Share

Diusir

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-06-12 23:25:22
Elisa benar-benar tidak menyangka Susan akan melakukan hal nekat dengan menyerangnya di depan keluarganya. Tapi Susan melakukannya.

Elisa membelalak lebar saat melihat Susan membawa vas bunga ke arahnya, tapi mendadak kakinya membeku. Sebelum ia sempat menghindar, Susan sudah melayangkan vas bunga itu ke kepalanya.

"Akhh!" pekik Elisa kaget.

Leo sendiri masih berada di samping laptopnya saat Susan berlari. Ia melihatnya dan Leo sendiri juga bergerak cepat. Tapi sialnya, tangan Susan lebih cep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dhimas Dhany
puas puas puas,kapok Kao Edi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Gelang Pasangan

    Pagi itu indah, sangat indah. Elisa terbangun di pelukan Leo. Keduanya saling menatap saat bangun tidur dan berpelukan lagi begitu lama. Perasaan yang begitu indah. Mereka sarapan bersama lalu bermain pasir bersama. Leo membawa Elisa ke beberapa tempat hanya untuk menunjukkan di mana saja pria itu berinvestasi. Elisa sampai menganga tidak percaya. "Leo, kau serius? Sebanyak itu?" "Aku pandai melihat peluang, Sayang. Tapi itu berarti sumber uangku sangat banyak dan aku sangat kaya. Aku sangat mampu menghidupimu dan keluarga kita sampai tujuh turunan kelak," sahut Leo dengan penuh maksud. Elisa hanya mengangguk. "Aku tahu, aku tidak meragukan itu."Leo tertawa kecil sambil melajukan mobilnya. Leo menyetir sendiri mobilnya agar ia dan Elisa bisa mempunyai waktu privat lebih lama. "Jadi apa ada tempat lain yang ingin kau kunjungi, Sayang?" tanya Leo sambil melirik kekasihnya itu. Elisa menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi mungkin kita bisa ke tempat membeli souvenir. Aku mau membelika

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Bercinta Lagi

    Hasrat Leo makin mengentak mendengar ucapan Elisa. Ia tidak sempat menolak atau mengatakan apa pun karena Leo juga tidak berniat menolaknya. Elisa sendiri entah sejak kapan mulai bergerak, turun dari ranjang dan berjongkok di depan Leo yang sedang duduk di ranjang. Elisa meliriknya genit, sebelum ia membelai kebanggaan Leo yang sudah menegang sempurna. "Aku akan melakukannya duluan, Leo ...," bisik Elisa, sebelum ia membuka sabuk celana Leo lalu menariknya turun. Terlihat bagian yang sangat menonjol. Elisa pun membelainya makin intens sampai Leo menelan salivanya dengan susah payah. "Sayang, jangan menggodaku!" "Aku tidak menggodamu, Leo." Elisa tersenyum nakal, sebelum ia membuka boxer Leo. Kebanggaan Leo langsung mengacung tegak di sana, membuat Elisa menatapnya kagum dan penuh hasrat. Tanpa banyak kata, Elisa menggenggamnya sampai membuat Leo menahan napasnya sejenak. Sentuhan Elisa selalu membuatnya melayang sampai ia menelan salivanya. Elisa sendiri melirik ekspresi Leo

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan dengan Mulut

    "Elisa ... kau ...." Leo menelan salivanya lagi, terlalu kaget untuk berkata-kata, tapi tatapannya benar-benar melahap Elisa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cantik dan selalu sempurna. Elisa sendiri menatap Leo dengan salah tingkah. "Kau ... kau yang memintaku memakai lingerie ini kan?" Leo tidak menjawab saking kagumnya. Jantungnya memacu kencang dan hasratnya dengan cepat bangkit. Namun, melihat ekspresi Leo membuat Elisa mendadak ragu sampai ia menunduk, menatap dirinya sendiri. "Hmm, apa ada yang salah? Atau ... aku pasti tampak aneh memakai ini? Sudah kubilang aku pasti kelihatan seperti bola." Elisa membalikkan tubuhnya, mendadak malu karena Leo tidak mengatakan apa pun. Ia pun berniat kembali ke kamar mandi untuk mengganti baju. Namun, sebelum Elisa sempat melangkah, Leo buru-buru menghampirinya. "Tunggu, Sayang! Siapa yang bilang kau seperti bola, Sayang? Aku hanya terkejut," sahut Leo yang langsung memeluk Elisa dari belakang dan mencium bahu wanita itu. Elisa me

