LOGINSore itu, Amara baru saja melangkah keluar dari bandara ketika sebuah klakson dibunyikan dua kali.
“Amara!”
Rani menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan. Senyumnya lebar seperti biasa, seolah mereka bukan baru bertemu setelah sekian lama, melainkan baru berpisah kemarin sore.
“Tante Rani!” Lily langsung melepas genggaman Amara dan berlari kecil ke arah mobil.
Rani turun, berjongkok, lalu membuka tangan. “Sini, sini. Peluk dulu! Aku kangen sekali sama kamu ….”
Lily tersenyum lebar dan memeluknya erat. Tak ada rasa asing di wajahnya. Rani bukan orang baru—wajahnya terlalu sering muncul di layar laptop, suaranya terlalu sering terdengar di rumah mereka.
“Kamu makin besar,” gumam Rani sambil menepuk punggung Lily. “Jakarta bakal kerepotan sama kamu.”
“Kami cuma numpang sebentar,” jawab Amara sambil tersenyum tipis.
Rani meliriknya, tahu itu bukan sekedar ‘sebentar’, tapi tak menyinggungnya sekarang. Ia membantu memasukkan koper ke bagasi, lalu mereka segera berangkat.
Di dalam mobil, obrolan mengalir ringan. Soal pekerjaan, soal kantor pusat, soal hal-hal kecil yang tidak membutuhkan emosi.
Lily duduk di kursi belakang, wajahnya menempel ke jendela, matanya berbinar melihat jalan layang dan gedung-gedung tinggi.
“Tante Rani,” katanya tiba-tiba. “Ini jalan ke rumah Kakek dan Nenek, ya?”
Amara menoleh sekilas ke kaca spion.
“Sebentar lagi sampai,” jawab Rani.
Mobil berbelok masuk ke jalan yang lebih sepi. Gedung-gedung tinggi tertinggal, digantikan pepohonan dan pagar-pagar rumah lama. Tak lama kemudian, sebuah rumah besar dengan halaman luas muncul di depan mereka.
Mobil berhenti.
Amara turun lebih dulu.
Gerbang sudah terbuka. Halaman tampak rapi—terlalu rapi untuk rumah yang lama tak ditinggali. Seorang tukang kebun dan seorang pembantu rumah tangga berdiri menunggu, seolah mereka memang sudah tahu siapa yang akan datang hari ini.
“Seperti permintaanmu,” kata Rani pelan di samping Amara. “Rumahnya sudah dibersihkan.”
Amara mengangguk.
Lily turun dari mobil, memandangi rumah itu dengan mata besar dan penuh rasa ingin tahu.
Amara melangkah masuk paling akhir.
Begitu kakinya menginjak halaman, dadanya terasa menegang—seperti ada udara yang tiba-tiba terlalu berat untuk dihirup. Bau tanah yang baru disiram, daun-daun basah, dan sedikit aroma lumut dari sudut pagar … semuanya terasa terlalu akrab.
Dulu, saat ia masih bersama Noah, rumah ini bukan tempat asing. Mereka sering mampir. Kadang hanya untuk membersihkan halaman, memangkas tanaman liar, atau duduk sebentar di teras sebelum kembali ke rutinitas masing-masing. Noah tak pernah mengeluh. Ia ikut menyapu, ikut mengangkat pot, seolah rumah ini juga miliknya.
Meski kedua orang tuanya telah lama meninggal, Amara tak pernah benar-benar sanggup menjual rumah ini. Ada sesuatu yang menahannya—kenangan, mungkin. Atau rasa bersalah yang tak pernah ia beri nama.
Namun setelah malam itu—malam ketika Noah mengusirnya—ini adalah pertama kalinya ia kembali menginjakkan kaki di halaman ini.
Langkahnya terasa lebih berat dari yang ia perkirakan. Seperti luka lama yang sengaja ia buka kembali, sadar itu akan perih, tapi juga sadar ia tak bisa terus menutupi selamanya.
Amara berdiri sejenak, memandangi rumah itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak mutasi itu diputuskan, ia tahu—kembalinya ia ke Jakarta bukan sekedar soal pekerjaan. Ada sesuatu yang lebih besar menunggunya di kota ini.
Lily berhenti di depan rak kayu di ruang tengah.
Matanya tertuju pada dua foto lama yang diletakkan berdampingan. Seorang pria berwajah tenang dengan senyum tipis, dan seorang wanita dengan tatapan lembut yang terasa hangat meski hanya dari bingkai kaca.
Lily mendekat, berjinjit sedikit.
“Ibu ….” Suaranya lirih, penuh rasa ingin tahu. “Mereka siapa?”
Amara menoleh. Napasnya tertahan sesaat ketika pandangannya jatuh pada foto itu.
“Kakek dan nenekmu,” jawabnya pelan.
Mata Lily membesar. Ia menatap foto itu lebih lama, seolah ingin menghafal wajah-wajah asing yang entah kenapa terasa dekat. Lalu kepalanya miring sedikit.
