Beranda / Rumah Tangga / Antara Hormat dan Hasrat / Tugas yang Tak Diminta

Share

Tugas yang Tak Diminta

Penulis: Jihan Jaya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-06 21:29:34

Udara di aula siang itu berat, seperti menahan napas seratus pasang sepatu bot. Bau semir dan keringat bercampur dengan panas lampu neon. Nara berdiri di tepi panggung, berusaha menyatu dengan dinding, tapi jantungnya berdetak tidak sesuai aba-aba baris-berbaris.

Nama itu datang lagi.

“Bintara Arsa, bantu ibu-ibu menyiapkan ruang jamuan sore ini.”

Suara Kolonel Damar meluncur bersih, tajam.

Dan meski puluhan pasang mata menoleh, hanya satu nama yang menempel di kepala Nara seperti gema yang belum padam sejak kemarin.

“Siap, Komandan!”

Suara Arsa. Dalam, jernih, dan berbahaya bagi seseorang yang seharusnya tidak memperhatikan.

Nara menunduk, berpura-pura membaca catatan. Tapi huruf-huruf itu kabur.

Ia memejamkan mata sebentar, menenangkan diri, tapi justru bayangan tangan yang pernah menahannya di lapangan muncul lebih jelas daripada isi kertas.

Sore turun pelan.

Ruang jamuan mulai ditata. Kipas langit-langit berputar malas, menebarkan aroma mawar yang baru disemprot air.

“Yang itu di pojok kiri,” kata Nara, menunjuk.

Arsa mengangguk dan memindahkan vas bunga.

Gerakannya efisien, tenang… tapi setiap langkahnya memukul dada Nara seperti irama yang ingin ia hentikan.

“Cukup dekat, Bu?”

Tatapannya singgah satu detik. Hanya satu.

Tapi satu detik itu cukup membuat Nara lupa bernapas.

“Sudah,” jawabnya pelan.

Arsa menunduk, memutar badan dengan napas yang terselip halus, napas yang mengisyaratkan sesuatu yang tidak terucap.

Dan Nara tahu: jarak di ruangan itu semakin tipis hanya karena satu tatapan.

Beberapa menit kemudian, Damar masuk.

“Bagus. Rapi.”

Matanya bergeser ke Arsa.

“Bintara, antar Ibu pulang. Sekalian bawa laporan.”

“Siap, Kolonel.”

Perintah sederhana.

Tapi di dada Nara, rasanya seperti tanda bahaya.

Mobil dinas bergerak pelan.

Langit tembaga, udara mulai dingin. Nara duduk di kursi belakang; Arsa di depan bersama sopir.

Tidak ada percakapan.

Hanya suara mesin dan dengung napas yang ditahan terlalu lama.

Sesampainya di rumah dinas, Arsa turun duluan. Ia membuka pintu untuk Nara, tubuhnya tegap di ambang. Cahaya sore melewati kisi-kisi jendela dan jatuh tepat di bahunya.

“Laporan saya taruh di meja makan, Bu.”

Nara mengangguk.

“Terima kasih.”

Arsa memberi hormat, lalu pergi.

Tapi wangi sabunnya tertinggal di udara seperti sesuatu yang tidak sengaja ia tabur.

Rumah itu kembali seperti museum.

Rapi. Sunyi. Dingin.

Nara duduk di meja makan, menatap sampul laporan bertuliskan Kegiatan Sosial Wanita TNI. Judul yang terlalu rapi untuk hati yang sedang kacau.

Ia mencoba membaca, tapi huruf-huruf menari.

Yang muncul di kepala justru suara langkah seseorang.

Langkah yang tidak seharusnya ia ingat.

“Aku seharusnya lupa…” bisiknya.

Tapi tubuhnya tidak patuh.

Pukul delapan, Damar pulang.

“Mereka bilang ruang jamu rapi,” ucapnya sambil melepas topi.

“Arsa cepat tanggap. Prajurit seperti dia yang aku butuhkan.”

“Oh ya?” suara Nara nyaris tidak terdengar.

“Ya. Disiplin, sopan, dan tidak banyak bicara.”

Ironis.

Hal-hal yang dipuji Damar justru hal-hal yang membuat Nara semakin tidak bisa melupakan bintara muda itu.

Hening turun seperti kabut tebal.

Hanya detik jam yang bergerak.

Damar berlalu ke ruang kerja.

