Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 245. Duka di Balik Kemegahan

Share

245. Duka di Balik Kemegahan

Author: malapalas
last update publish date: 2026-08-29 21:01:33

Aku mengikuti Bu Sarah sambil menggendong Arsen.

Sebenarnya, Aaron sudah menyiapkan kursi roda untukku, tetapi aku menolaknya. Aku masih cukup kuat menaiki tangga ke lantai dua. Terlebih lagi, obat khusus dari Dokter Reynard bekerja dengan baik. Aku bisa merasakan tenagaku berangsur-angsur pulih.

Bu Sarah berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Dua orang pelayan berdiri di sisi pintu, lalu segera membukanya perlahan.

Aku melangkah masuk. Dan seketika aku terdiam. Mataku memb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   264. Kejutan di Makam Nenek

    Beberapa hari terakhir terasa begitu sibuk bagiku. Sejak Aaron mengatakan bahwa pernikahan kami akan segera dilangsungkan, mansion seolah berubah menjadi tempat persiapan sebuah acara besar. Hampir setiap hari ada orang baru yang datang membawa berbagai keperluan pernikahan. Aku bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk sekadar duduk santai. Para desainer terkenal didatangkan Aaron langsung ke mansion untuk mempersiapkan gaun pernikahanku. Mereka membawa begitu banyak pilihan gaun hingga aku sendiri kesulitan menghitungnya. Ada gaun dengan rok panjang yang menjuntai hingga lantai, gaun dengan detail renda yang begitu rumit, sampai gaun dengan hiasan yang berkilauan di bawah cahaya lampu. Semuanya indah. Semuanya terlihat seperti gaun yang hanya pantas dikenakan seorang putri. Masalahnya, Aaron selalu punya pendapat lain. "Yang itu terlalu sederhana." Aku menoleh kepadanya dengan tidak percaya. "Ini sederhana?" Aaron hanya menggeleng. "Untuk calon Luna-ku, itu belum cukup." Ak

  • Anak Rahasia Sang Alpha   263. Pertemuan yang Tak Diinginkan

    Elena sedang duduk di gazebo yang menghadap danau kecil buatan. Sedari tadi wajahnya penuh keterpukauan melihat keindahan di sekitarnya. Ia bahkan beberapa kali mengajak Arsen mengobrol dan menunjukkan banyaknya tanaman dan kemegahan bangunan di sana."Lihat, Arsen, ayahmu membangun jembatan itu posisinya sangat tepat," ucapnya sambil menunjuk arah bangunan di depannya. "Jembatannya melengkung di atas aliran sungai yang begitu tenang dan jernih."Elena mengedarkan pandangannya kembali."Selain di rumah kaca, di sini juga banyak bunga yang indah. Pemandangannya sangat menakjubkan, tempatnya juga begitu luas. Nanti kalau kamu sudah bisa jalan, kamu bisa lari-larian bersama ibu dan ayahmu."Tiba-tiba Arsen tertawa kecil.Hal itu membuat Elena terkejut sekaligus terharu.Matanya seketika membelalak lebar, lalu sedetik kemudian binar kebahagiaan yang begitu tulus terpancar dari wajahnya. Elena sempat terpaku, menatap wajah mungil di pelukannya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja

  • Anak Rahasia Sang Alpha   262. Papan Catur Sang Alpha

    Aaron tidak langsung menjawab.Ada keseriusan baru yang membuat rasa penasaran Fay semakin besar."Semua ritual itu baru bisa dilakukan setelah seluruh klan menyetujui pernikahan kita dan menerimamu sebagai Luna-ku," lanjut Aaron, memecah keheningan dengan nada suara yang berat.Fay tertegun. Kalimat Aaron barusan bagai menyiramkan air es ke atas kepala, menyadarkannya pada realitas yang kejam."Menyetujui?" tanya Fay, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Tapi kamu baru saja bilang kalau Dewan Tetua dan kaummu menentang pernikahan dengan manusia. Bagaimana mungkin mereka akan menyetujuinya dalam waktu lima hari?"Perlahan, Aaron meraih tangan Fay, menempelkan telapak tangan wanita itu tepat di atas dada kirinya, membiarkan Fay merasakan detak jantungnya yang berdegup kuat, dan penuh keyakinan."Karena masalah persetujuan klan inilah, Fay, sekarang aku akan membahasnya bersamamu," ucap Aaron dengan suara rendah yang menenangkan. "Aku minta kamu mendengarkan baik-baik keputusan d