“Kenapa aku baru melihat mereka sekarang?” tanyanya polos. “Kenapa di rumah kita tidak ada foto kakek dan nenek?”
Pertanyaan sederhana itu menghantam lebih keras dari yang Amara duga.
Dadanya mengencang.
Malam itu kembali hadir—malam ketika ia diusir, ketika seluruh hidupnya terlepas dari genggamannya dalam hitungan jam. Malam ketika ia memutuskan pergi ke Surabaya tanpa pamit pada siapa pun, tanpa membawa apa pun selain dirinya sendiri. Ia menghapus jejak, seolah masa lalunya bisa ditinggalkan begitu saja.
Amara berjongkok di hadapan Lily, tersenyum tipis.
“Ibu juga baru bisa melihat wajah mereka lagi sekarang,” katanya jujur, meski tak sepenuhnya lengkap. “Dan itu adalah penyesalan Ibu.”
Lily mengangguk kecil, meski jelas belum sepenuhnya mengerti. Tak lama kemudian, ia berlari keluar, tertawa kecil saat melihat halaman luas yang dipenuhi pepohonan. Rumah baru selalu terasa seperti dunia baru baginya.
Amara berdiri di teras.
Matanya menatap lurus ke depan, kosong. Seolah pikirannya tertinggal di lima tahun yang lalu.
“Ia bisa tumbuh di sini.” Suara Rani terdengar lembut saat ia mendekat. “Kalian berdua.”
Amara tak menoleh.
“Kau tidak perlu memikirkan kapan harus kembali ke Surabaya,” lanjut Rani. “Lily juga butuh figur ayah, Amara.”
Jari Amara mengeras di sisi tubuhnya.
“Dan kau ….” Rani menurunkan suaranya. “Apa kau tidak penasaran? Tentang apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu. Tentang bagaimana kau bisa hamil.”
Amara tersenyum pahit. “Bagaimana caranya aku mencari tahu, kalau aku sangat yakin aku hanya tidur dengan Noah? Aku tidak pernah mengkhianatinya. Hubungan kami dibangun dari cinta.”
Rani terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, seolah takut memecah sesuatu yang rapuh.
“Bagaimana kalau tes kesuburan Noah itu salah?”
Amara menoleh.
“Bagaimana kalau ….” Rani menatapnya tajam, “… Lily memang benar-benar anak Noah?”
Amara menghela napas panjang. Tatapannya kembali lurus ke halaman, ke arah Lily yang kini berlari kecil mengejar bayangan pepohonan.
“Bahkan kalau itu anak Noah,” ucapnya pelan, nyaris tanpa emosi, “Dia sudah menolaknya sejak awal.”
Rani diam, membiarkannya melanjutkan.
“Malam itu ….” Suara Amara sedikit merendah. “Dia mengatakan banyak hal. Hal-hal buruk. Kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan pada seseorang yang dia klaim dicintainya.”
Ia tersenyum getir. “Aku masih ingat semuanya. Setiap kalimat. Tidak ada yang terlupakan.”Rani menatapnya lama, lalu berkata perlahan, seolah memilih kata dengan hati-hati.
“Amara … selama ini Noah hidup dengan keyakinan kalau dia mandul. Reaksinya mungkin bukan sekedar marah.”
Ia menarik napas. “Mungkin itu kecewa. Terlalu kecewa. Karena dia mencintaimu terlalu dalam, sampai saat dia merasa kau mengkhianatinya, amarahnya meledak tanpa sisa.”
Amara menggeleng kecil.
“Semua pria mungkin akan bereaksi seperti itu,” lanjut Rani, lebih tegas. “Jika wanita yang mereka cintai dianggap mengkhianati mereka. Noah hanya bereaksi sebagai pria yang hatinya hancur.”
Amara tertawa pendek. Tidak ada humor di sana.
“Lalu bagaimana?” tanyanya. “Aku tidak bisa memaksa seseorang menerima anakku, Ran. Tidak setelah dia menolaknya mentah-mentah. Tidak setelah semua yang dia katakan malam itu.”
Rani terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Lily.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “Tunggu sampai Noah melihat Lily.”
Amara menoleh cepat.
“Jika Noah benar-benar tidak bisa kehilanganmu,” lanjut Rani. “Dia akan tahu. Dan dia akan memintamu kembali.”
Angin sore berembus, menggerakkan ujung rambut Amara.
Rani tersenyum tipis, hampir pahit. “Bukankah ada pepatah lama? Semakin dalam rasa cinta, semakin besar pula kebenciannya.”
