Startseite / Rumah Tangga / Anak Selingkuhan Suamiku / 53. Kebenaran yang Menusuk

Teilen

53. Kebenaran yang Menusuk

last update Veröffentlichungsdatum: 11.08.2026 05:19:52

Dua hari telah berlalu sejak Denis bertanya pelan, “Mamah… kalau anak sudah tumbuh besar, apakah bisa diusir dari rumah?”

Dua hari itu terasa seakan dua tahun lamanya. Denis masih tampak murung, masih banyak diam, dan sering terlihat melamun di meja makan seakan terpisah dari dunia di sekelilingnya. Pertanyaan itu sesekali kembali terngiang di telingaku, menusuk pelan namun terus-menerus bagai jarum yang tak pernah patah.

“Aku tak bisa lagi berdiam diri,” ucapku liri
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Anak Selingkuhan Suamiku   125. Rumah

    AzkaHari kelulusan tiba lebih cepat dari yang terasa. Lapangan sekolah dipenuhi toga hitam dan wajah-wajah yang campur haru dan lega, orang tua berjejer di tribun sambil mengangkat ponsel, mengabadikan momen yang mereka tunggu bertahun-tahun.Azka berdiri di barisan depan, mencari-cari wajah keluarganya di antara kerumunan penonton. Ia menemukan mereka dengan mudah—Ririn yang melambai antusias, Rey di sampingnya menggendong Aira yang ikut melambai meski tidak sepenuhnya paham apa yang sedang dirayakan, dan Denis yang berdiri beberapa langkah dari mereka, sudah lebih dulu lulus dan sengaja datang untuk menyaksikan momen adiknya.Ketika namanya dipanggil untuk maju ke panggung, Azka melangkah dengan mantap, mengambil ijazahnya, lalu menoleh ke arah keluarganya yang bersorak paling keras di antara penonton lain.Sepulang dari acara, mereka merayakan dengan makan malam sederhana di rumah, memesan lebih banyak lauk dari biasanya sebagai bentuk perayaan kecil, persis seperti kebiasaan mer

  • Anak Selingkuhan Suamiku   124. Menutup

    Beberapa minggu setelah pameran lukisannya berlangsung sukses, hidup Denis perlahan menemukan ritme barunya. Gosip di sekolah sudah jauh mereda, digantikan obrolan tentang tugas akhir, ujian, dan rencana kelulusan yang semakin dekat.Namun ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya—kabar terakhir soal Maya, yang sejak malam ia pulang dari rumah itu, tidak pernah lagi ia dengar.Suatu sore, sepulang sekolah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak pernah menghubunginya.*"Denis, ini Bu RT dari daerah rumah ibumu dulu. Ibu titip nomor kamu ke saya, jaga-jaga kalau ada apa-apa. Ibu kamu, Maya, kemarin dibawa ke rumah sakit. Katanya sudah lama sakit tapi nggak pernah periksa. Kalau kamu mau, mungkin bisa sekadar dijenguk."*Denis menatap pesan itu lama, dadanya terasa berat oleh perasaan yang campur aduk—bukan lagi kemarahan yang dulu selalu muncul setiap kali nama itu disebut, melainkan sesuatu yang lebih rumit, semacam iba yang enggan ia akui sepenuhny

  • Anak Selingkuhan Suamiku   123. Rencana ke Depan

    Minggu sore itu, rumah terasa lebih santai dari biasanya. Tidak ada gosip yang perlu dipikirkan, tidak ada urusan sekolah yang mendesak—hanya keluarga yang berkumpul di ruang tengah, menikmati waktu yang jarang bisa mereka nikmati bersama tanpa terburu-buru.Aira duduk di karpet, sibuk menyusun puzzle bergambar kebun binatang, sesekali berteriak kegirangan setiap berhasil menemukan potongan yang pas. Denis duduk di sofa, sketsa barunya tergeletak di pangkuan, meski ia lebih banyak memperhatikan Aira daripada menggambar.Sifa datang sore itu, membawa sekotak kue yang katanya baru dicoba resepnya oleh ibunya. Ia disambut hangat, sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sejak lama."Sifa, sini duduk," kata Ririn, menggeser posisi duduknya di sofa. "Kebetulan lagi santai semua."Sifa duduk di samping Azka, menyerahkan kotak kue kepada Ririn. "Ini oleh-oleh dari Mama, Tante. Katanya buat dicicipin.""Wah, makasih banyak," jawab Ririn, tersenyum, membuka kotak itu dan langsung mencium ar