  • Anak Rahasia Sang Alpha   261. The Lunar Oath

    "Kenapa?" Aaron memperhatikan ekspresi Fay yang masih mematung. "Apa kamu nggak mau menikah denganku?"Fay spontan mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat melayang."Bukan begitu. Aku ... aku hanya merasa ini terlalu mendadak. Kita—""Aku tahu ini terlalu cepat," sela Aaron, memotong kalimat Fay dengan nada suara yang mendadak berkejaran dengan waktu. "Tapi kita nggak punya pilihan, Fay. Hanya tersisa beberapa hari sebelum Tetua Marcus dan Dewan Tetua mengambil tindakan."Fay mengernyit bingung, merasakan firasat buruk yang mulai merayap. "Maksud kamu?""Jika kita melewati batas lima hari yang ditentukan, artinya mereka pasti akan mengambil Arsen.""Nggak!" sahut Fay dengan nada tinggi, naluri keibuannya seketika berontak. Ia menggeleng keras. "Nggak akan kubiarkan mereka menyentuh anakku, Aaron. Nggak akan pernah.""Aku juga nggak akan membiarkan itu terjadi," sahut Aaron tegas. "Satu-satunya cara mengunci pergerakan mereka adalah dengan pernikahan k

  • Anak Rahasia Sang Alpha   260. Dosa yang Tak Terhapus

    Aaron masih menggenggam kedua tangan Fay. Namun, kali ini tidak ada lagi senyum di wajahnya.Raut wajah pria itu tampak begitu serius, seolah apa yang akan diceritakannya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan luka yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar sembuh.“Fay...,” panggil Aaron pelan."Ya?"“Apa kamu masih ingat saat aku pernah menceritakan bagaimana kedua orang tuaku meninggal malam itu?”Fay menelan ludah.Tentu saja ia masih mengingatnya.Bagaimana mungkin ia melupakan kisah tentang seorang anak berusia delapan tahun yang pulang untuk menemui kedua orang tuanya, tetapi justru mendapati rumahnya telah berubah menjadi tempat kematian?“Aku ingat,” jawab Fay lirih.“Malam itu juga....” Suara Aaron terdengar begitu berat. “Tubuh kecilku akhirnya kehilangan kendali.”Fay terenyak. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat mendengar pengakuan itu.Aaron menghela napas pelan, lalu mulai menceritakan apa yang selama ini tersimpan jauh di dalam dirinya.“Malam itu huj

  • Anak Rahasia Sang Alpha   259. Masa Lalu yang Terkubur

    “Aku nggak cemburu,” gumam Fay, menyuarakan pembelaan terakhirnya yang terdengar rapuh.“Fay,” panggil Aaron pelan.Lengan kokohnya yang melingkar di pinggang Fay sedikit mengetat, seolah menuntut kejujuran tanpa perlu ada dusta di antara mereka.Fay meremas pelan kemeja Aaron, menyalurkan rasa sesak yang mulai membelit. “Aku cuma nggak suka dia.”“Kenapa?” tanya Aaron. Pria itu sedikit memiringkan kepala, berusaha menangkap ekspresi Fay yang mulai meredup.“Karena dia juga nggak suka aku.”Aaron terdiam. Sorot matanya melembut, dipenuhi rasa bersalah yang mendalam saat menyadari ada luka tersembunyi di balik kemarahan wanitanya.Fay melanjutkan dengan wajah semakin murung. Ia menatap lurus pada kancing kemeja Aaron dengan tatapan terluka.“Dia datang ke kamar Arsen, mengancam mau mengambilnya, menyebut darah anak kita sebagai masalah, lalu bicara kepadamu seolah aku ini nggak ada.”Aaron mendengarkan tanpa menyela, membiarkan perempuan itu menumpahkan seluruh unek-uneknya.“Aku tahu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   6. Di Bawah Kuasa Sang Predator

    "Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   5. Aroma yang Menjerat

    Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela.​"Fok

  • Anak Rahasia Sang Alpha   4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

    Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil

  • Anak Rahasia Sang Alpha   3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

    Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status