تسجيل الدخولFay akhirnya berjalan mengantar ayahnya keluar dari area rumah kayu itu. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, namun udara masih terasa dingin, sementara angin dari hutan pinus berembus pelan melewati pepohonan tinggi di sekitar mereka.Namun baru beberapa langkah berjalan, Fay tiba-tiba berhenti. Keningnya langsung berkerut. Ia menoleh cepat ke belakang.Dan benar saja, jarak antara mereka dengan Aldrick serta Lucien ternyata hampir tidak berubah sama sekali. Dua pria itu tetap mengikuti di belakang dengan langkah tenang, seolah hanya memberi sedikit ruang formalitas tanpa benar-benar menjauh.“Astaga…,” desisnya pelan.Ia mengentakkan kakinya ke tanah sebelum berbalik cepat menghampiri mereka.“Kalian serius?”Aldrick berhenti. “Ada masalah, Nona Fay?”“Aku pikir kalian janji mau kasih ruang!”Lucien terlihat menahan senyum tipis. “Kami sudah menjaga jarak, Nona.”“Ini yang kalian sebut menjaga jarak?” Fay melotot tajam.Lucien mengusap tengkuknya kaku. “Menurutku ini sudah cukup j
Edward terdiam beberapa detik setelah memperkenalkan dirinya.Lalu perlahan, ia kembali berjalan mendekati meja dengan langkah tenang. Setelah kembali duduk di kursinya, jemari pria itu menyentuh permukaan gelas kristal sebelum akhirnya ia mengangkat pandangan ke arah Aaron.Sudut bibirnya terangkat samar, sebuah ekspresi dingin yang entah kenapa justru membuat suasana semakin terasa mencekam.“Kamu benar-benar berpikir pembantaian di hutan malam itu dan pemberontakan terhadap kedua orang tuamu terjadi secara terpisah?”Tubuh Aaron seketika menegang. Setiap kali mendengar tentang orang tuanya, kenangan kelam itu seolah kembali mengiris jantungnya.Edward melanjutkan dengan nada tenang, “Keduanya terjadi di malam yang sama.” Ia menyandarkan tubuh santai. “Dan menurutmu itu hanya kebetulan?”Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.“Aku sudah menyelidikinya selama bertahun-tahun,” lanjut Edward. “Semakin dalam aku menggali, semakin jelas semuanya terlihat.”Tatapannya lurus ke mata Aa
Ruangan itu sunyi. Aaron masih duduk tegak di kursinya dengan tatapan tajam yang tidak pernah lepas dari pria misterius di hadapannya. Aura Alpha dalam dirinya belum benar-benar mereda, bahkan udara di sekitar meja pertemuan masih terasa berat akibat tekanan kekuatan yang tadi sempat meledak.Namun pria itu tetap tenang. Terlalu tenang.Dan justru itulah yang membuat Aaron semakin waspada.Beberapa detik berlalu tanpa suara sebelum akhirnya Aaron berbicara pelan, “Kamu sengaja membawaku datang menemuimu.”Bukan pertanyaan, melainkan kesimpulan.Pria misterius itu tersenyum tipis. “Akhirnya kamu sadar juga.”Wajah Aaron mengeras. “Kamu sudah merencanakan pertemuan ini sejak awal.”“Bisa dibilang begitu.”“Kamu menyelidikiku.”“Sudah sangat lama.”Ruangan kembali hening beberapa detik. Pria itu lalu menyandarkan tubuh lebih santai sebelum melanjutkan, “Aku tahu semua hal yang menimpa perusahaanmu.” Tatapannya lurus ke Aaron. “Termasuk masalah yang sedang bergejolak di klanmu.”Mata emas
Tok, tok, tok!Pria berjas abu-abu itu berhenti di depan ruangan besar bernuansa hitam emas. Ia membuka pintu perlahan sambil berkata hormat, “Silakan masuk, Tuan.”Aaron melangkah masuk.Dan saat pintu itu terbuka sepenuhnya … hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria yang sudah duduk tenang di kursi utama.Pria tersebut mengenakan setelan hitam elegan dengan rambut yang disisir rapi ke belakang. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.Terlalu tajam. Terlalu misterius.Ia sedang menatap Aaron seolah sudah mengenalnya sangat lama. Dan anehnya, tatapan itu membuat Aaron sedikit tidak nyaman.Pria itu perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Senang akhirnya kita bertemu kembali, Aaron.”Dahi Aaron langsung berkerut samar. Tatapannya berubah dingin penuh penilaian.“Aku rasa kita tidak pernah saling kenal.”Senyuman pria itu justru melebar tipis, sarat akan ejekan. “Benarkah?”Ia menatap Aaron lurus ta
Langit Singapura tampak kelabu pagi itu. Kabut tipis menggantung di antara gedung-gedung tinggi, sementara lalu lintas kota bergerak sibuk tanpa henti. Namun di dalam mobil hitam panjang yang melaju tenang menuju kawasan pusat bisnis, atmosfer di dalamnya terasa jauh lebih dingin dibanding udara luar.Aaron duduk diam di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, tajam dan tak terbaca. Jemarinya di atas paha, terlihat tenang di luar, tetapi denyut aura Alpha dalam dirinya sejak tadi tidak pernah benar-benar stabil.Karena pikirannya sama sekali tidak berada di Singapura.Pikirannya tertinggal di rumah kayu itu.Pada Fay dan bayi mereka.Ponsel di tangannya masih menampilkan laporan terakhir dari Aldrick beberapa jam lalu.Aldrick: 'Kondisi Nona Fay stabil. Dokter Reynard sudah melakukan pemeriksaan. Janin bertahan.'Kalimat terakhir itu terus terngiang di kepala Aaron.'Janin bertahan.'Bukan sehat, bukan juga aman. Tetapi bertahan.Rahang Aaron perlahan mengeras. Ia masih bisa mengin
Di dalam kamar sempit itu, Hendra terus mondar-mandir tanpa henti. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai kayu, tetapi isi kepalanya terasa jauh lebih bising daripada suara apa pun.Ia harus memikirkan cara membawa Fay keluar. Bukan dengan paksaan, juga bukan dengan kekerasan, melainkan dengan alasan yang masuk akal. Alasan yang cukup kuat untuk membuat semua orang percaya bahwa dirinya tidak terlibat apa pun.Dan yang paling sulit … ia harus membuat Fay sendiri yang menolak dikawal Aldrick dan Lucien.Jika tidak, semuanya akan gagal.Hendra berhenti melangkah tepat di depan jendela kaca kamar. Tatapannya lurus mengarah ke hutan pinus di luar sana.Tenang, begitu sunyi, namun ia tahu ada puluhan mata tersembunyi di balik pepohonan itu.Mengawasi, menunggu, dan siap membunuh siapa pun yang terlihat mencurigakan.Rahang Hendra perlahan mengeras.“Aku harus sangat hati-hati,” bisiknya lirih.Karena satu kesalahan kecil saja, Aldrick mungkin akan langsung mematahkan lehernya di tempat.







