Beranda / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 186. Sumpah yang Terbangun

Share

186. Sumpah yang Terbangun

Penulis: malapalas
last update Tanggal publikasi: 2026-07-01 20:03:11

​Seharusnya aku merasa bahagia, bukan?

Bukankah selama ini aku memang ingin selalu berada di dekat Aaron? Bukankah itu yang diam-diam kuharapkan? Namun anehnya, kata setuju seolah tersangkut di tenggorokanku.

​Pandanganku perlahan beralih dari Aaron, mengitari sudut demi sudut ruangan ini, lalu berakhir pada sosok nenek. Rumah kayu yang sederhana ini, halaman depan yang selalu beliau rawat dengan penuh kasih setiap pagi, dapur kecil tempat beliau memasak sup hangat kesukaanku, dan kenyataan bah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Sang Alpha   238. Sang Pewaris Memilih Waktunya

    Rasa sakit itu datang tanpa peringatan. Perut Fay mengeras seketika, diikuti tekanan hebat yang menjalar hingga ke pinggang dan panggulnya. Seolah ada kekuatan besar dari dalam tubuhnya yang terus mendorong keluar tanpa memberinya kesempatan untuk beristirahat.​"A-aku nggak kuat, Aaron...," bisik Fay, pandangannya memburam.Aaron memeluknya lebih erat. ​"Dengar aku, Sayang. Jangan menyerah. Kamu pasti bisa!"Aaron menyalurkan aura Alpha melalui ikatan mereka, berusaha menstabilkan tubuh Fay dan menjaga kesadarannya agar tidak tenggelam akibat rasa sakit.Namun, aura sang calon pewaris begitu dominan, menolak tenang dan makin ganas meremukkan organ dalam ibunya demi sebuah kebebasan.Aaron menoleh tajam kepada dokter. "Lakukan sesuatu!"Dokter yang berlutut di hadapan Fay terlihat panik. Wajahnya pucat pasi dibasahi keringat dingin saat tatapan penuh dorongan membunuh milik Aaron mengunci pergerakannya.​"A-ampun, Alpha!" gagap dokter klan itu, suaranya bergetar hebat. "Saya ... saya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   237. Napas Terakhir Sang Penjaga

    Aaron melangkah mendekat dengan mata memancarkan kematian murni. Namun tepat sebelum cakar Aaron merobek leher Jessi, sesosok tubuh bayangan melesat dengan kecepatan tinggi."Jessi!"Sosok Stanley melesat keluar dari kegelapan. Barisan prajurit elit yang mengepung dari kejauhan refleks menghunuskan belati gading mereka, siap menyerang, tetapi tertahan oleh kibasan tangan tenang sang Alpha.Stanley muncul dari balik pepohonan. Dalam sekejap, ia meraih putrinya dan menariknya menjauh."Ayah....""Diam! Kita pergi!"Aaron tidak mengejar. Ia hanya berdiri diam, menatap keduanya menghilang di antara pepohonan.Lucien yang baru tiba langsung berhenti di sampingnya."Tuan!"Aaron masih menatap ke arah Stanley dan Jessi yang menghilang."Biarkan."Lucien mengerutkan kening. Di belakangnya, para prajurit elit saling bertukar pandang penuh ketegangan, menanti perintah pengejaran yang tak kunjung keluar."Tapi mereka—""Aku tahu."Jawaban Aaron begitu tenang hingga Lucien dan para prajurit elit

  • Anak Rahasia Sang Alpha   236. Sang Alpha Turun Tangan

    "Aaron, aku mohon ... bawa aku ke sana sekarang! Nenek ... Nenek terluka parah!"Suara Fay bergetar hebat, pecah oleh kepanikan. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahannya, sementara kedua tangannya mencengkeram erat pakaian Aaron dengan tubuh gemetar membayangkan kondisi wanita tua yang sangat dicintainya itu.Melihat kehancuran di wajah Fay, hati Aaron berdenyut perih. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aaron segera merengkuh tubuh Fay dan mengirimkan perintah melalui ikatan batin kepada prajurit khususnya.'Siapkan helikopter. Kita berangkat ke hutan pinus. Sekarang!'Perintah itu terkirim dalam sekejap.Aaron memandu Fay melintasi koridor privat yang membawanya menuju ke atap utama mansion. Selama ini, Fay bahkan tidak tahu bahwa mansion tersebut memiliki tempat pendaratan helikopter. Atap utama bangunan itu begitu luas, sementara landasan pribadi berada di salah satu sisinya, cukup besar untuk helikopter milik Aaron.​Fay bahkan tidak sempat mengagumi kemegahan tempat itu. Pikiran

