Share

Bab 2

Author: Stroberi
Setelah mendapat jawaban yang diinginkannya, Bella pergi dari rumah tanpa menoleh lagi.

Di luar, hujan rintik-rintik turun tanpa henti. Air mata bercampur dengan air hujan, menyembunyikan seluruh kepedihannya.

Sesampainya di rumah, Bella baru saja mengganti pakaian basahnya ketika Martin pulang.

Martin bersenandung pelan, tampak sedang dalam suasana hati yang baik.

Namun, begitu melihat Bella, ekspresi cerianya langsung lenyap. Dia refleks mundur selangkah lalu menyembunyikan tangan di belakang punggung.

Senyumnya pun berubah canggung.

"Kau sudah pulang? Bukannya Paman sama Bibi bilang mereka ada urusan denganmu?"

Bella tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada tangan kiri Martin.

Dia melangkah mendekat, lalu menarik tangan Martin dari belakang tubuhnya. Cincin di jari manis pria itu menusuk matanya hingga terasa perih.

"Hah, bahkan cincin pasangan pun sudah dipakai. Langkah berikutnya apa? Mengurus akta nikah?"

Martin tanpa sadar mengusap ujung hidungnya.

Gerakan kecil itu membuat hati Bella terasa seperti diremas. Setelah menjadi kekasih masa kecil selama dua puluh enam tahun, tidak ada satu pun kebiasaan kecil Martin yang luput dari perhatiannya.

"Kalian sudah mendaftarkan pernikahan, ya?"

Bella menarik napas panjang. Meski dia sudah bersiap untuk pergi, mengetahui tunangannya diam-diam mendaftarkan pernikahan dengan adik kandungnya sendiri tetap membuat dadanya sesak dan perih.

Dia tidak ingin terus memperpanjang pertengkaran itu, lalu berbalik menuju kamar mandi.

Tubuhnya kehujanan. Kalau tidak segera mandi, dia pasti akan jatuh sakit.

Martin menahan pergelangan tangannya. "Bella, dengarkan penjelasanku. Aku tahu kau selalu merasa bersalah ke Raisa. Aku melakukan semua ini cuma buat membantumu menebus kesalahan ke dia."

"Dia sebentar lagi bakal menikah sama Theo. Kita sama-sama tahu orang seperti apa Theo itu. Raisa nggak bakal bahagia kalau menikah dengannya. Aku cuma ingin melakukan sesuatu untuknya sebelum dia pergi."

"Nanti kalau waktunya tiba, aku pasti bakal mengurus perceraian dengannya. Soal cincin ini juga cuma formalitas. Kau nggak perlu terlalu memikirkannya."

"Orang yang paling kucintai tetap kau. Masa di antara kita nggak ada kepercayaan sedikit pun?"

Bella menatap pria di depannya yang berbicara penuh keyakinan itu. Tiba-tiba, dia merasa tidak lagi mengenal pria ini.

Bella tidak tahu sejak kapan Martin mulai memanggil Raisa dengan begitu akrab, sama seperti dia tidak tahu sejak kapan hati pria itu mulai berubah.

Nada suara Bella terdengar dingin dan berjarak. "Aku kehujanan. Aku mau mandi dulu."

Martin di hadapannya sudah bukan lagi pria yang dulu begitu peka dan memahami dirinya.

Kini, matanya hanya dipenuhi Raisa.

Baru setelah Bella selesai bicara, Martin menyadari rambutnya benar-benar basah kuyup.

Rasa bersalah melintas di matanya. "Maaf, Bella. Seharusnya aku menjemputmu. Tapi kau juga, sudah sebesar ini masih nggak bisa menjaga diri sendiri. Kalau hujannya deras, seharusnya pulang naik taksi."

Bella tidak menggubrisnya dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa menoleh lagi.

Uap air memenuhi kamar mandi, sementara air dari pancuran air terus mengguyur dari atas kepalanya.

Bella memejamkan mata. Kenangan manis mereka di masa lalu berputar satu demi satu dalam benaknya.

Martin pernah berkata bahwa dia adalah ksatria Bella, dan selama di sisinya Bella bisa selamanya menjadi gadis kecil.

Ternyata, selamanya yang dia maksud hanya berlangsung enam tahun.

Setelah keluar dari kamar mandi, Martin buru-buru mengambil pengering rambut dan mendekat untuk mengeringkan rambut Bella dengan hati-hati.

"Bella, tadi aku salah. Aku terlalu mengabaikanmu."

"Aku sudah memesan restoran Michelin. Setelah makan nanti, aku bakal menemanimu belanja. Kalung berlian merah muda sepuluh karat yang waktu itu kau suka juga sudah datang."

Belum sempat Martin melanjutkan perkataannya, ponsel mereka berdua berbunyi bersamaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status