Share

Bab 4

Author: Stroberi
Begitu mendengar ucapan itu, Martin langsung mengernyit tajam.

Sementara itu, mata Raisa sudah dipenuhi air mata yang berkilau.

"Kak, jangan marah. Kalung ini aku kasih ke kau saja. Aku nggak mau hubungan kita jadi buruk."

Sambil berkata begitu, Raisa berpura-pura hendak melepas kalungnya. Namun, baru saja jarinya menyentuh pengait kalung, Martin langsung menahannya.

"Itu hadiah dariku buatmu. Nggak perlu dilepas."

Martin lalu menatap Bella dengan dingin. "Raisa sudah hidup terlantar di luar selama dua puluh tahun. Dia terbiasa hidup penuh ketakutan dan rendah diri. Jadi berhentilah memasang wajah seperti itu. Kau tahu sendiri dia paling menghargai keluarga, tapi kau masih memperlakukannya begini. Kau ...."

"Sudah selesai bicara?" Bella memotongnya dengan suara dingin dan rendah.

"Kalau sudah, aku pergi. Aku nggak punya waktu menonton drama mesra kalian."

Wajah Martin langsung berubah panik. Dia mencengkeram lengan Bella erat-erat.

"Bella, hubungan aku sama Raisa nggak kayak yang kau pikirkan! Kau bicara seperti itu di depan banyak orang, apa kau mau menuduh dia sebagai perebut tunangan kakaknya sendiri? Mana mungkin dia sanggup menanggung tuduhan seperti itu?"

Melihat Martin begitu panik membela Raisa, Bella justru merasa lucu.

"Memangnya dia bukan perebut?"

"Tentu bukan!"

Saat berbicara, genggaman Martin makin kuat hingga Bella menarik napas kesakitan. Namun, pria itu sama sekali tidak menyadarinya.

"Mulai sekarang jangan mengatakan hal seperti itu di luar! Ini yang terakhir kalinya!"

Setelah mengatakan itu, Martin melepaskan tangan Bella lalu kembali ke sisi Raisa untuk menenangkannya dengan lembut.

Dia bahkan memilihkan banyak perhiasan mahal lainnya untuk Raisa, lalu satu per satu memakaikannya dengan penuh perhatian.

Apa pun yang Raisa sukai, semuanya langsung dibayar tanpa ragu.

Saat melihat Raisa tersenyum, Martin ikut tersenyum bersamanya. Tatapannya dipenuhi kelembutan yang nyaris meluap.

Bella tersenyum getir. Tepat ketika dia hendak pergi, alarm darurat tiba-tiba berbunyi di seluruh pusat perbelanjaan. Sebagian besar atap bangunan runtuh seketika.

Saat ketiganya bersiap menyelamatkan diri, langit-langit tepat di atas mereka ikut berguncang hebat dan nyaris ambruk.

Dalam sepersekian detik, Raisa buru-buru mendorong Martin menjauh, lalu menarik Bella ke sisinya.

Ketika Martin menoleh, yang dia lihat adalah kaki Raisa tertimpa reruntuhan berat, sementara darah perlahan merembes keluar dari lukanya.

"Raisa! Kau nggak apa-apa? Kenapa kau sebodoh ini? Seharusnya aku yang melindungimu! Buat apa kau mendorongku?"

Raisa berusaha tersenyum.

"Aku nggak sempat memikirkan apa-apa, aku cuma nggak mau kau terluka."

Kekhawatiran di wajah Martin hampir tidak bisa disembunyikan lagi. Dia segera memindahkan puing-puing yang menimpa Raisa, lalu mengangkatnya dalam pelukan.

"Aku bawa kau ke rumah sakit!"

Sosok mereka berdua perlahan menjauh. Martin bahkan benar-benar melupakan keberadaan Bella.

Saat itu, tubuh Bella masih tertimbun reruntuhan, hanya sebagian tubuh atasnya yang terlihat.

Dia ingin meminta tolong, tetapi tenggorokannya tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.

Di sekelilingnya penuh kekacauan. Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk merangkak keluar dari tumpukan puing.

Tubuhnya dipenuhi goresan dan debu. Setiap kali bergerak, rasa sakit menusuk hingga ke tulang.

Bagian reruntuhan yang tajam merobek kulitnya, membuat darah bercampur dengan serpihan bangunan, pemandangan yang begitu menyakitkan untuk dilihat.

Baru saja berhasil keluar dari reruntuhan, Bella menerima dua pesan singkat.

Pesan pertama dari Raisa. [Kak, kali ini aku menang lagi.]

Pesan kedua dari Martin. [Pusat perbelanjaan runtuh. Aku antar Raisa ke rumah sakit dulu. Kau pulang sendiri saja.]

Martin benar-benar mengabaikannya sampai sejauh itu. Bahkan tidak menyadari kalau Bella juga tertimbun di bawah reruntuhan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status