공유

Bab 3

작가: Nikhil
Amira Pangarep dan Maya Pangarep?

Keduanya sama-sama bermarga Pangarep. Hari ini, sepertinya aku benar-benar berjodoh dengan orang bermarga Pangarep.

Pikiran itu hanya sekilas terlintas di benakku, lalu pandanganku tertuju pada wanita di depanku. Aku memperhatikannya sebentar.

Inikah wanita yang sedang mencari menantu yang tinggal di rumahnya?

Sebenarnya sebelum datang ke sini, aku sempat membayangkan wanita yang mencari menantu pecundang mungkin jelek dan berkepribadian buruk. Namun, kenyataannya benar-benar berbeda dari bayanganku.

Dalam waktu singkat ini, aku justru bertemu dua wanita paling cantik yang pernah kulihat selama 18 tahun hidupku.

Amira ceria dan sedikit imut.

Sementara itu, wanita di depanku ini memancarkan pesona yang menggoda.

Maya mengenakan setelan formal yang rapi. Dari bawah rok, terlihat betis indah yang dibalut stoking hitam ketat dengan sepasang sepatu hak tinggi hitam.

Wajahnya benar-benar memikat. Bibir merah muda, mata yang cerah, dan kulit yang halus. Tidak ada satu pun kekurangan pada wanita ini. Dia bagaikan karya paling sempurna di dunia.

Namun di balik kerapian itu, ada aura tegas dan kuat. Benar-benar tipe wanita karier.

Saat melihat wanita ini, aku akhirnya mengerti alasan mantan-mantan suaminya bisa meninggal.

Maya jelas adalah wanita bertubuh tinggi dan berisi, dengan daya tarik menggoda yang terpancar kuat dari dirinya.

Bukan wanita yang bermasalah, tapi prianya saja yang tidak mampu.

Aku berjalan mendekat dengan sedikit gemetar.

"Duduk. Apa-apaan penampilanmu ini?" ucap Maya dengan nada dingin sambil mengetuk meja perlahan.

Aku pun duduk dengan agak canggung. Aku merasa agak heran, bagaimana dia bisa tahu aku adalah Ervin?

"Kamu sudah terlambat hampir satu jam," ucap wanita cantik itu dengan nada dingin sambil memelototiku. Jelas, dia tidak suka dengan orang yang tidak tepat waktu.

Aku merasa agak panik dalam hati. Aku buru-buru menjelaskan bahwa ini pertama kalinya aku datang ke kota dan tidak tahu jalan, makanya bisa terlambat. Untungnya dia tidak memperpanjang masalah tersebut.

"Kondisimu sudah kuselidiki kemarin. Namamu Ervin, umur 18 tahun, putus kuliah. Orang tuamu penjudi dan meninggalkan utang rentenir sebesar dua miliar. Sekarang, kamu pasti sudah nggak punya jalan keluar karena dikejar penagih. Benar, 'kan?"

Sambil berbicara, Maya meletakkan fotoku di atas meja.

Dalam semalam saja, semua tentang diriku sudah diselidiki dengan jelas. Di depan wanita ini, aku seperti tidak punya privasi sama sekali. Bahkan, aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan fotoku. Wanita ini ... benar-benar menakutkan.

"Kamu datang ke sini demi dua miliar itu, 'kan?" tanya Maya kepadaku.

Aku mengangguk dengan rasa terhina.

Di mata Maya, terlintas sedikit kesan meremehkan. Hampir semua orang yang datang melamar jadi menantu pecundang memang hanya demi uang.

"Ya sudah. Nggak ada orang lain di sini, jadi aku akan bicara langsung." Sambil mengetuk meja, Maya menatapku sambil berbicara dengan serius, "Kita buat kesepakatan."

"Kesepakatan?" Aku tertegun.

"Benar, kesepakatan. Lagian kamu memang datang demi dua miliar itu. Kalau kita bisa punya anak laki-laki, keluargaku akan memberimu dua miliar," jelas Maya.

