Share

Bab 50

Author: Delf
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-23 10:57:25

“Terima kasih Pak Calvin.” Anna melambaikan tangan ketika dia telah tiba di rumah dan Calvin yang membuntutinya di belakang mobilnya membuka kaca untuk berpamitan.

"Sama-sama. Kamu masuk aja dulu." ucap Calvin tersenyum. Anna pun mengangguk dan kemudian melangkah masuk.

Wajah Anna kini tersenyum berseri, raut sedihnya seketika lenyap. Calvin memang seperti penawar rasa sedihnya. Hingga kini pria itu selalu bisa memperbaiki moodnya walau sering kali ucapannya nyelekit tapi masuk akal dan anehnya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Antidote   Bab 53

    Calvin belum sempat mengeluarkan pendapatnya namun tiba-tiba handphonenya bordering.“Halo Liv?” ucap Calvin begitu sambungan telpon tersebut terhubung.“Halo Vin, aku menganggu nggak?”Calvin terkekeh, “Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ada apa, Liv?” Calvin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Olivia menelponnya.“Hmm.. kamu ada acara malam ini?” Tanya Olivia ragu-ragu.Calvin kemudian memandang gadis cantik di hadapannya yang terlihat salah tingkah namun tetap bertahan untuk menunggu jawabannya, padahal jelas-jelas Calvin sudah menolaknya. Sebenarnya dia masih bersama Anna tapi Calvin berpikir bahwa pertemuan ini akan segera berakhir sebentar lagi.“Enggak ada. Kamu mau ngajakin aku kencan?” goda Calvin.Olivia berdecak namun tertawa, “Kamu ini nggak berubah. Aku ada meeting sangat penting malam ini dengan klien besar. Hanya saja Dariel tidak ada yang jaga. Randy…” suara Olivia terdengar berat.“Aku akan menjaga Dariel.” Calvin memotong ucapan Olivia. Dia t

  • Antidote   Bab 52

    Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja lalu menatap Anna yang masih menatapnya dengan serius dengan wajah polos penuh harap.Kali ini Calvin menarik nafasnya dalam, dia tau ternyata gadis di depannya ini tidak main-main dengan ucapannya yang sangat konyol.“Aku pikir kamu menghubungiku karena tertarik dengan tawaranku menjadi seorang desain grafis. Malahan kamu yang sekarang nawarin aku pekerjaan.” Kekeh Calvin.Anna menghela nafas panjang, “Cuma Pak Calvin satu-satunya harapan saya.”“Maaf, aku rasa kamu salah orang.”Saat ini Anna bersama Calvin sedang duduk di sebuah café seusai pulang kerja. Sebenarnya Anna ada jadwal untuk jaga malam, namun dia memilih untuk menukar shift dengan perawat lainnya karena dia h

  • Antidote   Bab 51

    Anna berjalan menyusuri koridor rumah sakit, hingga pagi ini Victor tidak ada menghubunginya sama sekali, tidak seperti biasanya. Anna akhirnya memutuskan untuk menuju ruangan sang kekasih, menganggap semuanya baik-baik saja.Anna tersenyum sambil memegang sebuah kotak kecil terbungkus kado berisi jam tangan yang belum sempat diberikannya kepada Victor kemarin.Ketika dia akan mengetuk pintu ruangannya, tiba-tiba Anna mendengar suara Vino yang sedang berada di dalam.“Kemarin ada acara keluarga?” tanya Vino tenang. “Tumben nggak ajak Anna.”“Hmm.. ya sekali-kali mau khusus keluarga inti aja.” Victor menggidikkan bahunya.“Tapi kemarin aku sempat bertemu adik kamu, dia nggak ikutan?” suara halus penuh sindiran keluar dari mulut Vino.“Eng.. enggak, dia ada urusan sendiri.” Victor sedikit gelagapan dan Vino hanya mengangguk seakan mengerti.“Oh.. Kamu tau Anna sudah mereservasi tempat jauh-jauh hari untuk merayakan ulangtahunmu?”“Dia nggak ada bilang.”Vino tersenyum, “Di depan tadi ak

