Home / Rumah Tangga / Anak Siapa di Rahim Istriku? / Bab 7 Harus Dikejar Sekarang Juga

Share

Bab 7 Harus Dikejar Sekarang Juga

Author: Fachra. L
last update Last Updated: 2026-02-07 11:28:42

Keesokan paginya, Amara menggandeng tangan Lily menuju taman kanak-kanak yang tidak jauh dari rumah orang tuanya. Gedungnya sederhana, tapi halaman depannya ramai oleh suara anak-anak—hidup, berisik, dan terasa kontras dengan isi kepalanya.

Apa pun yang akan terjadi ke depan, Amara tidak ingin Lily tertinggal sekolah. Ia sudah cukup sering menunda banyak hal demi bertahan hidup. Masa depan anaknya tidak boleh ikut tertunda.

Baru beberapa langkah memasuki halaman, sebuah suara memanggil namanya dengan lantang.

“Amara?!”

Langkahnya terhenti.

Ia menoleh, dan seketika masa lalu lima tahun lalu menyapa lewat satu wajah yang tidak asing.

“Indri,” ucapnya pelan.

Wanita itu menghampiri dengan senyum lebar, menggandeng seorang anak perempuan seusia Lily. Tidak ada canggung, hanya keterkejutan yang cepat berubah menjadi keakraban semu—cukup akrab untuk saling mengenal, tapi tidak cukup dekat untuk saling tahu luka masing-masing.

“Kamu benar-benar kembali?” kata Indri. “Aku kira kamu gak akan muncul lagi.”

Amara tersenyum tipis.

Indri menurunkan pandangannya ke Lily. “Ini anakmu?”

“Ya.”

Singkat. Tegas. Tidak membuka ruang pertanyaan lanjutan.

Namun Indri tetap tersenyum, lalu memperkenalkan putrinya. Kedua anak itu saling menatap, lalu berdiri berdekatan seolah sudah mengenal satu sama lain sejak lama.

“Kamu menghilang tiba-tiba waktu itu,” ujar Indri lagi. “Nggak pamit ke siapa pun. Kenapa? Ada apa?”

“Ada hal yang harus aku selesaikan,” jawab Amara. “Dan aku tidak punya pilihan.”

Nada suaranya datar. Ia tidak menjelaskan lebih jauh, dan Indri cukup peka untuk tidak memaksa.

Hening singkat tercipta sebelum Indri kembali membuka mulut, lebih pelan, lebih hati-hati.

“Aku juga sempat dengar … kamu sama Noah ….”

“Kami sudah tidak bersama,” potong Amara ringan, seolah itu bukan bagian hidupnya lagi. “Sudah lama.”

Indri menatapnya beberapa detik, lalu melangkah maju dan memeluknya singkat—pelukan yang lebih berisi simpati daripada pertanyaan.

“Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “Aku senang melihatmu lagi.” Ia melepas pelukan itu, lalu tersenyum kecil. “Kabar sebahagia ini nggak mungkin cuma aku yang tahu. Teman-teman kita pasti juga ingin tahu kalau kamu sudah kembali.”

Sebelum Amara sempat menolak, Indri sudah berjongkok, menarik Lily ke samping putrinya. Kamera ponsel terangkat. Satu jepretan cepat diambil.

“Aku unggah, ya?”

Amara membuka mulut, hendak mengatakan itu tidak perlu—bahwa ia mungkin tidak akan lama di Jakarta. Tapi belum satu kata pun keluar, layar ponsel Indri sudah menyala. Foto itu sudah terunggah.

Bahkan jika ia meminta Indri menghapusnya sekarang, wanita itu pasti hanya akan tertawa dan menolak.

Amara menarik napas pelan.

Lalu pikirannya berbalik—dingin, nyaris menantang.

Kenapa dia harus takut?

Jika Noah melihatnya … lalu kenapa?

Belum tentu dia peduli.

Atau mungkin justru semakin membencinya setelah tahu ia kembali.

Amara tidak tahu.

Yang tidak ia sadari adalah—foto sederhana itu, kemunculannya yang tiba-tiba, akan mengguncang seseorang yang selama lima tahun terakhir berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sudah kehilangan segalanya.

Noah sedang berdiri di pantry kantor ketika itu. Jasnya sudah dilepas, lengan kemeja digulung setengah. Mesin kopi berdengung pelan saat cairan hitam pekat mengalir ke cangkirnya. Rutinitas pagi yang sama, tanpa beban, tanpa pikiran—atau setidaknya itu yang ia yakini.

