Share

Arsitek Kecantikan Para Dewi
Arsitek Kecantikan Para Dewi
Author: Erha

Bab 1

Author: Erha
“Pak… Pak Ganu?” Suaranya pelan… dan bergetar.

Aku memperhatikannya…

Rambut hitam lurus yang terurai, kemeja putih bersih, serta celana jeans kasual.

Meski sederhana, pakaian itu tak mampu menyembunyikan lekuk tubuhya yang indah, yang kini sedikit bergetar karena gugup.

Kain kemeja putihnya yang sedikit menerawang membuat garis dan warna pakaian dalamnya tampak samar. Pandanganku sengaja berhenti sejenak di bagian dadanya yang tertutup rapi itu, lalu mengangguk puas.

'Meski disembunyikan rapat… ukurannya sepertinya cukup bagus,' ucapku dalam hati.

Mungkin karena tatapanku terlalu panas, dia menunduk malu, tangannya refleks terangkat menutupi dadanya.

Namun, mata yang dipenuhi rasa malu dan gugup itu tetap tak bisa menyembunyikan rasa penasaran dan kepolosannya. Begitu murni… seperti selembar kertas putih.

Dan justru karena itu, semakin membuat orang ingin menorehkan warna padanya.

Aku berjalan mendekatinya. Aku tak duduk, hanya berdiri tepat di hadapannya. Bayanganku jatuh menutupi dirinya, membuatnya refleks mundur sedikit, tapi matanya tetap tak berpaling.

Aku pun mengulurkan tangan, mengangkat dagunya perlahan.

“Semua hal penting soal pelatihan ini harusnya sudah disampaikan, ‘kan? Sekarang, aku cuma tekankan satu hal. Kalau nggak sanggup melakukannya… tinggalkan tempat ini sekarang juga.”

Aku menurunkan suara, mataku menatapnya erat.

“Begitu dimulai, kamu harus mematuhi semua permintaanku tanpa syarat. Apa pun bentuk sentuhan, perintah atau hal pribadi lainnya, kamu harus menerimanya tanpa menolak. Toh, hanya orang yang nurut yang akan berhasil, bukan begitu?”

“Aku mengerti.”

Suaranya tiba-tiba menjadi stabil.

“Silakan… kembangkan aku tanpa ragu sedikit pun.”

Aku tersenyum.

Bagus.

Sungguh “murid yang baik”.

“Kalau begitu, sekarang kita mulai sesi eksplorasi mendalam pertama.”

Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, satu tangan bertumpu pada sandaran sofa di belakangnya, membuatnya terkurung dalam ruang sempit.

“Pejamkan mata, ikuti instruksiku.”

Dia memejamkan mata, dadanya bergerak perlahan.

Aku bisa merasakan getaran halus dari tubuhnya. Antara gugup atau perasaan bersemangat yang tidak bisa dia kendalikan.

“Sekarang, buka kancing pertama bajumu. Tanpa arahanku selanjutnya, jangan ada gerakan lain apa pun,” ucapku.

Napasnya terhenti sesaat.

Aku menatapnya dalam diam, tapi jelas tak memberi ruang untuk penolakan.

Beberapa saat kemudian, tangannya yang gemetar terulur, lalu perlahan membuka kancing pertamanya.

“Bagus. Sekarang kancing ke dua.”

Dia patuh melakukan sesuai intruksi.

Begitu ucapanku keluar, satu per satu kancing itu dilepaskannya dengan tangannya sendiri. Tubuhnya tampak semakin tegang, jemarinya menarik ujung pakaiannya dengan gelisah. Napasnya bergetar, pipinya memerah.

Tubuh yang semula tertutup pakaian perlahan tersingkap, meski hanya melalui celah kecil. Kulit di balik kain itu memerah samar, bergetar halus karena malu dan gugup.

Saat kerah terbuka hingga melewati batas dada, aku pun bersuara.

“Berhenti,” ucapku.

Tangannya terhenti di kancing berikutnya.

Aku mengulurkan tangan, menyentuh lembut pipinya.

