Masuk
Nara tidak pernah menyangka bahwa kalimat yang merobek hatinya hari itu bukan datang dari musuh… melainkan dari suaminya sendiri.
“Kau tak perlu ikut kalau hanya menjadi gangguan, Nara.” Nada Damar datar, dingin, menggelegar di tengah lapangan upacara. Puluhan prajurit berdiri tegak, tidak ada yang berani menoleh, tapi semua mendengar. Nara berdiri di sisi lapangan, memegang payung yang bahkan tidak ia butuhkan. Wajahnya tetap tenang, tapi dadanya retak sedikit. Untuk orang lain, itu hanya teguran. Untuk seorang istri… itu penghinaan. Tepuk tangan seremonial pecah. Riuh, meriah, tapi bagi Nara suaranya seperti tepuk tangan untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu disaksikan siapa pun. Ia melangkah mundur, hak sepatunya terpeleset sedikit di tanah basah. Dan sebelum ia jatuh, sebuah tangan kuat menahan bahunya. “Hati-hati, Bu.” Suara itu pelan, tenang, tapi cukup dalam untuk membelah seluruh kebisingan. Nara menoleh. Arsa Wijaya. Bintara muda. Seragam rapi. Wajah bersih. Sorot mata yang terlalu jujur untuk dunia militer. Dan senyap yang muncul di antara mereka lebih memekakkan daripada suara komandan mana pun. “Terima kasih,” ucap Nara cepat, hampir berbisik. Arsa memberi hormat, mundur setengah langkah, lalu kembali ke barisannya. Namun bagi Nara, waktu sempat berhenti, tepat di jarak setengah langkah itu. Jarak yang terlalu dekat untuk disebut sopan… tapi terlalu jauh untuk disebut salah. Upacara bubar. Di tenda VIP, para istri perwira tertawa sambil membicarakan tas, promosi suami, dan pesta akhir pekan. Nara duduk di tengah mereka, tersenyum secukupnya. Tapi hatinya kosong. Di luar tenda, Arsa memindahkan kursi lipat seorang diri. Gerakannya mantap, efisien, fokus. Nara melihatnya dari balik tirai tenda. Bukan karena ingin… tapi karena matanya menolak berpaling. “Bu Nara, tidak apa-apa?” tanya Letnan Sari, ajudan Damar. “Baik,” jawab Nara. Meski dalam hatinya kata itu terdengar seperti dusta yang sudah fasih ia ucapkan. Kolonel Damar menghampiri. Wajahnya tampan, kaku, terlatih untuk disiplin. “Nara, aku rapat batalyon. Pulang dulu. Sopir menunggu.” Tidak ada kecupan tangan. Tidak ada sentuhan kecil. Tidak ada tatapan lebih dari satu detik. “Iya, Kolonel,” jawab Nara. Pangkat terasa lebih aman dibandingkan menyebut nama suaminya sendiri. Dalam perjalanan pulang, hujan tipis mulai turun. Nara melihat ke luar jendela. Lapangan mulai kosong, namun ia melihat Arsa masih di sana, menutup tenda besar sendirian. Kaus dalamnya lembap menempel pada punggungnya. Rambut pendeknya berantakan sedikit terkena angin sore. Mobil bergerak. Dan di kaca jendela, pantulan dirinya terlihat berdampingan dengan pantulan Arsa yang sedang menatap mobil yang menjauh. Nara cepat-cepat menunduk. Rumah dinas Kolonel Damar luas… terlalu luas. Terlalu rapi. Terlalu dingin. Nara menggantung blazer, melepas topi, lalu duduk di ruang tamu yang sunyi seperti museum. Dari jendela ia melihat bangunan markas samar di kejauhan. Bunyi peluit latihan sore terdengar jauh, namun cukup untuk membuat jantungnya berdebar tanpa alasan. “Ini konyol,” gumamnya. Namun rasa di dadanya keras kepala, tidak mau padam. Ia memejamkan mata. Tangan Arsa di bahunya kembali terulang dalam ingatan. