Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 163. Retakan di Balik Topeng

Share

163. Retakan di Balik Topeng

Author: malapalas
last update publish date: 2026-06-16 16:40:20

​Suasana mendadak membeku. Kata-kata Lucien menghantam relung malam dengan ketajaman yang tepat sasaran.

​Hendra membelalakkan mata, memasang ekspresi bingung yang luar biasa natural. Kerutan di dahinya tampak begitu polos.

"Apa maksudmu, Lucien? Kebohongan apa?"

​"Hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya," balas Lucien dingin.

Mata Gamma-nya tak berkedip sedikit pun, menguliti setiap kedutan saraf di wajah lawan bicaranya.

​Hendra menggelengkan kepala, tawa hambar bernada getir keluar dari mulu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   282. Pengkhianatan Terbuka

    ​Fay menghela napas lega, tidak menyadari ketegangan tak kasatmata yang baru saja terjadi. Ia berjalan lebih dahulu, diikuti oleh Elena, Hendra, serta Lucien yang mengekor rapat di belakang mereka dengan kewaspadaan penuh.​Mereka memasuki kamar utama yang luas dan mewah. Sebuah boks bayi dari kayu ukiran mahal berdiri anggun di dekat tempat tidur utama.“Biar Ibu bantu, Fay,” bisik Elena dengan suara lembut.Elena segera membimbing Fay mendekati boks bayi. Keduanya sibuk menata bantal kecil dan menyesuaikan selimut lembut yang menutupi tubuh Arsen.​"Lihatlah dia, Fay ...," gumam Elena dengan senyum hangat, "bahkan saat tidur, cucuku terlihat sangat tampan."Jemari Elena menyentuh tangan kecil Arsen dengan penuh kasih sayang.Untuk sesaat, suasana kamar terasa begitu damai. Kasih sayang seorang ibu dan nenek memenuhi area di sekitar boks bayi itu.Di saat Fay dan Elena sepenuhnya terfokus oleh bayi kecil itu, serta Lucien yang berdiri berjaga tepat di depan pintu yang tertutup, Hendr

  • Anak Rahasia Sang Alpha   281. Mendekati Bahaya

    ​Sejak awal, Aaron tidak pernah menganggap pesta pernikahannya sebagai sebuah perayaan biasa.Pengamanan di seluruh area hotel telah disusun sedemikian ketat sehingga hampir tidak ada pergerakan yang luput dari pengawasan.Setiap pintu masuk dijaga. Setiap lorong dipantau. Bahkan para prajurit pilihan yang menyamar sebagai staf hotel telah ditempatkan di berbagai titik strategis.Karena itu, ketika Hendra membawa Fay dan Arsen menuju lantai atas, beberapa prajurit yang berjaga di ujung tangga langsung bergerak.Mereka menghadang tepat di depan tangga."Berhenti."Fay, Elena, dan Hendra seketika menghentikan langkahnya.​"Mohon maaf, Nyonya Fay," ujar salah satu prajurit dengan suara berat penuh penghormatan, namun tegas tanpa kompromi. "Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati area ini tanpa izin."​Fay mengedipkan mata, terkejut dengan penjagaan seekstrem itu. "Tapi ... aku hanya ingin menidurkan Arsen.""Kami memahami itu." Prajurit tersebut tetap berdiri tegak. "Namun, kam

  • Anak Rahasia Sang Alpha   280. Ancaman Dimulai

    Tidak jauh dari sana, suasana di antara para Tetua dan anggota Dewan terasa jauh berbeda.Mereka tahu bahwa penjelasan Aaron hanyalah sebuah cerita yang sengaja disusun untuk dunia manusia. Namun, justru itulah yang membuat kemarahan mereka semakin sulit ditahan.Aaron telah memilih seorang manusia sebagai Luna.Tanpa meminta persetujuan mereka.Tanpa menunggu keputusan Dewan.Dan sekarang, di hadapan ribuan manusia, ia telah mengakui wanita itu sebagai istrinya secara terbuka. Lebih dari itu, Aaron juga telah memperkenalkan Arsen sebagai putranya.Pewarisnya.Semuanya telah ditempatkan di hadapan hukum manusia seolah keputusan itu sudah final dan tidak dapat diganggu gugat.Namun, bukan hanya pengakuan Aaron terhadap Arsen yang menarik perhatian para werewolf dari berbagai klan. Tatapan mereka masih tertuju pada bayi yang berada dalam gendongan Sang Alpha.Arsen.Beberapa Tetua memperhatikannya dengan sangat serius. Bahkan sebagian anggota Dewan yang sebelumnya sibuk menahan kemarah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   279. Di Sisi Sang Alpha

