공유

Bab 2

작가: Nikhil
"Pfft ...."

Aku hampir saja menyembur. Aku menatap wanita cantik di depanku dengan tercengang. Aku bahkan ragu apakah aku salah dengar. Apa yang baru saja dia katakan?

Apa-apaan ini? Apakah wanita di kota besar memang begitu berani? Diselamatkan, lalu langsung menawarkan diri?

Pikiranku dipenuhi berbagai hal yang kacau. Aku benar-benar terpaku dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Yang paling penting, ini masih di toilet wanita. Melakukan hal seperti itu di sini, apakah benar-benar tidak masalah?

Wanita itu sepertinya juga merasa tempat ini agak tidak tepat. Dia langsung menarik tanganku dan membuka pintu salah satu bilik toilet, lalu menyeretku masuk dan menekanku ke tubuhnya.

Kulit tubuh wanita itu terasa sangat lembut dan bahkan kenyal. Kalau dicium, ada aroma samar yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Melihat aku masih terpaku, wanita itu sedikit mengernyit, lalu malah berbalik menghadap dinding.

"Ayo!"

Aku masih bingung dan tidak tahu harus bagaimana.

"Kenapa diam saja? Ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menolongku," ucap wanita itu sambil berbalik menatapku. Kemudian, dia menggumamkan sesuatu seperti lebih baik menyerahkan diri ke orang asing daripada ke bajingan-bajingan itu.

Bagian terakhir tidak terlalu jelas kudengar.

Melihat aku tetap tidak bergerak, wanita itu mendesak lagi, "Hei, kamu ini pria atau bukan? Begini saja nggak berani?"

Wah, ucapan seperti itu tentu tidak bisa dibiarkan. Aku pria atau bukan? Sudah jelas aku ini pria! Jangan kira reputasiku yang bisa menguasai satu jalanan penuh wanita itu cuma omong kosong belaka!

Lagi pula dalam situasi seperti ini, kalau aku masih bisa menahan diri, berarti aku memang bukan pria.

....

Wanita itu bahkan lebih berani dari yang kubayangkan.

Tiba-tiba, sebuah nada dering ponsel yang tidak pada waktunya terdengar. Bukan ponselku, melainkan ponsel wanita itu.

Wanita itu juga terkejut. Dia mungkin tidak menyangka akan ada telepon pada saat seperti ini. Dia pun menoleh ke arahku, lalu memberi isyarat agar aku tidak bersuara.

Aku mengangguk sebagai tanda mengerti. Wanita itu lalu mengambil ponselnya dan menekan tombol untuk menerima panggilan.

"Halo, Kak ...." Ternyata itu telepon dari kakaknya.

"Kamu lagi apa? Ibu bilang malam ini kamu harus ikut denganku, kenapa masih belum datang juga?" Suara wanita di ujung sana terdengar agak kesal.

"Aku .... Tiba-tiba, ada teman yang mencariku .... Aaargh ...." Wanita itu tiba-tiba berseru, lalu menatapku tajam.

Aku hanya bisa memasang raut wajah polos.

"Amira, kamu kenapa? Ada apa?" Wanita di seberang telepon jelas mendengar suara tadi. Berhubung khawatir adiknya dalam bahaya, dia langsung melontarkan pertanyaan dengan panik.

"A ... aku nggak apa-apa, tadi nggak sengaja tersandung. Nggak apa-apa kok. Aku nggak akan datang malam ini. Sudah ya, aku tutup." Kemudian, wanita itu langsung menutup telepon. Kemudian, dia menoleh padaku dengan kesal dan mencubit lenganku kuat-kuat sampai aku meringis. "Kamu ternyata nakal juga. Sengaja mau bikin aku malu ya?"

"Mana ada?" balasku dengan polos.111

Wanita itu memelotot, lalu bergumam, "Cepat, aku masih harus segera pulang."

....

"Bajuku jadi kotor gara-gara kamu," gerutu wanita itu perlahan.

Dia pun merapikan pakaiannya. Walaupun sudah robek, itu masih bisa dipakai.

"Selamat tinggal. Mungkin kita nggak akan pernah bertemu lagi." Usai berkata demikian, wanita itu melambaikan tangan ke arahku, lalu diam-diam berjalan keluar seperti pencuri.

"Hei, siapa namamu?" Aku buru-buru memanggil wanita itu dan bertanya demikian.

Padahal sudah terjadi sesuatu di antara kami. Aku tidak mau sampai bahkan namanya pun aku tidak tahu.

Wanita itu berhenti. Setelah ragu-ragu sejenak, dia akhirnya memberi tahu, "Namaku Amira Pangarep ...."

"Um ...."

"Kenapa? Kalau kamu mau melanjutkan hubungan ini, maaf itu nggak mungkin. Tadi itu cuma cinta satu malam. Kita nggak mungkin jadian," ucap wanita itu sambil menggigit bibir.

"Bukan, aku cuma mau tanya arah. Bar Dayroz di mana ya?" tanyaku sambil berkedip.

Wanita itu langsung terdiam dan wajahnya sontak memerah.