Aku mengangguk. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada yang perlu disembunyikan.

"Tapi, sebenarnya uang itu nggak gampang didapat. Kamu juga nggak bisa menjamin akan punya anak laki-laki, 'kan?"

Itu benar. Anak laki-laki atau perempuan sepenuhnya tergantung keberuntungan.

Maya melanjutkan, "Jadi begini, kita buat kesepakatan. Kamu jadi suamiku cuma secara nama, tapi sama sekali nggak boleh menyentuhku."

Apa?

Aku benar-benar tidak mengerti maksud Maya dalam sekejap.

Maya menatapku dengan sedikit jijik, lalu menjelaskan, "Intinya, kita cuma pasangan secara status, tapi nggak benar-benar seperti suami istri. Aku nggak akan membiarkan orang sepertimu menyentuhku."

"Hanya saja kalau begitu, gimana kita bisa punya anak?" Aku membelalakkan mata.

Raut wajah Maya makin muram. "Nggak perlu punya anak. Kamu cuma perlu jadi suamiku secara status saja."

"Kalau begitu, uangnya gimana?" tanyaku secara lugas.

Aku datang demi uang. Menikah memang belum tentu punya anak laki-laki, tapi setidaknya masih ada setengah peluang. Namun kalau hanya status tanpa hubungan, bahkan peluang itu pun tidak ada. Lantas, bagaimana aku bisa melunasi utang rentenir?

Mungkin karena aku terlalu jelas dalam menunjukkan keinginanku terhadap uang, Maya makin meremehkanku.

Tatapannya seperti sedang melihat sampah.

Akan tetapi, Maya tetap melanjutkan, "Soal uang, kamu nggak perlu khawatir. Setiap bulan aku akan memberimu 20 juta. Itu lebih besar dari gaji kerja biasa."

Uang 20 juta ya? Gaji segini memang tidak sedikit, tapi dibandingkan dengan utang berbunga tinggi yang kupikul, tetap saja seperti setetes air di lautan. Jauh dari cukup.

Maya menambahkan, "Tentu saja bukan cuma itu. Kalau kamu bisa menyembunyikan hal ini selama setengah tahun, aku kasih bonus 200 juta. Kalau satu tahun, 400 juta. Kalau dua tahun, aku akan melunasi semua utangmu. Gimana?"

Gluk .... Jakunku bergerak sedikit. Aku menelan air liur.

Ini benar-benar tawaran yang sangat menggiurkan.

Sepertinya Maya sangat membenci pria. Dia tidak ingin menikah sungguhan dan tidak ingin disentuh. Itu sebabnya, dia memilih membuat kesepakatan denganku.

"Kamu sangat membenci pria?" tanyaku.

Maya mendengus dingin. "Tentu saja. Nggak ada pria yang baik."

Jelas, Maya benar-benar membenci pria. Aku hanya bisa tersenyum pahit.

"Jadi, kamu setuju? Sebenarnya, kamu nggak punya pilihan. Kalau nggak setuju, kamu boleh pergi sekarang. Tapi setelah itu, kamu harus menghadapi penagih utang. Kamu pasti tahu akibatnya," ucap Maya sambil tersenyum dingin dan menyesap koktailnya. Dia tidak khawatir aku akan menolak.

Semua tentang diriku sudah Maya ketahui.

"Memangnya aku punya pilihan?" Aku bersandar di kursi sambil membalas dengan lemas.

Uang memang bukan segalanya, tapi tanpa uang tidak bisa hidup. Sekarang, aku benar-benar mengerti kalimat itu.

"Aku pulang dulu untuk ambil barang ..." ucapku sambil berdiri.

"Nggak perlu. Nggak ada yang berharga di rumahmu. Begini saja," balas Maya sambil berdiri dan memanggil pelayan untuk membayar.

Aku melirik tagihannya. Totalnya jutaan. Padahal, hanya satu gelas koktail ....

