LOGINHari itu akhirnya tiba.
Hari di mana Arumi harus menyaksikan sendiri suaminya duduk bersanding dengan wanita lain, pernikahan yang ia izinkan sendiri, atas restu sang mertua, meski hatinya remuk. Arumi tampak anggun dalam balutan gamis putih bersih, hijab senada membingkai wajah lembutnya. Senyum terukir di bibirnya, senyum yang ia paksakan sekuat tenaga. Ia tahu, satu getaran saja dari suaranya, satu air mata yang jatuh, bisa membuat Raka goyah. Dan itu bukan yang ia inginkan. “Arumi...” suara berat itu memecah kesunyian. Raka berdiri di ambang pintu, tampan dalam balutan kemeja putih dan jas abu lembut. Tatapannya sendu, seolah sedang menahan badai di dadanya. Arumi menoleh, tersenyum kecil. Ia melangkah mendekat dan dengan tangan yang bergetar halus merapikan kerah kemeja suaminya. “Kamu sudah siap, Mas?” Raka memegang tangan istrinya, genggamannya terasa ragu. “Kamu yakin ingin ini, Sayang? Ini kesempatan terakhir. Aku bisa batalkan semua kalau kamu mau.” Arumi tersenyum, meski di balik senyum itu dadanya terasa sesak. “Aku yakin, Mas,” jawabnya pelan namun mantap. “Semua ini demi kebahagiaan kita berdua.” Ia menunduk sedikit agar suaminya tak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. "Ya Allah, kuatkan aku... jangan biarkan aku menangis di hadapannya." Pernikahan itu digelar sederhana di ballroom hotel berbintang lima. Ruangan dihiasi mawar putih dan lampu kristal yang menggantung anggun di langit-langit. Pelaminan megah berdiri di tengah, menjadi saksi dari cinta yang kini harus dibagi dua. Raka duduk di hadapan penghulu. Di sampingnya, seorang wanita muda dengan kebaya putih tampak menunduk anggun, Maya Puspitasari, gadis 25 tahun, tujuh tahun lebih muda darinya, wanita pilihan Ratih, ibu Raka. Maya adalah anak teman lama sang mertua, muda, cantik, dan lembut. Sosok yang dianggap “layak” untuk memberi cucu pada keluarga Maulana. Arumi duduk tak jauh dari sana. Di sisinya, sang mertua menggenggam tangannya erat. “Kuatkan dirimu, Arumi. Semua ini demi kebaikan Raka,” ucap Ratih lirih. Arumi hanya mengangguk, menahan perih di dadanya yang makin menjadi-jadi. Kata-kata yang dimaksudkan untuk menguatkan justru terasa seperti sembilu yang menusuk lebih dalam. Acara berlangsung khidmat, tanpa banyak tamu. Hanya keluarga dan beberapa rekan kerja Raka yang hadir, termasuk Erman Javier, CEO muda perusahaan tempat Raka bekerja sebagai manajer. Ratih memang menginginkan acara ini disaksikan orang-orang penting. Ia tak mau putranya dicap berselingkuh bila pernikahan kedua ini dilakukan diam-diam. Ketika penghulu mulai membaca ijab kabul, dunia Arumi seperti berhenti berputar. Ia menatap kosong ke arah Raka, yang kini menggenggam tangan penghulu dengan wajah tegang. “Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Raka Maulana bin Harun, dengan Maya Puspitasari binti Raharjo, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan logam mulia sepuluh gram dibayar tunai.” Raka menarik napas panjang. “Saya terima nikah dan kawinnya Maya Puspitasari binti Raharjo dengan mas kawin tersebut, tunai.” Kalimat itu meluncur dari bibir Raka dengan satu tarikan napas, mantap, tanpa jeda. “Sah,” ujar para saksi serentak. Tepuk tangan menggema. Musik lembut mengiringi kebahagiaan yang tidak ia rasakan sedikit pun. Air mata Arumi menetes tanpa izin. Ia tunduk cepat, menyembunyikan wajahnya di balik hijab, namun getaran bahunya tak bisa disembunyikan. "Selesai sudah… kini aku tak lagi menjadi satu-satunya di hatinya." Raka dan Maya kini resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka duduk di pelaminan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Raka tampak berusaha tersenyum, tapi matanya terus mencari sosok Arumi di antara kerumunan. Sementara itu, udara di dalam ballroom terasa sesak bagi Arumi. Ia sulit bernapas. Padahal udara di ruangan itu dingin karena pendingin udara menyala di setiap sudut. Tanpa bicara pada siapa pun, ia berdiri dan melangkah keluar, mencari udara segar dan ketenangan yang tak bisa ia temukan di dalam sana. Udara malam menyambutnya di taman belakang hotel. Lampu taman berkelip lembut, sementara suara musik dari dalam terdengar samar. Arumi duduk di bangku kayu, menatap kosong ke arah kolam kecil. Air matanya jatuh, satu per satu, membasahi gamis putih yang ia kenakan. Dalam hati ingin rasanya ia berteriak. "Aku tidak ingin ini… aku tidak ingin membagi cintanya pada siapapun... Memang apa salahnya menjadi egois." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah dalam diam. “Untuk apa kau menyetujui pernikahan ini kalau ternyata kau terluka karenanya?” Suara berat seorang pria tiba-tiba memecah keheningan. Arumi tersentak. Ia buru-buru menyeka air matanya, lalu menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri Erman, pria berwajah tegas dengan jas hitam rapi. Sorot matanya tajam namun penuh tanya. “Maaf,” katanya pelan, sambil melangkah mendekat. “Aku tak bermaksud mengganggu. Tapi… sejak di dalam, aku melihatmu. Kau tampak begitu… hancur. Aku tak mengerti, mengapa seorang istri rela melihat suaminya menikah lagi?” Arumi menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang masih berkecamuk. “Sepertinya, Anda terlalu ingin tahu urusan pribadi bawahan Anda, Tuan Erman,” ujarnya datar, berusaha menahan nada getir dalam suaranya. Erman menatapnya tanpa bergeming. “Aku hanya penasaran… karena bukan hal mudah melihat seseorang tersenyum di atas penderitaannya sendiri.” Arumi menunduk. “Tapi terkadang, penderitaan adalah satu-satunya cara untuk membuat orang yang kita cintai bahagia.” Kalimat itu meluncur lirih, nyaris seperti bisikan. Ia menunduk sopan. “Saya permisi.” Arumi lalu berbalik, melangkah perlahan meninggalkan taman itu. Erman hanya diam memandangi punggung kecil itu yang perlahan menjauh, langkahnya goyah namun teguh. Ia mengerutkan kening, menatap kosong ke depan. "Wanita itu... kenapa begitu rumit?" pikirnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke bangku yang tadi diduduki Arumi, menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, entah mengapa, wajah perempuan yang merupakan istri bawahan nya itu terbayang di kepalanya.Arumi memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang masih naik turun. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena luka lama yang terus diungkit, tetapi juga karena firasat buruk yang tiba-tiba menggerogoti pikirannya. Selama ini ia selalu menelan hinaan dengan diam, tapi percakapan barusan jelas bukan hal sepele.Ia meluruskan tubuhnya, menatap sekeliling ruang kerja Raka yang rapi dan sunyi. Meja kayu besar itu masih dipenuhi berkas-berkas perusahaan, foto pernikahan mereka sepuluh tahun lalu berdiri di sudut meja, foto yang kini terasa seperti kenangan dari kehidupan orang lain. Arumi menghela napas panjang, lalu mulai membereskan beberapa dokumen yang berserakan, mencoba kembali pada rutinitasnya.Namun pikirannya tak lagi bisa diajak bekerja sama. Kata-kata Maya terus terngiang, berputar-putar seperti gema yang tak mau pergi. Tangan Arumi yang sedang merapikan map tiba-tiba berhenti. Perlahan, ia duduk di kursi kerja Raka, menatap kosong ke arah jendela.Selama ini, May
Pernyataan Arumi membuat ketegangan di meja makan itu mencair begitu saja, menyisakan aura kemenangan yang pekat. Raka mengembuskan napas panjang, sebuah desah lega yang terdengar sangat egois di telinga Arumi."Bagus kalau kamu mengerti," ucap Raka dingin, seraya melepaskan tatapannya dari Arumi dan kembali duduk.Di meja makan, Arumi hanya bisa menyantap makanan dalam diam. Setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar, seolah lidahnya pun sudah ikut mati rasa bersama hatinya. Di seberang meja, pemandangan yang tersaji jauh lebih berwarna, setidaknya bagi mereka.Raka tampak sibuk menyuapi Maya dengan penuh kesabaran. Sesekali, tangannya bergerak lembut, mengelus perut istri mudanya itu seolah di sana terdapat harta karun yang paling berharga di dunia."Makan yang banyak, sayang. Biar bayinya sehat," bisik Raka dengan suara yang begitu lembut, suara yang dulu hanya menjadi milik Arumi.Meskipun Arumi merasa sakit melihat itu, ia mencoba untuk tetap tegar. Ia tahu Raka pas