  • Anak Selingkuhan Suamiku   122. Sisi Lain Cerita

    Beberapa hari setelah masa skorsing berakhir, Denis akhirnya membalas pesan Rendy, memutuskan untuk bertemu di kantin sekolah yang sudah sepi sepulang jam pelajaran.Rendy datang dengan wajah lebih tenang dari terakhir kali mereka bertemu di jalan waktu itu—tidak ada lagi nada mengejek dalam suaranya, hanya kecanggungan yang wajar di antara dua orang yang baru saja berdamai."Makasih mau ketemu," kata Rendy, duduk di seberang Denis, tangannya memutar-mutar botol minum tanpa benar-benar meminumnya. "Aku... beneran minta maaf soal waktu itu. Aku lampiasin emosi ke orang yang salah."Denis mengangguk pelan. "Ceritain aja. Aku pengen ngerti kenapa waktu itu kamu sampe segitunya."Rendy menghela napas panjang, seperti sudah menyiapkan cerita ini sejak lama tapi baru sekarang berani mengucapkannya. "Bokap gue kerja bareng Maya beberapa bulan lalu, buka usaha kecil-kecilan jualan sembako online. Maya yang ngajak duluan, bilang dia punya modal dari 'anak yang udah sukses'—maksudnya kamu, tern

  • Anak Selingkuhan Suamiku   121. Konsekuensi

    DenisMalam itu, setelah beberapa hari menimbang, Denis akhirnya duduk bersama Ririn, Rey, dan Azka di ruang keluarga, menceritakan detail kejadian di jalan pulang—Leo yang mendorongnya, Rendy yang menendang, dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan soal Maya dan asal-usulnya.Ririn mendengarkan dengan rahang mengeras, matanya berkaca-kaca menahan campuran marah dan sedih. "Kenapa nggak langsung cerita waktu itu?""Aku capek, Ma," jawab Denis, jujur. "Aku pikir kalau aku diem, semuanya bakal reda sendiri.""Kekerasan nggak boleh dibiarin reda sendiri, Denis," kata Rey, tegas. "Besok kita ke sekolah. Ketemu wali kelas, kalau perlu kepala sekolah."Azka menggenggam tangan kakaknya. "Aku temenin, Kak. Kita hadapin bareng."Denis mengangguk pelan, meski masih ada rasa cemas yang mengganjal di dadanya.---Keesokan harinya, Rey dan Ririn datang ke sekolah, ditemani Denis yang duduk di antara mereka di ruang kepala sekolah. Wali kelas Leo, Damar, dan Rendy juga hadir, wajah mereka tegang se

  • Anak Selingkuhan Suamiku   120. Kata-kata yang Tersembunyi

    Pagi setelah malam yang panjang itu, Denis bangun lebih siang dari biasanya. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski matanya masih sedikit bengkak sisa tangisan semalam.Ia turun ke ruang makan, mendapati Ririn sudah menyiapkan sarapan seperti biasa—nasi goreng dengan telur ceplok, menu yang sama sejak bertahun-tahun lalu, meski sekarang dengan tambahan sosis dan kerupuk sebagai pelengkap."Tidur nyenyak?" tanya Ririn, tersenyum lembut, meski matanya masih menyisakan sedikit kelelahan dari malam sebelumnya."Lumayan, Ma," jawab Denis, duduk di kursinya.Azka muncul tidak lama kemudian, disusul Rey yang sengaja mengambil cuti sehari untuk memastikan suasana rumah benar-benar tenang sebelum semua orang kembali ke rutinitas masing-masing.Sarapan berlangsung lebih tenang dari biasanya, meski ada kecanggungan kecil yang masih tersisa di udara."Kak," kata Azka akhirnya, memutuskan untuk langsung bertanya. "Kemarin, pas di rumah Ibu kandung Kakak... Kakak sempet nyebut soal Oma Siti. Katanya d

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status