Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 162. Kecurigaan Sang Gamma

Share

162. Kecurigaan Sang Gamma

Author: malapalas
last update publish date: 2026-06-16 16:31:24

Malam masih menggantung pekat di antara pepohonan. Angin dingin berembus pelan, menggerakkan dedaunan yang berbisik samar di kegelapan.

Lucien tidak segera menjawab rentetan pertanyaan panik Hendra. Ia justru berdiri bergeming, membiarkan keheningan malam mengeksploitasi setiap jengkal perubahan di wajah pria di hadapannya.

​Di mata seorang Gamma dengan insting pemburu yang tidak bisa diragukan lagi, reaksi Hendra terlalu sempurna, terlalu rapi. Pancaran matanya yang panik, napasnya yang membur
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   256. Strategi Sang Alpha

    Adrian dan Lucien berdiri kaku di tempatnya. Keduanya tahu hubungan Aaron dan Fay bukan lagi sekadar hubungan antara seorang Alpha dan pasangannya.Fay telah menjadi bagian terpenting dalam hidup Aaron. Namun, mengadakan pernikahan besar dalam keadaan seperti sekarang berarti membuka seluruh kehidupan mereka kepada lebih banyak orang."Tuan." Adrian akhirnya bersuara. "Anda serius?"Aaron menatapnya datar. "Ya."Ia justru tampak sudah memikirkan hal tersebut.“Aku ingin semuanya disiapkan dengan sempurna,” ucapnya tenang.Adrian perlahan mengambil buku catatannya. “Seberapa besar pesta yang Anda inginkan, Tuan?”“Sebesar mungkin.” Tidak ada keraguan dalam jawabannya. “Aku ingin pesta yang layak untuk seorang Luna.”Adrian menghentikan gerakan tangannya. Sementara Aaron yang duduk di kursi terlihat begitu santai.“Fay nggak akan mendapatkan pesta kecil yang hanya dihadiri beberapa orang. Aku ingin semua orang tahu kedudukannya.”Tatapannya berubah lebih serius.“Dia adalah pasanganku.

  • Anak Rahasia Sang Alpha   255. Titah Tanpa Ragu

    Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gedung utama perusahaan.Aaron turun dengan langkah tenang, mengenakan setelan hitam yang rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajahnya tetap datar seperti biasa, sementara Lucien turun beberapa detik kemudian dan langsung berjalan di belakangnya.Aaron tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya berjalan menuju pintu utama. Begitu ia melangkah masuk, seketika itu juga suasana berubah.Udara seolah membeku. Percakapan terhenti tepat di tengah kalimat, dan kesibukan pagi terserap ke dalam keheningan yang mendadak.Seluruh karyawan yang berada di lantai bawah, terutama para staf wanita, menghentikan aktivitas mereka secara serentak.Tatapan mereka langsung tertuju kepada satu orang yang baru saja memasuki gedung.Aaron.Tidak ada yang benar-benar terkejut melihatnya berada di sana. Bagaimanapun, dia adalah CEO mereka. Namun, setiap kali Aaron muncul, reaksi yang sama selalu saja terjadi.Mereka tetap sulit mengalihkan pandangan.Wajah tampan itu seolah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   254. Langkah Sang Alpha

    Begitu pintu kembali tertutup, seluruh kekuatanku mendadak menguap. Lututku lemas dan tubuhku meluncur turun. Sebelum aku menyentuh lantai, tangan kekar Aaron menangkap pinggangku, menahan tubuhku dengan cekatan.“Kamu terluka, Fay? Katakan padaku, mana yang sakit?”Aku menggelengkan kepala cepat, mencoba menahan air mata yang mendadak menetes di pipi.“Aku nggak apa-apa, tapi dia hampir saja—”“Aku tahu,” potong Aaron pelan, menyapukan ibu jarinya untuk menghapus air mataku. “Aku berjanji, hal seperti ini nggak akan terulang lagi.”Aku mendekap Arsen lebih erat ke dadaku. Tubuh kecil itu terasa hangat dan bernapas dengan teratur, pertanda dia baik-baik saja.Namun, kata-kata Lira terus menggema dan menancap dalam di kepalaku bagai taring yang beracun.“Serahkan anak itu dengan sukarela, atau Dewan Klan akan turun tangan mengambilnya.”Aku memejamkan mata erat-erat dengan dada yang sesak.“Nggak, Aaron ... nggak,” bisikku histeris. “Aku nggak akan pernah menyerahkan Arsen pada monster