    “Jadi, tidak ada yang perlu dipertanyakan mengenai waktu kelahiran putra kami.” Suara Aaron kembali terdengar tegas.Beberapa karyawan yang sebelumnya kebingungan mulai menunjukkan ekspresi berbeda.Jika Fay memang sudah mengandung sebelum bekerja di perusahaan, maka semuanya memang masuk akal.“Berarti waktu itu Fay memang sudah hamil?”“Jadi bayi itu bukan baru dikandung setelah kejadian di ruang rapat?”“Pantas saja setelah beberapa waktu dia berhenti bekerja.”“Mungkin Pak Aaron memang sengaja memintanya berhenti demi keselamatan bayi.”“Kalau begitu, gosip kita selama ini benar-benar salah.”Beberapa orang mengangguk pelan.Potongan-potongan informasi yang dulu terasa tidak masuk akal kini seolah tersusun menjadi satu.Mereka akhirnya memahami mengapa Fay tiba-tiba meninggalkan perusahaan beberapa bulan setelah bekerja di sana.Namun, pemahaman itu hanya berlaku bagi mereka yang berasal dari dunia manusia.Di antara para werewolf yang hadir, tidak ada satu pun yang terlihat terke

  • Anak Rahasia Sang Alpha   278. Skenario Sang Alpha

    Seluruh aula menunggu dalam senyap. Ribuan pasang mata tertuju kepada Aaron.Para karyawan masih diliputi keterkejutan setelah mengetahui bahwa wanita yang berdiri di samping bos besar mereka ternyata adalah Fay—mantan anak magang di Divisi Administrasi Umum. Di sudut lain, para wartawan menanti penjelasan dengan tidak sabar, sedangkan para rekan bisnis seketika menahan percakapan mereka. Sementara itu, para Tetua dan anggota Dewan hanya duduk bergeming, mengamati setiap gerak-gerik Aaron dengan tatapan tajam.Namun, Aaron tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu menoleh kepada Fay.Wajah wanita itu masih menyimpan sedikit kegelisahan. Namun, ketika tatapan mereka bertemu, Aaron memberikan senyum tipis yang menenangkan.Senyum yang seolah mengatakan bahwa semuanya berada dalam kendalinya.Fay mengembuskan napas perlahan. Ia segera membalas senyum Aaron.Setelah memastikan istrinya lebih tenang, Aaron mengalihkan pandangan kepada seluruh tamu.“Sepertinya kalian memiliki banyak pert

  • Anak Rahasia Sang Alpha   277. Identitas yang Terungkap

    “Astaga ... bukankah dia Fay?!”Suara itu terdengar dari tengah kerumunan karyawan.Beberapa kepala langsung menoleh, saling melempar tatapan tidak percaya.“Apa? Fay?”“Benar, itu Fay.”“Bukankah dia dulunya hanya anak magang?”Rekan di sebelahnya mengangguk kecil, ikut mengonfirmasi. “Ya. Setahuku, dia mantan staf magang di Divisi Administrasi Umum.”Karyawan lain yang mendengar percakapan itu sontak mengalihkan pandangan mereka ke arah panggung.“Dan sekarang dia berdiri di samping Pak Aaron? Menjadi pengantinnya?”“Dia baru beberapa bulan lalu mengundurkan diri, kan?”Dalam sekejap, desas-desus itu menyebar luas, membelah kemegahan pesta pernikahan sang Alpha.Fay yang mendengar percakapan tersebut terlihat gelisah. Jemarinya tanpa sadar mengerat pada tangan Aaron.Namun, Aaron tetap tenang.Ia hanya menoleh sekilas kepada Fay, seolah memberikan isyarat agar wanita itu tidak perlu memikirkan bisikan-bisikan tersebut.Di sisi lain, Elena yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Hend

  • Anak Rahasia Sang Alpha   6. Di Bawah Kuasa Sang Predator

    "Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   5. Aroma yang Menjerat

    Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela.​"Fok

  • Anak Rahasia Sang Alpha   4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

    Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil

  • Anak Rahasia Sang Alpha   3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

    Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status