Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 98. Satu Tetes Racun

Share

98. Satu Tetes Racun

Author: malapalas
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-19 21:10:45
Hendra masih berdiri diam di halaman rumah itu setelah sambungan telepon terputus.

Ponselnya perlahan turun dari telinga. Namun, isi kepalanya justru terasa semakin bising.

Tangis istrinya, napas gemetarnya, dan ketakutan dalam suaranya.

Semuanya masih tertinggal jelas di benaknya seolah belum benar-benar berakhir.

​Angin malam kembali berembus pelan, menggoyangkan dahan-dahan pohon pinus. Aroma tanah basah dan pinus yang biasanya menenangkan, malam ini terasa sunyi dan menyesakkan.

​Setelah ber
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Anak Rahasia Sang Alpha   102. Sangat Dilindungi

    Keesokan paginya, cahaya matahari baru saja menembus sela pepohonan pinus ketika pintu kamar Fay terbuka perlahan.Hendra yang sedang duduk di ruang tamu spontan menoleh. Dan untuk sesaat, pria itu benar-benar terlihat terkejut.“Fay?”Putrinya berjalan pelan menghampirinya dengan pakaian rumah sederhana berwarna krem. Wajahnya masih terlihat pucat, bahkan ada kantung tipis di bawah matanya akibat kurang tidur semalaman.Namun, ia tampak jauh lebih baik dibanding tadi malam. Tidak lemas, juga tidak kesakitan. Bahkan langkahnya terlihat stabil.Fay tersenyum kecil. “Kenapa menatapku seperti itu?”Hendra cepat-cepat mengalihkan ekspresinya lalu terkekeh pelan. “Ayah cuma kaget kamu sudah bangun sepagi ini.”“Kalau terus di kamar aku malah bosan.”“Bagus kalau begitu.” Hendra menarik kursi untuknya. “Duduk dulu.”Fay duduk perlahan sambil mengusap perutnya.“Ayah terlihat seperti belum tidur,” gumamnya memperhatikan wajah pria itu.Hendra mendengkus pelan. “Karena seseorang membuat semua

  • Anak Rahasia Sang Alpha   101. Sesuatu yang Menolak Mati

    Brak!Pintu rumah kayu itu terbuka keras hingga menghantam dinding. Aldrick dan Lucien bergerak masuk hampir bersamaan dengan kecepatan yang membuat udara di dalam rumah langsung berubah tegang.Aura keduanya menekan kuat, penuh kewaspadaan, seolah siap mencabik siapa pun yang berani menyentuh target yang mereka lindungi.“Nona Fay!” Suara Aldrick terdengar tajam dan tegas.Sementara Lucien langsung menyapu seluruh ruangan dengan mata predatornya, memperhatikan meja, cangkir teh, posisi duduk setiap orang, hingga aroma asing sekecil apa pun di udara.Di tengah kepanikan itu, Fay masih duduk sambil memegangi perutnya erat. Napasnya memburu, wajahnya sedikit pucat akibat nyeri yang tadi menghantam mendadak.Hendra yang berada di sampingnya langsung meraih pundaknya dengan wajah penuh kekhawatiran.“Fay?” panggilnya cepat. “Apa yang kamu rasakan?”Sang nenek tidak ikut panik. Wanita tua itu hanya diam dengan sorot mata yang sulit ditebak.“Tarik napas panjang, Fay,” ucapnya tenang. “Lalu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   100. Ikatan yang Tercabik

    Brak!Sebuah gelas kristal menghantam dinding kamar VVIP hotel dan pecah berkeping-keping di atas lantai.Aaron berdiri dengan napas berat di tengah ruangan mewah yang dipenuhi cahaya kota Singapura dari balik jendela kaca. Rahangnya mengeras kuat, sementara urat di lehernya tampak menonjol.Malam semakin larut, namun kegelisahannya justru semakin memuncak. Ia sudah mondar-mandir tanpa henti sejak menerima kabar tadi siang bahwa pertemuan bisnis dengan investor itu ditunda sampai besok pagi.Dan itu membuat emosinya semakin buruk.“Apa-apaan ini...,” geramnya rendah.Biasanya Aaron adalah tipe pria yang mampu mengendalikan segalanya dengan kepala dingin. Bahkan dalam perang antar klan sekalipun, ia jarang kehilangan kontrol seperti ini.Namun malam ini berbeda.Karena Fay tidak berada dalam jangkauannya.Pikiran itu terus menghantam kepalanya tanpa ampun. Tatapan Aaron turun ke ponselnya yang sejak tadi sunyi. Tidak ada pesan dari Fay. Tidak ada kabar apa pun. Lalu dalam beberapa deti