Setelah membayar, Maya langsung berjalan keluar. Sementara itu, aku mengikuti di belakang.

Maya datang dengan mobil. Saat mobil mewah itu muncul di depanku, hatiku terasa sedikit bergetar.

Aku mengenali mobil ini. Ada patung malaikat di bagian depannya. Ini adalah mobil mewah dengan harga miliaran.

"Masuklah." Maya menurunkan jendela dan menyuruhku duduk di belakang. Bahkan rasanya, kalau tidak dianggap keterlaluan, mungkin dia akan menyuruhku duduk di bagasi saja.

Ini pertama kalinya aku naik mobil semewah ini. Biasanya, aku hanya berjalan kaki. Rasanya benar-benar berbeda, seperti aku menjadi orang penting.

Mobil itu berkelok-kelok di kota, lalu berhenti di sebuah kawasan vila mewah di pusat kota.

Kalau tidak salah, harga rumah di kota ini rata-rata lebih dari 40 juta per meter. Di pusat kota bahkan bisa lebih dari 100 juta. Di tempat seperti ini, ada vila tiga lantai .... Sebenarnya, sekaya apa keluarga ini?

Luas satu lantai saja mungkin 400 sampai 500 meter, bahkan masih ada taman .... Rumah seperti ini pasti lebih dari 40 miliar, 'kan?

Setelah parkir, Maya memanggilku, "Ayo, masuk dan temui ibuku. Bersikap yang baik. Jangan bikin aku malu."

Aku merasa telapak tanganku sudah berkeringat. Aku hanya bisa mengangguk kaku. Menurutku, ibunya pasti tipe orang yang sulit didekati.

Maya membawaku masuk, lalu mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Begitu melihat ke dalam, ruang tamunya luas dengan sofa mewah. Di atas sofa itu, hanya ada satu orang yang duduk diam sambil menonton televisi.

Wanita itu terlihat seperti berusia sekitar 30 tahunan. Kulitnya halus dan kesannya anggun. Wajahnya sedikit mirip dengan Maya. Dia memakai gaun hitam tipis yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sempurna.

Wanita ini seharusnya adalah kakaknya Maya, 'kan?

Mengingat Maya menyuruhku bersikap baik, aku pun mencoba sopan. "Um. Ha ... halo, aku Ervin. Kamu kakaknya Maya ya?"

Kakak?

Wanita itu jelas sempat tertegun sejenak, lalu dia menutup mulutnya sambil tertawa manja. Tubuhnya sampai bergetar karena tawa.

Maya yang berada di sampingku menatapku kesal. "Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Cepat panggil Ibu!"

Ibu? Aku langsung kaget. Serius? Padahal, usia mereka tidak terlihat jauh berbeda.

"Hehe. Anak muda ini pandai bicara. Apa aku terlihat semuda itu?" ucap ibu Maya sambil tersenyum ke arahku.

Aku menggaruk kepala karena merasa sangat malu. "Um. Aku benar-benar mengira kalian kakak adik."

"Mulutmu manis." Wanita itu tersenyum. Pujian yang bukan sekadar basa-basi itu membuatnya merasa senang. Memang benar, tidak ada wanita yang suka dibilang tua.

"Oh ya, Bu. Mana Amira?" tanya Maya tiba-tiba. "Katanya ada teman yang mencarinya, jadi dia nggak ikut denganku. Dia sudah pulang belum?"

"Sudah. Lagi mandi di atas," jawab ibunya santai.

Amira?

Kenapa nama itu terasa familier? Aku sepertinya pernah mendengarnya di suatu tempat.

Saat aku masih berdiri bengong, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Tanpa sadar aku mendongak dan melihat seorang wanita bertubuh ramping turun dari tangga. Dia mengenakan piama putih tipis seperti sutra dan terlihat seperti malaikat. Sepertinya, dia baru saja selesai mandi. Di tangannya, ada handuk putih bersih yang sedang dipakainya untuk mengeringkan rambut panjangnya yang masih basah.

