共有

Bab 5

作者: Stroberi
Bella pergi ke rumah sakit seorang diri. Saat melihat luka-lukanya, perawat sampai nyaris berseru kaget, "Kenapa lukamu separah ini? Keluargamu mana? Kau datang sendirian?"

Bella mengangguk pelan. Sejak kecil dia paling takut pada rasa sakit, tetapi kali ini bahkan setetes air mata pun tidak jatuh.

Air matanya sudah habis sejak lama.

Saat hendak pergi, Bella melewati sebuah ruang rawat. Suara yang begitu familier membuatnya tanpa sadar menoleh ke dalam.

Raisa sedang duduk di ranjang pasien, sementara kedua orang tuanya dan Martin mengelilinginya.

Nyonya Siska dengan penuh perhatian mengupaskan apel untuknya. Tuan Willy yang biasanya tegas pun tampak berkaca-kaca. Sementara Martin menggenggam tangan Raisa erat, sorot matanya dipenuhi kekhawatiran.

Suasana hangat keluarga itu justru membuat Bella tampak seperti orang asing.

Tepat ketika dia hendak pergi, suara perawat yang sedang memeriksa pasien menarik perhatian semua orang di dalam ruangan.

"Kau siapa? Datang buat menjenguk pasien?"

Semua orang serempak menoleh ke arah pintu. Begitu melihat Bella, Martin langsung melepaskan tangan Raisa.

Raisa sedikit mengernyit. Ketidakpuasan sempat melintas di wajahnya sebelum segera menghilang.

Namun, saat melihat luka di tubuh Bella, matanya langsung berputar seolah memikirkan sesuatu.

"Kak, kenapa sudah datang malah nggak masuk? Tenang saja, aku nggak bakal menyalahkan Kakak."

Ucapan itu membuat semua orang di ruangan terdiam, termasuk Bella sendiri.

Alis Martin sedikit berkerut. "Raisa, maksudmu apa?"

Raisa pura-pura gemetar sambil melirik Bella sekilas, lalu buru-buru menggeleng. "Nggak, bukan apa-apa."

Tuan Willy langsung bersuara tegas, "Ayah ada di sini. Kau nggak perlu takut."

Raisa menggigit bibir pelan. "Tadi di pusat perbelanjaan aku menyukai sebuah kalung, lalu Kak Martin membelikannya untukku sebagai hadiah. Kakak sedikit nggak senang. Nggak lama kemudian atap pusat perbelanjaan runtuh. Setelah aku mendorong Kak Martin menjauh, sebenarnya aku bisa lari, tapi Kakak malah menarikku kembali, jadi ...."

Kalimat selanjutnya tidak Raisa lanjutkan, tetapi maknanya sudah sangat jelas.

Tuan Willy memukul meja dengan keras hingga air di dalam gelas bergetar tumpah.

"Bella, jadi kau benar-benar nggak bisa menerima adikmu sendiri? Keluarga Lesmana bukan cuma punya kau sebagai anak perempuan!"

Martin berdiri dari kursinya lalu menarik Bella masuk ke dalam ruangan dengan kasar.

Tarikan itu mengenai luka Bella hingga rasa sakit membuatnya menggigit bibir kuat-kuat.

"Bella, minta maaf ke Raisa!"

Saat pandangan mereka bertemu, Martin melihat penolakan yang begitu kuat di mata Bella, tatapan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Hatinya sempat bergetar, tetapi dia tetap melanjutkan perkataannya, "Kau melakukan kesalahan, jadi sudah seharusnya meminta maaf!"

Bella menepis tangan Martin dengan dingin. "Aku nggak melakukannya. Kenapa harus minta maaf?"

Tuan Willy melangkah maju lalu menampar pipi kiri Bella dengan keras. Tenaganya begitu besar hingga Bella hampir terjatuh dan harus berpegangan pada ujung ranjang untuk tetap berdiri.

"Selama ini aku terlalu memanjakanmu sampai kau jadi semena-mena begini! Kalau tahu kau bakal begini, dulu seharusnya aku nggak usah melahirkanmu!"

"Kenapa dulu yang hilang bukan kau saja?"

Melihat tatapan Tuan Willy yang memandangnya seperti musuh, Bella justru merasa lucu.

Dia mengusap darah di sudut bibirnya, lalu berkata pelan, "Aku juga berharap dulu yang hilang itu aku."

Setelah mengatakan itu, Bella langsung pergi tanpa menoleh lagi.

Baru saat itu Martin menyadari luka-luka di tubuh Bella. Darah merembes keluar dari balik perban, merah menyilaukan mata.

Dia hendak mengejarnya, tetapi Raisa menarik tangannya sambil mengernyit kesakitan.

"Kak Martin, kakiku agak sakit."

Ucapan itu membuat langkah Martin terhenti. Dia menoleh kembali dan melanjutkan menenangkan Raisa, "Kamu harus patuh, lukamu sudah diobati. Nanti juga nggak sakit lagi."

Setelah menenangkan Raisa, Martin kembali menatap ke arah Bella pergi. Sorot matanya tampak gelap dan sulit ditebak.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status