“Selanjutnya, kamu nggak boleh menolak sentuhanku. Dan ketika aku bertanya, kamu harus jawab jujur bagaimana perasaanmu.”

Sentuhanku membuat tubuhnya bergetar. Dia menggigit bibir, lalu mengangguk.

Tanganku mulai menjelajah, membelai lembut garis pipinya menuju bibir. Dia membuka mulutnya tanpa sadar. Saat itulah jari-jemariku merasakan sensasi bibir bawahnya yang basah akibat gigitan kecilnya sendiri, bersentuhan langsung dengan ujung lidahnya yang panas, basah dan lembut.

Suara desahan keluar dari celah bibirnya, seolah dia sendiri terkejut dengan reaksi tubuhnya yang tak terkendali. Sementara itu, aku terus melanjutkan eksplorasi yang lebih mendalam.

Jari-jemariku merayap ke bawah, membelai lembut dagu, leher, hingga lekuk selangkanya. Mataku terpaku pada setiap inci kulitnya yang terekspos, aku mengatur ritme dan tekanan sentuhanku dengan penuh perhitungan.

Saat tekanan sentuhanku ringan, dia meliukkan pinggang secara naluriah. Namun, ketika aku menambah intensitasnya, suara desahan pelan pun keluar dari bibirnya, mengiringi setiap gerakanku pada tubuhnya.

Bercak kemerahan mulai menghiasi kulitnya yang terekspos, menjalar perlahan hingga mencapai batas bra berwarna kulit yang membungkus dadanya. Saat itu, aku menyadari tubuhnya kini bergetar jauh lebih hebat.

“Bagaimana rasanya?” tanyaku.

Tubuhnya tersentak.

“Sangat… sangat aneh…”

“Kamu terganggu? Atau membencinya?”

Dia menggeleng.

“Nyaman.”

Tanganku menyusup ke balik kerah bajunya yang terbuka, mulai membelai puncaknya yang bulat dengan gerakan memutar. Sepasang kelembutan yang putih dan kenyal itu kini pasrah dalam remasanku, membuatnya mendongak pasrah. Dia berusaha keras menahan rasa nikmat yang asing dan tertahankan, sambil mengatupkan bibir demi meredam suara desahannya.

“Pak…”

Kata-katanya seketika berubah menjadi desahan erotis saat jemariku menyentuh puncaknya yang menegang di balik kain bra. Matanya yang semula terpejam kini terbuka paksa, memperlihatkan sorot mata yang lembap dan bergetar, membuatnya tampak rapuh dan tak berdaya.

Sentuhanku semakin menjadi. Melalui lapisan kain itu, aku mulai menambah tekanan remasanku pada puncaknya.

Dia melengkungkan tubuhnya pasrah merasakan sensasi itu. Kakinya pun berusaha merapat hendak meredam gejolak. Namun, posisiku yang berdiri tepat di antara kedua kakinya membuat gerakannya justru menjepit kakiku dengan erat. Aku melangkah maju, lututku sengaja menyentuh pusat sensitivitasnya yang terbungkus celana. Benar saja, aku bisa merasakan sensasi basah yang merembes di sana.

Di tengah suara napasnya yang gemetar, aku tiba-tiba menyentak turun satu sisi cup bra yang dia kenakan hingga ke bawah dadanya, membebaskan satu sisi kelembutan yang selama ini terbelenggu.

Dia berteriak kaget.

Jari-jariku menekan puncaknya, lalu dengan satu sentakan kuat, aku menariknya.

“Mendesah!”

Tarikanku memaksanya untuk membusungkan dada, membuat air mata yang sempat tertahan kini mengalir.

Aku pun melepaskan genggamanku, membiarkannya terkulai lemas di sofa dengan kaki yang kini terbuka pasrah. Tubuhnya bergetar hebat dengan napas yang memburu, sementara kulitnya yang terekspos merona merah, meninggalkan pemandangan menggoda dari sosok yang baru saja kukuasai sepenuhnya.

Puncak yang baru saja kusentuh itu kini tersembunyi di balik kemeja putihnya, membentuk siluet nyata dan menggoda, puncaknya tegak dan keras.