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada godaan. Tidak ada sentuhan berlebihan. Tapi tubuhnya… mengingat. Dan itulah yang paling menakutkan. Pukul delapan malam, Damar pulang. “Istriku sudah makan?” tanyanya tanpa menatapnya lama. “Sudah.” Nara menyiapkan teh. Damar mengangguk. “Terima kasih.” Hanya itu. Tidak ada percakapan lain. Tidak ada ruang untuk menjadi manusia, apalagi menjadi istri. Saat Damar masuk ruang kerja, Nara berdiri lama di depan jendela. Lampu-lampu markas masih menyala. Angin malam dingin, tapi dadanya tidak. Ia melihat pantulan dirinya di kaca: rapi, damai, sempurna… kecuali matanya, yang menyembunyikan sesuatu yang baru tumbuh sore tadi. Karena di markas, semua orang dilatih menahan diri. Tapi malam itu, Nara sadar: Yang paling sulit ditahan bukanlah keinginan. Melainkan ingatan, tentang sentuhan kecil seorang prajurit muda yang tidak seharusnya mengguncang hidupnya. Namun justru itulah yang membuatnya merasa… masih hidup.Arsa terbangun sebelum matahari benar-benar naik. Nafasnya berat, seperti baru menyelam terlalu dalam ke mimpi yang tubuhnya sendiri belum siap lepaskan. Ada panas yang membekas di dada, sisa sesuatu yang ia tahu bukan sekadar mimpi, tapi keinginan yang hampir pecah.Ia duduk perlahan, memijit pelipis, tapi yang muncul bukan keheningan.Yang muncul adalah Nara.Nara dengan rambut panjangnya yang jatuh sedikit berantakan, seperti selesai dilepas dari ikatannya. Rambut itu selalu jadi awal kehancuran Arsa. Halus, hitam, jatuh di sepanjang punggung yang lembut. Dan dalam mimpinya barusan, rambut itu bukan hanya jatuh. tapi menyapu bahunya sendiri… pelan… seperti angin yang sengaja menggoda.Arsa menelan ludah, napasnya tersengal setengah detik.Bayangan itu kembali: Nara berdiri sangat dekat, hanya beberapa inci dari tubuhnya, tangan perempuan itu hampir menyentuhnya di dada. Bukan menyentuh… tapi hampir. Cukup dekat membuat kulit Arsa bereaksi, tapi cukup jauh sehingga ia terbangun den
Aku tidak tahu kenapa malam ini suaranya terdengar berbeda.Biasanya Arsa hanya terdengar pelan, tenang, seperti seseorang yang tidak pernah kehilangan kendali atas apa pun. Tapi sejak telepon itu berdering lagi malam ini, suara itu masuk ke telingaku dengan cara lain. Lebih berat. Lebih dalam. Lebih dekat. Seolah dia berdiri tepat di belakangku, padahal sebenarnya masih di markas.Aku duduk di tepi ranjang, rambutku tergerai turun sampai menutupi bahu dan lengan. Udara kamar hangat, namun kulitku terasa seperti ditimpa angin dingin dari balik jendela yang tertutup. Ada sesuatu yang tidak bisa kutahan sejak nada pertama suaranya.“Nara,” katanya pelan. Hanya itu. Namaku. Tapi entah kenapa, aku merinding dari tengkuk sampai punggung bawah.Aku tahu seharusnya aku menjaga jarak. Aku tahu. Bukan hanya karena aku istri seorang kolonel… tetapi karena aku sedang berjalan di garis tipis yang jika kutapaki terlalu jauh, aku akan sulit kembali.Namun suara Arsa… Suara itu seperti tali yang m
Arsa tahu ia harus tidur. Sudah lewat tengah malam, udara barak lembap, dan lampu temaram hanya tinggal garis kuning redup di atas meja kecilnya. Tapi tubuhnya tidak menurut. Ada gelisah yang menjalar dari dadanya turun ke perut, lalu berhenti di pangkal napasnya setiap kali bayangan Nara muncul lagi.Bukan bayangan yang besar, justru yang kecil. Cara Nara tadi siang menyibak rambutnya ke belakang telinga. Cara jemari perempuan itu menyentuh kerah baju, seolah merapikan, padahal tidak ada yang berantakan. Dan cara bahunya naik sedikit setiap kali ia tertawa pelan.Hal-hal kecil itu sekarang berubah menjadi denyut yang berulang di kepala Arsa.Ia menutup mata. Salah. Begitu tertutup, ia justru melihat lebih jelas, rambut Nara yang basah di bagian ujung, garis lehernya yang halus, nada suaranya saat menyebut namanya… tanpa gelar. Hanya “Arsa.”Nama yang biasanya kaku itu tiba-tiba terdengar seperti bisikan.Arsa mengusap wajahnya, frustrasi.Kenapa tubuhnya bereaksi begini cepat? Ken
