Home / Romansa / Annora with Mr.Lee / Bab 9 Pelayan Pribadi

Share

Bab 9 Pelayan Pribadi

Author: Alna Selviata
last update publish date: 2026-05-21 08:36:27

​Ruang tamu bernuansa hitam dan emas itu mendadak diselimuti keheningan yang canggung. Hanya ada suara detak jarum jam dinding mewah dan isak tangis Annora yang masih tertahan di sudut sofa. Pria flamboyan di hadapannya, Mateo, kini tidak lagi mencondongkan tubuh. Ia justru menarik diri perlahan, menyandarkan punggungnya pada bantalan sofa kulit sembari melipat kedua tangan di dada.

​Cukup lama Mateo terdiam, hanya memandangi Annora yang terus menangis dengan kepala tertunduk dalam. Tatapan mat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Annora with Mr.Lee   Bab 47 Di Antara Kabut Rahasia dan Mual yang Menyiksa

    Di Antara Kabut Rahasia dan Mual yang Menyiksa​Pegunungan Alpen Swiss yang biasanya tenang kini terasa menjadi saksi bisu bagi perubahan besar dalam hidup Annora. Memasuki trimester pertama kehamilan, Annora diserang oleh morning sickness yang cukup parah. Setiap pagi, ia merasa dunia berputar dan perutnya terus bergejolak, membuat aroma masakan atau sekadar bau kopi di pagi hari menjadi musuh terbesarnya.​Di kamar utama yang luas, Annora meringkuk di atas tempat tidur dengan wajah pucat. Jae Won, yang biasanya tangkas mengurus strategi bisnis bernilai jutaan dolar, kini tampak kewalahan namun sangat antusias dengan perannya yang baru. Ia mondar-mandir membawa baskom air hangat, handuk bersih, dan segelas jahe hangat yang ia racik sendiri setelah menghabiskan waktu berjam-jam membaca artikel di internet tentang cara mendampingi ibu hamil.​"Coba minum ini pelan-pelan," bisik Jae Won lembut, membantu Annora duduk dengan menyandarkan beberapa bantal di punggungnya.​Annora menyesap ai

  • Annora with Mr.Lee   Bab 46 Kebenaran yang Terungkap

    ​Langkah Mateo terasa berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak di Seoul ini menyimpan beban dari masa lalu yang belum terselesaikan. Kantor pusat administrasi rumah sakit tempat otopsi jenazah korban kebakaran hotel dilakukan lima belas tahun lalu tampak angkuh dan dingin. Gedung itu sudah direnovasi berkali-kali, namun bagi Mateo, tembok-temboknya masih menyisakan bau anyir darah dan keputusasaan.​Ia telah menghabiskan dua hari terakhir dengan berpura-pura menjadi mahasiswa hukum yang sedang meneliti kasus kebakaran bersejarah, sebuah alibi yang ia gunakan untuk mendekati staf kearsipan. Namun, keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya.​Di lorong arsip yang pengap, ia bertemu dengan seorang perawat muda bernama Hana. Saat Mateo menyebutkan nama "Lee Soman", mata Hana sedikit menyipit.​"Kenapa kau mencari berkas Lee Soman?" tanya Hana, suaranya sarat dengan kecurigaan. "Kasus itu sudah ditutup lima belas tahun lalu. Tidak ada lagi yang berani mengungkitnya. Apalagi b

  • Annora with Mr.Lee   Bab 45 Kehidupan yang Tumbuh

    ​Matahari sudah meninggi di ufuk Swiss, menyinari kamar utama vila Jae Won dengan cahaya keemasan yang hangat, namun Annora masih meringkuk di bawah selimut tebal. Kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah ada palu yang memukul-mukul bagian dalam tempurung kepalanya. Tubuhnya terasa begitu berat, seakan setiap inci ototnya telah kehilangan tenaga.​Pintu kamar terbuka perlahan. Jae Won melangkah masuk dengan langkah ringan, membawa senampan kayu berisi roti panggang, buah-buahan segar, dan segelas susu hangat. Saat melihat Annora yang masih belum bergerak, raut wajahnya yang tadinya tenang berubah menjadi cemas.​"Sayang?" Jae Won meletakkan nampan itu di meja nakas dan duduk di tepi ranjang. Ia menyentuh dahi Annora dengan punggung tangannya. "Ya Tuhan, kau demam. Wajahmu pucat sekali."​Annora membuka matanya perlahan, menatap Jae Won dengan pandangan sayu. "Aku tidak tahu... tiba-tiba saja aku merasa sangat lemas. Kepalaku terasa ringan sekali, Jae Won."​"Kita ke dokter," putus Jae