  • Antidote   Bab 50

    “Terima kasih Pak Calvin.” Anna melambaikan tangan ketika dia telah tiba di rumah dan Calvin yang membuntutinya di belakang mobilnya membuka kaca untuk berpamitan."Sama-sama. Kamu masuk aja dulu." ucap Calvin tersenyum. Anna pun mengangguk dan kemudian melangkah masuk.Wajah Anna kini tersenyum berseri, raut sedihnya seketika lenyap. Calvin memang seperti penawar rasa sedihnya. Hingga kini pria itu selalu bisa memperbaiki moodnya walau sering kali ucapannya nyelekit tapi masuk akal dan anehnya Anna tidak pernah tersinggung.Anna membuka pintu rumah, jam telah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, lampu ruang tengah telah dipadamkan. Sebelumnya Anna telah menyampaikan pada orangtuanya bahwa dia akan pulang malam. Mumpung besok dia tidak bertugas jaga, jadi gadis itu memutuskan untuk menikmati harinya daripada mengurung diri di kamar merenungi nasib.Usai membersihkan diri, gadis itu merebahkan diri di atas kasur. Diambilnya telpon genggam dari dalam tasnya untuk mengecek pesan dan t

  • Antidote   Bab 49

    Sudah lama Anna tidak melihat pria ini, pasien tertampannya yang pernah dirawatnya. Dan sialnya pria di hadapannya bahkan semakin tampan dan terlihat dewasa.Calvin mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada Anna setelah bersalaman dengan Vino. “Apa kabar, Sus?” Calvin tersenyum lebar.Anna menjabat tangannya dan tersenyum, “Baik, Pak Calvin.”“Ini anak dokter Vino?” Tanya Calvin menunjuk pada seorang gadis cantik yang bergelayut manja di pelukan Vino, “Hai, kamu cantik sekali.”Vino mengangguk kemudian memperkenalkan April dan Lala pada Calvin.“Pak Calvin sendirian?” Tanya Vino.“Enggak, tadi sama teman-teman kantor. Tapi udah bubaran.” Tunjuk Calvin ke arah meja panjang yang tadi dilihat Anna. Ternyata sedari tadi Calvin ada di sana tapi mereka saling tidak menyadari keberadaan masing-masing.Vino mengangguk, “Maaf Pak Calvin, saya harus balik sekarang soalnya Lala sudah mengantuk.” Ucapnya sambil membelai punggung sang putri.Calvin mengangguk, “Silahkan dok.”“Kapan-kapan main k

  • Antidote   Bab 48

    Anna duduk termenung seorang diri di sebuah café yang sebenarnya sudah direservasi untuk makan malam ulang tahun Victor. Anna bahkan sudah menabung berbulan-bulan dari gajinya untuk membelikan jam tangan keluaran terbaru sebagai kado sang kekasih. Namun sayangnya rencana yang sudah disusunnya sejak sebulan lalu menguap begitu saja.Cafe ini pun sudah direservasi sejak jauh-jauh hari karena seringnya masuk waiting list. Anna sekilas melihat di kejauhan sebuah meja panjang yang dipenuhi oleh pria dan wanita yang Anna yakini dari pakaiannya adalah para pekerja kantoran yang sedang menikmati akhir weekend mereka. Mungkin saja mereka sedang berhasil mendapatkan proyek besar hingga aura kebahagiaan begitu nyata terpancar. Suara tawa seringkali menggema di dalam ruangan tersebut.Anna terkejut ketika mendapati tetesan air mata yang tiba-tiba mengenai punggung tangannya. Gadis itu menarik nafas panjang, sedari tadi dia berusaha menahan rasa sedihnya. Andai saja dia bisa tertawa lepas seperti

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status