Tadinya, dia mengira aku ingin melanjutkan hubungan. Ternyata, aku cuma menanyakan arah. Bukannya itu berarti dia sudah berpikir terlalu banyak? Rasanya pasti sangat memalukan.

"Ini sudah di Bar Dayroz. Kamu tadi masuk dari pintu belakang. Dasar bodoh ..." katanya sambil menjulurkan lidah dan membuat ekspresi jahil, lalu pergi begitu saja.

Bagaikan angin, apa yang terjadi tadi terasa seperti mimpi.

Semuanya seperti tidak nyata.

Sampai wanita itu berjalan terpincang-pincang dan menghilang dari hadapanku, aku masih belum bisa kembali sadar sepenuhnya.

Angin dingin berembus dan membuat tubuhku sedikit gemetar. Aku baru sadar bahwa pakaianku masih berantakan, bahkan ada beberapa bekas lipstik. Ini di toilet wanita. Jangan sampai orang lain mengira aku ini pria mesum.

Saat terburu-buru merapikan pakaian dan hendak keluar, aku baru sadar ada noda darah di pakaianku. Itu jelas bukan darahku.

Astaga!

Jangan-jangan, tadi itu pertama kalinya dia?

Baru pertama kali tapi sudah seberani itu. Terlalu tidak masuk akal, 'kan?

Aku segera merapikan pakaian, lalu diam-diam keluar dari toilet wanita. Ternyata ini memang Bar Dayroz. Hanya saja, aku tadi masuk dari pintu belakang.

Setelah melewati sebuah lorong, aku sampai ke bagian depan bar. Berbeda dengan bar-bar yang pernah kukunjungi yang biasanya ramai dan bising, tempat ini justru tenang dan santai dengan alunan musik lembut yang mengalir di udara.

Ada sedikit rasa kesal di dalam hatiku. Jelas, aku sudah terlambat. Wanita itu sebelumnya bilang tidak akan menunggu kalau aku terlambat. Sekarang, dia pasti sudah pergi.

Aku agak menyesal. Demi kesenangan sesaat, aku malah melupakan tujuan datang ke sini.

Saat aku hendak pergi dengan perasaan kecewa, tiba-tiba seseorang memanggil di belakangku. "Ervin?"

Aku pun refleks menoleh. Ternyata di dekat jendela, ada seorang wanita berpostur tinggi dengan setelan formal yang terlihat seksi sedang melambaikan tangan untuk memanggilku.

Apakah ini wanita yang mencari Menantu yang tinggal di rumahnya?

"Kemari. Nggak salah lagi, memang kamu yang aku cari. Namaku Maya Pangarep," kata wanita itu dengan tenang setelah menatapku sekilas.

Maya Pangarep? Kebetulan sekali, marganya sama dengan wanita yang tadi!
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Aroma Sang Jelita   Bab 100

    Pelacur? Perempuan yang bisa ditiduri siapa saja?Kata-kata penuh hinaan seperti itu membuat wajahku langsung menjadi suram.Meskipun hinaan itu bukan ditujukan kepadaku, penghinaan terhadap Selena tetap membuat hatiku terasa tidak nyaman.Kenapa bisa begitu?Itu jelas tidak mungkin.Selena bukan gadis seperti itu.Aku memang belum lama mengenal Selena, mungkin juga aku belum terlalu memahami dirinya. Namun, naluriku mengatakan bahwa Selena bukan perempuan yang bisa disentuh siapa saja.Sebaliknya, bagiku Selena memberikan perasaan yang sangat murni, semurni kelopak bunga yang melayang tertiup angin.Kadang-kadang aku bisa melihat ekspresi kehilangan dan kesepian di wajah Selena, bahkan sedikit kemurungan.Kalau benar dia tipe perempuan yang sama sekali tidak peduli soal hal-hal seperti itu, seharusnya dia tidak mungkin menunjukkan ekspresi seperti itu, 'kan?Masalah ini akan kuingat dalam hati. Setelah kembali ke kampus, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya aku

  • Aroma Sang Jelita   Bab 99

    Buset, memang tidak heran perempuan ya. Dalam hal seperti ini benar-benar memikirkan jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Hanya saja, meskipun nanti saat tua bisa kendur, kalau bahkan kesempatan untuk kendur saja tidak punya, bukankah itu malah lebih menyedihkan?Tentu saja, semua itu hanya kupikirkan dalam hati, jelas tidak mungkin kuucapkan. Aku masih belum ingin mati.Setelah jeda sesaat, Gita melanjutkan, "Seksi, cantik, nilai bagus. Harusnya dia tipe perempuan sempurna. Meskipun gadis seperti itu biasanya membuat perempuan lain iri, mereka biasanya juga nggak akan menunjukkannya secara terang-terangan. Apalagi laki-laki, pasti seperti lalat yang terus mengerubungi Selena.""Tapi reputasi Selena justru sangat buruk. Bahkan di seluruh kampus, mungkin nggak ada satu orang pun yang benar-benar akrab dengannya, baik laki-laki maupun perempuan.""Kenapa?""Karena jumlah pacarnya terlalu banyak.""Saking banyaknya, bahkan Selena sendiri juga mungkin nggak tahu sudah berapa.""Pada dasa