"Kak, sudah bawa calon suamimu? Biar kulihat dulu seperti apa," kata wanita itu sambil menoleh ke arahku.

Tatapan kami pun bertemu pada saat itu.

Dalam sekejap, tubuhku langsung kaku.

Di sisi lain, wanita itu juga terpaku di tempat. Handuk di tangannya jatuh ke tangga.

"Ternyata kamu?"

"Amira?"
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Aroma Sang Jelita   Bab 50

    Harga diriku yang rapuh seperti dilempar ke tanah, lalu diinjak-injak tanpa ampun.Sebelumnya meskipun Gita meremehkanku, mengabaikanku, bahkan meludah ke arahku, aku tidak pernah semarah ini.Di dalam hatiku, terasa seperti ada bagian yang kosong dan dingin sekali.Aku bahkan sempat punya dorongan untuk mengangkat tangan dan menampar Gita.Namun, pada akhirnya aku tidak melakukannya. Kepalan tanganku yang erat perlahan terlepas dengan lemah.Akhirnya, aku benar-benar menyadari seperti apa diriku sekarang.Lucu sekali.Benar juga, aku memang seperti anjing.Seekor anjing terlantar, anjing yang demi membayar utang sampai harus menjilat dan merendahkan diri.Aku adalah suami Maya dan Maya adalah istriku. Akan tetapi, semua itu hanya penyamaran palsu.Sejak kapan di dalam hatiku, aku mulai menganggap itu semua benar? Bahkan, aku sempat menganggap tempat itu sebagai rumahku?Di rumah itu, aku punya seorang istri yang cantik, adik ipar yang menggoda, ibu mertua yang anggun, dan seorang putr

  • Aroma Sang Jelita   Bab 49

    Dalam sekejap, banyak sekali pikiran melintas di kepalaku. Tidak mungkin aku bilang bahwa aku ini ayah tiri Gita, 'kan?"Paman. Aku ini pamannya Gita." Aku sembarangan mencari alasan.Akan tetapi, alasan itu jelas membuat Selena agak sulit percaya."Ya, benar. Aku satu generasi dengan ibunya Gita," ucap santai. Setelah itu aku melambaikan tangan, lalu buru-buru berlari ke bawah.Sejujurnya kalau dari sudut pandang pribadiku, aku sebenarnya tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Gita.Apa pun yang terjadi padanya, sebenarnya itu tidak ada hubungannya denganku.Bagaimanapun, sifat gadis itu memang terlalu buruk. Mungkin mengalami sedikit kesulitan justru ada manfaatnya.Namun kalau aku sudah tahu dia mungkin akan berada dalam bahaya, lalu tetap diam saja, aku tidak akan bisa mempertanggungjawabkannya kepada Maya dan Amira.Gita adalah keluarga mereka. Kalau benar dia sampai disakiti oleh orang-orang itu, baik Maya maupun Amira pasti akan sangat terpukul. Itu adalah hal yang sama

  • Aroma Sang Jelita   Bab 48

    Suara Lionel terdengar dingin dan menyeramkan, sampai membuatku merinding.Orang ini benar-benar bajingan sejati. Bahkan, pacarnya sendiri pun bisa dia jual begitu saja?Dulu aku memang pernah hidup sebagai berandalan dan sudah banyak melihat orang jahat.Namun, orang seperti ini yang bahkan tega mengorbankan pacarnya sendiri, jarang sekali kutemui.Bukan cuma aku, bahkan teman-teman Lionel yang berada di sebelahnya pun terlihat seperti baru mengenalnya."Eh Lionel, Gita itu pacarmu, 'kan? Kamu tega?" tanya pria bernama Fredy itu.Lionel hanya mendengus meremehkan. "Kenapa nggak tega?""Teman itu seperti tangan dan kaki, kalau wanita itu seperti baju. Cuma baju doang, kenapa harus merasa nggak tega?" ucap Lionel dengan nada kesal."Lagian, Gita itu sepertinya punya hubungan yang nggak jelas dengan Ervin. Bisa saja dulu mereka punya hubungan gelap.""Berarti aku sama saja sudah diselingkuhi, 'kan? Sialan ....""Apalagi walaupun dia pacarku sekarang, siapa tahu nanti dia jadi istri orang