Meninggalkan Nara dengan kursi kosong dan ruang yang semakin dingin.

Nara berdiri di depan jendela.

Lampu markas di kejauhan masih menyala, seperti mata yang tidak pernah tidur.

Ia memandang pantulan wajahnya,

rapi, anggun, sempurna.

Kecuali matanya, yang menyimpan cahaya kecil yang tidak mau padam.

Karena dalam dunia yang harus menunggu perintah…

hatinya justru sudah bergerak lebih dulu.

Ponselnya bergetar tiba-tiba.

Pesan singkat.

Tanpa nama pengirim.

“Terima kasih, Bu. Sudah baik pada saya.”

Nara memegang layar itu lama sekali.

Lalu mematikannya dengan tangan gemetar.

Di luar, malam terasa lebih hidup daripada siang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antara Hormat dan Hasrat   Bayangan Sensual Di Tempat Tidur

    Arsa terbangun sebelum matahari benar-benar naik. Nafasnya berat, seperti baru menyelam terlalu dalam ke mimpi yang tubuhnya sendiri belum siap lepaskan. Ada panas yang membekas di dada, sisa sesuatu yang ia tahu bukan sekadar mimpi, tapi keinginan yang hampir pecah.Ia duduk perlahan, memijit pelipis, tapi yang muncul bukan keheningan.Yang muncul adalah Nara.Nara dengan rambut panjangnya yang jatuh sedikit berantakan, seperti selesai dilepas dari ikatannya. Rambut itu selalu jadi awal kehancuran Arsa. Halus, hitam, jatuh di sepanjang punggung yang lembut. Dan dalam mimpinya barusan, rambut itu bukan hanya jatuh. tapi menyapu bahunya sendiri… pelan… seperti angin yang sengaja menggoda.Arsa menelan ludah, napasnya tersengal setengah detik.Bayangan itu kembali: Nara berdiri sangat dekat, hanya beberapa inci dari tubuhnya, tangan perempuan itu hampir menyentuhnya di dada. Bukan menyentuh… tapi hampir. Cukup dekat membuat kulit Arsa bereaksi, tapi cukup jauh sehingga ia terbangun den

  • Antara Hormat dan Hasrat   Saat Suara Itu Mendesah

    Aku tidak tahu kenapa malam ini suaranya terdengar berbeda.Biasanya Arsa hanya terdengar pelan, tenang, seperti seseorang yang tidak pernah kehilangan kendali atas apa pun. Tapi sejak telepon itu berdering lagi malam ini, suara itu masuk ke telingaku dengan cara lain. Lebih berat. Lebih dalam. Lebih dekat.
Seolah dia berdiri tepat di belakangku, padahal sebenarnya masih di markas.Aku duduk di tepi ranjang, rambutku tergerai turun sampai menutupi bahu dan lengan. Udara kamar hangat, namun kulitku terasa seperti ditimpa angin dingin dari balik jendela yang tertutup. Ada sesuatu yang tidak bisa kutahan sejak nada pertama suaranya.“Nara,” katanya pelan.
Hanya itu. Namaku.
Tapi entah kenapa, aku merinding dari tengkuk sampai punggung bawah.Aku tahu seharusnya aku menjaga jarak. Aku tahu. Bukan hanya karena aku istri seorang kolonel… tetapi karena aku sedang berjalan di garis tipis yang jika kutapaki terlalu jauh, aku akan sulit kembali.Namun suara Arsa…
Suara itu seperti tali yang m

  • Antara Hormat dan Hasrat   Resah yang Tak Bisa Ditahan

    Arsa tahu ia harus tidur. Sudah lewat tengah malam, udara barak lembap, dan lampu temaram hanya tinggal garis kuning redup di atas meja kecilnya. Tapi tubuhnya tidak menurut. Ada gelisah yang menjalar dari dadanya turun ke perut, lalu berhenti di pangkal napasnya setiap kali bayangan Nara muncul lagi.Bukan bayangan yang besar, justru yang kecil.
Cara Nara tadi siang menyibak rambutnya ke belakang telinga.
Cara jemari perempuan itu menyentuh kerah baju, seolah merapikan, padahal tidak ada yang berantakan.
Dan cara bahunya naik sedikit setiap kali ia tertawa pelan.Hal-hal kecil itu sekarang berubah menjadi denyut yang berulang di kepala Arsa.Ia menutup mata.
Salah.
Begitu tertutup, ia justru melihat lebih jelas, rambut Nara yang basah di bagian ujung, garis lehernya yang halus, nada suaranya saat menyebut namanya… tanpa gelar. Hanya “Arsa.”Nama yang biasanya kaku itu tiba-tiba terdengar seperti bisikan.Arsa mengusap wajahnya, frustrasi.Kenapa tubuhnya bereaksi begini cepat?
Ken