  • Anak Rahasia Sang Alpha   99. Ayah yang Memilih Racun

    Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok yang sudah terbiasa melakukan hal-hal mengerikan tanpa keraguan demi bertahan hidup.​Dari mulut botol, cairan bening itu menetes perlahan, jatuh tepat ke dalam cairan teh hangat milik Fay. Satu tetes. Hanya satu tetes. Cairan itu langsung menyatu tanpa mengubah warna ataupun aroma teh sedikit pun.​Hanya butuh satu tetes. Jumlah yang sangat sedikit, namun dampaknya akan sangat fatal untuk menghancurkan hidup Fay, sekaligus membunuh janin yang sedang dikandungnya.Hendra segera menutup kembali botol itu dengan gerakan cepat, menyembunyikannya kembali ke dalam saku jaket tebalnya, tepat sebelum suara langkah kaki sang nenek terdengar mulai mendekat kembali dari arah dapur.Dalam sekejap mata, e

  • Anak Rahasia Sang Alpha   98. Satu Tetes Racun

    Hendra masih berdiri diam di halaman rumah itu setelah sambungan telepon terputus.Ponselnya perlahan turun dari telinga. Namun, isi kepalanya justru terasa semakin bising.Tangis istrinya, napas gemetarnya, dan ketakutan dalam suaranya.Semuanya masih tertinggal jelas di benaknya seolah belum benar-benar berakhir.​Angin malam kembali berembus pelan, menggoyangkan dahan-dahan pohon pinus. Aroma tanah basah dan pinus yang biasanya menenangkan, malam ini terasa sunyi dan menyesakkan.​Setelah bertahun-tahun mengabdi pada sang tetua, sekarang Hendra mulai mempertanyakan kepada dirinya sendiri.Apakah semua ini benar? Apakah Fay, putri kesayangannya itu, memang harus mati?Dan tepat di saat pikiran itu muncul....Bzzzttt!Ponsel di tangannya kembali bergetar.​Sorot mata Hendra yang sempat melembut langsung berubah tajam. Satu pesan masuk muncul di layar hitam yang menyala.Nomor tanpa nama.Namun, bahkan tanpa perlu membaca deretan huruf di sana, ia sudah tahu siapa pengirimnya. Rahangny

  • Anak Rahasia Sang Alpha   97. Monster di Balik Janji

    Pria itu perlahan berdiri dari posisi duduknya. Gerakannya tetap tenang dan terkendali seperti biasa, seolah panggilan telepon yang bergetar di sakunya sama sekali tidak membawa pengaruh apa pun padanya.​"Maaf," ucapnya pelan sambil mengulas senyum hangat yang tampak begitu tulus di wajahnya. "Saya keluar sebentar."Fay langsung mengangguk santai, membalas senyumannya tanpa rasa curiga sedikit pun. "Angkat saja dulu, Ayah. Nanti ibu malah ngambek dan mengomel panjang lebar karena dicuekin."Hendra terkekeh pelan mendengar itu. Tatapannya sempat melembut selama beberapa detik, memancarkan binar kebapakan yang membuat siapa pun merasa aman di dekatnya.“Ibumu memang paling nggak suka kalau ayah lama jawab telepon.”Namun senyum itu perlahan memudar begitu ia melangkah meninggalkan ruang tamu.Pintu kayu rumah tertutup pelan di belakang tubuhnya. Dan dalam sekejap, semua kehangatan tadi seperti ikut tertinggal di dalam rumah.Udara malam langsung menyambutnya dengan hawa dingin yang men

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status