Arsa tidak tahu sejak kapan napasnya mulai mengikuti ritme langkah Nara. Malam itu, lorong barak seperti menyusut; cahaya lampu kuning pucat membuat kulit Nara tampak lebih hangat dari seharusnya. Rambut panjangnya jatuh ke satu sisi, seakan sengaja memberi ruang bagi leher halus yang selama ini hanya berani ia lihat sekilas.Nara berhenti dua langkah di depannya. Tidak jauh. Tidak aman juga. Cukup untuk membuat dada Arsa terasa sempit.“Ada yang mau kamu sampaikan?” suara Nara rendah, bukan berbisik, tapi dampaknya lebih dari itu. Seperti seseorang baru saja menggeser udara di antara mereka.Arsa menelan ludahnya. “Aku… cuma memastikan kamu pulang dengan aman.”Nara menoleh pelan. Gerakan kecil itu membangunkan seluruh indra Arsa. Rambutnya bergeser, menyentuh pundak dan jatuh ke punggung. Dan di bawah cahaya itu, kulit Nara seolah punya bahasa sendiri, halus, lembut, sedikit berkilau.Tidak ada yang vulgar. Tapi justru itu yang membuat Arsa hampir kehilangan kontrol.“Pulangku aman
Arsa tidak pernah menyangka, hanya karena Nara berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya, tubuhnya bisa berubah seperti ini, tegang, hangat, seperti sesuatu di dadanya sedang mengetuk minta dilepaskan.Nara hanya ingin menyerahkan map laporan. Hanya itu. Tapi saat tangannya meraih pergelangan tangan Arsa agar map itu tidak jatuh, semuanya berubah.Sentuhan itu sangat pelan. Tidak sampai satu detik. Tapi entah bagaimana, kulit Arsa seperti menyimpan jejaknya.“Nara…” suaranya tercekat, tidak seharusnya terdengar seperti itu, seperti seseorang yang hampir hilang kendali.“Aku cuma mau kasih map-nya,” katanya pelan, tapi suaranya sendiri goyah seolah ia sadar, ia pun merasakannya.Arsa menunduk sedikit, melihat pergelangan tangannya sendiri, tempat jari Nara tadi sempat menempel. Area itu seperti menyala. Hangat. Hidup.“Nara, tadi… kamu sentuh aku?” tanyanya, napas setengah keluar.Wajah Nara memerah. “Refleks.”“Refleksnya terlalu manis,” desis Arsa nyaris tidak terdengar.Nara menela
Ada bagian tubuh perempuan yang lebih berbahaya daripada bibir:, yaitu pergelangan tangannya. Arsa baru sadar itu ketika jemari nya dan Nara bersentuhan sedetik… dan tubuhnya seperti kehilangan kendali.Nara sedang berdiri dekat jendela ketika Arsa datang. Sore itu sunyi, cuma suara kipas angin kecil dan cicit burung dari luar. Cahaya yang masuk jatuh tepat di kulit Nara, membuat bagian pergelangan tangannya terlihat sangat halus, lembut, dan berdenyut pelan.Arsa tidak bermaksud mendekat. Tidak bermaksud menatap terlalu lama. Tapi tubuhnya bergerak lebih cepat dari akalnya.“Nara,” suaranya pelan, seperti takut mengganggu udara.Nara menoleh, rambut panjangnya jatuh di bahu dan sebagian menutupi dada. Ia menyibakkannya perlahan, gerakan yang selalu membuat Arsa sulit bernapas.Ada berkas ragu di mata Nara, tapi bukannya mundur… ia justru memutar sedikit tubuhnya, seolah memberikan ruang bagi Arsa untuk mendekat. Dua langkah saja jaraknya, dan Arsa bisa mencium aroma rambutnya—hangat







