/ Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 24. Pengakuan Sang Alpha dan Rencana Keji

공유

24. Pengakuan Sang Alpha dan Rencana Keji

작가: malapalas
last update 게시일: 2026-04-14 06:48:46

​Lampu minyak di atas meja itu bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding dapur. Suasana terlihat sunyi, namun udara di ruangan itu terasa sangat berbeda.

Aaron duduk di salah satu kursi yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya, namun ia tetap terlihat seperti penguasa di sana. Sedangkan nenek duduk di hadapannya, jemarinya yang keriput menggenggam erat sisa patahan tongkat kayunya yang kini sudah kehilangan daya magisnya.​

"Sihirku nggak pernah gagal sebelumnya,
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Anak Rahasia Sang Alpha   181. Dalang Sesungguhnya

    Selama ini semua orang menganggapnya sebagai kecelakaan yang gagal dijelaskan. Bahkan Lucien, dengan penciumannya yang jauh melampaui manusia biasa, hanya mampu memastikan bahwa ada sesuatu yang tidak wajar pada hari itu, tetapi tidak pernah menemukan bukti yang cukup untuk menunjuk pelakunya.Namun sekarang ... semua potongan itu perlahan mulai saling bertaut.Aaron menurunkan pandangannya ke foto Hendra yang berada di atas meja."Kalau Hendra memang hidup di bawah perintah pria ini ...," Suara Aaron terdengar sangat pelan, "maka nggak ada satu pun tindakannya yang bisa dianggap sebagai kebetulan."Aldrick mengangkat kepala."Tuan...."Aaron tidak langsung menjawab. Ingatannya justru kembali pada laporan Aldrick malam itu.Hendra datang tanpa pemberitahuan.Tidak lama kemudian, Fay mendadak merasakan sakit yang begitu hebat hingga ikatan darah antara dirinya dan bayi mereka sempat melemah. Bahkan dari Singapura, ia mampu merasakan jeritan naluriah anaknya yang sedang berusaha bertaha

  • Anak Rahasia Sang Alpha   180. Rantai yang Mengikat

    Keheningan masih menggantung di ruang kerja pribadi Aaron, mengendap di antara dinding-dinding tinggi perusahaan pencakar langit miliknya. Di luar, hujan tipis mulai turun membasahi kota, membentur kaca jendela besar dengan suara ketukan lembut yang monoton dan terus-menerus.Aldrick meletakkan beberapa lembar foto hasil cetakan digital di atas meja milik Aaron."Ini dari rekaman CCTV lalu lintas belasan tahun lalu, Tuan. Pemerintah punya server cadangan rahasia yang menyimpan seluruh riwayat rekaman kota."​Aaron meneliti gambar yang sedikit buram itu. "Bagaimana bisa sejelas ini?""Tim dari Direktur William mengambil cuplikan video, menaikkan kontrasnya, lalu mencetak bagian terbaik. Itu Hendra, dan pria bermantel itu tepat di belakangnya."Aaron tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia memperhatikan semua bukti foto yang telah dikumpulkan Aldrick.Pola yang sama kembali berulang seperti mimpi buruk yang tercetak.Hendra dan pria bermantel itu selalu berada di lokasi yang sama. Namun,

  • Anak Rahasia Sang Alpha   179. Kepatuhan yang Tersembunyi

    ​"Ulangi ucapanmu," desis Aaron, setiap suku katanya terdengar seperti hunjaman pisau.​"Tetua Marcus datang sendiri ke kamar saya, Tuan. Hanya berselang beberapa saat setelah saya menemukan dokumen ini," ulang Aldrick dengan sisa keberaniannya.​Tatapan Aaron seketika berubah menjadi sedingin musim dingin di utara."Lanjutkan. Jangan kurangi satu detail pun."​Aldrick menarik napas dalam-dalam sebelum menceritakan seluruh kronologi kejadian malam itu.Ia menceritakan tentang ketukan pintu yang mendadak, tentang alasan Marcus mengenai laporan seseorang yang melihat koper hitam mencurigakan, tentang pemeriksaan yang dilakukan Marcus di dalam kamarnya, hingga upaya Tetua itu mencari sesuatu.Aldrick menjelaskan bagaimana mata tua Marcus bergerak liar, mencari sesuatu yang jelas-jelas merujuk pada berkas penyelidikan itu, serta bagaimana kecurigaannya menguat bahwa ada mata-mata yang mengawasi setiap gerak-gerik mereka di dalam klan.​Setelah Aldrick menyelesaikan kalimat terakhirnya, ti

