Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 30. Sinyal Bahaya

Share

30. Sinyal Bahaya

Author: malapalas
last update publish date: 2026-04-17 08:14:32

Perubahan itu terjadi begitu halus hingga mungkin orang lain tidak akan menyadarinya. Namun, karena aku berdiri sangat dekat dengannya, aku bisa merasakan bagaimana hawa panas dari tubuhnya mendadak berubah menjadi dingin yang membekukan. Sorot matanya berubah dalam sekejap, bahunya mengeras, dan seluruh otot tubuhnya seolah langsung terkunci dalam mode siaga tempur.​

Aaron memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa kudengar.

Aku tersentak mundur saat meli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   279. Di Sisi Sang Alpha

    “Jadi, tidak ada yang perlu dipertanyakan mengenai waktu kelahiran putra kami.” Suara Aaron kembali terdengar tegas.Beberapa karyawan yang sebelumnya kebingungan mulai menunjukkan ekspresi berbeda.Jika Fay memang sudah mengandung sebelum bekerja di perusahaan, maka semuanya memang masuk akal.“Berarti waktu itu Fay memang sudah hamil?”“Jadi bayi itu bukan baru dikandung setelah kejadian di ruang rapat?”“Pantas saja setelah beberapa waktu dia berhenti bekerja.”“Mungkin Pak Aaron memang sengaja memintanya berhenti demi keselamatan bayi.”“Kalau begitu, gosip kita selama ini benar-benar salah.”Beberapa orang mengangguk pelan.Potongan-potongan informasi yang dulu terasa tidak masuk akal kini seolah tersusun menjadi satu.Mereka akhirnya memahami mengapa Fay tiba-tiba meninggalkan perusahaan beberapa bulan setelah bekerja di sana.Namun, pemahaman itu hanya berlaku bagi mereka yang berasal dari dunia manusia.Di antara para werewolf yang hadir, tidak ada satu pun yang terlihat terke

  • Anak Rahasia Sang Alpha   278. Skenario Sang Alpha

    Seluruh aula menunggu dalam senyap. Ribuan pasang mata tertuju kepada Aaron.Para karyawan masih diliputi keterkejutan setelah mengetahui bahwa wanita yang berdiri di samping bos besar mereka ternyata adalah Fay—mantan anak magang di Divisi Administrasi Umum. Di sudut lain, para wartawan menanti penjelasan dengan tidak sabar, sedangkan para rekan bisnis seketika menahan percakapan mereka. Sementara itu, para Tetua dan anggota Dewan hanya duduk bergeming, mengamati setiap gerak-gerik Aaron dengan tatapan tajam.Namun, Aaron tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu menoleh kepada Fay.Wajah wanita itu masih menyimpan sedikit kegelisahan. Namun, ketika tatapan mereka bertemu, Aaron memberikan senyum tipis yang menenangkan.Senyum yang seolah mengatakan bahwa semuanya berada dalam kendalinya.Fay mengembuskan napas perlahan. Ia segera membalas senyum Aaron.Setelah memastikan istrinya lebih tenang, Aaron mengalihkan pandangan kepada seluruh tamu.“Sepertinya kalian memiliki banyak pert

  • Anak Rahasia Sang Alpha   277. Identitas yang Terungkap

    “Astaga ... bukankah dia Fay?!”Suara itu terdengar dari tengah kerumunan karyawan.Beberapa kepala langsung menoleh, saling melempar tatapan tidak percaya.“Apa? Fay?”“Benar, itu Fay.”“Bukankah dia dulunya hanya anak magang?”Rekan di sebelahnya mengangguk kecil, ikut mengonfirmasi. “Ya. Setahuku, dia mantan staf magang di Divisi Administrasi Umum.”Karyawan lain yang mendengar percakapan itu sontak mengalihkan pandangan mereka ke arah panggung.“Dan sekarang dia berdiri di samping Pak Aaron? Menjadi pengantinnya?”“Dia baru beberapa bulan lalu mengundurkan diri, kan?”Dalam sekejap, desas-desus itu menyebar luas, membelah kemegahan pesta pernikahan sang Alpha.Fay yang mendengar percakapan tersebut terlihat gelisah. Jemarinya tanpa sadar mengerat pada tangan Aaron.Namun, Aaron tetap tenang.Ia hanya menoleh sekilas kepada Fay, seolah memberikan isyarat agar wanita itu tidak perlu memikirkan bisikan-bisikan tersebut.Di sisi lain, Elena yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Hend