***
Pagi keesokan harinya tidak memberi Amara waktu untuk menyesuaikan diri.Amara memasuki gedung perusahaan induk bersama Rani, langkahnya tenang meski dadanya terasa sedikit mengencang. Lima tahun lalu, tempat ini adalah rutinitas. Hari ini, ia kembali karena dipanggil—bukan untuk bernostalgia, melainkan bekerja.“Kamu masih ingat lantainya?” tanya Rani sambil berjalan di sampingnya.“Dua puluh satu,” jawab Amara tanpa ragu.Rani tersenyum tipis. “Tidak berubah.”Lift bergerak naik. Pantulan wajah mereka terlihat samar di dinding kaca. Amara tidak tersenyum. Beberapa ingatan memang tidak pernah benar-benar hilang—hanya disimpan.“Proyek ini ditangani langsung oleh kantor pusat,” lanjut Rani, suaranya merendah. “Klien utamanya besar. Perusahaan induk mereka menunjuk satu perwakilan khusus.”Amara menatap lurus ke depan. “Siapa?”“Pak Theo. Asisten Presiden Direktur mereka,” jawab Rani. “Untuk sementara, Pak Hans menunggumu di ruang rapat.”Pintu lift terbuka.Lantai dua puluh satu dipen
Gerbang taman kanak-kanak itu menutup perlahan di belakang Amara.Lily masih duduk di lantai kelas, tertawa bersama anak-anak lain. Bahkan tidak menoleh ketika Amara pamit. Terlalu cepat merasa nyaman—dan itu membuat dada Amara sedikit sesak, sekaligus lega.Ia berbalik.Sebuah mobil berhenti tepat di depannya.Pintu terbuka.Noah turun.Langkahnya cepat, wajahnya keras, tatapannya seperti sudah membawa amarah sejak lima tahun lalu—dan belum pernah benar-benar padam.“Kau benar-benar berani,” katanya tanpa basa-basi.Amara berhenti. Tidak mundur. Tidak maju. “Apa yang kau mau, Noah?”“Aku yang seharusnya bertanya.” Noah tertawa pendek, pahit. “Kau muncul lagi di hidupku. Dengan seorang anak setelah lima tahun, dan mengunggah foto kalian. Apa maumu?”“Itu bukan urusanmu,” jawab Amara cepat. “Kau datang ke tempat umum hanya untuk berteriak?”“Tidak.” Suara Noah menurun, berbahaya. “Aku datang karena aku berhak tahu. Kau meninggalkanku—”“Kau mengusirku.”Kalimat itu jatuh keras.Noah te
Keesokan paginya, Amara menggandeng tangan Lily menuju taman kanak-kanak yang tidak jauh dari rumah orang tuanya. Gedungnya sederhana, tapi halaman depannya ramai oleh suara anak-anak—hidup, berisik, dan terasa kontras dengan isi kepalanya.Apa pun yang akan terjadi ke depan, Amara tidak ingin Lily tertinggal sekolah. Ia sudah cukup sering menunda banyak hal demi bertahan hidup. Masa depan anaknya tidak boleh ikut tertunda.Baru beberapa langkah memasuki halaman, sebuah suara memanggil namanya dengan lantang.“Amara?!”Langkahnya terhenti.Ia menoleh, dan seketika masa lalu lima tahun lalu menyapa lewat satu wajah yang tidak asing.“Indri,” ucapnya pelan.Wanita itu menghampiri dengan senyum lebar, menggandeng seorang anak perempuan seusia Lily. Tidak ada canggung, hanya keterkejutan yang cepat berubah menjadi keakraban semu—cukup akrab untuk saling mengenal, tapi tidak cukup dekat untuk saling tahu luka masing-masing.“Kamu benar-benar kembali?” kata Indri. “Aku kira kamu gak akan mu
Sore itu, Amara baru saja melangkah keluar dari bandara ketika sebuah klakson dibunyikan dua kali.“Amara!”Rani menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan. Senyumnya lebar seperti biasa, seolah mereka bukan baru bertemu setelah sekian lama, melainkan baru berpisah kemarin sore.“Tante Rani!” Lily langsung melepas genggaman Amara dan berlari kecil ke arah mobil.Rani turun, berjongkok, lalu membuka tangan. “Sini, sini. Peluk dulu! Aku kangen sekali sama kamu ….”Lily tersenyum lebar dan memeluknya erat. Tak ada rasa asing di wajahnya. Rani bukan orang baru—wajahnya terlalu sering muncul di layar laptop, suaranya terlalu sering terdengar di rumah mereka.“Kamu makin besar,” gumam Rani sambil menepuk punggung Lily. “Jakarta bakal kerepotan sama kamu.”“Kami cuma numpang sebentar,” jawab Amara sambil tersenyum tipis.Rani meliriknya, tahu itu bukan sekedar ‘sebentar’, tapi tak menyinggungnya sekarang. Ia membantu memasukkan koper ke bagasi, lalu mereka segera berangkat.Di dalam mobil,
Di dalam mobil, Amara tidak langsung bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghan
Melihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,“Ibu, dari mana aku berasal?”Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya.Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul.Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini.Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?”Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran.Dari mana asalnya?Pertanyaan itu menggema—dan ironis