  • Aroma Sang Jelita   Bab 47

    Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki.Gerakan yang terasa familier itu membuat raut wajahku langsung berubah.Sial. Jangan-jangan aku benar-benar sedang dijebak?Dulu waktu di kampus lama, cara menjebak orang juga seperti ini. Menunggu saat target masuk toilet, lalu diam-diam masuk dari belakang, mengunci pintu, dan menghajarnya di dalam.Hal seperti itu juga bukan sekali dua kali aku lakukan.Sialan. Benar-benar apes.Dalam situasi seperti ini, jelas sulit untuk bertarung dengan maksimal. Apa perlu menyerang dengan kotoran? Memang agak menjijikkan, tapi mungkin cukup efektif.Pikiranku berputar cepat.Namun tidak lama kemudian, aku sadar aku terlalu khawatir. Orang-orang ini sepertinya bukan datang untuk menjebakku.Terdengar suara korek api dinyalakan, lalu bau asap rokok mulai menyebar di dalam toilet.Sepertinya cuma sekelompok berandalan yang masuk untuk merokok.Aku pun sedikit tenang.Saat itu, mereka mulai berbicara."Sialan! Hari ini benar-benar memalukan." Terdenga

  • Aroma Sang Jelita   Bab 46

    "Aku tunggu kalian di toilet. Kalau kalian punya nyali, datang saja. Kita selesaikan baik-baik di sana!"Sambil menggenggam tongkat bisbol di tanganku, aku menunjuk ke tiga berandalan itu dan berkata dengan nada dingin, "Lawan empat sekaligus pun aku nggak takut."Apa itu namanya sombong? Ini baru namanya sombong.Ujung tongkat bisbol itu hampir menyentuh hidung salah satu dari mereka.Meski berhadapan dengan tiga berandalan itu, ditambah satu yang sudah tergeletak di lantai, aku sama sekali tidak merasa takut.Sebaliknya, tiga orang di depanku itu justru merasa punggung mereka basah oleh keringat, sampai-sampai baju mereka hampir basah kuyup.Mereka memang sangat sial. Awalnya, mereka datang karena mendapat telepon dari Lionel. Katanya, dia dihajar.Empat orang ini pun datang untuk membela. Mereka mengira ini cuma urusan sepele yang bisa diselesaikan dengan mudah. Siapa sangka aku malah seganas itu. Baru muncul sudah bawa tongkat bisbol dan siap berkelahi?Ini jelas bukan lelucon.Kal

  • Aroma Sang Jelita   Bab 45

    Sementara itu, saat mendengar kata-kata tersebut, Selena yang berada di belakang sedikit menunduk. Sekilas terlihat rasa sakit di wajahnya."Cuih! Cuma wanita murahan doang. Kalau aku mau pukul dia, ya tinggal pukul saja. Memangnya kamu bisa apa ...." Si rambut pirang itu masih terus berteriak dengan gaya sombong.Akan tetapi, dia sama sekali tidak menyadari bahwa amarah di mataku makin membara.Belum sempat si rambut pirang menyelesaikan ucapannya, aku sudah tidak sanggup menahan kemarahan. Tiba-tiba aku melangkah maju dan langsung mencengkeram lehernya, lalu tubuhnya kubanting ke atas meja dosen dengan satu putaran tangan. Suara keras pun terdengar.Wajahnya menghantam meja lebih dulu, sementara hidungnya langsung mengeluarkan darah tanpa bisa ditahan.Kemudian, aku memutar tubuh, mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi, dan menghantamkan siku ke punggungnya.Duk!Suara benturan itu membuat banyak orang terkejut.Serangan itu sangat keras. Siku memang salah satu bagian tubuh yang palin

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status