MasukAnnora menarik napas panjang, meredam debar jantungnya yang sejak tadi berlalu-lalang tidak keruan. Meski kehadiran Mateo di ambang pintu sempat mendatangkan teror masa lalu, sorot mata pria itu kali ini sama sekali tidak menyiratkan ancaman. Tidak ada seringai dingin atau paksaan kasar. Yang ada hanyalah sebuah kelelahan batin yang terpancar jelas dari raut wajah Mateo.Dengan dada yang masih bergemuruh, Annora memilih membuka jalan. Ia mengangguk pelan, menampilkan kelapangan dada yang luar biasa untuk ukuran seorang wanita yang sedang hamil muda dan diliputi kecemasan."Silakan masuk, Mateo," ucap Annora dengan suara parau namun tegas.Mateo tertegun sejenak, menatap wanita di depannya dengan rasa kagum yang bercampur penyesalan. Ia mengangguk hormat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah minimalis yang hangat itu, menutup pintu perlahan di belakangnya.Begitu mereka duduk di sofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan perapian, Annora tidak langsung mencecarnya dengan perta
Perpisahan Paling SunyiKeesokan sorenya, cahaya matahari musim gugur memancarkan rona kemerahan yang redup di atas hamparan salju abadi Pegunungan Alpen. Udara terasa dingin, namun kehangatan palsu yang coba diciptakan di dalam rumah itu jauh lebih menyesakkan dada. Di ruang depan, Jae Won berdiri di samping kopernya dengan mantel tebal yang membalut tubuh tegapnya. Wajahnya pucat, menyisakan jejak kelam dari malam panjang yang dilewatinya tanpa tidur.Annora berdiri di hadapannya, mengenakan cardigan wol rajut berwarna krem. Ia berusaha keras menampilkan senyuman paling manis di bibirnya, menahan gelombang sesak dan air mata yang mendesak hendak tumpah. Annora tahu, jika ia menangis, Jae Won akan semakin berat melangkah."Kau benar-benar harus pergi sekarang, Jae Won?" tanya Annora pelan, suaranya bergetar halus meskipun ia mencoba membuatnya terdengar tegar.Jae Won mengangguk kaku. Ia melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh Annora ke dalam pelukannya. Hangat, erat, dan begit
Foto Usang dan Telepon MisteriusMateo masih ingin mencecarnya dengan rentetan pertanyaan lain. Ada begitu banyak celah kosong dalam teka-teki pembunuhan berantai lima belas tahun lalu yang belum terisi. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan berikutnya, Hyori mengangkat tangannya, memberi gestur menyuruh pemuda itu berhenti.Bukan karena wanita itu berniat menyembunyikan kebenaran demi melindungi para pelaku, melainkan gelombang ketakutan dan trauma masa lalu yang luar biasa besar telah melumpuhkannya. Hyori terdiam rapat, bibirnya terkatup kaku. Ada nyawa seseorang yang sangat ia kasihi—putri kandungnya sendiri—yang harus ia lindungi dari cengkeraman monster-monster berdasi jika rahasia ini bocor terlalu jauh kepada orang asing seperti Mateo.Melihat keputusasaan dan teror nyata yang tergambar jelas di mata wanita paruh baya itu, Mateo akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu, memaksa Hyori lebih jauh tidak akan menghasilkan apa-apa selain menghancurkan
Bayangan Masa Lalu dan Rahasia Putra Lee SomanNapas Hyori masih tersengal-sengal di atas lantai semen beton yang dingin. Air matanya terus meleleh, membasahi pipinya yang keriput. Mateo berdiri kaku di sampingnya, kepalanya berputar cepat mencerna setiap potongan informasi yang baru saja dilontarkan. Rasa penasaran yang membara mendesaknya untuk tidak membiarkan wanita itu terdiam terlalu lama."Tunggu dulu," potong Mateo dengan suara tegas namun tetap berhati-hati. "Jika keluarga Arif berada di Seoul saat itu, bagaimana bisa mereka tidak melakukan tindakan apa pun untuk menuntut keadilan? Kenapa keluarga mendiang suamimu seolah menerima takdir itu begitu saja?"Hyori perlahan mendongakkan kepalanya. Ia menyeka sisa air mata di wajahnya dengan punggung tangan yang bergetar hebat. Senyum getir terukir di bibirnya yang pucat, menampakkan kepedihan yang teramat dalam akibat masa lalu yang kelam."Kau pikir mereka tinggal diam, Nak?" suara Hyori terdengar parau. "Istri pertama Arif—R