  • Annora with Mr.Lee   Bab 44 Jejak di Balik Semangkuk Sup Rumput Laut

    ​Waktu terasa berjalan lebih lambat bagi mereka yang menyimpan rahasia, namun berlari kencang bagi mereka yang sedang mengejar kebenaran. Satu bulan telah berlalu sejak kepergian Jae Won dan Annora ke Swiss, meninggalkan kekosongan yang memicu keruntuhan di Seoul.​Keluarga Choi, yang memegang otoritas kunci atas pembangunan pulau, akhirnya mengambil langkah tegas. Tanpa peringatan, mereka memutuskan kontrak kerja sama dan secara resmi menolak memberikan pengesahan tanah. Bagi Mark Young, ini adalah bencana. Proyek ambisius yang ia bangun di atas fondasi kebohongan itu kini retak di hadapannya sendiri.​Di dalam ruang kerja pribadinya yang mewah, Mark Young tampak seperti singa yang terluka. Ia menyapu bersih deretan piala dan guci keramik mahal dari atas meja mahogani dengan satu sentakan tangan. Suara pecahan kaca memecah kesunyian malam yang mencekam. Napasnya memburu, matanya memerah menahan amarah yang meledak-ledak.​"Jae Won!" teriaknya pada dinding kosong. "Kau pikir dengan be

  • Annora with Mr.Lee   Bab 43 Jejak yang Dihapus Zaman

    ​Danau itu seperti cermin raksasa yang memantulkan kebiruan langit Swiss yang tanpa noda. Udara pagi terasa menusuk, namun hangat matahari yang mulai naik memberikan kenyamanan tersendiri bagi Annora dan Jae Won yang sedang duduk di atas dermaga kayu kecil.​Jae Won tampak sangat berbeda. Ia mengenakan jaket tebal dan topi kupluk, sedang sibuk mengatur umpan pada kail pancingnya dengan ekspresi yang sangat serius—seolah-olah sedang merancang strategi bisnis paling rumit.​"Kau tahu, Annora," Jae Won memecah kesunyian dengan suara rendah yang menenangkan. "Dulu, aku berpikir memancing adalah kegiatan yang paling membosankan di dunia. Tapi sekarang, aku mengerti kenapa orang melakukannya. Ini bukan tentang ikannya, tapi tentang menunggu sesuatu yang tenang datang padamu."​Annora tersenyum, menatap profil wajah Jae Won dari samping. "Dan menurutmu, apa yang sudah datang padaku?"​Jae Won meletakkan joran pancingnya, lalu menoleh. Tatapannya kini penuh dengan kejujuran yang telanjang. "K

  • Annora with Mr.Lee   Bab 42 Dibalik Kabut Alpen

    ​Ruangan kerja Nelson di Amerika dipenuhi asap cerutu yang menyesakkan. Pria itu berdiri di depan sebuah peta tua yang terbentang di dinding, matanya menyipit saat membaca laporan rahasia yang baru saja diterima dari tangan kanannya.​"Jadi, begitu?" gumam Nelson, senyumnya perlahan melebar hingga memperlihatkan deretan gigi kuningnya. "Pulau itu... selama ini Mark Young berbohong. Dia tidak memiliki kekuasaan penuh atas tanah itu. Sertifikat sahnya terkubur bersama keluarga pemilik yang tewas dalam kebakaran hotel lima belas tahun lalu?"​"Benar, Tuan," sahut anak buahnya. "Satu-satunya yang bisa melegalkan peresmian pembangunan di sana adalah keturunan dari pemilik sah tersebut. Dan menurut dokumen ini, keluarga itu sudah dianggap punah setelah peristiwa kebakaran."​Nelson tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam yang kasar. Ia merasa seperti baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Jika ia bisa memanipulasi situasi, ia tidak hanya akan meng

  • Annora with Mr.Lee   Bab 7 Dua Pria Aneh

    Jae Won menoleh sesaat, namun pandangannya sengaja dialihkan dari Annora. Ia hanya mengangkat alisnya ke arah Mateo, memberi kode bahwa subjek di depan mereka adalah barang yang dijanjikannya.​Mateo seketika bersiul nyaring, matanya berbinar lapar saat menatap siluet tubuh Annora yang dibalut gaun

  • Annora with Mr.Lee   Bab 6 Secangkir Wine

    ​Langkah-langkah berat bersenjata yang semula dikira sebagai ancaman kudeta atau serangan mendadak, rupanya hanyalah bagian dari protokoler berlebihan yang melekat pada sosok Mateo. Pria itu melangkah masuk ke dalam kediaman megah Lee Jae Won dengan tawa renyah yang menggema di langit-langit koridor

  • Annora with Mr.Lee   Bab 5 Sang Penguasa dan Bidak Almond

    ​​Pagi itu, Lee Jae Won telah rapi dengan kemeja biru muda yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Aroma parfum kayu cendana yang elegan menguar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas dan minimalis. Alunan musik beat bertempo sedang mengiringi aktivitasnya, menandakan suasana hati pria itu sedang

  • Annora with Mr.Lee   Bab 4 Komoditas dalam Sangkar Emas

    ​Pagi masih buta ketika Robert melangkah masuk ke dalam kamar pengap tempat Annora disekap. Suasana di dalam ruangan itu kacau. Annora, dengan sisa tenaga yang ia miliki, terus memberontak. Teriakan minta tolongnya menggema, memantul di dinding-dinding marmer rumah mewah itu. Robert mendecit panik;

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status