“Cukup untuk hari ini,” ucapku dingin sembari bangkit berdiri.

Dia membuka mata dengan tatapan yang basah dan sayu, tampak sedikit linglung.

“Respon yang bagus.”

Aku lalu mundur selangkah, melihatnya terburu-buru merapikan kancing bajunya.

“Ingat baik-baik sensasi ini, lalu rapikan dirimu.”

Telinganya memerah padam, tangannya sibuk merapikan kemeja.

Aku tahu, benih itu kini telah tertanam.

Karena itu, aku melanjutkan instruksiku.

“Enam hari lagi kita akan bertemu. Gunakan waktu itu untuk menyiapkan diri sebaik mungkin.”

“Aku menantikan kemajuanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 9

    Tak butuh waktu lama.Nama “Ganu” dan gelar “sang penempa it-girl” yang dulu kubanggakan, kini berubah dari legenda kota menjadi kata paling menjijikkan di seluruh media sosial hanya dalam waktu satu hari.Di dunia maya, foto-fotoku diedit menjadi berbagai bentuk penghinaan.Alamat kantorku tersebar.Pintu kaca kantor dicoret dengan cat merah bertuliskan: [Sampah].Semua mitra yang bekerja sama denganku segera mengumumkan pemutusan kontak, sibuk menjaga jarak dan membuat pernyataan resmi lebih menusuk dari sebelumnya.Di dalam sel, lewat pengacara dan beberapa menit singkat mengakses dunia luar, aku menyaksikan reputasiku hancur perlahan.Reputasi dan jaringan yang dulu kubangun untuk menjerat mangsa, kini menjadi jerat yang melilit leherku sendiri.Semua “pelajaran intim” yang dulu membuatku bergelora, kini justru berubah menjadi bukti yang membuatku terpaku di tiang gantungan.Aku meringkuk di sudut sel, mencoba menutup telinga dari dunia luar.Namun tajuk-tajuk berita, makian netize

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 8

    Kata “ditangkap” seketika membuat tubuhku membeku. Aku jatuh terduduk di sofa, napasku tercekat, tepat ketika pintu ruang wawancara dibuka didobrak paksa. Dua polisi berseragam masuk, wajah mereka tegas. Salah satunya mengeluarkan surat penahanan.Semuanya terjadi begitu cepat, begitu tidak nyata.Suasana yang baru saja diliputi kehangatan dan ketegangan menggoda, dalam sekejap berubah menjadi lokasi penyelidikan yang dingin.Viona Foxy, atau lebih tepatnya, Pengacara Viona sudah mengenakan kembali kardigannya, menutupi gaun tidurnya yang hampir membuat siapa pun hilang kendali. Dengan gerakan tenang yang menusuk, dia menyerahkan alat perekam kecil itu kepada polisi. Tatapannya tak lagi kosong atau linglung seperti sebelumnya.“Nggak mungkin…” Suaraku serak, kerongkonganku kering.“Kamu sudah tanda tangan kontrak! Kamu setuju ikut pelatihan atas kemauanmu sendiri!”Viona berbalik, mengambil map dari tas kerja yang selalu dia bawa. Di dalamnya ada salinan kontrak dokumen yang kususun d

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 7

    Aku hampir saja menendang pintu rumahku hingga terbuka.Aku mendekap Viona dalam pelukanku, membungkusnya rapat-rapat dengan jas yang kukenakan.Sejak di lift tadi, dia tak bisa diam. Tangannya terus menyentuh area terlarangku.“Pak Ganu... ini yang namanya murid lebih hebat dari guru.”Aku menghempaskannya ke ranjang. Belum sempat dia bangkit, aku sudah menindihnya kembali.Tangannya menjalar di sekujur tubuhku, menyulut api di mana-mana dan akhirnya terhenti di pinggangku.“Pak Ganu… cepat masuk.”Sulit untuk menolak, aku pun melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku seperti binatang buas yang terkurung, merobek sisa-sisa penghalang terakhir di antara tubuh kami dengan membabi buta.“Ah!”Ciuman dan gigitanku meninggalkan jejak merah di sekujur tubuhnya, tapi Viona justru tertawa. Dia mengundangku lebih agresif, sampai mengangkat pinggulnya.Dia menggunakan cara yang pernah kuajarkan padanya. Menciumku, membelai setiap jengkal tubuhku, bahkan... memuaskanku.Tiba-tiba dia bangkit