  • Anak Rahasia Sang Alpha   178. Awal Terbukanya Konspirasi

    ​Jemari Aaron terhenti tepat pada selembar foto yang terletak di bagian tengah halaman dokumen.Itu adalah sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak yang cukup jauh, menyajikan fokus yang sedikit buram namun menyimpan detail yang mengerikan.Di depan terlihat Hendra. Namun, bukan pria itu yang menyita seluruh perhatian Aaron, melainkan sosok yang berdiri beberapa meter di belakangnya.Pria bermantel hitam.Seketika itu juga, atmosfer di dalam ruang kerja sang Alpha mendadak terasa menyusut, digantikan oleh hawa sedingin es yang merayap dari balik dinding. Aaron menatap foto itu dalam keheningan yang mencekam. Terlalu lama, hingga Lucien dan Aldrick yang berdiri di hadapannya mulai menahan napas.​"Jelaskan," perintah Aaron.Suaranya rendah, serak, dan mengintimidasi, seolah-olah getarannya sendiri adalah sebuah peringatan bahaya yang nyata.​Aldrick berdeham pelan, mencoba mengusir ketegangan yang mulai menguji naluri serigalanya.Ia segera mengangguk patuh."Saya a

  • Anak Rahasia Sang Alpha   177. Benang Merah Takdir

    Pagi itu, Aaron berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya yang megah di gedung pencakar langit miliknya.Dari ketinggian tersebut, hiruk-pikuk seluruh kota tampak begitu kecil dan tidak berarti. Namun, perhatian sang Alpha sama sekali tidak tertuju pada pemandangan di luar sana.Di telapak tangannya tergeletak sebuah cincin tua bermata merah peninggalan ibunya. Kilauan batu merah itu memantulkan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar.Untuk beberapa saat, Aaron hanya menatap benda itu dalam diam.Logam halusnya terasa hangat di kulit Aaron, seolah menyimpan sisa-sisa memori yang sampai saat ini terekam jelas di ingatan.Ia lalu menggenggam cincin itu erat.Pikirannya melayang jauh, mengarungi garis waktu menuju masa lalu yang telah lama terkubur.Kepada ayah dan ibunya.Kepada cerita yang berulang kali ia dengar sejak kecil.Tentang seorang manusia biasa yang dengan berani menolong ayahnya ketika terluka parah di Hutan Larangan.Sebagai balasannya, sebuah liontin gio

  • Anak Rahasia Sang Alpha   176. Pemeriksaan Mendadak

    ​Keheningan menggantung di antara mereka, terasa begitu berat hingga seolah mampu menghambat aliran napas.Sang Tetua berdiri tegak di depan pintu, sementara Aldrick tidak bergeming sedikit pun di hadapannya. Tatapan mata tua Marcus yang tajam perlahan bergeser, menyapu meja kerja Aldrick yang dipenuhi tumpukan dokumen sebelum akhirnya kembali terkunci pada wajah sang Beta.​"Aku mendengar laporan bahwa kamu baru saja membawa sebuah koper hitam mencurigakan ke dalam kamar ini," ujar Marcus.Suaranya tenang, terlalu tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat kalimatnya terdengar lebih menyerupai tuduhan daripada sekadar pertanyaan.​Aldrick tidak berkedip. "Saya memang membawanya masuk, Tetua. Apakah ada aturan baru yang melarang saya membawa barang pribadi ke dalam ruangan saya sendiri?"​Marcus tersenyum tipis. "Aturan lama atau baru tidaklah penting, Aldrick. Yang penting adalah apa yang kamu sembunyikan di dalamnya. Kamu tampak gugup saat aku mengetuk pintu tadi."​"Saya h

  • Anak Rahasia Sang Alpha   92. Ketakutan yang Tak Pernah Pergi

    Waktu sudah beranjak sore sejak Hendra pergi beberapa jam yang lalu. Namun entah kenapa, semakin langit di luar mulai menggelap, dada Elena justru terasa semakin sesak.​Elena sudah mencoba segala cara untuk mengusir rasa cemas yang menggelayuti pikirannya. Ia menyapu seluruh ruangan, mengepel lant

  • Anak Rahasia Sang Alpha   91. Pelindung yang Membawa Kematian

    Untuk beberapa saat Hendra masih terdiam di dalam mobilnya.Rahangnya mengeras samar. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba mengubur kembali sesuatu yang sejak lama ia paksa mati di dalam dirinya.Namun justru di saat itulah, bayangan seorang anak kecil kembali muncul tanpa diminta.Seorang gadis keci

  • Anak Rahasia Sang Alpha   90. Hidupku Bukan Milikku

    Bau anyir darah yang bercampur dengan udara lembap menusuk indra penciumannya, datang jauh lebih cepat sebelum kesadarannya benar-benar pulih.​Hendra mengerang pelan, merasakan dinginnya lantai semen yang lembap menyengat kulit punggungnya. Ia tergeletak tak berdaya di sebuah gang sempit yang diap

  • Anak Rahasia Sang Alpha   89. Panggilan dari Pria Bermantel Hitam

    Hendra terdiam beberapa saat setelah panggilan itu berakhir. Tatapannya jatuh ke layar ponsel yang kini mulai menggelap perlahan.Suara Fay tadi masih tertinggal jelas di kepalanya.“Ayah, Fay kangen.”Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa mengganggu pikirannya lebih dari seharusnya.Perlahan,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status