Arumi bergerak di dapur seperti robot yang kehilangan baterai. Tangannya secara otomatis mengupas apel dan memotong melon, meski matanya masih terasa panas dan kepalanya berdenyut hebat. Di ruang makan, sayup-sayup terdengar tawa renyah Ratih yang sedang memuji kecantikan Maya pagi ini."Mbak Arum," suara Maya tiba-tiba terdengar di ambang pintu dapur.Arumi tidak menoleh. Ia terus mengiris buah dengan ritme yang konstan."Mbak jangan marah ya sama Ibu. Ibu cuma terlalu senang karena akhirnya rumah ini bakal ada suara bayi," Maya mendekat, berdiri tepat di samping Arumi. Suaranya dipelankan, hanya cukup untuk didengar mereka berdua. "Dan soal kejadian semalam... terima kasih ya, Mbak. Gara-gara insiden bubur itu, Mas Raka jadi makin sayang sama aku."Pisau di tangan Arumi terhenti. Ia menatap potongan apel di depannya dengan tatapan kosong. "Kamu sengaja menjegal kakiku, kan?"Maya tertawa kecil, sangat pelan hingga terdengar seperti desiran angin. "Sengaja atau tidak, hasilnya tetap
Kesunyian di meja makan itu terasa mencekik. Arumi perlahan berlutut, mengabaikan rasa perih di hatinya yang jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Raka. Dengan tangan gemetar, ia mulai memunguti pecahan mangkuk satu per satu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, jatuh tepat di atas ceceran bubur putih yang kini tampak seperti reruntuhan martabatnya sebagai seorang istri."Sengaja atau tidak, hasilnya tetap sama. Aku yang salah di mata mereka," bisiknya lirih.Pikirannya melayang pada Maya. Ia yakin merasakan ada sentuhan kaki yang menjegal langkahnya tadi. Namun, siapa yang akan percaya? Di rumah ini, Maya adalah porselen indah yang sedang menyimpan permata keluarga, sedangkan dirinya hanyalah bejana retak yang tak berguna.Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak agar tak terdengar ke luar. Bahunya terguncang hebat, napasnya tersengal. Ia bukan menangis karena bubur yang tumpah, bukan pula karena dimarahi Raka. Ia
"Arumi." panggil Raka dari arah pintu.Arumi baru saja ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat ketika ia terkejut melihat Raka sudah berdiri di ambang pintu kamar. Wajahnya yang tadi tampak lelah mendadak berbinar, ia sempat mengira bahwa malam ini suaminya akan tidur bersamanya.“Iya, Mas?” ucap Arumi pelan, tersenyum kecil.“Bisakah kamu buatkan Maya bubur sumsum? Dia ngidam dan ingin sekali memakannya,” ujar Raka langsung ke tujuan.Senyum Arumi sontak menghilang. Wajahnya berubah lesu dan kecewa.“Mas… aku capek. Aku baru saja menyelesaikan semua pekerjaan, dan aku ingin beristirahat,” katanya lirih.“Mas bisa beli di luar, kan?” tambahnya, menolak pelan karena benar-benar lelah setelah mengerjakan segalanya seorang diri.“Ini sudah malam, Arumi. Mana ada yang jual bubur sumsum jam segini?” jawab Raka. Jam dinding menunjukkan pukul 11.30 malam.“Tidak bisa besok saja, Mas?” tanya Arumi, suaranya semakin pelan.Suara Maya tiba-tiba terdengar dari belakang.“Mba
“Arumi, cepat kamu belanja beberapa bahan makanan. Kita harus mengadakan syukuran untuk kehadiran cucu pertama di keluarga ini,” ucap Ratih penuh antusias.Raka yang sejak tadi duduk di samping Maya hanya bisa menatap Arumi yang diam tanpa banyak berkata-kata.“Bu, tidak perlu terburu-buru. Kita bisa lakukan ini lain waktu,” tegur Raka pelan pada ibunya.“Tidak bisa,” balas Ratih cepat, nada suaranya tak memberi ruang untuk bantahan. “Ibu juga ingin memberi tahu teman-teman sosialita Ibu bahwa sebentar lagi Ibu akan punya cucu.”Ratih kemudian melirik Arumi. “Lagi pula Arumi juga tidak keberatan, kan? Bukankah anak yang ada di kandungan Maya itu juga anakmu? Begitu, kan, Arumi?”Arumi tersenyum kaku. Hanya itu yang bisa ia lakukan. kemudian ia mengangguk pelan.Raka menghela napas panjang. “Kalau begitu, biar aku saja yang pergi bersama Arumi.”“Jangan,” dengan cepat Ratih menolak. “Kamu kan baru pulang, pasti lelah. Istirahatlah di rumah. Temani Maya, dia sedang mengandung anakmu.