  • Aroma Sang Jelita   Bab 98

    Bersihkan leher mereka dan tunggu aku!Suara serak itu terdengar sangat dingin. Di mataku yang sedikit memerah bahkan terpancar sesuatu yang bisa disebut niat membunuh.Kali ini, aku benar-benar marah.Aku jelas bukan orang suci. Hal seperti membalas kebencian dengan kebaikan tidak mungkin terjadi padaku. Aku ini pendendam dan orang pendendam selalu membalas setiap dendam mereka, tidak peduli sekecil apa pun.Kalau sudah berani menyinggungku, bersiaplah menerima balasan seratus kali lipat. Aku akan membuat Lionel dan para idiot itu menyesal karena berani melawanku.Bahkan wajah Tandi langsung sedikit pucat melihat penampilanku. Meskipun niat membunuh itu bukan ditujukan padanya, dia tetap tak bisa menahan tubuhnya yang langsung gemetar, bahkan bulu kuduknya berdiri semua.Dia tersenyum kaku padaku, lalu meninggalkan ruang rawat bersama Nindy dan Selena. Sebelum pergi, Selena bahkan diam-diam melambaikan tangan padaku sebagai salam perpisahan.Namun, gerakan itu langsung tertangkap oleh

  • Aroma Sang Jelita   Bab 97

    "Sudah jauh lebih baik ....""Dengar tuh, dia sudah jauh lebih baik. Kalau kalian nggak ada urusan lain, cepat pergi saja." Gita terus melambaikan tangan kecilnya sambil berkata tidak sabar.Sikap itu terlihat sangat tidak sopan, seolah-olah dia sangat memusuhi orang-orang di depannya. Lebih tepatnya, dia sangat memusuhi Selena.Sebaliknya, setelah mendengar perkataan itu, Nindy langsung menghela napas lega. Dia terlihat sangat senang. Gadis itu bahkan tidak berani menatapku secara langsung. Tatapannya kepadaku selalu dipenuhi rasa takut.Mereka sudah jauh-jauh datang kemari, kalau langsung disuruh pergi memang rasanya tidak enak. Jadi, aku mengundang mereka masuk dan duduk sebentar. Mendengar itu, wajah Nindy langsung murung.Setelah duduk, Selena mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari tas ranselnya dan bersiap menyerahkannya kepadaku."Kamu nggak masuk kelas, aku takut kamu ketinggalan pelajaran. Jadi aku rapikan catatan kelas ini untuk kamu. Kamu ....""Nggak perlu. Pelajarannya

  • Aroma Sang Jelita   Bab 96

    Setelah kejadian kali ini, jarak antara aku dan Gita juga sudah menghilang, hubungan kami berkembang pesat. Bagiku, Gita benar-benar sudah seperti keluargaku sendiri dan aku sama sekali tidak akan membiarkan Gita berada dalam bahaya.Kalau Lionel dan kelompoknya benar-benar berani datang mencari masalah, bahkan kalau harus mempertaruhkan segalanya, aku akan menghantamkan teko air panas di tanganku ini ke kepala mereka.Air di dalam teko ini baru saja direbus oleh Gita. Kalau benar-benar terkena, mungkin wajah orang itu akan langsung matang.Dengan wajah garang, aku langsung membuka pintu dan bergegas keluar.Namun, begitu sampai di luar, ekspresiku langsung berubah aneh.Situasinya ternyata sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Kukira yang bertengkar dengan Gita adalah Lionel dan teman-temannya, tetapi setelah diperhatikan baik-baik, ternyata sama sekali bukan.Yang berdiri di depan Gita adalah tiga orang mahasiswa dan mereka terlihat cukup familier. Sepertinya mereka adalah teman sek

  • Aroma Sang Jelita   Bab 95

    Aku menatap punggung Amira yang semakin menjauh. Meskipun merasa agak memalukan, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya."Oh ya, Amira ... kakakmu mana?" Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung ingin menampar diriku sendiri. Ini sebenarnya apa sih?Siapa sangka setelah mendengar pertanyaanku, wajah Amira tiba-tiba membeku sesaat. Setelah tertawa kaku sebentar, tatapannya tanpa sadar menghindariku."Kamu juga tahu sendiri 'kan ... Kakak itu ketua yayasan, jadi pekerjaannya sangat sibuk. Dia harus pergi lebih awal.""Tapi Kakak juga menyuruhku bilang ke kamu supaya kamu istirahat yang baik. Soal lain nggak perlu khawatir, dia bilang semuanya akan dia urus." Amira berbicara dengan cepat."Sudah siang, aku harus pergi dulu. Nanti sore aku datang lagi." Setelah melambaikan tangan kepadaku, Amira pun meninggalkan ruang rawat. Aku pun tidak terlalu memikirkannya.Setelah adik iparku pergi, di ruang rawat hanya tinggal aku dan Gita.Aku melirik Gita. Mungkin karena kejadian tadi, d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status