로그인Pelacur? Perempuan yang bisa ditiduri siapa saja?Kata-kata penuh hinaan seperti itu membuat wajahku langsung menjadi suram.Meskipun hinaan itu bukan ditujukan kepadaku, penghinaan terhadap Selena tetap membuat hatiku terasa tidak nyaman.Kenapa bisa begitu?Itu jelas tidak mungkin.Selena bukan gadis seperti itu.Aku memang belum lama mengenal Selena, mungkin juga aku belum terlalu memahami dirinya. Namun, naluriku mengatakan bahwa Selena bukan perempuan yang bisa disentuh siapa saja.Sebaliknya, bagiku Selena memberikan perasaan yang sangat murni, semurni kelopak bunga yang melayang tertiup angin.Kadang-kadang aku bisa melihat ekspresi kehilangan dan kesepian di wajah Selena, bahkan sedikit kemurungan.Kalau benar dia tipe perempuan yang sama sekali tidak peduli soal hal-hal seperti itu, seharusnya dia tidak mungkin menunjukkan ekspresi seperti itu, 'kan?Masalah ini akan kuingat dalam hati. Setelah kembali ke kampus, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya aku
Buset, memang tidak heran perempuan ya. Dalam hal seperti ini benar-benar memikirkan jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Hanya saja, meskipun nanti saat tua bisa kendur, kalau bahkan kesempatan untuk kendur saja tidak punya, bukankah itu malah lebih menyedihkan?Tentu saja, semua itu hanya kupikirkan dalam hati, jelas tidak mungkin kuucapkan. Aku masih belum ingin mati.Setelah jeda sesaat, Gita melanjutkan, "Seksi, cantik, nilai bagus. Harusnya dia tipe perempuan sempurna. Meskipun gadis seperti itu biasanya membuat perempuan lain iri, mereka biasanya juga nggak akan menunjukkannya secara terang-terangan. Apalagi laki-laki, pasti seperti lalat yang terus mengerubungi Selena.""Tapi reputasi Selena justru sangat buruk. Bahkan di seluruh kampus, mungkin nggak ada satu orang pun yang benar-benar akrab dengannya, baik laki-laki maupun perempuan.""Kenapa?""Karena jumlah pacarnya terlalu banyak.""Saking banyaknya, bahkan Selena sendiri juga mungkin nggak tahu sudah berapa.""Pada dasa
Bersihkan leher mereka dan tunggu aku!Suara serak itu terdengar sangat dingin. Di mataku yang sedikit memerah bahkan terpancar sesuatu yang bisa disebut niat membunuh.Kali ini, aku benar-benar marah.Aku jelas bukan orang suci. Hal seperti membalas kebencian dengan kebaikan tidak mungkin terjadi padaku. Aku ini pendendam dan orang pendendam selalu membalas setiap dendam mereka, tidak peduli sekecil apa pun.Kalau sudah berani menyinggungku, bersiaplah menerima balasan seratus kali lipat. Aku akan membuat Lionel dan para idiot itu menyesal karena berani melawanku.Bahkan wajah Tandi langsung sedikit pucat melihat penampilanku. Meskipun niat membunuh itu bukan ditujukan padanya, dia tetap tak bisa menahan tubuhnya yang langsung gemetar, bahkan bulu kuduknya berdiri semua.Dia tersenyum kaku padaku, lalu meninggalkan ruang rawat bersama Nindy dan Selena. Sebelum pergi, Selena bahkan diam-diam melambaikan tangan padaku sebagai salam perpisahan.Namun, gerakan itu langsung tertangkap oleh
"Sudah jauh lebih baik ....""Dengar tuh, dia sudah jauh lebih baik. Kalau kalian nggak ada urusan lain, cepat pergi saja." Gita terus melambaikan tangan kecilnya sambil berkata tidak sabar.Sikap itu terlihat sangat tidak sopan, seolah-olah dia sangat memusuhi orang-orang di depannya. Lebih tepatnya, dia sangat memusuhi Selena.Sebaliknya, setelah mendengar perkataan itu, Nindy langsung menghela napas lega. Dia terlihat sangat senang. Gadis itu bahkan tidak berani menatapku secara langsung. Tatapannya kepadaku selalu dipenuhi rasa takut.Mereka sudah jauh-jauh datang kemari, kalau langsung disuruh pergi memang rasanya tidak enak. Jadi, aku mengundang mereka masuk dan duduk sebentar. Mendengar itu, wajah Nindy langsung murung.Setelah duduk, Selena mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari tas ranselnya dan bersiap menyerahkannya kepadaku."Kamu nggak masuk kelas, aku takut kamu ketinggalan pelajaran. Jadi aku rapikan catatan kelas ini untuk kamu. Kamu ....""Nggak perlu. Pelajarannya
Setelah kejadian kali ini, jarak antara aku dan Gita juga sudah menghilang, hubungan kami berkembang pesat. Bagiku, Gita benar-benar sudah seperti keluargaku sendiri dan aku sama sekali tidak akan membiarkan Gita berada dalam bahaya.Kalau Lionel dan kelompoknya benar-benar berani datang mencari masalah, bahkan kalau harus mempertaruhkan segalanya, aku akan menghantamkan teko air panas di tanganku ini ke kepala mereka.Air di dalam teko ini baru saja direbus oleh Gita. Kalau benar-benar terkena, mungkin wajah orang itu akan langsung matang.Dengan wajah garang, aku langsung membuka pintu dan bergegas keluar.Namun, begitu sampai di luar, ekspresiku langsung berubah aneh.Situasinya ternyata sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Kukira yang bertengkar dengan Gita adalah Lionel dan teman-temannya, tetapi setelah diperhatikan baik-baik, ternyata sama sekali bukan.Yang berdiri di depan Gita adalah tiga orang mahasiswa dan mereka terlihat cukup familier. Sepertinya mereka adalah teman sek
Aku menatap punggung Amira yang semakin menjauh. Meskipun merasa agak memalukan, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya."Oh ya, Amira ... kakakmu mana?" Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung ingin menampar diriku sendiri. Ini sebenarnya apa sih?Siapa sangka setelah mendengar pertanyaanku, wajah Amira tiba-tiba membeku sesaat. Setelah tertawa kaku sebentar, tatapannya tanpa sadar menghindariku."Kamu juga tahu sendiri 'kan ... Kakak itu ketua yayasan, jadi pekerjaannya sangat sibuk. Dia harus pergi lebih awal.""Tapi Kakak juga menyuruhku bilang ke kamu supaya kamu istirahat yang baik. Soal lain nggak perlu khawatir, dia bilang semuanya akan dia urus." Amira berbicara dengan cepat."Sudah siang, aku harus pergi dulu. Nanti sore aku datang lagi." Setelah melambaikan tangan kepadaku, Amira pun meninggalkan ruang rawat. Aku pun tidak terlalu memikirkannya.Setelah adik iparku pergi, di ruang rawat hanya tinggal aku dan Gita.Aku melirik Gita. Mungkin karena kejadian tadi, d







