Partager

BAB 52 Mimpi Buruk

Auteur: Mira Restia
last update Date de publication: 2026-08-11 03:30:11

Tania mulai tertawa mendengar ceritaku. Tawa yang nyaring didengar olehku.

"Dan gaun pengantinnya..." aku ikut tersenyum pahit sambil tertawa pelan. "Kusut dan berkerut seolah-olah baru saja dikeluarkan dari bagasi mobil yang terguncang jauh. Saat mengucapkan janji suci, aku hanya bisa menunduk. Menahan rasa malu yang tak terlukiskan. Tersenyum pun terasa berat, takut riasan tebal itu retak berjatuhan."

Tania tertawa lepas namun penuh keprihatinan. "Ya ampun, Rin... sungg
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Anak Selingkuhan Suamiku   53. Kebenaran yang Menusuk

    Dua hari telah berlalu sejak Denis bertanya pelan, “Mamah… kalau anak sudah tumbuh besar, apakah bisa diusir dari rumah?” Dua hari itu terasa seakan dua tahun lamanya. Denis masih tampak murung, masih banyak diam, dan sering terlihat melamun di meja makan seakan terpisah dari dunia di sekelilingnya. Pertanyaan itu sesekali kembali terngiang di telingaku, menusuk pelan namun terus-menerus bagai jarum yang tak pernah patah. “Aku tak bisa lagi berdiam diri,” ucapku lirih kepada diri sendiri pagi itu. Aku tak ingin menunggu hingga Denis bersedia bercerita atas kemauannya sendiri. Aku tak ingin membiarkan racun yang ditanamkan Maya semakin menyebar, semakin berakar kuat di hati kecilnya, hingga kelak tak sanggup lagi kucabut. Hari ini aku harus mencari jawabannya sendiri. Pukul delapan pagi aku sudah duduk di warung tak jauh dari gerbang sekolah. Sebuah laptop terbuka di meja, secangkir teh hangat dan sepotong roti bakar tersaji di

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 52 Mimpi Buruk

    Tania mulai tertawa mendengar ceritaku. Tawa yang nyaring didengar olehku. "Dan gaun pengantinnya..." aku ikut tersenyum pahit sambil tertawa pelan. "Kusut dan berkerut seolah-olah baru saja dikeluarkan dari bagasi mobil yang terguncang jauh. Saat mengucapkan janji suci, aku hanya bisa menunduk. Menahan rasa malu yang tak terlukiskan. Tersenyum pun terasa berat, takut riasan tebal itu retak berjatuhan." Tania tertawa lepas namun penuh keprihatinan. "Ya ampun, Rin... sungguh berat jalan hidupmu dulu. Tapi biarlah berlalu ya. Sekarang pilihlah yang terbaik. Rey kan yang menanggung segala biaya, tak ada salahnya memilih yang terbaik dan termewah sekalian. Jangan sampai rugi untuk kedua kalinya!" Aku ikut tertawa. Tawa yang terasa melegakan hati. Untuk beberapa saat, aku seakan melupakan bayang-bayang Maya. Melupakan bisikan menyeramkan di gerbang sekolah. Melupakan tatapan mata Denis yang penuh keraguan. Namun begitu panggilan berakhir, senyum d

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 51. Benih Keraguan

    Pagi itu aku melangkah lebih cepat dari biasanya saat mengantar Denis dan Azka ke sekolah. Mataku tak sekalipun beralih dari gerbang sekolah. Menatap petugas keamanan yang berdiri tegak di sana. Mengamati setiap orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Tak ada sosok Maya. Hanya wajah-wajah yang kukenal, anak-anak yang tertawa riang, dan pagi yang seharusnya terasa biasa saja. Namun sejak kejadian balon itu, tak ada lagi hal yang benar-benar terasa biasa bagiku. Di depan ruang kelas 2A, aku menahan lengan Bu Sari sejenak. "Bu, mohon maaf mengganggu. Tolong perhatikan Denis sebentar. Jika ia terlihat pendiam, murung, atau tiba-tiba bertanya hal-hal yang aneh... mohon segera menghubungi saya lewat pesan singkat. Nomor saya sudah Ibu simpan, bukan?" Bu Sari mengangguk lembut, tatapannya penuh pengertian. "Saya mengerti, Bu Ririn. Denis adalah anak yang baik. Kami akan menjaganya bersama-sama." Aku mengecup kening Denis dan Azka secara berga

