ANMELDENMalam kian larut ketika iring-iringan mobil mewah itu kembali memasuki gerbang besi raksasa kediaman keluarga Lee. Setelah menyelesaikan urusan bisnis di pulau, Mark Yong memilih kembali ke distrik pusat, sementara Mateo merayakan kesepakatan satu ton obat terlarang gratis itu dengan berpesta pora di salah satu klub elite paling eksklusif di kawasan Gangnam.Limosin kedua berhenti di depan lobi paviliun barat. Pintu mobil terbuka, menampilkan Mateo yang keluar dengan langkah sempoyongan akibat pengaruh alkohol yang pekat. Setelan jasnya sudah berantakan, dan lengannya merangkul mesra seorang wanita lokal berpakaian minim yang terus tertawa manja di ceruk lehernya."Tuan Mateo, Anda butuh bantuan?" tanya salah seorang pengawal yang berjaga di lobi."Tidak perlu," racik Mateo dengan suara serak, melambaikan tangannya dengan kasar sembari menuntun wanita itu masuk ke kamarnya. "Urus saja urusan kalian sendiri."Sementara itu, di lobi utama bangunan pusat, Lee Jae Won melangkah masuk
Transaksi di PulauPagi hari di paviliun timur kediaman keluarga Lee dimulai dengan sunyi yang mencekam. Annora duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang tertutup rapat. Dua orang pelayan paruh baya masuk tanpa suara, meletakkan nampan berisi sarapan hangat di atas meja nakas."Anda dilarang keluar dari kamar ini, Nona," ucap salah satu pelayan dengan nada datar, melipat kedua tangannya di depan tubuh. "Ini perintah langsung dari Tuan Muda Jae Won. Sarapan Anda akan selalu diantar ke sini."Annora hanya mengangguk pelan tanpa berniat menyentuh makanan tersebut. "Sampai kapan saya harus dikurung di sini?""Kami hanya menjalankan tugas. Silakan habiskan makanan Anda," sahut pelayan itu dingin sebelum melangkah keluar dan mengunci kembali pintu kayu tebal itu dari luar dengan bunyi klik yang solid. Annora mengembuskan napas berat, meremas tunik navy yang melekat di tubuhnya. Kamar mewah ini setidaknya jauh lebih aman daripada paviliun barat tempat Mateo berada,
Batas Sabar"Tangkap dia!" Teriakan Mateo kembali menggema, memecah ketegangan di koridor paviliun barat yang kini dipenuhi oleh derap langkah kaki para pengawal bersenjata.Annora yang masih meringkuk di lantai marmer yang dingin kian menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Tangannya mencengkeram erat ujung handuk putih yang melilit tubuhnya, membiarkan rambut hitam panjangnya yang basah jatuh menjuntai menyentuh lantai. Tubuhnya bergetar hebat didera rasa takut dan dingin yang teramat sangat. Setiap derap sepatu bot para pengawal terasa seperti ketukan lonceng kematian di telinganya.Langkah kaki yang lambat namun memiliki ritme yang sangat berat tiba-tiba terdengar dari arah tangga penghubung lantai dua. Kehadiran sosok baru itu seketika membuat para pengawal yang semula bising langsung membungkam mulut mereka dan mundur teratur, memberikan jalan dengan kepala tertunduk hormat.Lee Jae Won melangkah maju, didampingi oleh Alex di sisinya. Pria Asia Timur itu menatap kekaca
Malam yang PecahSuara gemericik air di kamar mandi paviliun barat akhirnya mereda. Annora melangkah keluar dengan tubuh yang terasa sedikit lebih ringan setelah membersihkan diri, meski rasa lelah dan tekanan mental masih menggelayuti pundaknya. Rambut hitam panjangnya yang basah digelung asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang menempel di lehernya yang jenjang.Ia berjalan mendekati lemari pakaian besar di sudut kamar, hanya berbalut selembar handuk putih yang melilit tubuhnya dari dada hingga sebatas paha. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Annora membuka pintu lemari, bersiap mengambil pakaian tidur yang lebih layak.Klek.Bunyi slot kunci digital yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan kamar. Annora tersentak hebat, langsung membalikkan badannya dengan wajah memucat. Sebelum ia sempat berteriak atau menyembunyikan diri, pintu kayu tebal itu sudah terbuka lebar.Mateo melangkah masuk dengan gaya flamboyan yang khas, namun kedua matanya langsung melebar sa
Ruang kerja utama di kediaman pusat keluarga Lee terletak di ujung lantai dua, terisolasi oleh pintu ganda berbahan kayu ek hitam yang tebal. Di dalam ruangan itu, aroma cerutu premium berbaur dengan wangi kopi arabika yang pekat. Pencahayaan sengaja dibuat temaram, hanya bertumpu pada sebuah lampu meja klasik berkaki kuningan yang menerangi permukaan meja kerja mahoni yang luas.Lee Jae Won duduk di kursi kulitnya yang tinggi, bersandar dengan santai namun tetap memancarkan ketegasan yang mutlak. Di seberang meja, Mateo duduk sembari menyilangkan kaki, memutar-mutar gelas berisi wiski dengan ekspresi yang jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki tatapan mata yang sama persis dengan Jae Won melangkah masuk. Aura kepemimpinan yang kejam dan dominan langsung memenuhi ruangan. Ayah Jae Won berjalan mendekati meja, mengabaikan formalitas bersalaman, dan langsung melemparka
Suasana di dalam mobil limosin hitam yang membawa mereka kembali menuju kediaman utama keluarga Lee terasa jauh lebih mencekam daripada perjalanan dari bandara kemarin. Mateo duduk di seberang Annora, melipat kedua tangannya di dada dengan rahang yang mengeras. Ketegangan yang tersisa dari insiden di G-Labyrinth masih membekas jelas di wajah flamboyannya yang kini tampak gusar.Di sudut kursi seberang, Annora duduk menyusut, merapatkan tubuhnya ke pintu mobil. Rambut hitam panjangnya yang sempat dirapikan seadanya dengan jemari masih terlihat sedikit acak-acakan. Ia menatap lurus ke arah lantai mobil, tidak berani mengangkat wajah, apalagi menatap Mateo. Cengkeraman tangannya pada clutch hitam di pangkuannya kian mengerat, seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki di dunia yang asing ini."Kau benar-benar tidak bisa diberi kelonggaran sedikit pun, bukan?" Suara Mateo memecah keheningan, terdengar dingin dan tajam menembus kesunyian kabin mobil.Annora tersentak







