LOGINAzkaTiga hari berlalu sejak acara ulang tahun sekolah, dan Sifa belum juga memberi jawaban. Azka mencoba bersikap biasa, meski setiap kali berpapasan dengannya di koridor, jantungnya selalu berdebar lebih cepat dari seharusnya.Kamis sore, sepulang sekolah, ponselnya bergetar."Ketemu di taman belakang, sekarang?"Azka membalas cepat, lalu bergegas menuju tempat yang dimaksud, tempat yang sama di mana Denis dan Sifa pernah berbicara panjang beberapa minggu lalu.Sifa sudah duduk di bangku kayu, memainkan ujung tali tasnya, tampak gugup."Maaf lama," kata Sifa, begitu Azka duduk di sampingnya. "Aku butuh mikir bener-bener, karena ini bukan cuma soal aku.""Aku ngerti," jawab Azka, meski jantungnya semakin berdebar.Sifa menarik napas panjang. "Aku udah ngobrol lagi sama Kak Denis kemarin. Aku pastiin dia beneran baik-baik aja, dan dia bilang dia udah ikhlas."Azka mengangguk pelan."Azka," lanjut Sifa, menatapnya langsung, "aku... juga suka kamu. Dari cara kamu ngobrol pertama kali wa
AzkaAzka menemukan Denis duduk sendirian di tribun kosong lapangan basket, jauh dari keramaian panggung utama. Lampu-lampu warna-warni dari acara masih terlihat berkelip di kejauhan, tapi suaranya teredam oleh jarak."Kak."Denis tidak menoleh, hanya menatap lurus ke depan, ke arah gawang basket yang jaringnya sudah agak lusuh dimakan waktu.Azka duduk di sampingnya, tidak langsung bicara, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka terlebih dahulu."Aku udah tau," kata Azka akhirnya, pelan. "Soal kamu sama Sifa."Denis mengangguk kecil, masih tidak menoleh. "Aku duga kamu bakal denger cepat atau lambat.""Kamu nggak apa-apa?"Denis tertawa kecil, getir. "Menurutmu?""Maaf," gumam Azka, menyesal sudah bertanya hal yang jelas jawabannya.Mereka duduk dalam diam beberapa saat, hanya suara jangkrik dan musik samar dari kejauhan yang mengisi udara malam."Aku juga udah ngomong ke dia," kata Azka akhirnya, memutuskan untuk jujur. "Tapi dia belum jawab. Katanya butuh waktu."Denis
DenisLapangan sekolah dipenuhi lampu warna-warni dan suara musik dari panggung kecil yang didirikan untuk acara ulang tahun sekolah. Murid-murid berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, beberapa menonton penampilan band sekolah, beberapa lainnya sibuk berkeliling stan-stan pameran yang didirikan tiap kelas dan klub ekstrakurikuler.Denis berdiri di dekat stan klub seni, membantu memajang beberapa karya lukisan, termasuk salinan kecil dari mural yang pernah ia buat bersama Sifa."Rame banget hari ini," kata Sifa, muncul dari balik kerumunan, membawa dua gelas es teh. "Nih, buat kamu.""Makasih." Denis menerimanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba lebih cepat.Mereka berdiri berdampingan sejenak, memperhatikan keramaian di sekitar stan."Sifa," kata Denis akhirnya, memutuskan ini saatnya. "Aku mau ngomong sesuatu. Udah lama aku pengen bilang, tapi selalu nggak nemu waktu yang pas."Sifa menoleh, menunggu dengan sabar."Sejak awal aku kenal kamu," lanjut Denis, "aku..
DenisPagi itu, Denis bangun lebih awal dari biasanya, tubuhnya kaku setelah semalaman tertidur di lantai koridor.Ia berdiri, meregangkan badan sebentar, lalu menatap pintu kamar Azka yang masih tertutup rapat. Ia mengetuk pelan.Tidak ada jawaban."Za," panggilnya, suaranya masih serak. "Aku tau kamu udah bangun. Aku denger langkah kamu dari tadi."Hening beberapa detik, sebelum akhirnya pintu terbuka sedikit. Azka berdiri di baliknya, matanya sembap, tapi ekspresinya lebih tenang dari semalam."Aku minta maaf," kata Denis, tanpa berbasa-basi lebih dulu. "Yang aku bilang semalam itu nggak bener. Kamu nggak pernah ngerasa lebih berhak dapetin apa pun cuma karena kamu anak kandung Mama. Aku cuma... lagi nggak bisa ngatur perasaan aku sendiri, terus aku lampiasin ke kamu."Azka menatap kakaknya lama, tidak langsung menjawab."Itu nyakitin banget, Kak," katanya akhirnya, jujur. "Bukan cuma soal Sifa. Tapi soal kamu ngungkit-ungkit siapa anak kandung siapa. Padahal kita udah lewatin itu
AzkaBeberapa hari setelah kompetisi, Azka semakin sering memikirkan kalimat Sifa yang diucapkan waktu itu di ruang praktik. Ditambah lagi, kehadiran Sifa di hari kompetisi—jauh-jauh datang hanya untuk mendukungnya—membuat sesuatu di dalam dirinya semakin sulit untuk terus dipendam.Sore itu, ia duduk di kamar Denis, menemani kakaknya yang sedang menyelesaikan tugas sketsa."Kak," katanya, hati-hati. "Aku udah mikir mateng-mateng. Aku mau nembak Sifa."Tangan Denis berhenti sejenak di atas kertas. "Sekarang?""Minggu depan, kayaknya. Pas acara ulang tahun sekolah. Aku mau ngomong langsung."Denis menatap adiknya lama, mencoba menahan gejolak yang tiba-tiba muncul di dadanya. "Kamu udah yakin?""Aku nggak tau seratus persen dia bakal jawab apa," jawab Azka, jujur. "Tapi aku capek nebak-nebak terus. Mending aku tau kepastiannya, daripada terus-terusan berharap tanpa arah."Denis meletakkan pensilnya, menghela napas panjang. Ada bagian dari dirinya yang ingin mendukung keputusan itu—kare
AzkaHari kompetisi robotik tingkat provinsi tiba lebih cepat dari yang Azka kira.Gedung serbaguna tempat perlombaan berlangsung dipenuhi puluhan tim dari berbagai sekolah, masing-masing sibuk dengan persiapan terakhir di meja mereka. Suara decit roda kecil, bunyi motor servo, dan gumaman tegang memenuhi ruangan."Nervous?" tanya Bilal, memeriksa baut terakhir pada robot mereka."Sedikit," jawab Azka, meski kenyataannya jauh lebih dari sekadar sedikit.Keluarganya datang mendukung dari tribun penonton—Ririn, Rey, Denis, dan Aira yang duduk di pangkuan Rey sambil membawa kertas karton bertuliskan "Semangat Kak Azka!" dengan tulisan tangan yang masih berantakan khas anak kecil.Tidak lama sebelum sesi dimulai, seseorang berlari kecil mendekati meja tim mereka."Azka!"Azka menoleh. Sifa berdiri di sana, mengenakan kaus biasa, bukan seragam sekolah, membawa botol minum dan sekotak cokelat kecil."Kamu... dateng?" Azka tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya."Ya iyalah. Masa nggak dat