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pemandangan Indah

    Malam menjelang dengan cepat setelah Leo dan Elisa menghabiskan harinya di pantai. Mereka minum kelapa bersama, makan cemilan, dan bergandengan tangan sambil melangkah di pasir. Cuaca sedang bersahabat sepanjang hari itu, panasnya tidak terlalu terik dan anginnya pun tidak terlalu besar. Mereka sangat menikmati hari mereka. Beberapa kali ponsel Leo berbunyi dan terlihat seperti telepon penting, tapi Leo tidak ragu menolaknya dengan mengatakan ada hal yang lebih penting yang sedang dikerjakan. Cara Leo meratukannya benar-benar membuat Elisa melambung. Bahkan setelah mengetahui identitas asli pria itu, Elisa malah semakin kagum padanya. Dan sekarang Elisa tahu apa tugasnya. Tanpa perlu Leo memintanya lagi, Elisa sudah melirik lingerie yang tadi diletakkan asal di meja. "Sayang, kau benar-benar tidak mau mandi duluan?" tanya Leo. Leo sudah memaksa Elisa mandi duluan karena Elisa hamil dan hari sudah malam, tapi Elisa menolaknya karena ia ingin memberi kejutan untuk Leo nanti. "Kau

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Gerak Cepat

    Elisa masih menahan napasnya sejenak mendengar permintaan nakal Leo. Ia pun menelan salivanya dan mendadak salah tingkah. "Memakai lingerie ini? Jangan bercanda, Leo! Aku pasti akan tampak seperti bola," tolak Elisa. Namun, Leo tertawa dan langsung mendekati wanita itu. "Siapa yang bilang kau akan seperti bola, Sayang? Aku yakin kau akan seksi sekali. Tapi itu nanti malam, Sayang. Sekarang ayo kita cari makan dulu karena calon istriku dan anak kita ini pasti sedang sangat kelaparan." Leo meraih lingerie itu dari tangan Elisa dan meletakkannya asal ke meja. Ia menggandeng Elisa pergi mencari makan, tapi Elisa malah makin tersipu mendengar kata calon istri. Sementara itu, Gary masih terus terkikik setelah menutup teleponnya dari Leo. Ia sudah mencari lingerie itu berhari-hari agar bisa dipakai oleh Elisa dengan perut besarnya. "Woah, kalau Bos puas, aku pasti akan dapat bonus kan?" Gary terkikik lagi. Tidak lama kemudian, pintu ruang kerjanya diketuk dan seorang sekretaris masuk k

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Hadiah Mesum

    "Bayinya sehat dan aktif, tidak ada masalah dengan kandungannya, dan kalian boleh berangkat babymoon, bahkan hubungan ranjang juga diperbolehkan." Ucapan dokter pagi itu membuat senyum Leo dan Elisa mengembang begitu lebar. Sebelum mereka berangkat ke Bali, mereka harus memastikan kondisi kandungan Elisa dulu, dan syukurnya semuanya sangat baik. "Sekali lagi, kandungan Anda sangat kuat, Bu Elisa. Dan Anda harus bersyukur untuk itu. Tidak ada masalah yang berarti dan semuanya aman untuk menikmati trisemester kehamilan Anda." "Ah, syukurlah, Dokter," sahut Elisa sambil mengulum senyumnya malu. Leo sendiri ikut tertawa. "Terima kasih untuk ijinnya, Dokter." Sang dokter terkekeh. Ia langsung memberikan resep cadangan kalau diperlukan dan memberikan surat ijinnya untuk Elisa naik pesawat. Dan di sinilah mereka, duduk berdua di kursi kelas bisnis pesawat pagi itu. Elisa pun tidak bisa berhenti tersenyum sendiri sampai Leo yang melihatnya, mengernyit gemas. "Apa ada yang lucu sampai k

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Harus Segera Hamil

    "Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan Diri Sendiri

    Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status