  • Anak Rahasia Sang Alpha   253. Peringatan Lima Hari

    Tubuhku jatuh tersungkur. Bahu kiriku menghantam lantai dengan keras hingga rasa nyeri menjalar ke seluruh lengan. Namun refleks bertahanku bekerja cepat, aku memeluk Arsen mati-matian, menjadikan tubuhku sendiri sebagai bantalan agar dia tidak tersentuh sedikit pun.“FAY!”Aku mendengar Aaron memanggilku dengan panik dan khawatir.Dalam sekejap, tubuhku sudah diangkat dari lantai. Aaron meraih tubuhku dan menarikku ke dalam pelukannya, sementara tanganku masih erat memeluk Arsen.“Fay, kamu terluka?”Aku menggeleng cepat meski bahu kiriku masih terasa nyeri.“Aku nggak apa-apa.”Aaron menatapku beberapa detik, memastikan tidak ada luka serius pada tubuhku.Di saat yang sama, aku melihat Lucien meninggalkan posisinya di depan pintu dan langsung mencengkeram leher Lira.Tubuh wanita itu terdorong mundur hingga punggungnya hampir menghantam dinding.“Jangan bergerak.”Suara Lucien terdengar rendah dan mengancam.Tangannya tetap mencengkeram leher Lira dengan kuat, tetapi ia masih menaha

  • Anak Rahasia Sang Alpha   252. Jangan Sentuh Mereka

    Tanganku semakin erat memeluk Arsen.Belum sempat aku mengatakan apa pun, terdengar langkah kaki dari lorong.Sosok lain muncul di ambang pintu.Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan ekspresi dingin. Lucien berada beberapa langkah di belakangnya, memasang wajah kaku.Aku menatap pria itu dengan waspada. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.Lucien segera menundukkan kepala kepada Aaron.“Alpha, semua tim prajurit di lantai bawah sudah berhasil menahan rombongan utusan Dewan Tetua di tempat. Hanya saja, Silas berhasil menerobos sampai ke lantai atas.”Nama itu membuatku terdiam sejenak.Silas?Aaron sudah mengenalnya. Dari cara Aaron menatapnya, jelas pria itu bukan orang asing baginya.Aaron hanya memberikan satu jawaban.“Keluar.”Suaranya singkat dan dingin.Cakar Aaron perlahan muncul dari jemarinya. Kilatan tajamnya langsung membuat udara di kamar terasa berat.Silas tetap berdiri di tempat.“Kalian tidak bisa menghalangi kami,” katanya tenang. “Kami adalah utusan resmi dar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   251. Mereka Datang untuk Arsen

    Aku mendengar ada suara dari luar pintu.Awalnya hanya terdengar samar, seperti percakapan yang tertahan di balik dinding. Namun, beberapa detik kemudian, suara itu semakin jelas.Suara prajurit dan seorang wanita.Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar sambil menggendong Arsen yang masih berada dalam pelukanku.“Tidak, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”Suara prajurit itu terdengar tegas.Aku mengernyit."Siapa wanita itu?" bisikku lirih.Aku melangkah perlahan mendekati pintu. Arsen kugendong lebih erat, memastikan tubuh kecilnya tetap nyaman dalam pelukanku.“Aku sudah mengatakan bahwa aku perlu masuk,” ujar wanita itu dengan nada dingin.“Maaf, Nona. Kami tidak menerima perintah dari Alpha Aaron untuk membuka pintu ini.”“Aku tidak membutuhkan izin dari Aaron.”Jantungku berdegup lebih cepat.Aaron?Wanita ini mengenal Aaron?“Aku datang membawa perintah langsung dari Tetua Utama dan Dewan Klan,” lanjutnya. “Apa kalian pikir aku akan berdiri di depan pintu hanya kare

  • Anak Rahasia Sang Alpha   99. Ayah yang Memilih Racun

    Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   93. Penantian Fay

    Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene

  • Anak Rahasia Sang Alpha   81. Ancaman dari Dalam Rahim

    "Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.​Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."​Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status