  • Antara Hormat dan Hasrat   Jarak yang Tidak Lagi Netral

    Arsa tidak tahu sejak kapan napasnya mulai mengikuti ritme langkah Nara. Malam itu, lorong barak seperti menyusut; cahaya lampu kuning pucat membuat kulit Nara tampak lebih hangat dari seharusnya. Rambut panjangnya jatuh ke satu sisi, seakan sengaja memberi ruang bagi leher halus yang selama ini hanya berani ia lihat sekilas.Nara berhenti dua langkah di depannya. Tidak jauh. Tidak aman juga.
Cukup untuk membuat dada Arsa terasa sempit.“Ada yang mau kamu sampaikan?” suara Nara rendah, bukan berbisik, tapi dampaknya lebih dari itu.
Seperti seseorang baru saja menggeser udara di antara mereka.Arsa menelan ludahnya. “Aku… cuma memastikan kamu pulang dengan aman.”Nara menoleh pelan. Gerakan kecil itu membangunkan seluruh indra Arsa.
Rambutnya bergeser, menyentuh pundak dan jatuh ke punggung.
Dan di bawah cahaya itu, kulit Nara seolah punya bahasa sendiri, halus, lembut, sedikit berkilau.Tidak ada yang vulgar.
Tapi justru itu yang membuat Arsa hampir kehilangan kontrol.“Pulangku aman

  • Antara Hormat dan Hasrat   Nafas yang Mencari Kulit

    Arsa tidak pernah menyangka, hanya karena Nara berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya, tubuhnya bisa berubah seperti ini, tegang, hangat, seperti sesuatu di dadanya sedang mengetuk minta dilepaskan.Nara hanya ingin menyerahkan map laporan. Hanya itu. Tapi saat tangannya meraih pergelangan tangan Arsa agar map itu tidak jatuh, semuanya berubah.Sentuhan itu sangat pelan. Tidak sampai satu detik. Tapi entah bagaimana, kulit Arsa seperti menyimpan jejaknya.“Nara…” suaranya tercekat, tidak seharusnya terdengar seperti itu, seperti seseorang yang hampir hilang kendali.“Aku cuma mau kasih map-nya,” katanya pelan, tapi suaranya sendiri goyah seolah ia sadar, ia pun merasakannya.Arsa menunduk sedikit, melihat pergelangan tangannya sendiri, tempat jari Nara tadi sempat menempel. Area itu seperti menyala. Hangat. Hidup.“Nara, tadi… kamu sentuh aku?” tanyanya, napas setengah keluar.Wajah Nara memerah. “Refleks.”“Refleksnya terlalu manis,” desis Arsa nyaris tidak terdengar.Nara menela

  • Antara Hormat dan Hasrat   Merinding Tak Karuan Karena Nara

    Ada bagian tubuh perempuan yang lebih berbahaya daripada bibir:, yaitu pergelangan tangannya.
Arsa baru sadar itu ketika jemari nya dan Nara bersentuhan sedetik… dan tubuhnya seperti kehilangan kendali.Nara sedang berdiri dekat jendela ketika Arsa datang. Sore itu sunyi, cuma suara kipas angin kecil dan cicit burung dari luar. Cahaya yang masuk jatuh tepat di kulit Nara, membuat bagian pergelangan tangannya terlihat sangat halus, lembut, dan berdenyut pelan.Arsa tidak bermaksud mendekat. Tidak bermaksud menatap terlalu lama.
Tapi tubuhnya bergerak lebih cepat dari akalnya.“Nara,” suaranya pelan, seperti takut mengganggu udara.Nara menoleh, rambut panjangnya jatuh di bahu dan sebagian menutupi dada. Ia menyibakkannya perlahan, gerakan yang selalu membuat Arsa sulit bernapas.Ada berkas ragu di mata Nara, tapi bukannya mundur… ia justru memutar sedikit tubuhnya, seolah memberikan ruang bagi Arsa untuk mendekat. Dua langkah saja jaraknya, dan Arsa bisa mencium aroma rambutnya—hangat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status