LOGINKeesokan harinya....Cahaya pagi yang redup menyelinap masuk melalui celah tirai kamar rumah sakit, jatuh samar di lantai dan dinding yang nyaris tak berwarna.Ruangan itu sunyi.Namun berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini tidak ada ledakan emosi, tidak ada suara benda pecah, tidak ada teriakan histeris yang memenuhi ruangan.Jessi hanya duduk diam di sana, seolah waktu hanya berjalan melewatinya tanpa benar-benar menyentuhnya.Tubuhnya bersandar tenang di kepala tempat tidur, sementara kedua matanya menatap lurus ke depan. Ia tampak jauh lebih tenang dibanding semalam.Terlalu tenang.Seolah seluruh amarahnya telah tenggelam jauh ke dasar dirinya dan berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.Napasnya perlahan teratur. Jemarinya tidak lagi gemetar. Bahkan aura liar yang semalam nyaris meledak kini terasa menghilang, menyisakan ketenangan yang justru membuat suasana di sekitarnya terasa semakin menekan.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkedip perlahan, seolah baru kemb
"AKU TIDAK MAU INI! AKU MAU WAJAHKU KEMBALI!"Jessi berteriak histeris. Ia mulai mencengkeram sprei, napasnya memburu, dan matanya memerah dipenuhi campuran antara rasa takut, marah dan ketidakpercayaan.Tangannya kembali menyentuh wajahnya. Ujung jarinya meraba kulit itu dengan panik, bukan lagi untuk memastikan apa yang ia lihat nyata, melainkan seperti ingin mengoyak dan melepaskannya dari dirinya sendiri."Dia...," bisiknya tiba-tiba.Tubuhnya menegang, perlahan tatapannya berubah. Kepanikan yang tadi memenuhi matanya mulai menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dan penuh kebencian yang tak terbendung."Aaron...." Nama itu keluar seperti racun. "Dia berani meninggalkan tanda ini padaku."Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal begitu kuat seolah menahan dorongan untuk menghancurkan sesuatu.Keheningan sesaat terasa menyesakkan.Lalu tatapannya menyipit, dipenuhi oleh dendam yang sangat dalam. "Dan perempuan itu...." Ia berhenti sejenak, seolah menah
Ruangan operasi itu dingin dan nyaris tanpa suara. Cahaya putih dari lampu bedah jatuh tepat ke wajah Jessi yang terbaring kaku di atas meja. Peralatan medis tersusun rapi di sekelilingnya, mengilap dan siap digunakan. Di balik kaca, beberapa tenaga medis bergerak cepat namun teratur, seolah setiap detik sudah diperhitungkan dengan saksama.Stanley berdiri di koridor luar, mematung di balik kaca transparan. Wajahnya datar sekeras pahatan batu. Namun, hanya orang yang benar-benar mengenalnya yang tahu bahwa diamnya kali ini bukanlah tanda ketenangan. Melainkan tekanan yang ditahan dengan paksa.Beberapa jam yang lalu, ia telah mengeluarkan perintah. Tidak boleh ada dokter biasa yang bisa menyentuh putrinya, tidak peduli seberapa tinggi gelarnya di rumah sakit ini. Pria yang kini berada di dalam ruang operasi itu adalah seorang spesialis yang namanya jarang terdengar, namun selalu muncul di lingkaran kalangan elite. Seseorang yang terbiasa memperbaiki wajah yang telah hancur, mengembal
Langkah pria bermantel hitam itu tetap tenang saat menyusuri lorong sempit di lantai atas markas. Mantelnya bergerak pelan mengikuti langkahnya yang ringan, nyaris tanpa suara. Dari luar, ia terlihat sepenuhnya mengendalikan keadaan, seolah tempat ini adalah rumahnya sendiri.Namun, ada satu kesalahan kecil yang tidak ia sadari. Ia terlalu fokus mengamati perubahan pola patroli para penjaga. Dan ketidaksadaran itu sudah cukup bagi Aldrick untuk membaca setiap geraknya.Di lorong bawah yang gelap, sosok Aldrick berhenti tepat di bawah jalur tersembunyi yang tadi dilewati pria itu. Tatapannya terangkat perlahan ke atas, sementara matanya menyipit tipis, memindai kegelapan dengan insting tajam sang beta."Jadi akhirnya kamu memilih bergerak juga," gumamnya lirih.Ia memejamkan mata sesaat. Perubahan tekanan udara, getaran langkah yang sangat halus, dan aroma samar yang sebelumnya hampir mustahil dilacak. Kini semuanya mulai membentuk pola di kepalanya. Senyum tipis muncul di sudut bib
Suasana di lorong batu itu terasa sunyi. Terlalu sunyi.Aldrick menghentikan langkahnya di tengah lorong. Otot di rahangnya mengeras samar saat instingnya mulai menangkap ada sesuatu yang tidak beres.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada pergeseran udara yang mencurigakan sama sekali. Namun, justru karena keheningan itulah instingnya menegang. Markas utama tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada pergerakan, selalu ada embusan napas yang bisa ia tangkap, sekecil apa pun itu. Tapi sekarang, segalanya terasa hampa.Tatapannya bergerak perlahan ke langit-langit lorong. "Kalau semua terasa kosong, berarti seseorang sedang berusaha membuatnya terlihat kosong."Matanya menyipit tipis. Bukan karena tidak ada apa-apa di sana, melainkan karena ada sesuatu yang baru saja menghilang.Aldrick tidak langsung bergerak maju. Ia justru mengubah arah dan kembali ke titik tempatnya berdiri beberapa saat lalu. Langkahnya pelan, terukur, dan nyaris tanpa suara. Tatapannya menyapu setiap sudut rua
Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa langkah kaki yang tadi menjauh benar-benar tidak akan kembali. Setelah merasa yakin, ia pun melangkah keluar.Sosok pria bermantel hitam itu bergerak perlahan dari balik kegelapan. Kakinya menyentuh lantai dengan ringan, hampir tanpa bunyi, seolah ia mengendalikan setiap pijakan dengan sempurna. Tidak ada ketergesaan. Gerakannya yang luwes dan sunyi membuatnya tampak seperti bagian dari bayangan itu sendiri.Tatapannya terarah ke ujung lorong tempat Aldrick baru saja menghilang. Sebuah senyum tipis, dingin, namun mematikan terukir di sudut bibirnya."Menarik," bisik pria itu. Suaranya sangat rendah, nyaris tertelan oleh dinding-dinding batu yang dingin.Ia berjalan mendekati titik tempat Aldr