Di tangan kirinya, ponsel.

Ia menggulir layar tanpa benar-benar membaca. Satu unggahan lewat. Dua. Tiga.

Lalu—sebuah foto berhenti di layarnya.

Noah belum sempat membaca apa pun ketika napasnya tersedak. Kopi yang baru saja ia seruput masuk ke tenggorokan dengan cara yang salah. Ia terbatuk keras, refleks menunduk, telapak tangannya mencengkeram meja dapur.

Beberapa karyawan menoleh, tapi Noah tidak peduli. Dadanya terasa perih, bukan karena kopi panas itu—melainkan karena sesuatu yang menghantamnya jauh lebih keras.

Ia menarik napas panjang. Sekali. Dua kali.

Baru kemudian matanya kembali ke layar.

Foto itu masih di sana.

Amara.

Tidak salah lagi. Wajah itu, tatapan itu—bahkan caranya berdiri sedikit menyamping seolah melindungi sesuatu di sisinya. Rambutnya lebih panjang, sorot matanya lebih tenang, lebih dewasa. Tapi itu tetap Amara. Istrinya. Mantan istrinya.

Noah menelan ludah.

Jarinya terasa kaku saat akhirnya ia membaca caption yang tertera di bawah foto itu—ditulis oleh seseorang yang ia kenali sebagai teman Amara di masa lalu.

‘Amara sudah kembali. Senang akhirnya bisa bertemu lagi dan bertemu putri kecilnya yang manis. Kalian pasti juga akan senang melihatnya lagi.’

Kata-kata itu membuat dadanya mengencang.

Noah merasa seperti ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya tanpa ampun. Denyutnya berubah kacau, napasnya terasa pendek. Lima tahun. Lima tahun ia menghabiskan hidup dengan keyakinan bahwa Amara telah pergi selamanya—bahwa ia telah mengubur semuanya, termasuk kemungkinan itu.

Namun kini, dalam satu foto, semuanya bangkit kembali.

Matanya turun perlahan. Ke sosok kecil di sisi Amara.

Seorang gadis kecil berdiri di sana, memegang tangan ibunya. Rambutnya hitam, jatuh lembut ke bahu. Wajahnya bulat, dengan mata besar yang terlalu hidup untuk diabaikan. Ada senyum polos di bibir mungil itu—senyum yang menusuk sesuatu di dada Noah tanpa peringatan.

Noah tidak berkedip.

Ada sesuatu yang salah. Terlalu familiar.

Cara gadis kecil itu berdiri. Lengkungan alisnya. Bahkan … garis wajahnya saat tersenyum.

Emosi Noah mengencang, berubah menjadi campuran—amarah yang terlambat, keterkejutan yang menyesakkan, dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: ketakutan.

‘Putrinya.’

Kata itu bergema di kepalanya, memantul berulang-ulang, semakin keras, semakin kejam.

Noah mencengkeram ponselnya lebih erat.

Untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, satu pikiran muncul dengan jelas—dan menolak untuk ditepis.

Jika Amara memilih mempertahankan anak itu, maka kebenaran pasti ada di luar dirinya.

Dan apa pun kebenaran itu, Noah tidak bisa terus berpura-pura tidak tahu.

Ia menarik napas keras, rahangnya mengeras.

Tidak. Dia tidak akan menunggu.

Noah meraih jasnya, hampir bersamaan dengan kunci mobil yang sudah ada di tangannya.

Beberapa jawaban memang tidak datang dengan sabar.

Sebagian harus dikejar—sekarang juga.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 9 Dia Kembali

    Pagi keesokan harinya tidak memberi Amara waktu untuk menyesuaikan diri.Amara memasuki gedung perusahaan induk bersama Rani, langkahnya tenang meski dadanya terasa sedikit mengencang. Lima tahun lalu, tempat ini adalah rutinitas. Hari ini, ia kembali karena dipanggil—bukan untuk bernostalgia, melainkan bekerja.“Kamu masih ingat lantainya?” tanya Rani sambil berjalan di sampingnya.“Dua puluh satu,” jawab Amara tanpa ragu.Rani tersenyum tipis. “Tidak berubah.”Lift bergerak naik. Pantulan wajah mereka terlihat samar di dinding kaca. Amara tidak tersenyum. Beberapa ingatan memang tidak pernah benar-benar hilang—hanya disimpan.“Proyek ini ditangani langsung oleh kantor pusat,” lanjut Rani, suaranya merendah. “Klien utamanya besar. Perusahaan induk mereka menunjuk satu perwakilan khusus.”Amara menatap lurus ke depan. “Siapa?”“Pak Theo. Asisten Presiden Direktur mereka,” jawab Rani. “Untuk sementara, Pak Hans menunggumu di ruang rapat.”Pintu lift terbuka.Lantai dua puluh satu dipen

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 8 Bagaimana Jika Keliru?

