로그인Harga diriku yang rapuh seperti dilempar ke tanah, lalu diinjak-injak tanpa ampun.Sebelumnya meskipun Gita meremehkanku, mengabaikanku, bahkan meludah ke arahku, aku tidak pernah semarah ini.Di dalam hatiku, terasa seperti ada bagian yang kosong dan dingin sekali.Aku bahkan sempat punya dorongan untuk mengangkat tangan dan menampar Gita.Namun, pada akhirnya aku tidak melakukannya. Kepalan tanganku yang erat perlahan terlepas dengan lemah.Akhirnya, aku benar-benar menyadari seperti apa diriku sekarang.Lucu sekali.Benar juga, aku memang seperti anjing.Seekor anjing terlantar, anjing yang demi membayar utang sampai harus menjilat dan merendahkan diri.Aku adalah suami Maya dan Maya adalah istriku. Akan tetapi, semua itu hanya penyamaran palsu.Sejak kapan di dalam hatiku, aku mulai menganggap itu semua benar? Bahkan, aku sempat menganggap tempat itu sebagai rumahku?Di rumah itu, aku punya seorang istri yang cantik, adik ipar yang menggoda, ibu mertua yang anggun, dan seorang putr
Dalam sekejap, banyak sekali pikiran melintas di kepalaku. Tidak mungkin aku bilang bahwa aku ini ayah tiri Gita, 'kan?"Paman. Aku ini pamannya Gita." Aku sembarangan mencari alasan.Akan tetapi, alasan itu jelas membuat Selena agak sulit percaya."Ya, benar. Aku satu generasi dengan ibunya Gita," ucap santai. Setelah itu aku melambaikan tangan, lalu buru-buru berlari ke bawah.Sejujurnya kalau dari sudut pandang pribadiku, aku sebenarnya tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Gita.Apa pun yang terjadi padanya, sebenarnya itu tidak ada hubungannya denganku.Bagaimanapun, sifat gadis itu memang terlalu buruk. Mungkin mengalami sedikit kesulitan justru ada manfaatnya.Namun kalau aku sudah tahu dia mungkin akan berada dalam bahaya, lalu tetap diam saja, aku tidak akan bisa mempertanggungjawabkannya kepada Maya dan Amira.Gita adalah keluarga mereka. Kalau benar dia sampai disakiti oleh orang-orang itu, baik Maya maupun Amira pasti akan sangat terpukul. Itu adalah hal yang sama
Suara Lionel terdengar dingin dan menyeramkan, sampai membuatku merinding.Orang ini benar-benar bajingan sejati. Bahkan, pacarnya sendiri pun bisa dia jual begitu saja?Dulu aku memang pernah hidup sebagai berandalan dan sudah banyak melihat orang jahat.Namun, orang seperti ini yang bahkan tega mengorbankan pacarnya sendiri, jarang sekali kutemui.Bukan cuma aku, bahkan teman-teman Lionel yang berada di sebelahnya pun terlihat seperti baru mengenalnya."Eh Lionel, Gita itu pacarmu, 'kan? Kamu tega?" tanya pria bernama Fredy itu.Lionel hanya mendengus meremehkan. "Kenapa nggak tega?""Teman itu seperti tangan dan kaki, kalau wanita itu seperti baju. Cuma baju doang, kenapa harus merasa nggak tega?" ucap Lionel dengan nada kesal."Lagian, Gita itu sepertinya punya hubungan yang nggak jelas dengan Ervin. Bisa saja dulu mereka punya hubungan gelap.""Berarti aku sama saja sudah diselingkuhi, 'kan? Sialan ....""Apalagi walaupun dia pacarku sekarang, siapa tahu nanti dia jadi istri orang
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki.Gerakan yang terasa familier itu membuat raut wajahku langsung berubah.Sial. Jangan-jangan aku benar-benar sedang dijebak?Dulu waktu di kampus lama, cara menjebak orang juga seperti ini. Menunggu saat target masuk toilet, lalu diam-diam masuk dari belakang, mengunci pintu, dan menghajarnya di dalam.Hal seperti itu juga bukan sekali dua kali aku lakukan.Sialan. Benar-benar apes.Dalam situasi seperti ini, jelas sulit untuk bertarung dengan maksimal. Apa perlu menyerang dengan kotoran? Memang agak menjijikkan, tapi mungkin cukup efektif.Pikiranku berputar cepat.Namun tidak lama kemudian, aku sadar aku terlalu khawatir. Orang-orang ini sepertinya bukan datang untuk menjebakku.Terdengar suara korek api dinyalakan, lalu bau asap rokok mulai menyebar di dalam toilet.Sepertinya cuma sekelompok berandalan yang masuk untuk merokok.Aku pun sedikit tenang.Saat itu, mereka mulai berbicara."Sialan! Hari ini benar-benar memalukan." Terdenga
"Aku tunggu kalian di toilet. Kalau kalian punya nyali, datang saja. Kita selesaikan baik-baik di sana!"Sambil menggenggam tongkat bisbol di tanganku, aku menunjuk ke tiga berandalan itu dan berkata dengan nada dingin, "Lawan empat sekaligus pun aku nggak takut."Apa itu namanya sombong? Ini baru namanya sombong.Ujung tongkat bisbol itu hampir menyentuh hidung salah satu dari mereka.Meski berhadapan dengan tiga berandalan itu, ditambah satu yang sudah tergeletak di lantai, aku sama sekali tidak merasa takut.Sebaliknya, tiga orang di depanku itu justru merasa punggung mereka basah oleh keringat, sampai-sampai baju mereka hampir basah kuyup.Mereka memang sangat sial. Awalnya, mereka datang karena mendapat telepon dari Lionel. Katanya, dia dihajar.Empat orang ini pun datang untuk membela. Mereka mengira ini cuma urusan sepele yang bisa diselesaikan dengan mudah. Siapa sangka aku malah seganas itu. Baru muncul sudah bawa tongkat bisbol dan siap berkelahi?Ini jelas bukan lelucon.Kal
Sementara itu, saat mendengar kata-kata tersebut, Selena yang berada di belakang sedikit menunduk. Sekilas terlihat rasa sakit di wajahnya."Cuih! Cuma wanita murahan doang. Kalau aku mau pukul dia, ya tinggal pukul saja. Memangnya kamu bisa apa ...." Si rambut pirang itu masih terus berteriak dengan gaya sombong.Akan tetapi, dia sama sekali tidak menyadari bahwa amarah di mataku makin membara.Belum sempat si rambut pirang menyelesaikan ucapannya, aku sudah tidak sanggup menahan kemarahan. Tiba-tiba aku melangkah maju dan langsung mencengkeram lehernya, lalu tubuhnya kubanting ke atas meja dosen dengan satu putaran tangan. Suara keras pun terdengar.Wajahnya menghantam meja lebih dulu, sementara hidungnya langsung mengeluarkan darah tanpa bisa ditahan.Kemudian, aku memutar tubuh, mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi, dan menghantamkan siku ke punggungnya.Duk!Suara benturan itu membuat banyak orang terkejut.Serangan itu sangat keras. Siku memang salah satu bagian tubuh yang palin