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 50. Bisikan yang Tertinggal

    Malam itu aku berbaring di sofa sambil menelusuri laman media sosial. Jari telunjukku terhenti pada satu unggahan — sebuah gaun pengantin berwarna gading, model A-line yang sederhana, tanpa hiasan payet berlebihan. Tampak anggun, elegan, dan tak berlebihan.Aku menyimpan unggahan itu, lalu beralih menelusuri halaman seniman rias pengantin. Membaca ulasan-ulasan satu per satu. "Hasilnya sangat alami," "Tidak terasa tebal di wajah," "Tahan hingga dua belas jam." Tak kuasa aku tersenyum sendiri, membayangkan hari bahagia itu tiba kelak.Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di bahuku dari belakang. Napas hangat menyapu telingaku."Sudah menemukan yang paling cocok?" bisiknya lembut.Aku menunjuk layar ponselku. "Lihat, Rey. Sederhana saja, bukan? Supaya Denis dan Azka tidak merasa canggung melihat Mamah tampak seperti putri raja."Rey mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. "Bagimu, walau hanya berpakaian seadanya, bagiku kamu tetaplah wanita tercantik yang pernah ada."Aku tertawa ke

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 49. Darah dan Kasih Sayang

    Sup iga sapi di meja makan masih mengepul hangat. Aromanya yang lezat memenuhi seisi rumah. Namun detak jantungku seketika berhenti berdetak tenang saat mendengar teriakan Azka yang melengking dari arah depan."Mamah! Om Rey! Tolong Kak Denis! Di depan gerbang ada wanita menarik Kak Denis keluar sambil menangis! Kak Denis menolak! Tolong Kak Denis, Mah!"Tanpa berpikir dua kali, aku dan Rey berlari seketika menuju depan. Bahkan sandal pun tak sempat kami pakai. Napasku tercekat di kerongkongan saat memandang pemandangan di depan gerbang.Denis sedang ditarik-tarik tangannya oleh seorang wanita. Wanita itu berpakaian kusut masai, rambutnya berantakan tak terurus, matanya merah dan bengkak sembab. Ia menangis tersedu-sedu sambil menarik lengan Denis dengan sekuat tenaga."Denis... pulanglah bersama Mamah, Nak... Mamah sangat merindukanmu... ayo pulang, Sayang..." rengeknya penuh kepedihan yang dibuat-buat.Denis meronta sekuat tenaga, wajahnya pucat pasi ketakutan. "Tidak! Lepaskan! Mam

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 48. Pelukan Rey

    Tujuh bulan telah berlalu sejak hari pertemuan arisan itu.Meski tak pernah ada pengakuan resmi yang diucapkan Keisha, aku tahu wanita itu sudah menerima kehadiranku sebagai bagian dari keluarganya. Bukti itu sederhana saja: kutipan di status WhatsApp-nya. "Belajar masak sama kakak ipar." Dua kalimat itu sudah cukup bagiku. Tak perlu pesta, tak perlu pengumuman di hadapan semua orang. Cukup begitu saja.Keluarga Rey pun telah resmi bertemu denganku empat bulan silam. Makan malam sederhana di rumah Bu Mira. Tak ada upacara lamaran adat yang meriah dan heboh. Hanya obrolan hangat antar orang dewasa di meja makan. Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan — tiga bulan lagi dari sekarang, tepatnya hari Jumat yang dipilih langsung oleh Bu Mira. Katanya, hari itu membawa berkah.Dan kini, sembilan bulan telah berlalu sejak hari itu. Tiga bulan menuju hari pernikahan kami.Hari-hari berganti dengan tenang, seirama dengan rutinitas yang berulang namun menenangkan. Aku bangun pukul lima pagi, me

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status