    Gerbang taman kanak-kanak itu menutup perlahan di belakang Amara.Lily masih duduk di lantai kelas, tertawa bersama anak-anak lain. Bahkan tidak menoleh ketika Amara pamit. Terlalu cepat merasa nyaman—dan itu membuat dada Amara sedikit sesak, sekaligus lega.Ia berbalik.Sebuah mobil berhenti tepat di depannya.Pintu terbuka.Noah turun.Langkahnya cepat, wajahnya keras, tatapannya seperti sudah membawa amarah sejak lima tahun lalu—dan belum pernah benar-benar padam.“Kau benar-benar berani,” katanya tanpa basa-basi.Amara berhenti. Tidak mundur. Tidak maju. “Apa yang kau mau, Noah?”“Aku yang seharusnya bertanya.” Noah tertawa pendek, pahit. “Kau muncul lagi di hidupku. Dengan seorang anak setelah lima tahun, dan mengunggah foto kalian. Apa maumu?”“Itu bukan urusanmu,” jawab Amara cepat. “Kau datang ke tempat umum hanya untuk berteriak?”“Tidak.” Suara Noah menurun, berbahaya. “Aku datang karena aku berhak tahu. Kau meninggalkanku—”“Kau mengusirku.”Kalimat itu jatuh keras.Noah te

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 7 Harus Dikejar Sekarang Juga

    Keesokan paginya, Amara menggandeng tangan Lily menuju taman kanak-kanak yang tidak jauh dari rumah orang tuanya. Gedungnya sederhana, tapi halaman depannya ramai oleh suara anak-anak—hidup, berisik, dan terasa kontras dengan isi kepalanya.Apa pun yang akan terjadi ke depan, Amara tidak ingin Lily tertinggal sekolah. Ia sudah cukup sering menunda banyak hal demi bertahan hidup. Masa depan anaknya tidak boleh ikut tertunda.Baru beberapa langkah memasuki halaman, sebuah suara memanggil namanya dengan lantang.“Amara?!”Langkahnya terhenti.Ia menoleh, dan seketika masa lalu lima tahun lalu menyapa lewat satu wajah yang tidak asing.“Indri,” ucapnya pelan.Wanita itu menghampiri dengan senyum lebar, menggandeng seorang anak perempuan seusia Lily. Tidak ada canggung, hanya keterkejutan yang cepat berubah menjadi keakraban semu—cukup akrab untuk saling mengenal, tapi tidak cukup dekat untuk saling tahu luka masing-masing.“Kamu benar-benar kembali?” kata Indri. “Aku kira kamu gak akan mu

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 6 Bagaimana Kalau Lily Anaknya?

    Sore itu, Amara baru saja melangkah keluar dari bandara ketika sebuah klakson dibunyikan dua kali.“Amara!”Rani menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan. Senyumnya lebar seperti biasa, seolah mereka bukan baru bertemu setelah sekian lama, melainkan baru berpisah kemarin sore.“Tante Rani!” Lily langsung melepas genggaman Amara dan berlari kecil ke arah mobil.Rani turun, berjongkok, lalu membuka tangan. “Sini, sini. Peluk dulu! Aku kangen sekali sama kamu ….”Lily tersenyum lebar dan memeluknya erat. Tak ada rasa asing di wajahnya. Rani bukan orang baru—wajahnya terlalu sering muncul di layar laptop, suaranya terlalu sering terdengar di rumah mereka.“Kamu makin besar,” gumam Rani sambil menepuk punggung Lily. “Jakarta bakal kerepotan sama kamu.”“Kami cuma numpang sebentar,” jawab Amara sambil tersenyum tipis.Rani meliriknya, tahu itu bukan sekedar ‘sebentar’, tapi tak menyinggungnya sekarang. Ia membantu memasukkan koper ke bagasi, lalu mereka segera berangkat.Di dalam mobil,

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 5 Aku Ingin Ayah

    Di dalam mobil, Amara tidak langsung bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghan

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 4 Aku Tidak Mau Menjadi Ayahmu!

    Melihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,“Ibu, dari mana aku berasal?”Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya.Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul.Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini.Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?”Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran.Dari mana asalnya?Pertanyaan itu menggema—dan ironis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status