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 6

    Di hari kencan itu, aku sengaja menjemput Viona di apartemennya.Di dalam mobil, sudah kusiapkan hadiah dan buket bunga yang kupilih khusus untuknya.Dari kejauhan, aku melihatnya berjalan ke arahku sambil memeluk tumpukan dokumen, tampak sedikit kewalahan. Namun, saat melihatku, senyum merekah di wajahnya.“Pak Ganu.”Demi kencan hari ini, dia sengaja mengenakan gaun hitam ketat yang membungkus lekuk tubuhnya.“Panggil Ganu saja. Untuk hari ini, aku adalah pacarmu.”“Setelah sesi ini berakhir, aku akan carikan pasangan yang cocok untukmu. Jadi... pelajari dengan baik, rasakan dengan sungguh-sungguh.”Aku tba-tiba mendekat.“Mulai sekarang, kerahkan seluruh kemampuanmu. Gunakan semua yang pernah kuajarkan padamu. Napas, ciuman, tatapan mata... pikat aku!”Viona mengangguk, suaranya sedikit gemetar. Pipinya merah merona, lalu dengan cepat dia mengecup pipiku.Meski hanya sentuhan sesingkat kilatan capung di atas air, tapi sikapnya yang malu-malu membuat tenggorokanku langsung menegang,

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 5

    Dia mengeluarkan erangan panjang, terdengar antara sakit dan kenikmatan yang luar biasa.Tubuh Viona mulai bergetar hebat, seolah mencapai puncak tertentu.“Lihat, bahkan di sini… kamu merindukanku.”Aku berbisik terengah-engah di telinganya, sementara jariku bergerak keluar-masuk dengan lambat di dalam zona rahasia yang sempit dan licin itu.Saat aku melepaskan diri, dia terkulai lemas di sofa. Tatapannya kosong, tampak seperti boneka yang sudah dimainkan habis-habisan.Dia perlahan duduk, merapikan pakaiannya yang berantakan, lalu tiba-tiba berbisik rendah, “Pak Ganu... teknikmu… luar biasa.”Viona lalu mendongakkan lehernya, menempel padaku seolah sedang mempersembahkan dirinya, memohon agar aku memberinya sebuah ciuman.Namun, aku menghentikan gerakanku.Aku duduk di kursi berlengan kulit yang besar dengan santai, penuh aura dominan seperti raja.Viona berdiri di depanku, mengenakan kemeja longgar yang pas menutupi tubuh sintalnya.Matanya kini telah ternoda sepenuhnya, menyimpan j

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 4

    Tiga hari kemudian, tiba saat yang telah dijanjikan.Aku membatalkan semua urusan dan menunggu Viona di kantor. Namun, sampai jam pulang, aku tak melihat kedatangannya.Aku meminta asisten untuk menghubunginya, tapi tak dapat tersambung.“Hari ini ‘kan Valentine’s day, mungkin dia lagi kencan sama pacarnya.”Ucapan asisten seakan membuatku disambar petir!Seolah ada kekuatan yang mendorong, aku mengikuti informasi pada formulir dan tiba di depan pintu rumah Viona.Ting tong!Tanpa ragu, aku menekan bel pintu. Entah sudah berapa lama berlalu, tetap tak ada jawaban.Tepat saat aku hendak berbalik dan pergi…Ceklek!Pintu di belakangku terbuka.Saat melihat Viona, dia hanya mengenakan sehelai handuk sambil berdiri di ambang pintu, menatapku dengan tatapan kosong.“Pak Ganu?”Pipinya merah padam, tubuhnya masih bau alkohol, terlihat jelas dia baru saja pulang berkencan.“Kamu terlambat, melanggar perintahku. Jadi... nggak ada gunanya lagi melanjutkan sesi pelatihan ini.”Aku sedikit kesal,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status