar ada penyusup!"Suara keterkejutan bersahutan memenuhi hutan pinus.Beberapa prajurit bahkan refleks mengangkat senjata mereka, sementara ya
Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene
Aku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin
"Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya







