Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 163. Retakan di Balik Topeng

Share

163. Retakan di Balik Topeng

Author: malapalas
last update publish date: 2026-06-16 16:40:20

​Suasana mendadak membeku. Kata-kata Lucien menghantam relung malam dengan ketajaman yang tepat sasaran.

​Hendra membelalakkan mata, memasang ekspresi bingung yang luar biasa natural. Kerutan di dahinya tampak begitu polos.

"Apa maksudmu, Lucien? Kebohongan apa?"

​"Hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya," balas Lucien dingin.

Mata Gamma-nya tak berkedip sedikit pun, menguliti setiap kedutan saraf di wajah lawan bicaranya.

​Hendra menggelengkan kepala, tawa hambar bernada getir keluar dari mulu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   165. Pintu Menuju Masa Lalu

    Ruangan kerja Aaron tenggelam dalam keheningan.Sinar matahari pagi menembus dinding kaca tinggi, memantulkan cahaya tipis di atas meja kerja yang dipenuhi berkas dan laporan keuangan.Aaron berdiri tegak masih menunggu Lucien melanjutkan laporannya. Sementara di hadapannya, Aldrick dan Lucien berdiri dengan sikap hormat."Semalam saya sudah menyelidiki Hendra secara langsung, Tuan," ulang Lucien.Aaron tidak menyela. Tatapan emasnya yang dingin hanya tertuju pada Gamma kepercayaannya.Lucien melanjutkan. "Dan saya sampai pada satu kesimpulan.""Apa itu?" tanya Aaron sembari kembali duduk di kursi kebesarannya.Lucien menghela napas pelan. "Saya belum bisa membuktikan bahwa dia terlibat dalam penculikan Nona Fay." Ruangan tetap hening. "Tetapi saya yakin dia menyembunyikan sesuatu."Sorot mata Aaron berubah sedikit lebih tajam. "Alasanmu?"Lucien sudah menduga pertanyaan itu akan datang. "Hendra terlalu tenang."Aldrick melirik sekilas ke arah Lucien."Saat saya mengawasinya dari luar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   164. Jalur Rahasia

    Pukul sembilan pagi, sinar matahari telah sepenuhnya naik, membanjiri ruang kerja Aaron di lantai eksekutif dengan cahaya terang yang menembus kaca besar. Suasana kantor sudah mulai sibuk dengan derap langkah karyawan dan dering telepon kantor yang berwibawa dari meja sekretaris di luar, namun di dalam ruangan Aaron, keheningan tetap terjaga dengan ketat.​Semalam, markas klan dipenuhi hiruk-pikuk perayaan atas kesuksesan investasi dari Singapura. Namun bagi Aaron, itu hanyalah sebuah sandiwara politik yang melelahkan.​Aaron berdiri menghadap pemandangan kota sembari kedua tangannya tersembunyi di balik saku celana. Suasana ruangannya hening, sangat kontras dengan keriuhan jamuan semalam.​Bzzzt ... Bzzzt....​Ponsel pribadi di atas meja kerjanya bergetar. Aaron berbalik, langkah kakinya tenang saat mendekati meja tersebut. Ia melihat nama Edward Johnson di layar, dan tanpa ragu, ia menjawab panggilannya melalui jalur enkripsi End-to-End milik Signal yang terisolasi.​"Aaron." Suara

  • Anak Rahasia Sang Alpha   163. Retakan di Balik Topeng

    ​Suasana mendadak membeku. Kata-kata Lucien menghantam relung malam dengan ketajaman yang tepat sasaran.​Hendra membelalakkan mata, memasang ekspresi bingung yang luar biasa natural. Kerutan di dahinya tampak begitu polos."Apa maksudmu, Lucien? Kebohongan apa?"​"Hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya," balas Lucien dingin.Mata Gamma-nya tak berkedip sedikit pun, menguliti setiap kedutan saraf di wajah lawan bicaranya.​Hendra menggelengkan kepala, tawa hambar bernada getir keluar dari mulutnya."Astaga ... kamu mencurigaiku? Di saat putriku sendiri entah ada di mana, kamu datang ke rumahku malam-malam hanya untuk menuduhku?"Lucien menatapnya tanpa ekspresi.​Hendra maju selangkah, menatap Lucien dengan sorot mata yang dipenuhi ketegasan seorang suami dan ayah."Dengar, aku nggak bisa meninggalkan Elena sendirian di rumah ini dalam keadaan cemas. Dan satu hal lagi yang harus kamu ingat ...," Hendra menjeda kalimatnya, menurunkan nada bicaranya menjadi bisikan yang sarat akan pene

  • Anak Rahasia Sang Alpha   162. Kecurigaan Sang Gamma

    Malam masih menggantung pekat di antara pepohonan. Angin dingin berembus pelan, menggerakkan dedaunan yang berbisik samar di kegelapan.Lucien tidak segera menjawab rentetan pertanyaan panik Hendra. Ia justru berdiri bergeming, membiarkan keheningan malam mengeksploitasi setiap jengkal perubahan di wajah pria di hadapannya.​Di mata seorang Gamma dengan insting pemburu yang tidak bisa diragukan lagi, reaksi Hendra terlalu sempurna, terlalu rapi. Pancaran matanya yang panik, napasnya yang memburu, hingga gestur tubuhnya yang gemetar, semuanya seolah telah dilatih untuk keluar di detik yang tepat.Wajahnya menampilkan sosok ayah yang hancur, namun aura di sekitarnya berkata sebaliknya. Dingin, terukur, dan penuh perhitungan.​Ada sesuatu yang sedang disembunyikan dengan sangat rapat di balik topeng itu.Hendra dan Lucien berdiri saling berhadapan beberapa meter dari rumah yang masih menyala hangat di belakang mereka.Lucien menatapnya beberapa saat tanpa ekspresi."Alpha Aaron sudah mem

  • Anak Rahasia Sang Alpha   161. Tatapan dari Kegelapan

    Malam telah larut ketika keheningan membungkus sebuah rumah sederhana milik Hendra dan Elena yang tampak tenang di bawah cahaya lampu teras kekuningan. Berbeda dengan berbagai intrik yang sedang bergerak di balik bayangan klan, malam di tempat itu terlihat damai seperti malam-malam biasa.Di luar, angin berembus tipis, menggoyang dedaunan mangga di halaman depan. Namun di balik kegelapan yang pekat, tepat di bawah bayangan pohon besar yang luput dari sorot lampu jalan, sesosok pria berdiri tak bergerak.​Lucien.​Gamma itu menyatu sempurna dengan kegelapan, seolah dirinya adalah bagian dari malam itu sendiri. Sepasang matanya yang tajam bak elang pemburu terkunci lurus pada jendela ruang tengah rumah tersebut. Dengan jarak aman yang telah diperhitungkannya, manusia biasa tidak akan pernah menyadari keberadaannya. Bahkan napasnya pun diatur sedemikian rupa hingga nyaris tak terdengar.​Di dalam sana, melalui jendela kaca, Lucien bisa melihat Hendra dan Elena.Pasangan suami istri itu s

  • Anak Rahasia Sang Alpha   160. Bidak Terakhir Marcus

    Malam mulai turun perlahan di wilayah klan.Jauh dari markas utama yang masih dipenuhi euforia keberhasilan Proyek Utara, kabut tebal kembali menyelimuti bangunan batu tua yang berdiri kokoh di tengah hutan terisolasi. Tempat yang tidak pernah tercatat di peta mana pun itu tampak sunyi di luar, namun di dalamnya, atmosfer terasa sedingin es.Tidak ada penjaga.Tidak ada lambang kekuasaan.Namun siapa pun yang mengetahui tempat itu akan mengerti bahwa sebagian keputusan paling berbahaya dalam sejarah klan lahir dari balik dinding-dinding batu tersebut.Di dalam ruangan rahasia yang remang-remang, Tetua Utama Marcus duduk di singgasana sederhananya.Tangannya bertumpu di sandaran. Tatapannya mengarah ke kobaran api kecil di perapian. Wajahnya tampak sama seperti biasanya. Tenang, dan sulit ditebak. Seolah tidak ada apa pun yang mampu mengguncang pikirannya.​Tiba-tiba pintu kayu besar berderit pelan. Pria bermantel hitam melangkah masuk dari kegelapan lorong. Langkahnya ringan tanpa sua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status