Home / Rumah Tangga / Anak Siapa di Rahim Istriku? / Bab 8 Bagaimana Jika Keliru?

Share

Bab 8 Bagaimana Jika Keliru?

Author: Fachra. L
last update Last Updated: 2026-02-07 11:28:59

Gerbang taman kanak-kanak itu menutup perlahan di belakang Amara.

Lily masih duduk di lantai kelas, tertawa bersama anak-anak lain. Bahkan tidak menoleh ketika Amara pamit. Terlalu cepat merasa nyaman—dan itu membuat dada Amara sedikit sesak, sekaligus lega.

Ia berbalik.

Sebuah mobil berhenti tepat di depannya.

Pintu terbuka.

Noah turun.

Langkahnya cepat, wajahnya keras, tatapannya seperti sudah membawa amarah sejak lima tahun lalu—dan belum pernah benar-benar padam.

“Kau benar-benar berani,” k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 9 Dia Kembali

    Pagi keesokan harinya tidak memberi Amara waktu untuk menyesuaikan diri.Amara memasuki gedung perusahaan induk bersama Rani, langkahnya tenang meski dadanya terasa sedikit mengencang. Lima tahun lalu, tempat ini adalah rutinitas. Hari ini, ia kembali karena dipanggil—bukan untuk bernostalgia, melainkan bekerja.“Kamu masih ingat lantainya?” tanya Rani sambil berjalan di sampingnya.“Dua puluh satu,” jawab Amara tanpa ragu.Rani tersenyum tipis. “Tidak berubah.”Lift bergerak naik. Pantulan wajah mereka terlihat samar di dinding kaca. Amara tidak tersenyum. Beberapa ingatan memang tidak pernah benar-benar hilang—hanya disimpan.“Proyek ini ditangani langsung oleh kantor pusat,” lanjut Rani, suaranya merendah. “Klien utamanya besar. Perusahaan induk mereka menunjuk satu perwakilan khusus.”Amara menatap lurus ke depan. “Siapa?”“Pak Theo. Asisten Presiden Direktur mereka,” jawab Rani. “Untuk sementara, Pak Hans menunggumu di ruang rapat.”Pintu lift terbuka.Lantai dua puluh satu dipen

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 8 Bagaimana Jika Keliru?

    Gerbang taman kanak-kanak itu menutup perlahan di belakang Amara.Lily masih duduk di lantai kelas, tertawa bersama anak-anak lain. Bahkan tidak menoleh ketika Amara pamit. Terlalu cepat merasa nyaman—dan itu membuat dada Amara sedikit sesak, sekaligus lega.Ia berbalik.Sebuah mobil berhenti tepat di depannya.Pintu terbuka.Noah turun.Langkahnya cepat, wajahnya keras, tatapannya seperti sudah membawa amarah sejak lima tahun lalu—dan belum pernah benar-benar padam.“Kau benar-benar berani,” katanya tanpa basa-basi.Amara berhenti. Tidak mundur. Tidak maju. “Apa yang kau mau, Noah?”“Aku yang seharusnya bertanya.” Noah tertawa pendek, pahit. “Kau muncul lagi di hidupku. Dengan seorang anak setelah lima tahun, dan mengunggah foto kalian. Apa maumu?”“Itu bukan urusanmu,” jawab Amara cepat. “Kau datang ke tempat umum hanya untuk berteriak?”“Tidak.” Suara Noah menurun, berbahaya. “Aku datang karena aku berhak tahu. Kau meninggalkanku—”“Kau mengusirku.”Kalimat itu jatuh keras.Noah te

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 7 Harus Dikejar Sekarang Juga

    Keesokan paginya, Amara menggandeng tangan Lily menuju taman kanak-kanak yang tidak jauh dari rumah orang tuanya. Gedungnya sederhana, tapi halaman depannya ramai oleh suara anak-anak—hidup, berisik, dan terasa kontras dengan isi kepalanya.Apa pun yang akan terjadi ke depan, Amara tidak ingin Lily tertinggal sekolah. Ia sudah cukup sering menunda banyak hal demi bertahan hidup. Masa depan anaknya tidak boleh ikut tertunda.Baru beberapa langkah memasuki halaman, sebuah suara memanggil namanya dengan lantang.“Amara?!”Langkahnya terhenti.Ia menoleh, dan seketika masa lalu lima tahun lalu menyapa lewat satu wajah yang tidak asing.“Indri,” ucapnya pelan.Wanita itu menghampiri dengan senyum lebar, menggandeng seorang anak perempuan seusia Lily. Tidak ada canggung, hanya keterkejutan yang cepat berubah menjadi keakraban semu—cukup akrab untuk saling mengenal, tapi tidak cukup dekat untuk saling tahu luka masing-masing.“Kamu benar-benar kembali?” kata Indri. “Aku kira kamu gak akan mu

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 6 Bagaimana Kalau Lily Anaknya?

    Sore itu, Amara baru saja melangkah keluar dari bandara ketika sebuah klakson dibunyikan dua kali.“Amara!”Rani menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan. Senyumnya lebar seperti biasa, seolah mereka bukan baru bertemu setelah sekian lama, melainkan baru berpisah kemarin sore.“Tante Rani!” Lily langsung melepas genggaman Amara dan berlari kecil ke arah mobil.Rani turun, berjongkok, lalu membuka tangan. “Sini, sini. Peluk dulu! Aku kangen sekali sama kamu ….”Lily tersenyum lebar dan memeluknya erat. Tak ada rasa asing di wajahnya. Rani bukan orang baru—wajahnya terlalu sering muncul di layar laptop, suaranya terlalu sering terdengar di rumah mereka.“Kamu makin besar,” gumam Rani sambil menepuk punggung Lily. “Jakarta bakal kerepotan sama kamu.”“Kami cuma numpang sebentar,” jawab Amara sambil tersenyum tipis.Rani meliriknya, tahu itu bukan sekedar ‘sebentar’, tapi tak menyinggungnya sekarang. Ia membantu memasukkan koper ke bagasi, lalu mereka segera berangkat.Di dalam mobil,

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 5 Aku Ingin Ayah

    Di dalam mobil, Amara tidak langsung bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghan

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 4 Aku Tidak Mau Menjadi Ayahmu!

    Melihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,“Ibu, dari mana aku berasal?”Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya.Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul.Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini.Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?”Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran.Dari mana asalnya?Pertanyaan itu menggema—dan ironis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status