Share

Angin Malam Menyadarkannya
Angin Malam Menyadarkannya
Author: Stroberi

Bab 1

Author: Stroberi
Di dalam vila mewah yang megah, cahaya dingin memantul di dinding, menyelimuti Bella dalam bayang-bayang dengan gradasi gelap terang.

Dia menggenggam erat batang undian bertuliskan menikah hingga buku-buku jarinya memutih.

Nyonya Siska melangkah mendekat dan menepuk bahunya dengan lembut. "Bella, karena yang kau dapat undian menikah, bersiaplah. Seminggu lagi ...."

Sebelum kalimat itu selesai, Bella menyelanya dengan mata memerah, "Aku sudah tunangan sama Martin sejak lama. Kenapa sekarang malah suruh aku menikah ke Keluarga Daryata? Selain itu, ditentukan lewat undian seceroboh ini?"

Belum sempat Nyonya Siska menjawab, Tuan Willy sudah melangkah maju dengan wajah muram.

"Pernikahan politik antara Keluarga Lesmana dan Keluarga Daryata sudah pasti harus terjadi! Adikmu baru saja ditemukan kembali. Masa kau tega membiarkannya menikah ke tempat yang jauh begitu?"

"Lagian, Theo itu temperamental dan sulit ditebak. Adikmu nggak kayak kau. Dia begitu polos, bagaimana mungkin bisa menghadapi pria kayak gitu?"

"Selain itu, jangan lupa, kalau dulu bukan karena kau gagal jaga adikmu, dia nggak bakal hilang! Bukannya sudah seharusnya kau menebus kesalahanmu?"

Setiap kata menghantam hati Bella seperti dentuman keras.

Sama-sama anak perempuan, mereka tidak tega membiarkan Raisa menikah jauh, tetapi rela mengorbankannya?

Selama dua puluh tahun, semua orang menyalahkannya karena kehilangan sang adik. Padahal saat itu usianya baru enam tahun.

Kalau saja Tuan Willy tidak meninggalkan mereka di taman hiburan demi urusan bisnis, kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Namun, sekarang, justru Bella yang menjadi sasaran semua orang, terjebak dalam pusaran rasa bersalah tanpa bisa melepaskan diri.

Melihat Bella masih keras kepala dan enggan menyetujui, Nyonya Siska melempar pukulan terakhir.

"Bella, kau tahu sendiri sikap Martin ke kau sudah berubah. Untuk apa terus memaksakan hubungan itu?"

Hidung Bella terasa perih. Dia ingin membantah, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Sejak Raisa ditemukan kembali, Tuan Willy dan Nyonya Siska terus berputar di sekelilingnya setiap hari.

Bella memang merasa bersalah kepada adiknya yang telah terlantar selama dua puluh tahun itu. Dia mati-matian berusaha menebus semuanya. Perhiasan mahal dan pakaian indah menumpuk memenuhi kamar Raisa.

Namun, Raisa justru memusuhinya. Dia menuduh Bella sengaja memberinya barang-barang mahal untuk merendahkannya, bahkan berkali-kali berpura-pura menjadi korban.

Lambat laun, Tuan Willy dan Nyonya Siska mulai menjauhi Bella.

Satu-satunya orang yang selalu berdiri di pihak Bella tanpa syarat hanyalah Martin, kekasih masa kecilnya.

Tetapi entah sejak kapan, Martin pun berubah. Nama Raisa makin sering keluar dari mulutnya.

"Raisa itu benar-benar merepotkan. Masa pergi ke aula pameran saja nggak bisa sendiri? Harus aku antar. Bella, tetap saja kau lebih pengertian. Dia bahkan nggak sebanding dengan sehelai rambutmu."

Meski terdengar seperti keluhan, tindakan Martin justru mengkhianatinya. Dia mulai rela melakukan apa pun demi Raisa.

Bahkan berkali-kali meninggalkan Bella demi dirinya.

Melihat Bella tetap diam, Tuan Willy mulai gelisah.

Dia mondar-mandir di ruang tamu dengan alis berkerut. Beberapa kali ingin menyalakan rokok, tetapi selalu diurungkan karena Raisa tidak suka bau asap rokok.

Bella sudah berkali-kali memintanya berhenti merokok, tetapi tidak pernah digubris.

Namun, Raisa berhasil membuatnya berhenti dengan mudah.

Setelah lama terdiam, Tuan Willy akhirnya berkata dingin, "Aku bakal kasih kau seratus triliun sebagai mahar. Selain itu, apa pun permintaanmu, katakan saja."

"Itu sudah batas maksimal yang bisa kukasih."

Bella mengangkat pandangannya. Tatapannya dipenuhi emosi yang tidak mampu dipahami Tuan Willy.

Detik berikutnya, ponselnya berbunyi.

Raisa mengirim sebuah foto tangan yang mengenakan cincin pasangan. Bella tidak mungkin salah mengenali tangan itu, itu tangan Martin.

Bella pun menarik napas dalam-dalam. Saat kembali mengangkat kepala, matanya telah berubah dingin dan jernih.

"Aku setuju menikah ke Keluarga Daryata. Seratus triliun itu harus masuk ke rekeningku besok. Dan satu lagi, jangan beri tahu Martin bahwa orang yang menikah ke Keluarga Daryata adalah aku."

Tuan Willy yang biasanya keras dan dingin, akhirnya memperlihatkan senyum puas.

"Tentu saja."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status