  • Anak Rahasia Sang Alpha   235. Jawaban dari Sebuah Firasat

    Lift terus bergerak meluncur ke atas, meninggalkan area lantai dua yang tenang. Namun, ketika pintunya terbuka, suasana di sekeliling kami seketika berubah.Sensasi dingin dan tegang langsung terasa di udara.Aku sempat mengira kami akan langsung melihat ruangan pribadi seperti yang ada di lantai mansion lainnya. Namun, begitu melihat keadaan di balik pintu, aku justru terdiam.Beberapa prajurit werewolf berdiri berjajar di sepanjang koridor.Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna gelap dengan perlengkapan keamanan lengkap. Sikap mereka begitu tegap dan waspada. Ketika melihat Aaron keluar dari lift sambil menggendongku, seluruh prajurit serentak menundukkan kepala.​"Alpha."Suara mereka terdengar hampir bersamaan.Aku spontan melirik Aaron.Ia hanya mengangguk singkat."Bagaimana keadaan?""Aman, Alpha.""Periksa seluruh sisi luar secara berkala. Jangan ada celah dalam penjagaan.""Siap, Alpha."Aku kembali menatap para prajurit setelah mereka mengambil posisi masing-masing. Jum

  • Anak Rahasia Sang Alpha   234. Menjelajahi Dunia Aaron

    Aaron membawaku berkeliling mansion, dimulai dari ruang bawah tanah yang ternyata menyimpan dunia tersendiri di balik dinding-dinding beton yang dingin. Aku membiarkan pandanganku menjelajahi setiap sudut yang kami lewati. Di balik pintu kaca tebal berteknologi tinggi, deretan mobil mewah koleksi Aaron tampak berkilau di bawah sorotan lampu. Beberapa di antaranya bahkan terlihat seperti kendaraan yang hanya pernah kulihat di majalah atau layar televisi. Namun, ternyata garasi itu bukanlah bagian paling menarik dari lantai bawah tanah ini. Aaron membawaku lebih jauh hingga berhenti di depan sebuah pintu baja tebal dengan pemindai biometrik di sampingnya. "Ini apa?" tanyaku penasaran. "Ruang keamanan utama." Ia menempelkan telapak tangannya pada pemindai. Setelah identitasnya dikenali, pintu baja itu terbuka perlahan. Aku langsung membelalakkan mata. Di baliknya terdapat ruangan yang dipenuhi layar pemantauan, panel komunikasi, serta peta digital yang menampilkan kondisi mansion

  • Anak Rahasia Sang Alpha   233. Janji yang Tak Terlupakan

    Pagi ini aku sama sekali tidak bisa tenang.Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak bangun tidur, tetapi aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang salah. Perasaan tidak nyaman itu semakin kuat hingga membuatku frustrasi. Sedari tadi aku hanya mondar-mandir di dalam kamar tanpa tujuan.Aaron yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian untuk pergi ke kantor akhirnya menyadari kegelisahanku.Ia mendekat, lalu menghentikan langkahku dengan kedua tangannya yang lembut bertumpu di bahuku."Ada apa?" Tatapannya mengunci wajahku, tetapi kelembutan di sana membuatku sedikit lebih tenang."Aku ... nggak tahu." Aku menggeleng pelan. "Tiba-tiba saja aku merasa nggak enak. Rasanya seperti sesuatu telah terjadi."Aaron tersenyum kecil."Mungkin kamu terlalu lelah. Atau mungkin hormon kehamilanmu sedang membuatmu lebih sensitif, Sayang.""Tapi ini nggak seperti biasanya, Aaron. Aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang—""Baiklah." Ia memotong ucapanku dengan nada tenang. "Kalau begitu, hari ini ak

  • Anak Rahasia Sang Alpha   25. Istirahatlah, Bunga Hujanku

    Suara jangkrik di luar jendela perlahan memudar, tenggelam oleh keheningan yang terasa berat namun familier bagiku. Aku berada di antara sadar dan tidak. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah-olah aku sedang mengapung di atas awan, namun di saat yang sama, rasa lelah yang luar biasa menahan kelopak

  • Anak Rahasia Sang Alpha   24. Pengakuan Sang Alpha dan Rencana Keji

    ​Lampu minyak di atas meja itu bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding dapur. Suasana terlihat sunyi, namun udara di ruangan itu terasa sangat berbeda.Aaron duduk di salah satu kursi yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya, namun ia tetap terlihat seperti pengua

  • Anak Rahasia Sang Alpha   22. Malam Pertama Bulan Merah

    ​Aku sudah menyadarinya bahkan sebelum langit berubah warna. Ada sesuatu yang salah dengan malam ini. Udara terasa menipis, seolah oksigen ditarik paksa dari paru-paruku.​Kulitku mulai mengeluarkan hawa panas yang tidak wajar. Ini bukan demam biasa, melainkan sengatan yang merayap dari dalam sumsu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   21. Penyeimbang Batin

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela dapur, membawa aroma kopi dan singkong rebus yang mengepul hangat. Aku duduk di meja makan, jemariku melingkari gelas teh yang panas sambil mencoba mengusir sisa-sisa kegelisahan tadi malam.Rasa aman yang aneh itu masih ada, menetap laya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status