  • Anak Rahasia Sang Alpha   276. Detik yang Dinantikan

    Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengetahui bahwa setiap kemewahan yang mereka lihat telah diperhitungkan Aaron jauh sebelum hari ini.Hotel tersebut memang merupakan aset pribadi milik Aaron.Setelah mengambil alih kepemilikannya, ia tidak sekadar memperbarui tampilan bangunan. Ia mempelajari seluruh struktur hotel dari fondasi hingga lantai tertinggi, mengetahui setiap akses utama, jalur pelayanan, area parkir, tangga darurat, serta koridor yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya.Sistem keamanan lama juga telah diganti.Beberapa akses hanya dapat dibuka menggunakan otorisasi tertentu. Sejumlah jalur keluar tambahan disiapkan tanpa menarik perhatian para tamu, sementara beberapa ruangan yang tampak seperti ruang pelayanan biasa sebenarnya telah diubah menjadi titik pengawasan.Pasukan loyal Aaron pun tidak semuanya mengenakan seragam klan.Sebagian ditempatkan sebagai petugas keamanan hotel, staf pelayanan, bahkan personel teknis.Tidak ada yang terlihat mencuriga

  • Anak Rahasia Sang Alpha   275. Di Balik Ketenangan Sang Tetua

    Pintu utama hotel terbuka lebar ketika rombongan Tetua Utama Marcus dan para anggota Dewan memasuki bangunan.Begitu melewati pintu, kemegahan di luar seolah belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang menunggu di dalam.Lobi utama menjulang hingga beberapa lantai, menciptakan ruang luas yang terasa seperti aula istana modern. Lantai marmer putih mengkilap membentang tanpa cela, memantulkan cahaya dari lampu-lampu kristal berukuran besar yang menggantung dari langit-langit tinggi.Lampu tersebut tidak hanya satu. Beberapa rangkaian chandelier kristal tersusun bertingkat di sepanjang lobi, menciptakan kilauan yang memenuhi seluruh ruangan setiap kali cahaya mengenainya.Dinding bagian dalam memadukan marmer putih, panel kayu gelap, dan kaca tinggi yang memperlihatkan taman hotel dari sisi dalam. Pilar-pilar besar berdiri kokoh di sepanjang area utama, dihiasi ukiran geometris sederhana yang memberikan kesan elegan tanpa membuat ruangan terlihat berlebihan.Di tengah lobi, sebuah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   274. Kematian Jessi

    Damian masih berdiri di hadapan Jessi dengan seringai tipis yang membuat darah wanita itu mendidih.“Kenapa diam?” tanyanya mengejek. “Bukankah selama ini kamu selalu percaya bahwa rencanaku akan membuatmu mendapatkan semuanya?”“Tutup mulutmu, Damian,” desis Jessi dengan suara tertahan.“Kenapa? Tersinggung?”Jessi sekuat tenaga menekan amarah yang hampir lolos dari tenggorokannya. Ia tidak ingin membuat keributan di tengah banyaknya tamu yang terus berdatangan ke hotel.Namun, Damian justru semakin menikmati reaksi tersebut.“Kamu masih mencoba menjaga harga dirimu di tempat seperti ini?” Ia terkekeh pelan. “Menarik. Padahal orang-orang di dalam sana sedang merayakan kebahagiaan Aaron dan Fay, sementara ayahmu sendiri bahkan nggak lagi menganggapmu sebagai putrinya.”Rahang Jessi mengeras. “Semua ini terjadi karena kamu."Damian mengangkat sebelah alisnya dengan gestur menantang. “Karena aku?”“Ya.” Tatapan Jessi menghunus tajam, memancarkan emosi yang membara. “Kamu yang menjebakku

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene

  • Anak Rahasia Sang Alpha   81. Ancaman dari Dalam Rahim

    "Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.​Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."​Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   73. Predator yang Terbangun

    Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.​Ia bisa merasakannya dengan jelas

  • Anak Rahasia Sang Alpha   67. Ketika Pemburu Mulai Saling Membaca

    ​​Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.​Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status