Air Mata di Balik Nama ArifSuasana di dalam kabin mobil mendadak terasa begitu pengap. Hawa dingin dari pendingin ruangan berpadu dengan ketegangan yang kian mencengkeram. Wanita paruh baya itu menatap Mateo dengan sorot mata berkaca-kaca, namun dalam hitungan detik, ia kembali mengeraskan rahangnya, mencoba menegakkan kembali topeng pertahanan yang hampir runtuh."Jangan berasumsi sembarangan, anak muda," ucap wanita itu dengan suara parau yang berusaha dibuat setegas mungkin. "Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Hubunganku dengannya... itu bukan urusanmu. Dan berhenti mengikutiku!"Ia hendak mendorong pintu mobil untuk keluar, namun Mateo dengan sigap menahan pegangan pintu tersebut, mencegah wanita itu pergi sebelum mendapatkan jawaban yang ia pertaruhkan nyawa untuk mencarinya."Jangan berbohong lagi!" suara Mateo meninggi, penuh desakan emosi yang tak tertahankan. "Aku melihat caramu menatap mangkuk bubur itu setiap bulan. Aku melihat bagaimana pundakmu bergetar menahan
Topeng yang Retak di Depan Pintu PagarTanpa membuang waktu semenit pun, Mateo bangkit dari kursinya setelah berpamitan singkat kepada sang kakek tua pemilik kedai bubur. Langkahnya tergesa-gesa menerobos rintik hujan yang mulai mereda di luar. Begitu ia tiba di mobilnya, matanya langsung menangkap sedan mewah yang dikendarai oleh wanita paruh baya itu baru saja melaju meninggalkan area parkir."Jangan sampai lepas," geram Mateo pada dirinya sendiri.Ia segera menyalakan mesin dan mengikuti kendaraan itu dari jarak yang cukup aman. Perjalanan menuju distrik perumahan di pinggiran kota cukup panjang dan melelahkan. Mateo harus pintar menjaga jarak, membiarkan dua mobil lain menyelip di antara mereka agar kehadirannya tidak disadari oleh wanita yang sedang ia buru.Setelah hampir satu jam berkendara melewati jalanan yang semakin sepi, mobil wanita itu akhirnya berbelok memasuki halaman sebuah rumah bergaya klasik modern. Kendaraan tersebut berhenti sempurna di balik pagar besi yang
Jae Won menoleh sesaat, namun pandangannya sengaja dialihkan dari Annora. Ia hanya mengangkat alisnya ke arah Mateo, memberi kode bahwa subjek di depan mereka adalah barang yang dijanjikannya.Mateo seketika bersiul nyaring, matanya berbinar lapar saat menatap siluet tubuh Annora yang dibalut gaun
Langkah-langkah berat bersenjata yang semula dikira sebagai ancaman kudeta atau serangan mendadak, rupanya hanyalah bagian dari protokoler berlebihan yang melekat pada sosok Mateo. Pria itu melangkah masuk ke dalam kediaman megah Lee Jae Won dengan tawa renyah yang menggema di langit-langit koridor
Pagi itu, Lee Jae Won telah rapi dengan kemeja biru muda yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Aroma parfum kayu cendana yang elegan menguar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas dan minimalis. Alunan musik beat bertempo sedang mengiringi aktivitasnya, menandakan suasana hati pria itu sedang
Pagi masih buta ketika Robert melangkah masuk ke dalam kamar pengap tempat Annora disekap. Suasana di dalam ruangan itu kacau. Annora, dengan sisa tenaga yang ia miliki, terus memberontak. Teriakan minta tolongnya menggema, memantul di dinding-dinding marmer rumah mewah itu. Robert mendecit panik;







